แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Yela
Fendy melepaskan mantelnya sambil berjalan.

“Aku sudah mau menikah.” Aku menatap punggungnya tanpa berkedip dan berkata pelan, “Pernikahannya di hari Minggu ini.”

Langkah Fendy terhenti. Dia berdiri sangat dekat denganku.

Beberapa saat kemudian, dia berbalik.

Saat mengangkat mata, yang tersisa di tatapannya hanyalah dingin dan hambar … bahkan dirinya malas berpura-pura lagi.

“Celine, sebenarnya hari ini kamu kenapa?”

Fendy memijat pelipisnya, terlihat lelah dan kesal. “Bukankah kita sudah sepakat soal pernikahannya ditunda dulu?”

“Kamu bisa menundanya sesukamu. Aku tetap akan menikah.” Ekspresi dan suaraku sangat tenang.

“Hotel dan gaunnya sudah dipesan.”

“Bahkan lokasi bulan madunya juga sudah dipilih.”

Dia menahan napas sesaat, lalu tiba-tiba tertawa dingin. “Kalau hanya ingin menikah, minggu ini aku akan meminta Vivi mengosongkan satu jam jadwalku, dan kita pergi mengurus akta nikah.”

“Model cincinnya kamu yang pilih, budgetnya terserah dirimu. Soal pesta pernikahan, jika nanti ingin upacara seperti apa, katakan saja dan aku bisa menebusnya. Sekarang puas?”

Sampai di titik itu, akhirnya aku tidak bisa menahan diri lagi.

Lampu putih dingin menusuk mataku hingga terasa perih. Aku tertawa tanpa emosi.

“Fendy … apa ini yang disebut melamarku?”

“Atau … sekadar belas kasihan?”

Di malam ketika aku sudah menjadi bahan tertawaan semua orang, dengan nada tidak berdaya dan sedikit keterpaksaan, seperti sedang bernegosiasi … seperti sedang memberi sedekah ….

Dia berkata ingin menikah denganku.

Kalimat yang kutunggu selama tujuh tahun … akhirnya kudengar dengan cara seperti ini.

Alisnya sedikit berkerut saat menatapku.

“Celine, sebenarnya kamu mau apa?”

“Perusahaan sedang berada di fase penting dalam pendanaan. Aku benar-benar tidak punya energi memikirkan hal seperti ini sekarang. Tadi juga aku hanya asal bicara. Kalau kamu bosan, cari saja kesibukan lain. Jangan setiap hari hanya memikirkan pernikahan.”

“Kamu seperti ini … membuatku sangat lelah.”

Dulu, kata-kata seperti itu bisa menghancurkanku dengan mudah. Tetapi sekarang aku tidak terlalu merasakan sakit lagi.

Fendy semakin sibuk.

Selalu ada pekerjaan yang tidak ada habisnya. Dan selalu ada janji dengan asistennya yang tidak pernah selesai dipenuhi.

Malam-malam ketika Fendy pulang larut dengan alasan lembur … sebenarnya di mana dia lembur?

Restoran mahal. Bioskop privat. Bahkan apartemen kecil milik Vivi yang mungil namun indah ….

Aku tidak ingin lagi menipu diriku sendiri.

Dan juga tidak ingin terus bertahan.

Aku menatap matanya dan tersenyum tipis.

“Fendy. Kamu bilang dirimu lelah. Padahal … aku juga lelah.”

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung masuk ke kamar tidur.

Di meja rias masih terbentang sketsa desain cincin nikah itu.

Dari desain hingga menjadi barang jadi, semuanya kuurus sendiri.

Awalnya aku pernah dengan penuh semangat berdiskusi dengannya. Namun setelah sekilas melihatnya dan berkata, “nanti saja”, dia tidak pernah lagi menyentuh desain itu.

Aku perlahan memejamkan mata, senyum mengejek diri sendiri muncul di bibirku.

Hingga suara ponsel yang berdering menarik pikiranku kembali.

Saat melihat tulisan “Ibu” di layar, baru kusadari pandanganku sudah kabur karena air mata. Aku segera mengangkatnya.

“Ibu ….”

Ibuku berkata dengan nada setengah memarahi, “Dasar anak bodoh, masih ingat punya ibu rupanya? Kalau memang tidak mau soal perjodohan itu, ya sudah.”

“Walaupun calon itu dipilih ayahmu dengan sangat hati-hati, dan keluarga kita juga sudah lama saling mengenal … tetapi untuk urusan pernikahan, Ibu tetap ingin kamu bahagia.”

