MasukDemi menyelamatkan anak haramnya yang menderita gagal ginjal, Erik Gunawan tega membohongi istrinya sendiri dan mengirim putri mereka yang baru berusia lima tahun ke meja operasi untuk mendonorkan ginjalnya. Begitu mendengar kabar tersebut, Vanya Sadewa langsung mengendarai mobilnya bak kesetanan menuju rumah sakit. Saat dia tiba, lampu ruang operasi sudah menyala merah. Mata Vanya merah, diselimuti amarah dan keputusasaan, saat dia menggedor pintu ruang operasi dengan histeris. "Hentikan! Aku ibunya, aku nggak mengizinkan putriku mendonorkan ginjalnya!" Erik langsung maju dan mendekapnya erat-erat, menyembunyikan rasa bersalah yang teramat sangat dalam suaranya. "Vanya, maafkan aku. Kalau terus dibiarkan, nyawa Noah nggak akan tertolong. Cuma Zia yang bisa mendonorkan ginjal untuk menyelamatkannya." Vanya menatap pria yang telah dia cintai selama bertahun-tahun itu dengan tatapan tidak percaya. Wajah yang dulunya sangat Vanya rindukan, kini terasa begitu asing.
Lihat lebih banyakSaat Erik membuka matanya kembali, dia sudah berada di rumah sakit.Dia menoleh dan langsung melihat Vanya yang sedang membelakanginya."Vanya." Suara Erik terdengar sedikit serak menahan tangis. "Kamu akhirnya mau menemuiku."Vanya berbalik, lalu menatapnya dengan raut wajah tenang."Aku menemuimu kali ini cuma ingin menjelaskan semuanya dengan baik-baik."Sebelum Vanya datang menemui Erik, semua anggota keluarganya menentang keras.Dia tahu mereka khawatir dirinya akan teringat kembali pada rasa sakit di lubuk hati yang terdalam setelah melihat Erik.Akan tetapi, dia paham betul watak Erik, jika tidak benar-benar memutus harapannya, pria itu tidak akan pernah menyerah."Erik, sejak Zia meninggal, hubungan di antara kita sudah sepenuhnya berakhir."Sorot mata Erik memancarkan kepedihan, suaranya terdengar serak."Vanya, maafkan aku, aku benar-benar nggak tahu kalau donor ginjal itu akan menyebabkan Zia meninggal."Meski Vanya sudah menerima kenyataan bahwa Zia telah tiada, tetapi saat
Kota Adhikari, vila Keluarga Sadewa.Erik berdiri di depan pintu rumah Keluarga Sadewa. Dia mengangkat tangannya beberapa kali, tetapi tidak berani untuk mengetuk pintu.Begitu mengetahui Vanya telah kembali ke Kota Adhikari, dia langsung menyuruh asistennya membeli tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke sana.Saat itu, asistennya sempat membujuk dengan cemas, "Pak Erik, para pemegang saham sudah mulai mengadakan rapat umum untuk mengganti posisi CEO. Bagaimana bisa Anda pergi di saat-saat genting seperti ini?""Terlebih lagi, Keluarga Sadewa sudah mengajukan gugatan hukum terhadap Anda. Anda seharusnya secepat mungkin berkomunikasi dan berdiskusi dengan pengacara."Erik mencengkeram akta cerai di tangannya hingga nyaris remuk, dia tetap bersikeras untuk pergi ke Kota Adhikari."Urusan perusahaan kamu yang bantu tangani. Sekarang, aku harus pergi mengakui kesalahanku pada Vanya, memohon agar dia mau memaafkanku."Asistennya tidak bisa membujuk Erik lagi sehingga hanya bisa pasrah
Vanya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Tentang bagaimana Erik menyembunyikan rencana operasi Zia darinya, hingga bagaimana pria itu memindahkan seluruh dokter yang berjaga sampai membuat Zia mengalami infeksi pascaoperasi dan meninggal tanpa ada yang menyelamatkannya.Di tengah cerita, dia berulang kali tersedak tangis dan kehilangan kata-kata.Setelah seluruh kejadian itu selesai diceritakan dengan terbata-bata, ruang tamu Keluarga Sadewa seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.Bibir Santi tampak bergetar hebat dan wajahnya pucat pasi."Zia itu anak kandungnya sendiri, tega-teganya Erik sekejam itu!"Umar yang biasanya selalu tenang, kini lehernya sampai merah karena menahan amarah."Bagus. Erik benar-benar hebat! Apa dia pikir Vanya nggak punya keluarga yang bisa membelanya?"Jefri mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya berbunyi."Erik menindas Vanya dan membunuh Zia. Utang ini harus kita perhitungkan matang-matang sampai tuntas."...Di si
Pesawat mendarat dengan selamat di Kota Adhikari.Begitu Vanya keluar dari bandara sambil membawa koper, dia langsung melihat orang tua dan kakak laki-lakinya yang sudah menunggu sejak tadi.Sang kakak, Jefri Sadewa, menjadi orang pertama yang melihat sosoknya. Pria itu langsung berlari ke depan dengan penuh semangat dan memeluknya erat-erat."Akhirnya, kamu datang juga ke Kota Adhikari buat jenguk aku, Ayah dan Ibu!"Sejak empat tahun lalu, fokus bisnis Keluarga Sadewa memang perlahan-lahan sudah beralih ke Kota Adhikari.Akan tetapi, karena saat itu Vanya sudah menikah dengan Erik dan melahirkan Zia, dia hanya bisa melepas kepergian orang tua dan kakaknya yang memboyong seluruh keluarga pindah ke Kota Adhikari dengan berat hati.Melihat sudut mata orang tuanya yang tampak berkaca-kaca serta tatapan penuh perhatian dari kakaknya, seluruh rasa sesak yang tertahan selama sebulan ini beserta kepedihan atas kepergian putrinya seketika langsung meledak. Begitu membuka mulut, dia langsung t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.