Short
Setelah Cincin Kawinku Untuknya, Kutinggalkan Suamiku

Setelah Cincin Kawinku Untuknya, Kutinggalkan Suamiku

Von:  AmneAbgeschlossen
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Kapitel
0Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Cinta Toxic

Plot Twist

Teman Masa Kecil

Pilih Kasih/Egois

Mandiri

Selingkuh

Mengejar Istri

Setelah mendapati suamiku yang seorang kapten pilot memberikan cincin kawin kami kepada teman masa kecilnya yang seorang janda sebagai jimat pelindung, aku pun mengganti nama kontaknya menjadi “Kapten Felix”. Saat aku mengalami pendarahan lambung akut, dia menerima telepon dari wanita itu yang mengatakan bahwa putranya mengalami mimpi buruk di tengah malam dan merindukan ayahnya. Tanpa ragu sedikit pun, suamiku langsung pergi begitu saja. Dia berjanji akan menemaniku kontrol di rumah sakit. Namun, wanita itu menangis di bandara karena takut cuaca badai. Suamiku pun langsung mengubah jadwal penerbangannya demi menemani wanita itu terbang. Aku lalu memotret surat hasil kontrolku dan mengirimkannya kepadanya, dengan disertai satu kalimat. [Kapten Felix, semoga penerbanganmu lancar.] Setiap kali, dia selalu menjawab. [Jangan ribut, hidup ibu dan anak itu nggak mudah.] Sampai akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh, suamiku berinisiatif memesan restoran yang sama dan mengatakan ingin memasangkan kembali cincin kawin itu di jariku. Namun, di depan pintu restoran, wanita itu kembali menelepon. “Felix, aku takut, bisakah kamu menjemputku? Didi bilang, dia cuma mengakuimu sebagai ayahnya ….” Felix pun melirikku. Namun, baru saja dia ingin menjelaskan …. Aku sudah terlebih dahulu menyerahkan kotak cincin di tanganku kepada pelayan. “Tolong bantu buangkan ini.” Lalu, aku berkata kepada suamiku. “Kapten Felix, urus saja urusanmu sendiri!”

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

“Kapten Felix, terbangkan saja pesawatmu.”

Setelah aku berkata seperti itu, Felix mematung di tempat.

Angin di pintu restoran menerpa mawar di tangannya hingga menjadi miring.

Felix menatapku dan butuh waktu lama sebelum akhirnya dia angkat bicara.

“Audrey, kamu memanggilku apa?”

Aku tidak menjawab.

Di ujung telepon, Amira masih menangis.

“Felix, Didi terus memanggil Ayah. Aku benar-benar nggak bisa membujuknya. Barusan, dia bahkan mengurung diri di kamar mandi ….”

Felix memegang ponselnya dan jakunnya bergerak-gerak.

Tanpa sadar, dia menatapku.

Aku juga menatapnya.

Restoran ini adalah tempat yang kami kunjungi, pada hari kami menikah tujuh tahun lalu.

Felix memesan meja di dekat jendela.

Dia bilang, dia ingin merayakan hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh, yang sebelumnya terlewat.

Felix juga bilang ingin memasangkan kembali cincin kawin itu ke jariku.

Akan tetapi, tangannya sudah terulur untuk meraih kunci mobil.

Sama seperti dulu.

Begitu Amira menangis sekali saja, Felix pasti akan langsung pergi.

Saat aku menyerahkan kotak cincin itu kepada pelayan, pelayan itu pun menjadi terkejut.

“Bu, benda ini pasti sangat mahal, ‘kan?”

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

“Begitu mahalnya, sampai aku butuh waktu tujuh tahun untuk menyadari kalau benda itu sama sekali nggak berharga.”

Raut wajah Felix langsung berubah.

“Audrey, apa kamu harus bikin malu seperti ini di tempat umum?”

“Bikin malu?”

Aku menyampirkan tas di bahuku.

“Felix, cincin kawinmu tergantung di leher Amira selama 23 hari.”

“Aku nggak pernah bikin ribut di kantornya, nggak pernah bikin ribut di bandara, juga nggak ngomong sepatah kata pun di depan awak kabinmu.”

“Hari ini, aku cuma memilih untuk nggak lagi menginginkannya.”

“Bagaimana bisa dibilang bikin malu?”

Felix pun mengerutkan keningnya rapat-rapat.

“Itu cuma karena Amira takut terbang. Aku meminjamkannya untuk menenangkannya.”

“Suaminya meninggal karena kecelakaan pesawat. Kamu juga tahu itu, ‘kan?”

Aku mengangguk.

“Aku tahu.”

“Jadi, suamiku memang harus dipinjamkan untuk dia pakai begitu?”

Felix terdiam mendengar pertanyaanku.

Suara Amira yang bergetar kembali terdengar di ujung telepon.