“Kamu dan Fendy sudah bersama selama tujuh tahun, bukan tujuh bulan.” Ibu menghela napas.

“Ayah dan Ibu hanya takut kamu menderita. Ayahmu juga belum menyuruh orang mencetak undangan. Masih belum terlambat.”

Akhirnya aku benar-benar tidak mampu menahan diri lagi. Mataku memerah.

Aku berkata pelan, “Ibu … putrimu ini mampu menerima kekalahan.”

“Katakan pada Ayah … cetak saja undangannya.”

Sejak hari itu, hubunganku dengan Fendy membeku total.

Dia juga pindah tinggal di kantor dengan alasan pekerjaan.

Namun itu justru memberiku lebih banyak waktu untuk membereskan semuanya.

Dengan sungguh-sungguh, aku menghapus setiap jejak keberadaanku di rumah itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 9

    “Kalau rasa sukaku padamu bernilai seratus, maka selama tujuh tahun ini, kamu sudah mengikis habis semuanya.”“Di dalam hatiku … sudah benar-benar tidak ada tempat untukmu.”Napas Fendy menjadi berat. Ujung jarinya gemetar.“Aku tahu dulu diriku terlalu mengabaikanmu.” Suaranya panik bergetar. “Aku akan berubah, Celine. Percayalah padaku, aku benar-benar akan berubah. Beri satu kesempatan lagi ….”“Sudah terlambat, Fendy. Yang sudah lalu, biarlah berlalu.”Aku menatap cincin itu, lalu melepasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.Tubuh Fendy langsung goyah. Wajahnya sangat pucat.Cincin itu … aku sendiri yang belajar mendesainnya dengan mendatangi perancang perhiasan.Setelah desain selesai, diriku juga mencari pabrik pembuat cincin dan mengukirnya sedikit demi sedikit dengan tanganku sendiri.Seluruh prosesnya kulakukan sendiri.Karena aku berharap … saat menyentuh cincin itu, dia bisa merasakan cintaku.Namun sekarang, cinta itu sudah lenyap.Dan tidak ada alasan bagi cincin itu un

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 8

    “Bu, ayo pergi. Alfon bilang dia sudah menyiapkan hadiah untuk kedua keluarga.”Kupikir setelah itu hidupku dan Fendy tidak akan pernah bersinggungan lagi.Namun hari pertama setelah pulang bulan madu, Fendy sudah berdiri di depan rumahku.Dirinya terlihat jauh lebih hancur dari yang kubayangkan. Dia bersandar di mobil sambil merokok.Saat melihatku, dia segera mematikan rokok di tangannya.“Celine ….”Dia menatap wajahku tanpa berkedip. Suaranya sangat serak. “Bisakah kita berbicara?”Aku melewatinya begitu saja dan langsung membuka pintu rumah.“Lima menit saja!” Dia segera menahan pintunya. Matanya merah.“Melalui informasi dari temanku, akhirnya aku tahu kamu tinggal di sini ….”Aku berhenti lalu menoleh padanya. “Lalu? Setelah menemukanku, apa yang ingin kamu lakukan?”Mata Fendy bergetar samar. Suaranya parau. “Aku hanya … sangat merindukanmu.”“Rumah terasa kosong. Tidak ada sandal yang biasa kamu pakai. Bahkan selimut sofa favoritmu juga sudah hilang.”“Setiap kali memejamkan m

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 7

    “Celine ….”Fendy maju dan langsung menggenggam erat tanganku.Nada suaranya dipenuhi rasa panik dan gugup yang belum pernah kulihat sebelumnya.“Ini palsu, kan? Dari awal hingga akhir pernikahan ini hanya sandiwara, kan?”“Aku akan membawamu pergi ….”Aku melepaskan tangannya.Tatapan kami bertemu. Di matanya bergolak emosi yang nyaris membuat sesak napas.Namun ekspresiku tetap tenang. “Fendy, kamu datang ke tempat yang salah. Aku tidak mengirimkanmu undangan.”“Suamiku dan kedua keluarga kami ada di luar. Pergilah sendiri sebelum diriku menyuruh pengawal menyeretmu keluar.”Wajahnya perlahan memucat.Tatapannya jatuh pada undangan pernikahan mewah di sampingku.Tulisan undangan di atasnya terlihat kabur di matanya, berubah seperti api merah menyala yang membakar hingga matanya memerah.Setelah lama terdiam, dia tiba-tiba terkekeh.“Suami …? Kalau begitu aku ini apa?”Fendy tiba-tiba meraung marah, “Kalau begitu aku ini apa, Celine?! Kita sudah bersama selama tujuh tahun penuh! Dan s

