Short
Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu

Menanti Musim Bunga di Bawah Gerimis Semu

Oleh:  AnonimaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
14Bab
0Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Demi menyelamatkan anak haramnya yang menderita gagal ginjal, Erik Gunawan tega membohongi istrinya sendiri dan mengirim putri mereka yang baru berusia lima tahun ke meja operasi untuk mendonorkan ginjalnya. Begitu mendengar kabar tersebut, Vanya Sadewa langsung mengendarai mobilnya bak kesetanan menuju rumah sakit. Saat dia tiba, lampu ruang operasi sudah menyala merah. Mata Vanya merah, diselimuti amarah dan keputusasaan, saat dia menggedor pintu ruang operasi dengan histeris. "Hentikan! Aku ibunya, aku nggak mengizinkan putriku mendonorkan ginjalnya!" Erik langsung maju dan mendekapnya erat-erat, menyembunyikan rasa bersalah yang teramat sangat dalam suaranya. "Vanya, maafkan aku. Kalau terus dibiarkan, nyawa Noah nggak akan tertolong. Cuma Zia yang bisa mendonorkan ginjal untuk menyelamatkannya." Vanya menatap pria yang telah dia cintai selama bertahun-tahun itu dengan tatapan tidak percaya. Wajah yang dulunya sangat Vanya rindukan, kini terasa begitu asing.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Pikiran Erik benar-benar hanya dipenuhi oleh keselamatan anak haramnya. Namun, pernahkah pria itu memikirkan bahwa Zia lahir prematur? Sejak kecil, putri mereka itu selalu lemah dan sering sakit-sakitan.

Bagaimana mungkin tubuh ringkih Zia bisa bertahan setelah kehilangan satu ginjalnya?

Lampu ruang operasi yang menyala merah bagaikan pedang yang bergantung tepat di atas kepala Vanya. Suaranya bergetar hebat.

"Erik, anak haram itu memang anakmu, tapi apa Zia bukan anakmu juga?!"

"Aku mohon sama kamu, suruh mereka hentikan operasinya, ya?"

Di akhir kalimatnya, air mata Vanya luruh berjatuhan ke lantai.

Erik yang merasa iba mengecup sudut mata istrinya yang basah, tetapi dekapannya sama sekali tidak mengendur.

"Vanya, kamu tenang aja. Cuma kehilangan satu ginjal, Zia nggak bakal kenapa-napa kok."

Vanya benar-benar kecewa mendengarnya. Dia memberontak sekuat tenaga, lalu menggigit bagian antara ibu jari dan telunjuk Erik dengan amat keras.

Bahkan hingga rasa anyir darah tercecap di mulut Vanya, Erik tidak melepaskan cengkeramannya, tetap mengunci tubuh wanita itu di tempatnya tanpa bergeming.

Entah berapa lama waktu telah berlalu, lampu ruang operasi akhirnya padam.

Dokter keluar dari sana, membawa sebuah kotak khusus sambil berjalan terburu-buru menuju lantai atas.

Wajah Erik langsung berubah gembira. Dia seketika melepaskan cengkeramannya, lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa.

Vanya langsung berlari tertatih-tatih menerobos masuk ke dalam ruang operasi.

Melihat putri kecilnya terbaring di atas meja operasi dengan wajah yang pucat, rasa bersalah yang teramat sangat seketika datang menggulung dan menenggelamkan perasaannya.

"Zia, maafin Ibu. Ibu datang terlambat, maafin Ibu."

Zia membuka matanya dengan lemah. Tangan mungilnya berusaha terangkat, mengusap pipi Vanya.

"Ibu, Ayah bilang, dia mau ajak aku ke taman hiburan? Tapi, kenapa aku malah di rumah sakit? Apa Zia nakal dan bikin Ayah marah?"

Mendengar suara putrinya yang kebingungan, hati Vanya terasa seperti diiris-iris. Tenggorokannya tercekat, tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.

Bagaimana bisa dia mengatakan kepada putrinya yang baru berusia lima tahun itu bahwa dia sama sekali tidak salah? Kenyataan pahitnya adalah, Erik, ayahnya sendiri, saat ini hanya memedulikan anak haramnya dan tidak ada lagi tempat untuk Zia di hatinya.