“Felix, jangan bertengkar dengan Audrey karena aku. Aku nggak apa-apa. Biar kubawa Didi ke rumah sakit saja ….”

Felix langsung menjadi panik.

“Jangan ke mana-mana, aku akan segera ke sana.”

Setelah berkata seperti itu, seakan takut aku akan kembali menyindirnya, Felix pun merendahkan suaranya.

“Audrey, hari ini memang istimewa.”

“Masuklah dan makanlah duluan.”

“Aku akan langsung kembali setelah mengurusnya.”

Aku menatap Felix.

Tiba-tiba, aku teringat tiga bulan yang lalu, saat aku terbaring di ruang IGD dan diinfus, Felix juga mengatakan hal yang sama kepadaku.

“Aku akan langsung kembali setelah mengurusnya.”

Hari itu aku mengalami pendarahan lambung. Rasa sakitnya begitu hebat, sampai aku tidak bisa berkata-kata.

Perawat memegang ponselku dan bertanya.

“Mau menghubungi suamimu?”

Aku mengangguk.

Telepon tersambung dan suara Amira terdengar terlebih dahulu.

“Felix, Didi bilang ingin makan bubur buatanmu.”

Lalu, terdengar suara Felix.

“Audrey, biarkan dokter menanganimu dulu. Aku akan datang nanti.”

Malam itu, Felix tidak datang.

Keesokan paginya, Felix mengirimkan foto bubur kepadaku.

[Didi makan dua mangkuk. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Apa perutmu masih sakit?]

Aku menatap kalimat itu untuk waktu yang begitu lama.

Akhirnya, aku hanya membalas dengan tiga kata.

[Sudah nggak sakit.]

Sejak hari itu, aku mengubah nama kontak Felix menjadi Kapten Felix.

Bukan karena aku sedang ngambek.

Akan tetapi, untuk mengingatkan diriku sendiri.

Bahwa Felix adalah seorang kapten yang bertanggung jawab atas semua penumpangnya.

Hanya saja, dia bukan suamiku.

Melihatku diam saja, Felix mengira aku memendam kekecewaanku seperti biasa.

Dia pun mengulurkan tangan untuk mengusap kepalaku.

“Jadilah anak yang baik.”

Aku mundur selangkah.

Tangan Felix menyentuh udara kosong.

“Felix.”

Aku memanggil namanya.

Felix tertegun untuk sesaat.

Aku mengeluarkan selembar dokumen dari dalam tas, lalu menjejalkannya ke dalam dekapannya.

“Saat kamu kembali nanti, tanda tangani surat kesepakatan cerai ini, ya.”

Felix menunduk untuk melihat sampul dokumen itu dan wajahnya langsung menjadi pucat.

“Audrey, kamu serius?”

Amira di ujung telepon terdiam selama beberapa saat.

Lalu, tangisannya menjadi makin histeris.

“Felix, apa aku sudah menyebabkan kalian cerai? Aku tahu, aku harusnya nggak pulang ke negara ...”

Felix menjadi bingung dan gelisah mendengar tangisan Amira.

Dia kembali menatapku dengan amarah yang tertahan di matanya.

“Bisakah kamu nggak menekanku?”

Aku tersenyum.

“Aku nggak menekanmu.”

“Aku akan membiarkanmu pergi.”

Felix mencengkeram surat kesepakatan cerai itu, hingga buku-buku jarinya memutih.

“Audrey, aku sedang nggak punya waktu untuk bertengkar denganmu sekarang.”

Aku berbalik dan berjalan menuju pinggir jalan.

Felix memanggilku dari belakang.

“Kamu mau ke mana?”

Aku tidak menoleh.

Ponsel Felix bergetar. Itu pesan dari pengacara.

[Besok pagi jam sembilan, ketemu di depan Kantor Catatan Sipil.]

Felix mengejar beberapa langkah, lalu kembali dihentikan oleh telepon dari Amira.

“Felix, jari Didi teriris. Darahnya banyak banget ….”

Langkah Felix langsung terhenti.

Aku mendengar suara pintu mobil dibuka.

Aku juga mendengar kata-kata terakhir Felix kepadaku.

“Tunggu aku kembali. Kita akan bicara baik-baik.”

Aku menghentikan sebuah taksi.

Sebelum pintu mobil tertutup, aku memandangi sosok Felix yang makin mengecil di kaca spion.

Felix masih berdiri di tempatnya.

Satu tangannya memegang surat kesepakatan cerai itu.

Sementara, tangannya yang lain, menerima telepon dari Amira.

Sopir taksi bertanya kepadaku.

“Mau ke mana, Bu?”

Aku menyebutkan tujuanku.

Suaraku terdengar serak, seperti bukan suaraku sendiri.

“Ke rumah sakit.”

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
8 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status