공유

Bab 6

작가: Cupcake
Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat.

"Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."

Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan untuk tidak berkomentar, "Lihatlah Bu Shalia di sebelah, sama-sama jatuh ke laut dan lukanya jauh lebih ringan darimu. Tapi, Pak Arka nggak pernah ninggalin dia, jagain dia kayak barang berharga. Keluargamu sendiri bagaimana? Sudah dua hari kok belum juga muncul …."

Marissa memaksakan diri untuk tersenyum tipis, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tepat pada saat itu, pintu ruang perawatan tiba-tiba didorong hingga terbuka dengan keras.

Arka berdiri di depan pintu dengan wajah muram. Tatapannya yang tajam menghujam ke arah Marissa layaknya sebilah pisau.

Perawat itu tersentak. Dia sepertinya tidak mengerti mengapa Pak Arka muncul di tempat ini. Namun, melihat ekspresi Arka yang tampak begitu muram, perawat itu pun bergegas keluar.

Begitu pintu kamar tertutup, Arka langsung menyapu nampan obat di atas nakas hingga terbalik. Suara pecahan botol kaca terdengar memekakkan telinga, sementara tablet obat-obatan berserakan di lantai.

"Kamu yang mendorong Shalia ke laut?" Suara Arka terdengar sedingin es.

Marissa tertegun.

Dia tidak mengerti mengapa Shalia masih saja menjebaknya. Marissa hanya merasakan kelelahan yang luar biasa menyelimuti hatinya. "Aku nggak melakukannya."

"Masih mau mengelak?" Arka mencengkeram pergelangan tangan Marissa. Kekuatannya begitu besar hingga seakan hampir meremukkan tulang Marissa. "Shalia sendiri yang mengatakannya padaku! Bukankah dulu kamu begitu murah hati? Kenapa tiba-tiba berubah jadi seperti ini?"

Arka pun tertawa sinis, seakan sudah memahami sesuatu. "Jangan-jangan … kemurahan hatimu selama ini cuma akting? Cuma demi menarik perhatianku?"

Wajah Marissa tampak pucat pasi karena kesakitan. Namun, dia hanya menatap Arka dengan tenang, bahkan terlalu malas untuk memberikan penjelasan.

Tatapan seperti itu benar-benar membuat Arka marah.

Arka pun menyentakkan tangan Marissa dengan kasar. "Oke, karena kamu nggak mau mengakui kesalahanmu, maka tanggung sendiri akibatnya."

Arka lalu berbalik pergi. Suaranya terdengar dingin menusuk tulang, "Mulai sekarang, nggak akan ada staf medis yang merawatmu. Rasa sakit ini, tanggunglah sendiri!"

Beberapa hari berikutnya, hidup Marissa terasa luar biasa sulit.

Tidak ada dokter yang memeriksa dan tidak ada perawat yang mengganti perban. Marissa hanya bisa menyeret tubuhnya yang penuh luka, beringsut sedikit demi sedikit menuju lemari obat, lalu dengan tangan gemetar mengobati lukanya sendiri.

Beberapa kali Marissa jatuh tersungkur ke lantai hingga lututnya lebam membiru. Namun, Marissa tetap menggertakkan giginya dan kembali bangkit.

Arka mungkin mengira bahwa dia, sebagai "Putri Keluarga Pranaya", tidak akan sanggup menahan siksaan seperti ini.

Akan tetapi, Arka tidak tahu bahwa dia bukanlah Marina, bukan sosialita yang tumbuh besar dengan kehidupan yang nyaman, dilindungi dan tidak pernah merasakan susah.

Dia adalah Marissa yang tumbuh besar dengan penuh perjuangan di desa. Sosok yang dibuang oleh orang tuanya sendiri sejak kecil, yang bahkan saat sakit pun hanya bisa menanggungnya seorang diri.

Rasa sakit seperti ini, apa artinya bagi Marissa?

Beberapa hari kemudian, tepat setelah Marissa menyelesaikan prosedur administrasi keluar dari rumah sakit dan sedang mengemasi barang-barangnya, pintu ruang perawatan tiba-tiba ditendang hingga terbuka dengan keras.

Arka menerjang masuk dengan wajah muram. Dia lalu mencengkeram pergelangan tangan Marissa. "Ikut aku."

"Untuk apa?" Marissa mengerutkan kening.

"Shalia diculik oleh Dody." Suara Arka terdengar tegang. "Dia secara khusus memintamu sebagai gantinya dan akan melepaskanmu tiga hari lagi."

Jantung Marissa langsung berdegap kencang.

Dody Giandra adalah si mesum yang terkenal di kalangan mereka. Setiap kali melihat Marissa, tatapan Dody yang dingin itu membuat Marissa merasa tidak nyaman dan ingin muntah.

"Aku nggak mau pergi," tolak Marissa mentah-mentah.

