FAZER LOGINPimpinan memanggil Maya dan ibu mertua secara terpisah untuk dimintai keterangan.Bara merasa sudah menggenggam kemenangan. Ia menatapku dengan sikap menantang.“Aluna, sekarang aku benar-benar sadar pada sifatmu. Begitu identitasku dipulihkan, aku akan langsung menceraikanmu.”Aku tak menanggapi. Aku hanya menunggu hingga sesi pemeriksaan mereka selesai.Beberapa menit kemudian, Maya keluar lebih dulu. Begitu melihat Bara, ia langsung menempel manja dan memanggil "Suami".Bara spontan menarik lengannya. “Siapa yang kamu panggil suami? Aku Bara, bukan suamimu.”Maya mengerutkan bibir. “Apa yang kamu bicarakan? Aku tadi bersusah payah meyakinkan pimpinan bahwa kita ini suami istri.”Bara langsung membeku.Belum sempat ia berkata apa-apa, ibu mertua juga keluar. Dengan wajah penuh rahasia, ia berbisik pada Bara, “Tenang saja, Nak. Ibu sudah menutupinya. Mereka pasti tidak akan curiga kalau kamu menyamar sebagai Danu.”Aku tersenyum dingin. Bara mengira dengan adanya orang yang mengetahui
Jika dulu Bara sendiri yang mengaku padaku tentang jati dirinya, mungkin aku akan terpukul dan mengikutinya pulang tanpa berpikir panjang.Namun sekarang, setelah melihat sendiri betapa mesranya ia dengan Maya, semua itu terasa ironis.Aku melepaskan tangannya, wajahku penuh ketidakpercayaan.“Suamiku sudah meninggal. Apa maksudmu menyamar sebagai dia? Kamu pikir aku bakal tertipu begitu saja?”Bara mengulurkan tangannya. “Aku benar-benar dia. Lihat bekas lukaku ….”Aku langsung memotongnya, “Bekas luka juga bisa dipalsukan. Aku tidak akan memercayaimu.”Ia semakin gelisah, bahkan mulai menarikku dengan paksa.Aku berontak sekuat tenaga. Saat Bara lengah, aku mendorongnya dan berlari ke arah luar.Ia mengejarku dengan marah. Begitu tangannya kembali menangkapku, seberkas cahaya putih tiba-tiba muncul.Beberapa orang langsung mengepung dan dengan sigap menekan Bara ke tanah. Gerakan mereka terlatih, tak memberinya sedikit pun kesempatan untuk melawan.Itu adalah regu patroli yang kebetu
Aku tak ingin meladeni mereka. Aku pun menarik Damian pergi, tetapi Bara melangkah cepat menyusul dan mencengkeram pergelangan tanganku.“Aluna, kamu dengar tidak aku bicara?”Aku berbalik, menepis tangannya dengan cepat. Wajahku datar tanpa emosi.“Danu, dengan status apa kamu mempertanyakanku?”Bara spontan melirik Maya.“Kamu kakak iparku. Tentu saja aku berhak mengurusmu. Kakakku baru meninggal belum lama ini, tapi kamu sudah bermesraan dengan lelaki lain. Masih punya rasa malu atau tidak!”Aku tak sudi mendengar dalih munafiknya dan hendak kembali pergi. Namun Bara justru menghalangi Damian, menatapnya dari atas ke bawah dengan sikap merendahkan.“Kamu tahu Aluna pernah menikah, kan? Anak yang kamu gendong itu adalah anaknya dengan suaminya. Perempuan yang sudah punya anak pun kamu masih mau?”“Aku tidak keberatan memberitahumu, aku adik iparnya. Wajahku sama dengan kakakku. Dia bahkan menganggapku sebagai pengganti. Kamu ….”Belum selesai ucapannya, Damian memotong dengan suara d
Itu adalah Komandan. Ia melangkah masuk dengan cepat. Begitu melihat kekacauan di hadapannya, wajahnya langsung mengeras. “Santunan diberikan oleh organisasi sesuai aturan, diperuntukkan bagi istri dan anak Kamerad Bara Atmaja. Tak seorang pun berhak merampasnya.”Belasan ajudan menyusul masuk. Suasana langsung hening. Tak seorang dari mereka berani bersuara lagi.Begitu melihat komandan, Bara segera memasang senyum dan mendekat dengan sikap menjilat.“Komandan, kenapa Anda sampai datang sendiri ke rumah kami? Anda tidak tahu kelakuan Aluna. Anda sudah tertipu olehnya.”“Di depan orang-orang dia mengurus pemakaman kakakku, tapi diam-diam dia menggodaku. Hanya karena wajahku mirip dengan kakak, dia ingin menikah denganku. Benar-benar tak tahu malu!”Begitu tahu yang datang adalah komandan, ibu mertua langsung duduk di tanah sambil menangis meraung-raung.“Komandan, tolong beri keadilan. Anak sulungku tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Aluna nggak bisa lahirkan anak laki-laki,
Maya berdiri di depan, dengan beberapa tetangga dan warga desa yang mengikutinya dari belakang.Begitu melihat tangan Bara dan tanganku masih saling terpaut, ia berteriak. Wajahnya langsung berubah masam.“Danu, apa yang sedang kamu lakukan?!”Orang lain ikut melirik dengan ekspresi aneh, lalu berbisik-bisik.“Bukannya mereka adik kakak ipar? Kok di siang bolong sudah begini ….”“Nggak disangka, Bara baru saja meninggal, mereka sudah main belakang.”Bara menoleh dan seketika panik.Ia segera melepaskanku dan berjalan ke arah Maya.“Istriku, ini nggak seperti yang kamu lihat. Aluna yang menggodaku.”Ia menunjukku dengan penuh amarah.“Dia mengira aku sebagai kakak. Dia mau aku menanggung dua keluarga. Katanya dia nggak bisa hidup tanpa laki-laki.”Hatiku seketika tenggelam ke dasar jurang.Cara Bara menuduhku sama persis seperti di kehidupan sebelumnya. Ia menatapku dengan jijik, dan berdiri di sisi Maya.Wajah Maya langsung berubah. Ia menatapku dengan sorot mata menakutkan, suaranya m
Aku menggenggam erat tiket di tanganku dengan spontan dan melindungi putriku di belakang tubuhku.“Aku mau ke mana bukan urusanmu. Kamu nggak berhak ikut campur, Danu.”Aku sengaja menekan pengucapan namanya.Wajah Bara menegang sejenak, lalu ia segera berkata, “Maya sedang hamil dan butuh orang yang merawatnya. Kamu hanya perlu mengurus rumah seperti dulu. Selama di rumah ini, makananmu tetap terjamin.”Aku menatapnya dingin. “Bara sudah meninggal. Aku hanya orang luar. Mana berani aku tinggal di rumahmu.”“Lagipula, kami berdua nggak ada gunanya di sini. Maya itu istrimu, urus saja sendiri.”Selesai berbicara, aku hendak membawa anakku pergi.Namun Bara melangkah cepat ke arahku dan tanpa aba-aba merebut tiket dari tanganku. Ia merobeknya menjadi beberapa bagian. Tanpa ragu, ia berkata, “Kakak ipar, aku ini memikirkan kebaikanmu. Kamu seorang janda dan membawa anak, bagaimana bisa bertahan hidup di luar sana? Lebih baik tinggal di rumah. Setidaknya nggak akan kelaparan.”Melihat pot







