Share

Bab 2

Penulis: Yela
Namun di telingaku, rasanya ada sesuatu di dalam hati yang benar-benar hancur.

Kami sudah bersama selama tujuh tahun. Bahkan jika aku benar-benar ingin membangun keluarga ….

Apa pantas sampai disebut terlalu tidak sabaran?

Tiba-tiba aku teringat, saat kami begitu dekat, diriku sempat berkata setengah bercanda di telinganya, “Kalau kamu tidak segera melamar, aku akan menikah dengan orang lain.”

Saat itu dia tertawa pelan sambil memelukku erat. “Iya, iya! Kamu sangat ingin menikah denganku, ya? Tunggu beberapa hari setelah perjamuan keluarga, aku pasti melamarmu!”

Dan aku mempercayainya sepenuh hati.

Aku bahkan diam-diam mencatat ukuran jarinya dan menyiapkan cincin nikah lebih dulu.

Sepanjang perjalanan pulang, kami tidak berbicara.

Setelah mandi, dada dingin seorang pria menempel di punggungku.

Fendy memelukku dari belakang. Tidak lama kemudian, kehangatan tubuhnya menutupi rasa dingin itu.

Suaranya serak. “Masih marah?”

Aku tidak menjawab.

Dia menggigit pelan daun telingaku. Tangannya menyelinap ke dalam piyamaku, lalu mendekat dan mencium bibirku.

Namun aku mendorongnya menjauh dan menatap langsung ke matanya.

“Fendy, kita putus saja.”

Keheningan panjang terbentang di antara kami.

Aku bisa mendengar napas Fendy yang perlahan menjadi berat.

Hingga tiba-tiba suara ponsel memecah suasana.

Dia mengangkat telepon.

“Jangan menangis. Tunggu di sana, aku segera datang.”

Setelah menutup telepon, Fendy menatapku ragu. Garis wajah tampannya sedikit menegang.

“Celine, Vivi bilang listrik di rumahnya tiba-tiba mati. Aku mau pergi memeriksa keadaannya.”

Benar saja.

Jadi ucapan putusku tadi sama sekali tidak dianggap serius.

“Aku mengerti.” Diriku mengangguk pelan.

Kalau dulu, mungkin aku akan marah dan mempertanyakan kenapa seorang asisten bisa tidak tahu batas seperti itu.

Tetapi sekarang … aku sudah terlalu lelah.

Fendy menatapku cukup lama sebelum akhirnya segera mengenakan mantel dan pergi.

Di ruang tamu hanya ada satu lampu yang menyala redup.

Pintu tertutup dari luar. Aku terduduk diam di sofa.

Setelah beberapa saat, aku mengeluarkan sebuah kotak kayu dari laci. Di dalamnya tersimpan tiga ratus surat cinta.

Dari masa SMA hingga surat terakhir sebelum kami tinggal bersama … tulisan tangannya berubah dari kekanak-kanakan menjadi dewasa. Namun setiap lembar dipenuhi janji: [Seumur hidup ini, aku tidak akan mengecewakanmu.]

Semua kata manis itu mungkin sudah lama dia lupakan.

Tetapi isi setiap surat, bahkan kehangatan dari tiap katanya … aku masih mengingat semuanya.

Tentang dirinya yang pernah menungguku pulang sekolah di tengah hujan. Menemaniku di rumah sakit. Bangun tengah malam hanya untuk membuatkan air gula merah hangat untukku ….

Saat itu, matanya penuh ketulusan. Cintanya terasa begitu besar, seolah bisa membakar seluruh dunia.

Aku membakar surat-surat itu satu per satu. Abu kertas beterbangan seperti cinta tujuh tahun kami yang hancur berkeping-keping.

Saat semuanya selesai dibereskan, Fendy kebetulan pulang.

Di tangannya ada kue dan teh susu dari toko favoritku.

“Kemarin kamu bilang ingin makan kue dari toko ini. Kebetulan tokonya belum tutup.”

Nada bicaranya santai, seolah hanya keluar berjalan-jalan sebentar.

Aku tidak bergerak.

Hanya menatapnya.

“Asistenmu baik-baik saja?”

Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti. Dia tersenyum kecil. “Ya. Ternyata dia masih seperti anak kecil, listrik mati saja takut.”

Fendy menyerahkan teh susu itu padaku dan mengusap kepalaku seperti biasa.

“Jangan minum terlalu banyak. Sebentar lagi mau tidur.”

Aku memalingkan kepala dan menghindar.

Tangannya kembali berhenti di udara. Dia menatapku dengan sedikit terkejut.

