Share

Bab 7

Penulis: Cupcake
Pandangan Arka menyapu sekujur tubuh Marissa, seolah ingin memastikan apakah Marissa terluka atau tidak. Akhirnya, Arka pun menghela napas lega. "Apa yang terjadi selama tiga hari ini?"

Marissa tersenyum tipis, membuat bibirnya yang pecah-pecah merembeskan darah. "Nggak ada apa-apa."

Marissa langsung memotong ke inti pembicaraan. "Pernikahan yang kamu janjikan padaku, kapan akan kamu tepati?"

Shalia langsung mendongak. "Pernikahan apa?"

Arka terdiam sejenak. "Aku dan dia akan mengadakan pernikahan ulang."

Melihat mata Shalia yang langsung memerah, Arka pun buru-buru menjelaskan, "Ini cuma upacara, Shalia. Di hatiku cuma ada kamu."

Shalia pun memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku mengerti … aku nggak marah. Lagian, kamu melakukan ini demi menyelamatkanku."

Tiba-tiba, Shalia menatap Marissa dan berkata dengan lembut, "Bu Marina, bagaimana kalau aku membantumu memilihkan gaun pengantin?"

Hari-hari berikutnya, Shalia terus menempel dan mengikuti Marissa mencoba gaun pengantin.

Di butik gaun pengantin, Marissa berdiri di depan cermin. Gaun pengantin putih bersih itu menegaskan lekuk pinggangnya yang ramping. Shalia terus mengikuti di belakang Marissa tanpa beranjak sedikit pun. Tiap helai gaun harus dia periksa sendiri dan tiap detailnya selalu dikomentari Shalia.

"Garis leher yang ini terlalu rendah." Shalia menarik kerah baju Marissa. "Ganti dengan yang lebih sopan."

"Garis pinggangnya kurang memperlihatkan bentuk tubuh." Shalia mengambil gaun lain. "Bagaimana mungkin istri Pak Arka mengenakan model yang biasa saja kayak begini?"

Marissa tetap diam dan menurut sepanjang waktu. Dia tampak seperti boneka tali yang tidak memiliki emosi.

Hingga saat gaun pengantin terakhir dipilih, di dalam ruang ganti yang kosong, Shalia akhirnya menunjukkan sifatnya yang sebenarnya.

"Ternyata selama ini kamu bukannya nggak peduli, tapi sedang jual mahal."

Shalia tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Marissa dengan kuat, hingga kuku-kukunya tertancap ke dalam kulit. "Aku peringatkan kamu. Jangan kira dengan cara ini, kamu bisa merebut Arka. Dia cuma milikku!"

Marissa bahkan tidak mengangkat pandangannya sedikit pun. Dia hanya menarik kembali tangannya dengan tenang.

Tidak ada taktik jual mahal, juga tidak ada niat sengaja merebut Arka.

Marissa justru ingin pergi lebih dari siapa pun, berharap sandiwara ini bisa segera berakhir.

Namun, yang tidak disangka Marissa adalah, Shalia sudah terlanjur yakin bahwa dia ingin merebut Arka dan mulai kembali mencari masalah.

Pada suatu malam sebelum pernikahan, Arka tiba-tiba menendang pintu kamar Marissa hingga terbuka.

"Kamu yang mengurung Shalia di dalam ruang ganti?" Wajah Arka tampak muram. "Apa kamu nggak tahu kalau dia klaustrofobia?"

Marissa memejamkan matanya dengan letih. "Bukan aku."

"Masih berani mengelak?" Arka tiba-tiba menarik Marissa agar berdiri. "Kayaknya, pelajaran yang sebelumnya masih belum cukup!"

Tanpa menghiraukan rontaan Marissa, Arka langsung menyuruh pengawal untuk mengurung Marissa di dalam ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.

Dalam kegelapan, Marissa duduk meringkuk sambil memeluk lututnya di pojokan.

Di tengah malam tiba, Marissa tiba-tiba mendengar suara gerisik.

Tak lama kemudian, sebuah kantong berisi tikus-tikus hidup dilemparkan ke dalam!

"Aaah!"

Marissa menjerit histeris sambil melompat, memukul-mukul pintu besi dengan kalap hingga kuku-kukunya pecah dan robek, tetapi tidak ada seorang pun yang datang menolongnya ….

Keesokan harinya, Arka membuka pintu dengan wajah dingin. "Cuma dikurung semalam saja, kenapa harus menangis sepanjang malam?"

