Share

Bab 2

Penulis: Mona
Risa sama sekali tidak pernah menyangka kalau putri ibu tirinya yang selama bertahun-tahun dirawat di luar negeri karena sakit, ternyata adalah cinta pertama Niko. Tuhan benar-benar sedang mempermainkannya dengan lelucon yang kejam.

Detik berikutnya, Dinda sudah melangkah ke arah Risa, menampilkan senyum manis yang nyaris tak bercela. “Kakak, maaf ya, kami mengganggu tidurmu .…”

Belum sempat kalimat itu selesai, BRAK! Risa membanting pintu kamarnya dengan keras.

“Risa! Kamu masih punya sopan santun atau tidak?” Ayah Risa berteriak dari luar. “Kosongkan kamarmu! Dinda menyukainya, mulai sekarang kamarmu jadi kamarnya!”

Risa mencibir dingin. Ia langsung membuka lemari dan mulai membereskan barang-barangnya. Dari luar pintu terdengar percakapan terputus-putus.

“Paman Hendra, apa Kakak marah?” Suara Dinda terdengar lembut seolah bisa meneteskan air.

“Tidak usah dipedulikan. Sejak kecil memang dia terlalu dimanja.”

“Tapi .…”

“Tenang saja. Dia akan segera menikah dan pergi ke Kota Selatan. Setelah itu, rumah ini jadi milikmu dan ibumu.”

Gerakan tangan Risa sempat berhenti sejenak, lalu senyum sinis di bibirnya kian dalam. Ia dengan cekatan memesan tiket pesawat ke Kota Selatan untuk akhir bulan, lalu melanjutkan berkemas.

Tiga puluh menit kemudian, Risa menyeret koper keluar dari kamar. Di ruang tamu, ayahnya, Tika dan Dinda duduk bersama di sofa, menonton televisi. Di meja tersaji buah dan kudapan. Mereka terlihat hangat dan akrab, persis seperti keluarga bahagia. Risa melangkah lurus ke arah pintu tanpa menoleh.

“Berhenti!” bentak Ayah Risa keras. “Kamu mau buat onar apa lagi? Jangan lupa apa yang sudah kamu janjikan!”

“Tenang saja. Apa yang aku janjikan pasti kulakukan.” Risa menjawab dengan nada datar dan tanpa menoleh. “Hanya saja, setengah bulan ini aku tidak mau tinggal di tempat yang bikin mual.”

Risa langsung menuju hotel paling mahal di kota dan memesan satu ruangan kepresidenan. Hari-hari berikutnya, Risa mulai berbelanja tanpa kendali. Ia membeli gaun pengantin termahal, menghamburkan uang di rumah lelang untuk memenangkan perhiasan antik sebagai mas kawin. Sekalipun menikah hanya untuk pengantin penolak bala, Risa tetap akan menikah dengan megah dan terhormat.

Ponsel Risa bergetar tanpa henti di dalam tas. Baru setelah membeli kalung berlian terakhir, ia mengeluarkan ponsel itu. Tiga puluh delapan panggilan tak terjawab, semuanya dari ayahnya. Begitu ia menggeser layar untuk menerima telepon, raungan amarah langsung menghantam telinganya.

“Kamu sudah gila?! Dalam satu hari menghabiskan 6 triliun! Kamu mau membuatku bangkrut?!”

“Kenapa panik?” cibir Risa. “Begitu aku menikah, 100 triliun itu langsung masuk ke rekeningmu.”

“Tapi uangnya belum masuk! Kalau kamu terus begini, besok pun perusahaan sudah mengumumkan kebangkrutan!”

Risa tertawa dingin. Dia memang sengaja ingin membuat ayahnya bangkrut. Sejak awal, dia sudah merencanakan agar uang 100 triliun itu, setelah ia tiba di kediaman Keluarga Badara, langsung ditransfer ke rekening pribadinya.

Saat itu tiba, Risa ingin melihat, apakah Dinda dan ibu murahannya itu masih akan setia mengikuti seorang lelaki tua yang tak punya apa-apa. Apa mereka benar-benar mengira semua perempuan sebodoh ibunya?

Mendampingi Hendra dari nol, menelan pahit bersama, sampai muntah darah dan masuk rumah sakit. Namun pada akhirnya malah dipaksa untuk melompat dari gedung hidup-hidup. Begitu memikirkan ibunya, jantung Risa langsung terasa seperti diremas, nyerinya menyesakkan.

Ponsel Risa kembali bergetar. Pesan dari Niko.

[Kamu marah karena apalagi? Kenapa hari ini tidak datang ke kantor?]

Risa menatap pesan itu lama sekali. Selama setahun terakhir, dengan alasan "mendidik Risa", Niko memaksanya datang ke kantor hampir setiap hari dan harus tepat waktu. Tapi sekarang, Risa bahkan sudah akan menikah dengan orang lain. Untuk apa lagi Risa "dididik"?

Dengan belasan kantong belanja di tangannya, saat kembali ke hotel, Risa justru mendapati kopernya ditumpuk di lobi.

“Apa maksudnya ini?” tanya Risa dingin.

Petugas resepsionis menjelaskan dengan canggung, “Nona Risa, kartu Anda … tidak bisa digunakan. Sesuai peraturan hotel .…”

Saat itu ponsel Risa bergetar. Pesan dari ayahnya muncul di layar.

[Kalau sudah mau memutuskan hubungan, jangan pakai kartuku lagi. Semua rekeningmu sudah aku bekukan.]

Risa menatap layar ponsel lama sekali. Sangat lama, sampai matanya terasa panas dan perih. Akhirnya, ia hanya membalas singkat, [Oke.]

Risa menyeret koper sendirian di sepanjang jalan. Tiket pesawatnya di akhir bulan. Sekarang, dia tak bisa pergi ke mana pun. Selama setengah bulan ini, dia harus tinggal di mana? Makan apa? Pakai apa? Isi kopernya penuh dengan gaun pengantin dan mas kawin. Tidak ada satu pun yang bisa dijual. Kalau meminjam uang ….

Lebih baik tidur di pinggir jalan daripada harus menunduk pada orang-orang di sekitarnya yang menunggu kesempatan untuk menertawakannya. Bangku panjang di taman terdekat masih cukup untuk berbaring.

Risa baru saja menaruh kopernya, saat seorang pria mabuk langsung mendekat.

“Cantik, sendirian, ya?”

“Pergi!”

“Kasar sekali. Temani Kakak main sebentar saja .…”

Tangan berminyak pria itu menyentuh bahunya. Saat Risa mengangkat tangan hendak menampar ….

“Aaaah!” teriakan menyayat terdengar.

Entah sejak kapan, Niko berada di tempat itu. Dengan satu gerakan, dia memutar dan mematahkan pergelangan tangan pria itu. Belum sempat Risa bereaksi, dia sudah diseret masuk ke mobil bersama kopernya.

“Lepaskan aku!”

Niko mencengkeram pergelangan tangan Risa yang sedang memberontak, sambil berkata dengan suara yang rendah dan dingin, “Kamu buat ulah apa lagi sekarang?”

Mata Niko menggelap. “Sudah tidak punya rumah, tapi tetap tidak terpikir untuk mendatangi aku?”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status