LOGIN“Kalau rasa sukaku padamu bernilai seratus, maka selama tujuh tahun ini, kamu sudah mengikis habis semuanya.”“Di dalam hatiku … sudah benar-benar tidak ada tempat untukmu.”Napas Fendy menjadi berat. Ujung jarinya gemetar.“Aku tahu dulu diriku terlalu mengabaikanmu.” Suaranya panik bergetar. “Aku akan berubah, Celine. Percayalah padaku, aku benar-benar akan berubah. Beri satu kesempatan lagi ….”“Sudah terlambat, Fendy. Yang sudah lalu, biarlah berlalu.”Aku menatap cincin itu, lalu melepasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.Tubuh Fendy langsung goyah. Wajahnya sangat pucat.Cincin itu … aku sendiri yang belajar mendesainnya dengan mendatangi perancang perhiasan.Setelah desain selesai, diriku juga mencari pabrik pembuat cincin dan mengukirnya sedikit demi sedikit dengan tanganku sendiri.Seluruh prosesnya kulakukan sendiri.Karena aku berharap … saat menyentuh cincin itu, dia bisa merasakan cintaku.Namun sekarang, cinta itu sudah lenyap.Dan tidak ada alasan bagi cincin itu un
“Bu, ayo pergi. Alfon bilang dia sudah menyiapkan hadiah untuk kedua keluarga.”Kupikir setelah itu hidupku dan Fendy tidak akan pernah bersinggungan lagi.Namun hari pertama setelah pulang bulan madu, Fendy sudah berdiri di depan rumahku.Dirinya terlihat jauh lebih hancur dari yang kubayangkan. Dia bersandar di mobil sambil merokok.Saat melihatku, dia segera mematikan rokok di tangannya.“Celine ….”Dia menatap wajahku tanpa berkedip. Suaranya sangat serak. “Bisakah kita berbicara?”Aku melewatinya begitu saja dan langsung membuka pintu rumah.“Lima menit saja!” Dia segera menahan pintunya. Matanya merah.“Melalui informasi dari temanku, akhirnya aku tahu kamu tinggal di sini ….”Aku berhenti lalu menoleh padanya. “Lalu? Setelah menemukanku, apa yang ingin kamu lakukan?”Mata Fendy bergetar samar. Suaranya parau. “Aku hanya … sangat merindukanmu.”“Rumah terasa kosong. Tidak ada sandal yang biasa kamu pakai. Bahkan selimut sofa favoritmu juga sudah hilang.”“Setiap kali memejamkan m
“Celine ….”Fendy maju dan langsung menggenggam erat tanganku.Nada suaranya dipenuhi rasa panik dan gugup yang belum pernah kulihat sebelumnya.“Ini palsu, kan? Dari awal hingga akhir pernikahan ini hanya sandiwara, kan?”“Aku akan membawamu pergi ….”Aku melepaskan tangannya.Tatapan kami bertemu. Di matanya bergolak emosi yang nyaris membuat sesak napas.Namun ekspresiku tetap tenang. “Fendy, kamu datang ke tempat yang salah. Aku tidak mengirimkanmu undangan.”“Suamiku dan kedua keluarga kami ada di luar. Pergilah sendiri sebelum diriku menyuruh pengawal menyeretmu keluar.”Wajahnya perlahan memucat.Tatapannya jatuh pada undangan pernikahan mewah di sampingku.Tulisan undangan di atasnya terlihat kabur di matanya, berubah seperti api merah menyala yang membakar hingga matanya memerah.Setelah lama terdiam, dia tiba-tiba terkekeh.“Suami …? Kalau begitu aku ini apa?”Fendy tiba-tiba meraung marah, “Kalau begitu aku ini apa, Celine?! Kita sudah bersama selama tujuh tahun penuh! Dan s