Setelah melewati siksaan sepanjang malam, wajah Marissa tampak pucat pasi seperti kertas. "Shalia memasukkan tikus-tikus ke sini …."

Arka mendengus sinis. "Shalia nggak mungkin melakukan hal semacam itu."

Arka lalu menyalakan lampu. "Mana tikus yang kamu katakan itu?"

Marissa tertegun.

Ruang bawah tanah itu tampak bersih mengilap, bahkan sehelai bulu tikus pun tidak ada.

Shalia … sudah membersihkan semua barang bukti tanpa sisa.

Marissa membuka mulutnya, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.

Arka pun berkata dengan dingin, "Tiga hari lagi, hari pernikahan. Beberapa hari ini aku harus menemani Shalia. Aku baru akan datang saat hari pernikahan tiba."

Arka lalu menatap Marissa dengan penuh peringatan. "Jangan bikin masalah lagi, atau pernikahan ini akan dibatalkan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 24

    Salju di Kota Nolam turun dengan tiba-tiba.Arka berdiri di depan pintu penginapan milik Marissa. Lapisan tipis salju menempel pada jaket hitamnya. Ujung jarinya memerah karena kedinginan, tetapi dia tetap menggenggam erat amplop dokumen itu.Arka menatap nanar ke arah pintu yang tertutup rapat itu. Jakunnya bergerak naik turun, sebelum akhirnya dia mengangkat tangan dan mengetuk pintu itu.Pintu pun terbuka.Marissa berdiri di depan pintu. Saat melihat pria itu, ekspresinya tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Ada apa?"Napas Arka tertahan sejenak.Arka mengira, saat kembali bertemu dengan Marissa, akan ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ketika momen itu benar-benar tiba, Arka justru merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Tidak ada satu kata pun yang mampu dia ucapkan."Aku …." Suara Arka terdengar serak. Dia menyodorkan amplop dokumen di tangannya. "Ingin kamu mau melihatnya sebentar."Pandangan Marissa tertuju pada dokumen itu. Namun, dia tidak menerimanya. "Apa ini?"

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 23

    Arka berdiri di halaman. Tetesan darah dari buku jarinya menetes ke tanah. Namun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.Tatapannya tertuju ke arah perginya Marissa, sementara dadanya dipenuhi amarah dan penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."Pak Arka!" Asisten Arka buru-buru mendekat sambil memegang sebuah map dokumen dengan ekspresi wajah yang serius. "Sudah ketemu."Arka perlahan menarik kembali pandangannya. Suaranya terdengar sedingin es. "Apa itu?"Asisten itu sempat ragu untuk sesaat, tetapi tetap menyerahkan map itu. "Ini … semua hal yang sudah dilakukan Bu Shalia kepada Bu Marissa selama bertahun-tahun ini."Arka menyambar map dokumen itu dan membukanya dengan kasar.Di dalamnya terdapat setumpuk foto, tangkapan layar kamera pengawas dan berkas rekaman suara. Arka membolak-balik beberapa lembar secara acak dan seketika itu juga matanya langsung terbelalak.Di foto-foto itu, Shalia berdiri di ujung tangga. Saat tidak ada orang di sekitar, dia dengan sengaja menum

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 22

    Arka tidak siap dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah."Jauh-jauh darinya!" Yoga berdiri menghalang di depan Marissa. Tatapannya tajam bagaikan pisau. Suaranya mengandung peringatan yang tidak dia sembunyikan, "Sentuh dia sekali lagi, aku akan langsung lapor polisi."Arka mengangkat tangan untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Dia menatap Yoga dengan pandangan muram, sebelum kemudian beralih menatap Marissa.Ekspresi wanita itu tetap tenang, seakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya."Jadi begitu rupanya …." Arka tertawa dingin, matanya dipenuhi gejolak emosi yang rumit. "Kamu meninggalkanku karena dia?"Marissa berdiri, menepuk-nepuk debu yang sebenarnya tidak ada di gaunnya, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Arka, apa kamu nggak ngerasa terlalu percaya diri?""Aku pergi darimu, sama sekali bukan karena siapa pun."Mata Arka langsung terbelalak. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam, ba