“Fendy.”

“Aku serius soal putus tadi.”

Dia menatapku beberapa detik sebelum memijat pelipisnya.

“Ini sudah yang kedua kalinya.”

“Jangan membuat masalah lagi, Celine. Aku hanya mengkhawatirkan Vivi sebagai pegawai perusahaan yang mengalami bahaya, jadi aku pergi melihatnya.”

“Lagipula aku juga sudah memberitahumu sebelumnya, dan kamu juga tidak ….”

Di titik itu, dia tampak sedikit tidak berdaya.

“Kamu masih memikirkan soal cincin itu? Sejak kapan kamu menjadi orang yang begitu perhitungan?”

“Besok aku akan meminta orang mendesain cincin yang benar-benar membuatmu puas, oke? Sekarang istirahatlah. Hari ini aku benar-benar lelah.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 9

    “Kalau rasa sukaku padamu bernilai seratus, maka selama tujuh tahun ini, kamu sudah mengikis habis semuanya.”“Di dalam hatiku … sudah benar-benar tidak ada tempat untukmu.”Napas Fendy menjadi berat. Ujung jarinya gemetar.“Aku tahu dulu diriku terlalu mengabaikanmu.” Suaranya panik bergetar. “Aku akan berubah, Celine. Percayalah padaku, aku benar-benar akan berubah. Beri satu kesempatan lagi ….”“Sudah terlambat, Fendy. Yang sudah lalu, biarlah berlalu.”Aku menatap cincin itu, lalu melepasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.Tubuh Fendy langsung goyah. Wajahnya sangat pucat.Cincin itu … aku sendiri yang belajar mendesainnya dengan mendatangi perancang perhiasan.Setelah desain selesai, diriku juga mencari pabrik pembuat cincin dan mengukirnya sedikit demi sedikit dengan tanganku sendiri.Seluruh prosesnya kulakukan sendiri.Karena aku berharap … saat menyentuh cincin itu, dia bisa merasakan cintaku.Namun sekarang, cinta itu sudah lenyap.Dan tidak ada alasan bagi cincin itu un

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 8

    “Bu, ayo pergi. Alfon bilang dia sudah menyiapkan hadiah untuk kedua keluarga.”Kupikir setelah itu hidupku dan Fendy tidak akan pernah bersinggungan lagi.Namun hari pertama setelah pulang bulan madu, Fendy sudah berdiri di depan rumahku.Dirinya terlihat jauh lebih hancur dari yang kubayangkan. Dia bersandar di mobil sambil merokok.Saat melihatku, dia segera mematikan rokok di tangannya.“Celine ….”Dia menatap wajahku tanpa berkedip. Suaranya sangat serak. “Bisakah kita berbicara?”Aku melewatinya begitu saja dan langsung membuka pintu rumah.“Lima menit saja!” Dia segera menahan pintunya. Matanya merah.“Melalui informasi dari temanku, akhirnya aku tahu kamu tinggal di sini ….”Aku berhenti lalu menoleh padanya. “Lalu? Setelah menemukanku, apa yang ingin kamu lakukan?”Mata Fendy bergetar samar. Suaranya parau. “Aku hanya … sangat merindukanmu.”“Rumah terasa kosong. Tidak ada sandal yang biasa kamu pakai. Bahkan selimut sofa favoritmu juga sudah hilang.”“Setiap kali memejamkan m

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 7

    “Celine ….”Fendy maju dan langsung menggenggam erat tanganku.Nada suaranya dipenuhi rasa panik dan gugup yang belum pernah kulihat sebelumnya.“Ini palsu, kan? Dari awal hingga akhir pernikahan ini hanya sandiwara, kan?”“Aku akan membawamu pergi ….”Aku melepaskan tangannya.Tatapan kami bertemu. Di matanya bergolak emosi yang nyaris membuat sesak napas.Namun ekspresiku tetap tenang. “Fendy, kamu datang ke tempat yang salah. Aku tidak mengirimkanmu undangan.”“Suamiku dan kedua keluarga kami ada di luar. Pergilah sendiri sebelum diriku menyuruh pengawal menyeretmu keluar.”Wajahnya perlahan memucat.Tatapannya jatuh pada undangan pernikahan mewah di sampingku.Tulisan undangan di atasnya terlihat kabur di matanya, berubah seperti api merah menyala yang membakar hingga matanya memerah.Setelah lama terdiam, dia tiba-tiba terkekeh.“Suami …? Kalau begitu aku ini apa?”Fendy tiba-tiba meraung marah, “Kalau begitu aku ini apa, Celine?! Kita sudah bersama selama tujuh tahun penuh! Dan s