Kenyataan sekejam itu, mana mungkin bisa ditanggung oleh anak sekecil Zia?

Kesedihan di mata Zia tampak makin dalam dan air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Tapi, kata Ayah, Ayah paling sayang sama Zia dan Ibu? Katanya Ayah nggak bakal pernah marah sama kita berdua."

Vanya tidak sanggup lagi menahannya. Tangisnya pecah seketika.

Dulu, orang yang paling Erik cintai memang hanya dia dan Zia. Namun, sekarang, semuanya sudah berubah.

Erik dikenal sebagai sosok pebisnis yang bertangan dingin dan tak tersentuh di dunia korporat. Sementara Vanya, istrinya yang juga merupakan teman masa kecilnya, adalah satu-satunya pengecualian tempat Erik mencurahkan seluruh kelembutannya.

Hanya karena Vanya mengeluh tidak enak badan, Erik rela membatalkan kerja sama bernilai ratusan miliar malam itu juga, lalu terbang kembali dari luar negeri demi bisa merawat Vanya langsung di sisi ranjang.

Hanya karena Vanya memandangi sebuah barang antik beberapa detik lebih lama, Erik akan mengerahkan segala cara untuk menemukan pemiliknya, bahkan rela membayar jauh di atas harga pasaran demi membelinya.

Begitu Vanya hamil, Erik makin memanjakannya, menuruti apa pun yang dia inginkan.

Orang-orang bilang, pernikahan kalangan elite pada akhirnya akan merenggang dan berujung pada kebohongan masing-masing.

Akan tetapi, saat itu Vanya sangat percaya bahwa dia dan Erik adalah pengecualian.

Sampai akhirnya, saat usia kandungannya menginjak tujuh bulan, dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri pria itu sedang tidur bersama dengan seorang mahasiswi.

Hari itu, Vanya yang syok berat sampai mengalami kontraksi. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit dan terpaksa melahirkan Zia secara prematur.

Erik berlutut di sisi ranjang rumah sakit. Pria yang biasanya selalu angkuh itu menampar wajahnya sendiri berkali-kali dengan keras. Dengan pipi yang merah dan bengkak, dia memohon ampun pada istrinya, "Vanya, aku dijebak orang. Kamu harus percaya sama aku, aku nggak pernah ada niat sedikit pun buat khianatin kamu."

Melihat putri mereka yang baru saja lahir, hati Vanya pun melunak.

Erik kemudian memberikan sejumlah uang kepada mahasiswi itu untuk menyuruhnya pergi jauh, lalu kembali melanjutkan perannya sebagai suami dan ayah yang baik.

Sampai akhirnya sebulan yang lalu, Vanya tidak sengaja melihat Erik sedang menggandeng seorang anak laki-laki bersama seorang wanita.

Wajah anak laki-laki itu benar-benar cetakan sempurna dari Erik versi kecil!

Wanita itu langsung melindungi bocah itu di balik punggungnya, menatap Vanya dengan pandangan keras kepala.

"Bu Vanya, Noah cuma anak aku, Nadia Armani, seorang. Dia nggak bakal pernah merebut perusahaan Keluarga Gunawan dari putrimu."

Wajah Erik seketika menunjukkan kepanikan yang jarang sekali terlihat. Dia langsung memeluk Vanya erat-erat dan berusaha menjelaskan semuanya.

"Vanya, dia itu mahasiswi dari malam lima tahun lalu itu, malam saat aku dijebak obat perangsang."

Saat itulah Vanya baru mengetahui bahwa insiden lima tahun lalu ternyata membuat Nadia hamil. Wanita itu memilih melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian.

Belum lama ini, Nadia membawa anak itu ke Grup Gunawan untuk wawancara kerja dan di sanalah Erik tidak sengaja berpapasan dengan mereka.

Meskipun Erik sudah lama melupakan wajah mahasiswi itu, anak laki-laki di sampingnya memiliki kemiripan hingga 60% dengannya. Hanya dengan sekali lihat, Erik tahu kalau itu adalah darah dagingnya sendiri.

Sesampainya di rumah, Erik memberikan janji manis kepadanya.