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 21

    Sore itu, badai tiba-tiba datang.Marissa sedang menyeduh kopi di dapur. Guntur menggelegar di luar jendela dan tetesan hujan menghantam kaca dengan keras.Baru saja Marissa selesai menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru."Siapa?" Marissa membuka pintu. Yoga berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup, sementara tangannya mendekap sesuatu dengan erat di pelukannya."Cepat masuk!" Marissa segera bergeser ke samping untuk membiarkan Yoga masuk ke rumah.Yoga buru-buru melangkah masuk dan membuka jaketnya dengan hati-hati. Seekor anak kucing putih yang kurus tampak meringkuk di dalam pelukannya, gemetar kedinginan."Aku menemukannya di persimpangan gang, hampir saja hanyut terbawa air," kata Yoga dengan suara rendah, tersirat rasa iba yang mendalam.Marissa segera mengambil handuk dan membungkus anak kucing itu dengan lembut. "Keringkan dulu, aku akan ambil pengering rambut."Baru saja Marissa hendak berbalik, pergelangan tangannya mendadak ditarik oleh Y

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 20

    Arka berdiri di sudut jalan Kota Nolam. Embusan angin laut yang membawa aroma asin dan lembap menerpa wajahnya.Arka menatap kota yang asing, tetapi makmur di hadapannya itu dengan tatapan muram dan lelah.Sudah satu bulan berlalu. Dia sudah hampir menyisir setiap sudut Kota Nolam, tetapi tetap saja tidak menemukan jejak Marissa sedikit pun.Petunjuk yang dikirimkan asistennya hanya menyebutkan bahwa wanita itu membeli tiket pesawat menuju Kota Nolam. Namun, kota ini begitu luas, di manakah sebenarnya Marissa bersembunyi?Arka memijat pelipisnya. Kelelahan akibat mencari selama berhari-hari membuat matanya tampak merah.Arka mengangkat tangan untuk melirik jam tangannya. Sudah pukul sembilan malam dan pejalan kaki di jalanan mulai berangsur sepi.Arka berjalan tanpa tujuan. Tatapannya menyapu setiap sosok yang melintas, takut jika melewatkan kemungkinan sekecil apa pun.Tiba-tiba, langkah kaki Arka terhenti.Tidak jauh di depan, seorang wanita yang mengenakan gaun putih sedang berdiri

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 19

    Di sisi lain, Marissa berdiri di tepi laut. Angin laut yang lembap dan asin membelai pipinya, membuat helai rambutnya berkibar lembut.Di kejauhan, matahari terbenam mewarnai permukaan laut dengan warna oranye kemerahan. Deburan ombak menggulung ke pantai lapis demi lapis, lalu perlahan kembali menyurut.Marissa menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan merasakan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan."Bu Marissa?"Terdengar suara pria yang lembut dari arah belakang.Marissa menoleh dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, berdiri tidak jauh darinya, sambil menjinjing sekantong makanan laut segar.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan celana santai. Wajahnya tampak bersih dan tampan, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya."Aku Yoga Diratama, tinggal di sebelah rumahmu." Yoga melangkah mendekat. Suaranya terdengar hangat. "Kudengar kamu baru pindah hari ini. Jadi, aku bawakan sedikit hasil laut sebagai salam kenal antar tetangga."Marissa agak terte

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 8

    Setelah berkata seperti itu dengan wajah dingin, Arka lalu berbalik dan meninggalkan ruang bawah tanah.Marissa mendengarkan langkah kaki Arka yang perlahan menjauh, lalu baru berani berdiri perlahan sambil berpegangan pada dinding.Selama tiga hari berikutnya, Marissa mengurung diri di dalam kamar

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 6

    Saat Marissa kembali terbangun, yang terlihat di depan matanya adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih pucat."Akhirnya kamu sadar juga!" Perawat itu menghela napas lega. "Luka-lukamu begitu parah. Kami harus segera menghubungi keluargamu."Perawat itu terdiam sejenak, lalu tidak tahan

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 5

    Marissa membuka matanya karena kesakitan dan mendapati dirinya sudah kembali ke kediaman Keluarga Kivandra.Arka tengah duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap Marissa dengan muram. "Apa yang barusan kamu katakan soal pergi?"Jantung Marissa berdegap kencang. Dengan suara serak, dia mencoba berpura-

  • Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali   Bab 4

    Wajah Arka langsung berubah. Dia segera merangsek maju, menggendong Shalia yang pingsan dan berlari menuju rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.Marissa berdiri mematung di tempatnya. Jari-jarinya sedikit mengepal. Namun, pada akhirnya, dia tetap mengikuti mereka.Di bawah temaram lampu lorong ruma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status