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 6

    Hanya dengan membuatnya benar-benar panik sekali saja, dia baru akan mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan sesuka hati.Ketika beberapa sahabatnya datang dan melihat Fendy mengenakan jas putih lengkap, mereka langsung menghela napas lega.“Aku tahu kamu pasti tidak tega. Bukankah kita harus berangkat sekarang? Akhirnya diriku bisa minum alkohol di pesta pernikahanmu!”“Sebentar lagi jam 12 siang, upacara pernikahannya resmi dimulai!”Fendy tidak membantah, hanya menjawab malas, “Tenang saja. Biarkan dia menunggu sedikit lebih lama.”Di layar, diiringi alunan piano yang merdu, pintu besar yang tertutup rapat perlahan didorong terbuka.Celine mengenakan gaun pengantin putih, menggandeng tangan ayahnya dan berjalan perlahan menuju panggung.“Sial … Kak Celine cantik sekali!”“Pengantin wanita sudah berusaha sejauh ini, kalau kamu masih gengsi juga, kami benar-benar tidak tahan melihatnya.”“Cepat pergi! Nanti akan benar-benar terlambat!”Di layar, Celine berdiri di bawah so

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 5

    Fendy tanpa sadar kembali me-refresh halaman WhatsApp-nya.Kolom pesan Celine tetap sunyi. Sudah tiga hari sejak pesan terakhir yang dia kirim tidak mendapat balasan.Dia menggulir layar perlahan. Dirinya baru sadar bahwa hampir seluruh percakapan mereka selama ini dipenuhi pesan dari Celine sendiri … membagikan hal-hal kecil dalam kesehariannya, lengkap dengan stiker lucu.Sementara dirinya … hanya membalas dingin dengan beberapa kata pendek.Entah sejak kapan pesan Celine semakin sedikit. Sampai akhirnya, hubungan mereka hanya tersisa percakapan formal tanpa kehangatan.Ini tidak normal …. Selama tujuh tahun, Celine tidak pernah selama ini mengabaikan pesannya.Hingga pengawal datang dan meletakkan gelang itu di hadapannya.Tatapan Fendy terpaku pada gelang pusaka keluarga itu, sesaat terlihat linglung.Di kalangan keluarga elite, semua orang tahu apa arti mengembalikan benda warisan keluarga.Teman-temannya mendadak terdiam dan saling berpandangan.“Bukankah itu gelang pusaka Keluar

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 4

    Gelas pasangan, sandal rumah, syal rajut … semuanya kubuang tanpa sisa.Hanya ada satu benda yang kutahan … gelang pusaka Keluarga Vallore.Ini terlalu berharga. Setelah berpikir lama, aku memutuskan untuk mengembalikannya langsung kepada Fendy.Saat tiba di kantor, pintunya sedikit terbuka.Di dalam ada beberapa sosok yang kukenal, juga Vivi yang menopang dagu sambil memainkan bunga di meja Fendy.Tanganku yang hendak mengetuk pintu terhenti di udara.Lalu terdengar suara manja seorang wanita mengeluh, “Pak Fendy, katanya hari ini mau bersantai, kenapa masih memegangi rokok? Bukankah kamu bilang ingin berhenti merokok ….”Detik berikutnya, Fendy langsung mematikan rokok di tangannya.Sebelum sempat bicara, teman-temannya sudah lebih dulu menggodanya sambil tertawa, “Hebat, Bu Vivi-lah yang paling hebat. Pantas seluruh kantor bilang urusan kerja hingga pribadi Fendy semua diatur Bu Vivi.”“Jangan-jangan nanti Fendy mau memakai berapa kondom saja harus minta izin Bu Vivi dulu?”“Kata or

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 3

    Fendy melepaskan mantelnya sambil berjalan.“Aku sudah mau menikah.” Aku menatap punggungnya tanpa berkedip dan berkata pelan, “Pernikahannya di hari Minggu ini.”Langkah Fendy terhenti. Dia berdiri sangat dekat denganku.Beberapa saat kemudian, dia berbalik.Saat mengangkat mata, yang tersisa di ta

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 1

    Vivi Kenzi tersenyum polos sambil mengangkat gelas ke arahku. “Aku hanya asal membeli barang murah di pinggir jalan, mana mungkin seleraku bisa dibandingkan dengan Kak Celine.”Aku tidak menjawab. Tatapanku hanya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya.Di bagian dalam cincin itu masih t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status