ANMELDENSetelah mendapati suamiku yang seorang kapten pilot memberikan cincin kawin kami kepada teman masa kecilnya yang seorang janda sebagai jimat pelindung, aku pun mengganti nama kontaknya menjadi “Kapten Felix”. Saat aku mengalami pendarahan lambung akut, dia menerima telepon dari wanita itu yang mengatakan bahwa putranya mengalami mimpi buruk di tengah malam dan merindukan ayahnya. Tanpa ragu sedikit pun, suamiku langsung pergi begitu saja. Dia berjanji akan menemaniku kontrol di rumah sakit. Namun, wanita itu menangis di bandara karena takut cuaca badai. Suamiku pun langsung mengubah jadwal penerbangannya demi menemani wanita itu terbang. Aku lalu memotret surat hasil kontrolku dan mengirimkannya kepadanya, dengan disertai satu kalimat. [Kapten Felix, semoga penerbanganmu lancar.] Setiap kali, dia selalu menjawab. [Jangan ribut, hidup ibu dan anak itu nggak mudah.] Sampai akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh, suamiku berinisiatif memesan restoran yang sama dan mengatakan ingin memasangkan kembali cincin kawin itu di jariku. Namun, di depan pintu restoran, wanita itu kembali menelepon. “Felix, aku takut, bisakah kamu menjemputku? Didi bilang, dia cuma mengakuimu sebagai ayahnya ….” Felix pun melirikku. Namun, baru saja dia ingin menjelaskan …. Aku sudah terlebih dahulu menyerahkan kotak cincin di tanganku kepada pelayan. “Tolong bantu buangkan ini.” Lalu, aku berkata kepada suamiku. “Kapten Felix, urus saja urusanmu sendiri!”
Mehr anzeigenSaat akta cerai itu sudah ada di tangan, Felix menatap dokumen itu dan tidak bergerak untuk waktu yang lama.Petugas pun mengingatkan.“Berikutnya.”Barulah setelah itu Felix berdiri.Kami berjalan keluar dari aula, satu di depan dan satu di belakang.Di luar sedang turun hujan.Gerimis rintik-rintik.Felix membuka payungnya dan refleks memiringkannya ke arahku.Aku mundur selangkah.“Aku sudah pesan mobil.”Tangan Felix langsung terhenti di udara.“Audrey.”“Hmm?”“Ke depannya, kalau perutmu sakit lagi, jangan memaksakan diri untuk menahannya.”Aku pun tersenyum kecil.“Aku akan pergi ke rumah sakit.”“Aku juga akan makan tepat waktu.”“Aku nggak akan lagi menunggu siapa pun sampai makanannya jadi dingin dan basi.”Mata Felix kembali memerah.“Aku ini benar-benar bukan orang yang baik, ya?”Aku tidak menjawab.Dia pun menunduk dan tersenyum kecil.“Kamu nggak perlu menjawabnya.”“Aku tahu.”Titik-titik air hujan menghantam permukaan payung.Mobil yang kupesan berhenti di pinggir jalan
Aku dan Felix pergi ke TK itu.Bukan karena aku merasa iba.Akan tetapi, karena aku mendengar tangisan anak itu.Saat mobil sampai di gerbang TK, polisi sudah tiba di sana.Amira duduk di dalam mobil.Dia memeluk Didi erat-erat. Wajah anak itu memerah karena sesak.Jendela mobil tertutup rapat.Sambil memegang ponselnya, Amira berteriak ke arah luar.“Felix, sini!”“Kalau kamu ke sini, aku akan buka pintunya!”Felix bergegas menghampiri mobil itu.“Amira, kamu sudah gila, ya?”Amira tersenyum kecil.Air matanya membasahi seluruh wajahnya.“Kalau aku nggak gila, apa kamu akan datang?”“Kamu memblokir nomorku.”“Kamu suruh perusahaan melarangku terbang.”“Kamu bahkan juga ingin rujuk dengan Audrey.”“Lalu, bagaimana denganku?”Felix langsung membentaknya.“Buka dulu pintunya!”Amira pun makin erat memeluk Didi.“Berjanjilah padaku.”“Berjanjilah untuk terus merawat kami seperti dulu.”“Berjanjilah untuk nggak pergi bersamanya.”Didi menangis sampai suaranya terdengar serak.“Bu, aku kepa
Insiden yang menimpa Amira terjadi tiga hari kemudian.Bukan karena dia pingsan.Bukan pula karena Didi sakit.Melainkan karena Amira mengunggah sebuah rekaman suara di grup internal Maskapai Vanora.Di dalam rekaman tersebut, suara Felix terdengar begitu dingin.“Jangan cari aku lagi.”“Amira, aku sudah punya istri.”“Kamu nggak punya istri.”Amira berkata sambil menangis.“Kamu sebentar lagi cerai.”“Felix, kamu jelas-jelas janji padaku, kalau kamu akan merawatku dan Didi seumur hidup.”“Kapan aku pernah janji?”“Kamu bilang, setelah Rizal meninggal, kamu akan jadi sandaran hidup kami.”Rekaman itu terhenti sampai di situ.Grup itu pun langsung gempar.Seseorang mengirimkan rekaman itu kepadaku.[Kak Audrey, wanita ini sudah gila, ya?]Aku mendengarkan rekaman suara itu.Akan tetapi, aku tidak merasakan apa-apa.Sebaliknya, bos keluar dari kantornya dan bertanya kepadaku.“Kamu nggak apa-apa?”Aku berkata.“Cukup baik.”“Perlu ambil cuti?”“Nggak perlu.”Bosku menatapku selama bebera
Di hari ke-13 masa tenang, Amira mengirimkan sebuah foto kepadaku.Di foto itu, Felix duduk di samping tempat tidur Didi.Tangannya memegang sebuah buku panduan penerbangan.Didi tertidur di pelukannya.Amira menyertakan keterangan.[Sebenarnya, dia sangat perhatian. Hanya saja, kamu nggak tahu cara menunjukkan kelemahan.]Setelah membacanya, aku membalasnya dengan satu kata.[Oh.]Amira dengan cepat kembali mengirimkan pesan.[Audrey, kamu benar-benar rela untuk cerai?][Pria seperti Felix itu, ada banyak orang di luar sana yang mengincarnya. Kamu pasti lebih tahu dariku.]Aku berpikir sejenak, lalu membalas pesannya.[Kalau begitu, semoga antreanmu berhasil.]Amira tidak lagi mengatakan apa-apa.Aku mengambil tangkapan layar riwayat percakapan itu, lalu mengirimkannya kepada pengacaraku.Pengacaraku membalas dengan pesan suara.“Simpan baik-baik.”“Kalau dia terus mengganggu, ini akan berguna nanti.”Aku pun membalas.[Aku mengerti.]Baru saja aku meletakkan ponsel, bos mengetuk meja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.