Hanya dengan membuatnya benar-benar panik sekali saja, dia baru akan mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan sesuka hati.Ketika beberapa sahabatnya datang dan melihat Fendy mengenakan jas putih lengkap, mereka langsung menghela napas lega.“Aku tahu kamu pasti tidak tega. Bukankah kita harus berangkat sekarang? Akhirnya diriku bisa minum alkohol di pesta pernikahanmu!”“Sebentar lagi jam 12 siang, upacara pernikahannya resmi dimulai!”Fendy tidak membantah, hanya menjawab malas, “Tenang saja. Biarkan dia menunggu sedikit lebih lama.”Di layar, diiringi alunan piano yang merdu, pintu besar yang tertutup rapat perlahan didorong terbuka.Celine mengenakan gaun pengantin putih, menggandeng tangan ayahnya dan berjalan perlahan menuju panggung.“Sial … Kak Celine cantik sekali!”“Pengantin wanita sudah berusaha sejauh ini, kalau kamu masih gengsi juga, kami benar-benar tidak tahan melihatnya.”“Cepat pergi! Nanti akan benar-benar terlambat!”Di layar, Celine berdiri di bawah so
Fendy tanpa sadar kembali me-refresh halaman WhatsApp-nya.Kolom pesan Celine tetap sunyi. Sudah tiga hari sejak pesan terakhir yang dia kirim tidak mendapat balasan.Dia menggulir layar perlahan. Dirinya baru sadar bahwa hampir seluruh percakapan mereka selama ini dipenuhi pesan dari Celine sendiri … membagikan hal-hal kecil dalam kesehariannya, lengkap dengan stiker lucu.Sementara dirinya … hanya membalas dingin dengan beberapa kata pendek.Entah sejak kapan pesan Celine semakin sedikit. Sampai akhirnya, hubungan mereka hanya tersisa percakapan formal tanpa kehangatan.Ini tidak normal …. Selama tujuh tahun, Celine tidak pernah selama ini mengabaikan pesannya.Hingga pengawal datang dan meletakkan gelang itu di hadapannya.Tatapan Fendy terpaku pada gelang pusaka keluarga itu, sesaat terlihat linglung.Di kalangan keluarga elite, semua orang tahu apa arti mengembalikan benda warisan keluarga.Teman-temannya mendadak terdiam dan saling berpandangan.“Bukankah itu gelang pusaka Keluar
Gelas pasangan, sandal rumah, syal rajut … semuanya kubuang tanpa sisa.Hanya ada satu benda yang kutahan … gelang pusaka Keluarga Vallore.Ini terlalu berharga. Setelah berpikir lama, aku memutuskan untuk mengembalikannya langsung kepada Fendy.Saat tiba di kantor, pintunya sedikit terbuka.Di dalam ada beberapa sosok yang kukenal, juga Vivi yang menopang dagu sambil memainkan bunga di meja Fendy.Tanganku yang hendak mengetuk pintu terhenti di udara.Lalu terdengar suara manja seorang wanita mengeluh, “Pak Fendy, katanya hari ini mau bersantai, kenapa masih memegangi rokok? Bukankah kamu bilang ingin berhenti merokok ….”Detik berikutnya, Fendy langsung mematikan rokok di tangannya.Sebelum sempat bicara, teman-temannya sudah lebih dulu menggodanya sambil tertawa, “Hebat, Bu Vivi-lah yang paling hebat. Pantas seluruh kantor bilang urusan kerja hingga pribadi Fendy semua diatur Bu Vivi.”“Jangan-jangan nanti Fendy mau memakai berapa kondom saja harus minta izin Bu Vivi dulu?”“Kata or
Fendy melepaskan mantelnya sambil berjalan.“Aku sudah mau menikah.” Aku menatap punggungnya tanpa berkedip dan berkata pelan, “Pernikahannya di hari Minggu ini.”Langkah Fendy terhenti. Dia berdiri sangat dekat denganku.Beberapa saat kemudian, dia berbalik.Saat mengangkat mata, yang tersisa di ta
Namun di telingaku, rasanya ada sesuatu di dalam hati yang benar-benar hancur.Kami sudah bersama selama tujuh tahun. Bahkan jika aku benar-benar ingin membangun keluarga ….Apa pantas sampai disebut terlalu tidak sabaran?Tiba-tiba aku teringat, saat kami begitu dekat, diriku sempat berkata setenga
Vivi Kenzi tersenyum polos sambil mengangkat gelas ke arahku. “Aku hanya asal membeli barang murah di pinggir jalan, mana mungkin seleraku bisa dibandingkan dengan Kak Celine.”Aku tidak menjawab. Tatapanku hanya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya.Di bagian dalam cincin itu masih t