"Biar bagaimanapun, Noah punya hubungan darah sama aku. Kasih aku waktu sedikit lagi, aku bakal atur tempat yang layak buat mereka berdua. Zia bakal tetap jadi satu-satunya ahli warisku, hal itu nggak akan pernah berubah."

Memikirkan putri kecilnya yang begitu bergantung pada sang ayah, Vanya lagi-lagi mengalah dan berkompromi.

Akan tetapi, tidak lama setelah itu, anak laki-laki itu didiagnosis menderita gagal ginjal.

Sejak awal Erik memang sudah didera rasa bersalah yang teramat sangat kepada Nadia dan putranya. Begitu mendengar kabar buruk ini, dia langsung mengerahkan seluruh koneksinya demi mencari donor ginjal yang cocok.

Siapa yang menyangka bahwa satu-satunya donor yang cocok, ternyata adalah Zia.

Vanya semula mengira dengan begitu besarnya rasa sayang Erik kepada Zia, pria itu pasti tidak akan pernah membiarkan putri mereka mendonorkan ginjalnya.

Akan tetapi, kenyataan justru menamparnya dengan begitu keras.

Erik tidak hanya mengusulkan agar Zia mendonorkan ginjalnya, tetapi sekarang, bahkan di saat Vanya menentangnya mati-matian, pria itu masih tega diam-diam menipu Zia hingga naik ke meja operasi.

Melihat kondisi putrinya yang begitu lemah, hati Vanya kini hanya dipenuhi penyesalan.

"Zia, Ibu bawa kamu pergi dari sini, ya? Kita nggak usah sama Ayah lagi."

"Kenapa nggak mau sama Ayah? Apa Ayah masih marah sama Zia?" Suara Zia terdengar makin lirih. "Ibu, aku mau minta maaf sama Ayah, biar Ayah nggak marah lagi. Aku nggak suka di rumah sakit."

Suara Zia lambat laun makin mengecil. Tangan mungilnya terkulai lemas, jatuh lunglai dari pipi Vanya. Dia memejamkan kedua matanya, seolah-olah merasa teramat lelah.

Jantung Vanya seketika berdegup kencang. Dia menggenggam erat tangan mungil Zia, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan.

"Zia, kamu kenapa? Buka matamu, Sayang. Tolong jangan menakuti Ibu."

Akan tetapi, Zia tetap bergeming tanpa memberikan respons sedikit pun.

Vanya berteriak histeris, memanggil dokter sekuat tenaganya.

Seorang perawat berlari tergesa-gesa menghampiri. Begitu melihat wajah Zia yang pucat pasi, perawat itu langsung memekik kaget.

"Pasien mengalami infeksi pascaoperasi, harus segera diselamatkan!"

Vanya berteriak sambil berurai air mata, "Cepat panggil dokternya!"

Perawat itu tampak sangat serba salah dan panik.

"Semua dokter sudah dipindahkan sama Pak Erik, nggak ada satu pun dokter yang bisa ke sini buat menyelamatkannya."

Tubuh Vanya gemetar hebat saat dia merogoh ponselnya dengan raut wajah yang luar biasa panik.

"Aku telepon dia sekarang!"

Vanya terus mencoba hingga 18 kali panggilan, tetapi teleponnya sama sekali tidak diangkat.

Vanya masih belum menyerah. Dia kembali menekan tombol panggil untuk ke-19 kalinya.

Telepon itu akhirnya diangkat.

"Erik, Zia ...."

Tiiiiiit!

Semua layar monitor medis mendadak berubah menjadi satu garis lurus, memekikkan suara alarm yang melengking panjang.

Vanya seketika membeku di tempatnya. Dia menatap kosong ke arah putrinya yang kini terbaring kaku di atas meja operasi.

Dari seberang telepon, terdengar suara Erik yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

"Vanya, tadi Noah baru aja selesai operasi. Operasinya sukses besar, dia udah nggak apa-apa sekarang."

"Kenapa telepon sampai berkali-kali begini? Apa Zia udah bangun dan nyariin aku? Aku ke sana sekarang, ya."

Vanya memejamkan matanya, suaranya terdengar serak.

"Nggak usah."

Baik Zia maupun dirinya, tidak akan pernah membutuhkan Erik lagi.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
14 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status