Short
Dia Tanda Tangan Perjanjian Cerai Tanpa Baca

Dia Tanda Tangan Perjanjian Cerai Tanpa Baca

Oleh:  Jasmine FlowerTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Bab
2Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pada hari ketiga mengabaikanku, Gravin alias suamiku sekaligus CEO perusahaan kami, menyetujui sebuah proyek real estat yang diajukan oleh asistennya, Vanessa. Proyek itu sudah dipastikan akan merugi. Dia mengira aku akan menerobos masuk ke kantornya dan memaksanya untuk membatalkan proyek tersebut. Namun, aku tidak melakukannya. Seminggu kemudian, dia kembali dari perjalanan bisnis. Ketika melihat bahwa aku tidak berdebat ataupun membuat keributan, dia menatapku dengan rasa puas untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Kemudian, dia memberikan posisiku kepada Vanessa. Dia mengira hal itu akan membuatku kehilangan kendali. Ternyata tidak. Aku merapikan semua berkas proyek dan menatanya dengan rapi di meja kerja baru Vanessa. Kemudian, Gravin menghapus namaku dari proposal yang kutulis dan menggantinya dengan nama Vanessa hanya supaya dia bisa mendapatkan bonusnya. Aku tetap tidak melawan. Vanessa tersenyum puas sambil berkata kepadanya, “Lihat? Aku sudah bilang, jangan melawan Evelyn secara langsung. Kamu cukup mengucilkannya sampai dia menyerah. Dia sangat takut kehilanganmu. Itu sebabnya dia akhirnya mulai menurut.” Gravin mempercayai setiap perkataannya. Dia bahkan memujinya pintar. Malam itu, dia memanggilku ke kantornya dan menjanjikan kenaikan gaji, mengembalikan posisiku yang lama, serta bulan madu ke Eropa yang telah dia tunda selama tiga tahun. Itu adalah hal baik pertama yang dia tawarkan kepadaku setelah sekian lama. Dia mengira aku akan menangis bahagia. Tapi, aku tidak melakukannya. Karena tujuh hari sebelumnya, saat terburu-buru menyetujui kesepakatan real estat Vanessa yang sudah dipastikan akan gagal, Gravin telah menandatangani surat perjanjian perceraian yang tersembunyi di dalam tumpukan dokumen itu tanpa membacanya sedikit pun. Hanya saja, dia belum tahu.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

“Evelyn, dewan direksi menginginkan proposal final Harbor Point besok pagi. Gravin bilang penilaian risikonya harus selesai malam ini.”

Vanessa menjatuhkan setumpuk dokumen tebal ke atas mejaku.

Laporan lingkungan terbaru berada di bagian paling atas. Di bawahnya ada sengketa penyewa, persyaratan pembiayaan, dan anggaran renovasi terbaru.

Satu masalah yang terlewat saja bisa membuat perusahaan kehilangan miliaran rupiah.

Vanessa menerima dokumen-dokumen itu pukul tiga sore.

Sementara sekarang sudah pukul 8.40.

“Baik.” Aku menarik berkas-berkas itu ke hadapanku.

Dia jelas tidak menyangka aku akan menyetujuinya semudah itu.

“Malam ini aku dan Gravin harus menghadiri pertemuan dengan pihak bank, jadi mungkin akan pulang larut. Setelah selesai, taruh semuanya di kantornya.”

Dia berjalan pergi, lalu berbalik lagi.

“Oh, model arsitektur di mejanya penuh debu. Saat kamu meletakkan dokumen di kantornya, sekalian lap model itu.”

Setelah itu, dia pergi dengan suara hak sepatunya yang beradu tajam dengan lantai.

Kantor kembali hening.

Beberapa karyawan yang masih bekerja lembur melirik ke arahku. Suasana jelas canggung.

Semua orang tahu aku adalah istri Gravin, sementara Vanessa hanyalah asistennya.

Namun, di Witama Karya, dia selalu memberi perintah seolah-olah dialah istri CEO.

Enam bulan sebelumnya, Gravin merekrutnya dari sebuah perusahaan pialang properti yang hampir bangkrut.