Tatapan Arka langsung menjadi dingin. "Kamu nggak punya pilihan."

Arka menatap Marissa dengan tajam, tetapi tiba-tiba melembutkan nada bicaranya. "Dody tertarik padamu. Dia nggak akan melakukan apa pun padamu. Asalkan kamu patuh, setelah masalah ini selesai, aku akan mengabulkan syarat apa pun yang kamu minta."

Marissa mengangkat pandangannya untuk menatap pria itu, lalu tiba-tiba dia tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku minta sebuah pernikahan."

Arka tertegun. "Apa?"

"Dulu, kita cuma mendaftarkan pernikahan, nggak ada resepsi," kata Marissa pelan. "Aku mau kamu menggantinya untukku."

Ini adalah bagian dari rencana Marissa.

Saat Marina kembali nanti, dia butuh sebuah pesta pernikahan yang megah agar semua orang menyaksikan sendiri penyerahan identitas sebagai "istri Arka" tersebut.

Arka terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Oke, aku setuju."

Ketika Marissa diantar ke vila Keluarga Giandra, Dody sedang bersantai di sofa. Dia menatap Marissa sambil tersenyum lebar.

"Bu Marina, lama nggak ketemu."

Ujung jarinya menyisir wajah Marissa. Marissa dengan sekuat tenaga menahan rasa mualnya dan tidak menghindar.

Siksaan selama dua hari pertama masih bisa dibilang "ringan". Dody hanya menyuruh orang untuk mengambil darah Marissa, tabung demi tabung.

Marissa sudah kebal terhadap rasa sakit saat jarum menusuk pembuluh darahnya. Namun, melihat darahnya sendiri mengisi tabung-tabung kaca itu satu per satu, hatinya tetap tidak bisa berhenti gemetar.

Hingga pada hari ketiga, dalam kondisi setengah sadar, Marissa mendengar bisik-bisik para pengawal di luar pintu.

"Apa Pak Dody sudah gila? Apa nanti dia benar-benar akan menguras habis darah wanita itu untuk dijadikan spesimen?"

"Sst, pelankan suaramu …. Pak Dody bilang, dia terlalu cantik. Cuma dengan mati dan dijadikan spesimen, kecantikannya bisa abadi …."

Seketika itu juga, darah Marissa terasa membeku.

Inikah janji Arka bahwa "tidak akan terjadi apa-apa"? Dia bahkan akan kehilangan nyawanya di sini!

Rasa dingin yang menusuk menjalar dari telapak kaki hingga ke tulang punggung Marissa. Marissa menggigit bibirnya kuat-kuat. Sampai mengecap rasa darah, barulah Marissa sanggup menekan gemetar di tubuhnya.

Memanfaatkan kelengahan penjaga, Marissa meraih hiasan kristal di atas nakas dan menghantamkannya ke jendela dengan sekuat tenaga.

Prang!

Serpihan kaca berhamburan ke mana-mana. Marissa menggunakan tepian kaca yang tajam untuk memotong tali pengikatnya. Saat melompat turun dari lantai dua, terdengar suara "krak" yang nyaring dari pergelangan kaki kanannya.

Rasa sakit yang hebat membuat pandangan Marissa menjadi gelap. Namun, Marissa tidak berani berhenti.

Sambil menyeret pergelangan kakinya yang terkilir, Marissa berlari sempoyongan meninggalkan kediaman Keluarga Giandra dan kembali ke vila Keluarga Kivandra.

Saat membuka pintu ruang tamu, Marissa melihat Arka sedang berlutut dengan satu kaki dan mengoleskan obat ke pergelangan kaki Shalia dengan sangat hati-hati.

"Arka …." Mata Shalia tampak memerah. "Bu Marina sudah begitu lama nggak pulang. Kamu nggak khawatir sedikit pun?"

Gerakan Arka terhenti sejenak. Suaranya terdengar begitu lembut. "Aku cuma mengkhawatirkanmu. Kenapa nggak bilang padaku kalau kakimu terkilir? Kamu mau bikin aku mati karena cemas?"

Marissa berdiri di depan pintu dengan tubuh basah kuyup. Pergelangan kakinya bengkak besar, tetapi tidak dilirik sedikit saja.

Tanpa ekspresi, Marissa berjalan melewati mereka.

"Marina?" Arka baru menyadari kehadiran Marissa. Dia langsung berdiri. "Kamu …."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 8

    Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 7

    Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."Marissa langsun

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 4

    Wajah Arka langsung berubah. Dia segera merangsek maju, menggendong Shalia yang pingsan dan berlari menuju rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.Marissa berdiri mematung di tempatnya. Jari-jarinya sedikit mengepal. Namun, pada akhirnya, dia tetap mengikuti mereka.Di bawah temaram lampu lorong ruma

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status