Share

Bab 3

Auteur: Mona
Kalimat itu membuat hidung Risa terasa perih. Dulu, setiap kali ia bertengkar dengan ayahnya lalu kabur dari rumah, Niko selalu menyetir berkeliling kota mencarinya, lalu menggendongnya pulang.

“Bikin ulah apa lagi?” Kalimat Niko waktu itu pun selalu sama.

Risa bersandar di punggungnya, menghirup aroma cedar yang dingin dan bersih dari tubuh Niko. Dengan polosnya, Risa mengira mungkin, hanya mungkin, pria itu juga sedikit menyukainya.

Sekarang kalau dipikir-pikir, tidak ada yang lebih bajingan daripada Niko. Jelas-jelas tidak menyukai Risa, tapi tetap ingin bersama Risa. Bahkan setelah semua ini, dia masih bisa kembali ke ruang kerja, menatap foto Dinda dengan tatapan penuh rasa sayang.

Risa tidak mengerti, sebenarnya apa yang membuatnya kalah dari Dinda. Soal latar belakang keluarga, wajah, atau tubuh, bagian mana darinya yang kalah? Niko bisa menyukai siapa saja, tapi kenapa Dinda? Kenapa harus Dinda?!

“Lepaskan!” Dengan mata memerah, Risa menggigit tangan Niko sekuat tenaga.

Pria itu mengerutkan kening, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia langsung menyalakan mobil. Niko mengemudi kembali ke vila, mengangkat koper Risa dan membawanya masuk.

“Sama seperti biasanya,” ucap Niko sambil membuka kancing manset, nada suaranya tak memberi ruang untuk dibantah. “Tinggallah sampai kamu ingin pulang.”

Risa berdiri di dekat pintu masuk, ujung jarinya menekan telapak tangan hingga sakit. “Aku hanya akan tinggal selama setengah bulan. Setelah itu aku pergi. Aku akan bayar uang sewa, dan tidak akan mengganggumu lagi.”

“Tidak akan menggangguku lagi?” Niko perlahan mengangkat wajahnya, menatap Risa dari balik kacamata berbingkai emas miliknya, sorot matanya dalam dan tak terbaca. “Kamu yakin bisa melakukannya?”

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk jantung. Dada Risa mendadak terasa nyeri. Ternyata Niko sudah menyadarinya sejak lama. Menyadari perubahan Risa, yang dari awal penuh pertentangan, hingga kini yang tidak bisa hidup tanpa Niko.

Risa sudah jatuh cinta pada Niko.

Lalu bagaimana dengan Niko? Apakah dia akan terus memendam bayangan cinta pertamanya, sambil menyaksikan Risa tenggelam semakin dalam dengan tatapannya yang dingin?

“Dinda .…” Risa tiba-tiba angkat bicara. “Dia putri dari ibu tiriku. Apa kamu tahu?”

Gerakan Niko saat melonggarkan dasinya terhenti sesaat. “Baru tahu hari ini.”

Hening cukup lama. Pada akhirnya, Risa tetap tidak bisa menahan untuk bertanya, “Kamu dan dia ada hubungan apa?”

“Junior di sekolah,” jawab Niko sambil menuangkan segelas air, meminumnya perlahan dan tenang. “Kami satu sekolah, dulu pernah berada di organisasi yang sama. Aku pernah kecelakaan mobil, dia yang menyelamatkanku. Setelah itu kesehatannya tidak terlalu baik, jadi harus dirawat di luar negeri dalam waktu yang lama.”

Niko menatap Risa dengan sorot mata yang mengandung peringatan. “Aku tahu kamu punya masalah dengan ibu tirimu, tapi ini tidak ada hubungannya dengan Dinda. Kamu tidak perlu menargetkannya.”

Semua kata yang ingin diucapkan Risa langsung tersangkut di tenggorokan. Awalnya ia ingin bertanya, "Kamu menyukainya?" Tapi sekarang, pertanyaan itu terasa konyol. Dengan sikap Niko yang selalu membela Dinda seperti ini, apa masih perlu bertanya?

Risa pun berbalik menuju kamar tamu dan membanting pintu dengan keras. Malam itu, untuk pertama kalinya, Niko tidak menemuinya. Risa berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit sambil melamun.

Benar juga. Cinta pertama Niko sudah kembali. Mana mungkin dia masih sempat memikirkan Risa?

Keesokan harinya, Risa sengaja tidur sampai siang, berniat menghindari Niko. Namun saat membuka pintu, ia justru mendapati pria itu masih ada di rumah. Niko duduk di sofa, kacamata berbingkai emas miliknya bertengger di batang hidungnya yang mancung, tangannya membalik halaman majalah keuangan.

“Sudah bangun?” katanya tanpa mengangkat kepala.

“Kamu tidak ke kantor?”

“Akhir pekan.”

Risa hanya mengeluarkan suara “oh”, lalu mengambil beberapa kudapan manis dari kulkas dan bersiap kembali ke kamarnya.

Namun Niko tiba-tiba berbicara, “Ganti baju. Nanti ikut aku ke sebuah acara.”

Risa sebenarnya ingin menolak. Tapi setelah dipikir-pikir, dibanding harus berduaan satu ruangan dengannya, lebih baik keluar untuk menghirup udara segar. Akhirnya ia pun berganti pakaian dan ikut pergi bersama Niko.

Baru setelah tiba di tempat itu, Risa sadar, ternyata ini adalah jamuan penyambutan Dinda. Risa langsung berbalik hendak pergi, tapi Dinda dengan antusias menggandeng lengannya.

“Kak, syukurlah kamu datang. Jangan bertengkar lagi dengan Paman, ya. Sejak kamu kabur dari rumah, dia seharian tidak makan karena khawatir.”

Risa mencibir dingin. “Jadi kamu juga tahu dia cuma pamanmu? Kalau begitu, mau aku kabur dari rumah atau bertengkar dengannya, memangnya ada hubungannya denganmu? Rumahmu di pinggir laut, ya? Sampai berisik seperti ini?”

Risa menghempaskan tangan Dinda lalu masuk ke ruang privat. Dari sudut matanya, ia melihat mata Dinda memerah, wajahnya penuh keluhan saat menatap Niko. Niko menatap Risa dengan ekspresi gelap, sorot matanya mengandung peringatan. Sesaat kemudian, Niko justru dengan lembut mengusap rambut Dinda, entah mengatakan apa, sampai gadis itu berhenti menangis dan tersenyum lagi.

Hati Risa terasa seperti ditusuk. Ia menunduk, lalu meneguk minuman beralkohol dengan cepat.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status