Dia belum pernah menangani proyek pengembangan besar.

Namun, dalam waktu tiga bulan saja, dia sudah naik dari asisten eksekutif menjadi Associate Director Pengembangan.

Sekarang, dia masih menginginkan apartemen Harbor Point.

Itu adalah proyekku.

Aku telah menghabiskan lebih dari setahun untuk menegosiasikan akuisisi dan menyelesaikan masalah hukum serta pembiayaannya.

Ketika kami sudah siap memulai pembangunan, Gravin tiba-tiba mengumumkan bahwa Vanessa akan menggantikanku sebagai pemimpin proyek.

Dalam rapat eksekutif minggu lalu, ketujuh pejabat senior menentang keputusan tersebut.

Gravin adalah satu-satunya orang yang mendukungnya.

Alih-alih mempertimbangkannya kembali, dia menuduhku menghasut manajemen untuk melawan karyawan baru.

“Kamu sengaja membuat semua orang menentangnya karena kamu nggak mau punya saingan.”

Kemudian, dia mengeluarkanku dari proyek tersebut.

Setiap eksekutif yang menentang Vanessa disingkirkan dari tim inti. Bonus kuartalan mereka bahkan dibekukan.

Setelah itu, tak seorang pun berani menentangnya lagi.

Malam itu, Gravin pulang dan memberiku apa yang dia sebut sebagai penjelasan.

“Kamu adalah istriku. Wajar orang-orang memihakmu.”

“Vanessa nggak punya koneksi di sini. Nggak ada yang membelanya. Aku hanya memberinya kesempatan yang adil.”

Entah bagaimana, aku malah mempercayainya.

Seminggu setelah Vanessa mengambil alih Harbor Point, dia salah mengira luas keseluruhan bangunan sebagai luas yang dapat disewakan.

Kesalahan itu hampir membuat perusahaan kehilangan 120 miliar.

Aku begadang semalaman untuk menyusun ulang model keuangan dan menegosiasikan kembali penawaran sebelum tenggat waktu.

Vanessa tetap mempertahankan posisinya.

Gravin pun terus menyebutnya sebagai keadilan.

Dia mendapatkan pujian, sementara aku mendapatkan kekacauannya.

Terdengar suara langkah kaki di dekat tangga.

Aku mendongak dan melihat Gravin turun dari lantai eksekutif.

Dia mengenakan mantel wol berwarna abu-abu arang dan jam mekanis berwarna perak.

Vanessa memberinya jam itu sebagai hadiah ulang tahun.

Aku pernah membelikannya beberapa jam tangan sebelumnya.

Dia tidak pernah mengenakan satu pun.

Dia selalu mengatakan bahwa sesuatu yang melingkar di pergelangan tangannya akan mengganggunya saat bekerja.

Namun, dia sudah mengenakan jam pemberian Vanessa itu setiap hari selama tiga minggu berturut-turut.

Gravin melirik ke arahku.

Matanya sempat berhenti sejenak pada tumpukan berkas yang memenuhi mejaku.

Dia tidak bertanya kenapa aku masih bekerja selarut ini.

Dia hanya melihat waktu, lalu berjalan menuju lift.

Beberapa menit kemudian, Vanessa keluar dari kamar kecil.

Dia telah mengoleskan kembali lipstiknya dan melepas blazer. Kini dia hanya mengenakan gaun hitam yang pas di tubuh.

Dia melewati mejaku dengan langkah ringan.

“Jangan terlalu memaksakan diri, Evelyn.”

Pintu lift terbuka.

Gravin sudah menunggunya di dalam.

Dia menahan pintu untuk Vanessa. Dia bahkan tidak menatapku lagi.

Gravin tahu persis apa yang sedang dilakukannya.

Semuanya bermula tiga bulan sebelumnya, ketika aku menemukan alamat apartemen Vanessa tersimpan dalam daftar destinasi yang paling sering dikunjungi di map mobil Gravin.

Dia telah mengemudi ke sana sebanyak 17 kali dalam satu bulan.

Jadi, aku mengonfrontasinya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status