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 6

    Hanya dengan membuatnya benar-benar panik sekali saja, dia baru akan mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan sesuka hati.Ketika beberapa sahabatnya datang dan melihat Fendy mengenakan jas putih lengkap, mereka langsung menghela napas lega.“Aku tahu kamu pasti tidak tega. Bukankah kita harus berangkat sekarang? Akhirnya diriku bisa minum alkohol di pesta pernikahanmu!”“Sebentar lagi jam 12 siang, upacara pernikahannya resmi dimulai!”Fendy tidak membantah, hanya menjawab malas, “Tenang saja. Biarkan dia menunggu sedikit lebih lama.”Di layar, diiringi alunan piano yang merdu, pintu besar yang tertutup rapat perlahan didorong terbuka.Celine mengenakan gaun pengantin putih, menggandeng tangan ayahnya dan berjalan perlahan menuju panggung.“Sial … Kak Celine cantik sekali!”“Pengantin wanita sudah berusaha sejauh ini, kalau kamu masih gengsi juga, kami benar-benar tidak tahan melihatnya.”“Cepat pergi! Nanti akan benar-benar terlambat!”Di layar, Celine berdiri di bawah so

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 5

    Fendy tanpa sadar kembali me-refresh halaman WhatsApp-nya.Kolom pesan Celine tetap sunyi. Sudah tiga hari sejak pesan terakhir yang dia kirim tidak mendapat balasan.Dia menggulir layar perlahan. Dirinya baru sadar bahwa hampir seluruh percakapan mereka selama ini dipenuhi pesan dari Celine sendiri … membagikan hal-hal kecil dalam kesehariannya, lengkap dengan stiker lucu.Sementara dirinya … hanya membalas dingin dengan beberapa kata pendek.Entah sejak kapan pesan Celine semakin sedikit. Sampai akhirnya, hubungan mereka hanya tersisa percakapan formal tanpa kehangatan.Ini tidak normal …. Selama tujuh tahun, Celine tidak pernah selama ini mengabaikan pesannya.Hingga pengawal datang dan meletakkan gelang itu di hadapannya.Tatapan Fendy terpaku pada gelang pusaka keluarga itu, sesaat terlihat linglung.Di kalangan keluarga elite, semua orang tahu apa arti mengembalikan benda warisan keluarga.Teman-temannya mendadak terdiam dan saling berpandangan.“Bukankah itu gelang pusaka Keluar

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 4

    Gelas pasangan, sandal rumah, syal rajut … semuanya kubuang tanpa sisa.Hanya ada satu benda yang kutahan … gelang pusaka Keluarga Vallore.Ini terlalu berharga. Setelah berpikir lama, aku memutuskan untuk mengembalikannya langsung kepada Fendy.Saat tiba di kantor, pintunya sedikit terbuka.Di dalam ada beberapa sosok yang kukenal, juga Vivi yang menopang dagu sambil memainkan bunga di meja Fendy.Tanganku yang hendak mengetuk pintu terhenti di udara.Lalu terdengar suara manja seorang wanita mengeluh, “Pak Fendy, katanya hari ini mau bersantai, kenapa masih memegangi rokok? Bukankah kamu bilang ingin berhenti merokok ….”Detik berikutnya, Fendy langsung mematikan rokok di tangannya.Sebelum sempat bicara, teman-temannya sudah lebih dulu menggodanya sambil tertawa, “Hebat, Bu Vivi-lah yang paling hebat. Pantas seluruh kantor bilang urusan kerja hingga pribadi Fendy semua diatur Bu Vivi.”“Jangan-jangan nanti Fendy mau memakai berapa kondom saja harus minta izin Bu Vivi dulu?”“Kata or

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 2

    Namun di telingaku, rasanya ada sesuatu di dalam hati yang benar-benar hancur.Kami sudah bersama selama tujuh tahun. Bahkan jika aku benar-benar ingin membangun keluarga ….Apa pantas sampai disebut terlalu tidak sabaran?Tiba-tiba aku teringat, saat kami begitu dekat, diriku sempat berkata setenga

  • Dia Menyesal Setelah Kehilanganku   Bab 1

    Vivi Kenzi tersenyum polos sambil mengangkat gelas ke arahku. “Aku hanya asal membeli barang murah di pinggir jalan, mana mungkin seleraku bisa dibandingkan dengan Kak Celine.”Aku tidak menjawab. Tatapanku hanya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya.Di bagian dalam cincin itu masih t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status