Share

Bab 4

Author: Cupcake
Wajah Arka langsung berubah. Dia segera merangsek maju, menggendong Shalia yang pingsan dan berlari menuju rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.

Marissa berdiri mematung di tempatnya. Jari-jarinya sedikit mengepal. Namun, pada akhirnya, dia tetap mengikuti mereka.

Di bawah temaram lampu lorong rumah sakit yang pucat, lampu ruang operasi terus menyala.

Arka berdiri di depan pintu. Jasnya masih berlumuran darah Shalia. Di wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali, kini tampak gurat kegelisahan yang jarang terlihat.

Sementara itu, Marissa duduk dengan tenang di sampingnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Seorang dokter keluar dengan tergesa-gesa. "Bagaimana ini? Pasien mengalami pendarahan hebat dan butuh transfusi darah segera. Tapi, golongan darahnya RH negatif dan stok di bank darah sedang menipis!"

Arka langsung mengerutkan kening. Baru saja dia hendak angkat bicara, Marissa sudah terlebih dahulu berdiri. "Golongan darahku RH negatif. Aku bisa donorkan darah untuknya."

Arka langsung menoleh ke arah Marissa. Kilatan rasa terkejut melintas di matanya.

Marissa menyambut tatapan pria itu dengan tenang. "Menyelamatkan nyawa itu lebih penting."

Marissa kemudian mengikuti perawat untuk melakukan pengambilan darah. Saat 400 cc darah perlahan mengalir keluar dari tubuhnya, wajah Marissa tampak makin pucat, tetapi tatapan matanya tetap tenang hingga akhir.

Arka berdiri di samping. Dia menatap jarum suntik yang menembus lengan ramping Marissa. Perasaan aneh di dalam hatinya terasa makin kuat.

Sebenarnya … seberapa besar wanita ini mencintainya?

Setelah pengambilan darah selesai, Marissa berjalan keluar sambil menekan kapas pada bekas suntikannya. Dia melihat Arka masih berdiri mematung, berjaga di luar ruang operasi.

Marissa merasa ragu untuk sesaat. Namun, akhirnya dia mendekat dan berbisik pelan, "Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja."

Arka mengangkat pandangannya untuk menatap wanita itu. Suaranya terdengar agak serak. "Kamu belum mau pergi?"

Marissa pun menggelengkan kepalanya. "Bu Shalia salah paham paham kita. Setelah dia sadar, aku harus menjelaskan semuanya kepadanya."

Arka menatap lekat-lekat wajah pucat wanita itu, lalu tiba-tiba bertanya, "Apa kamu sebegitu menyukaiku?"

Marissa tertegun.

Baru saja dia hendak angkat bicara, pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Dokter berjalan keluar. "Operasinya sangat sukses. Setelah efek biusnya hilang, pasien akan segera sadar."

Bahu Arka yang semula tegang akhirnya terlihat rileks.

Marissa mundur ke samping tanpa mengatakan apa-apa.

Beberapa jam kemudian, Shalia tersadar.

Begitu membuka mata dan melihat Marissa berdiri di samping tempat tidur, mata Shalia langsung memerah. "Arka, apa kamu kembali membawanya ke sini ... karena ingin aku merestui kalian?"

Marissa buru-buru melangkah maju dan menjelaskan dengan suara lembut, "Bu Shalia, kamu sudah salah paham. Hari itu Arka memang ada rapat yang harus dihadiri. Dia mengajakku beli baju cuma karena searah, bukan kencan. Dia nggak membohongimu."

Arka pun menganggukkan kepalanya. "Aku dan dia cuma menikah karena dijodohkan. Nggak ada perasaan di antara kami."

Shalia menggigit bibirnya. Air matanya mulai bercucuran. "Lalu bagaimana kamu membuktikannya? Membuktikan kalau kamu nggak punya perasaan sedikit pun padanya?"

Arka mengerutkan kening. "Kamu mau aku membuktikannya gimana?"

Shalia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba menunjuk ke luar jendela. "Lemparkan dia ke danau es itu."

Ekspresi wajah Arka sedikit berubah. "Shalia …."

"Kamu ragu?" Suara Shalia terdengar bergetar. "Kamu benar-benar menyukainya!"

Arka terdiam selama beberapa saat. Akhirnya, dia menghela napas, berbalik dan memberi isyarat kepada pengawalnya. "Lemparkan dia ke danau."

Marissa langsung tersentak kaget.

Marissa tahu Arka bersedia melakukan apa saja demi Shalia. Akan tetapi, Marissa tidak menyangka pria itu bisa bertindak sekejam ini.

Namun, dia tidak bisa melawan.

Dia harus bertahan.

Para pengawal itu langsung menyeret Marissa keluar. Sementara itu, Arka tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak. Tatapan matanya sulit untuk dibaca.

Air di danau es itu terasa begitu dingin hingga menusuk tulang.

Saat Marissa didorong jatuh, dia langsung merasa sesak napas.

Air danau yang sedingin es merangsek masuk ke rongga hidungnya, membuat anggota tubuhnya mati rasa karena kedinginan.

Marissa menggertakkan gigi, memaksa dirinya untuk tetap terapung di permukaan air. Namun, tubuhnya tetap tenggelam ke bawah tanpa bisa dikendalikan.

Para pengawal di tepi danau menatapnya dengan dingin. Tidak ada satu pun yang mengulurkan tangan.

Kesadaran Marissa perlahan memudar. Dalam keadaan linglung, Marissa seakan melihat dirinya saat masih kecil.

Dibuang orang tuanya di desa, tanpa pakaian hangat di musim dingin, menggigil kedinginan dan hanya bisa meringkuk di gudang kayu rumah pengasuh untuk mencari kehangatan.

Sepanjang hidupnya, Marissa memang tidak pernah dipedulikan oleh siapa pun.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Marissa akhirnya ditarik ke daratan.

Sekujur tubuh Marissa terasa sedingin es, bibirnya membiru dan dia sudah kehilangan kesadaran.

Dalam keadaan setengah sadar, Marissa merasa ada orang yang menyeka tubuhnya dengan handuk hangat. Gerakannya begitu lembut.

Tanpa sadar, Marissa mencengkeram tangan itu dan bergumam lirih, "Bertahanlah sebentar lagi … sebentar lagi aku bisa pergi …."

Seketika itu juga, tangan tersebut balas mencengkeram Marissa dengan kuat. Tenaganya begitu besar hingga hampir meremukkan tulang Marissa.

"Pergi apa?" Suara Arka terdengar sedingin es.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 8

    Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 7

    Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."Marissa langsun

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 6

    Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat."Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status