Share

Bab 4

Auteur: Mona
Di dalam ruangan itu, terdengar suara gelas-gelas beradu, suara tawa dan obrolan riuh memenuhi udara.

Risa duduk di sudut, menatap Niko yang dikerumuni banyak orang di tengah ruangan, namun pandangan Niko tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik Dinda.

Saat Dinda mengulurkan tangan mengambil minuman, Niko lebih dulu membukakan tutup botol untuknya. Ketika ujung gaun Dinda terkena sedikit cipratan alkohol, saputangan langsung disodorkan. Bahkan saat Dinda berdehem pelan, dia segera menaikkan suhu AC. Perhatian lembut seperti itu tidak satu pun pernah Risa dapatkan.

Risa menenggak segelas alkohol yang terasa hambar. Jantungnya seperti disayat pisau tumpul, sedikit demi sedikit, sakitnya bergetar hingga ke tulang. Selama setahun ini, antara dirinya dan Niko, selain melakukan hal itu, seolah tidak ada kesenangan lain. Bahkan di masa hubungan yang paling manis sekalipun, Risa tidak pernah melihat ekspresi kehilangan kendali di wajah pria itu.

“Botolnya berhenti di Pak Niko!” Tiba-tiba seseorang bersorak. “Harus terima hukuman!”

Di tengah tawa riuh, sebuah tablet disodorkan.

“Katanya, Pak Niko orang paling dingin di sini, kami nggak akan menyulitkan. Kita main dua pilihan dan jawab secepat mungkin, siapa yang paling bikin kamu berdebar.”

Mereka menyodorkan foto seorang aktris papan atas dan Dinda. Niko melirik sekilas, dan tanpa ragu menjawab, “Dinda.”

Sorakan langsung meledak di ruangan. Dinda menundukkan kepala dengan wajah memerah, tapi senyum di sudut bibirnya tidak bisa disembunyikan. Ujung jari Risa menekan telapak tangannya sendiri.

Satu demi satu foto berganti, dan setiap kali, tanpa ragu, Niko selalu memilih Dinda. Risa tidak sanggup mendengarnya lagi. Ia bangkit dan berjalan menuju toilet. Baru melangkah dua langkah, sorakan yang lebih besar tiba-tiba meledak di belakangnya. Ia menoleh, di layar tablet terpampang jelas foto dirinya dan Dinda berdampingan.

“Wah!” Semua orang langsung bersemangat. “Ini baru menarik! Kecantikan Nona Risa adalah yang nomor satu di kalangan kita, para artis saja kalah jauh! Kalau Pak Niko masih memilih Nona Dinda, itu menjelaskan segalanya .…”

Semua tatapan tertuju pada Niko. Namun kali ini, pria itu justru terdiam, sesuatu yang jarang terjadi. Risa terpaku di tempat, jantungnya nyaris meloncat keluar dari dada.

Tiga detik kemudian, Risa mendengar suara Niko yang rendah dan tegas menjawab, “Dinda.”

Dunia Risa runtuh seketika.

Di tengah sorak-sorai yang menggila, Risa terhuyung masuk ke toilet, dan langsung memutar keran air. Air dingin menghantam wajahnya, tapi sama sekali tidak mampu memadamkan rasa perih yang membakar di dada.

Entah sudah berapa lama berlalu, Risa akhirnya mengangkat kepala, menatap dirinya di cermin. Gadis di pantulan cermin itu begitu cantik dan menarik, namun kalah dengan cara yang paling menyedihkan.

Saat Risa keluar dari toilet, lorong diterangi cahaya lampu yang redup kekuningan. Baru saja berbelok di sudut, tiga sampai empat pria mabuk menghadang jalannya.

“Hei, cantik, boleh minta kontaknya?” Pria paling depan, yang dari tubuh tercium bau alkohol, mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Risa.

“Pergi!” Risa mundur dengan cepat, hingga punggungnya membentur dinding yang dingin.

“Mau sok suci, ya?” Pria lain mencengkeram pergelangan tangan Risa. “Pakai baju begini memang ingin dimainkan orang, kan?”

Dalam pergulatan itu, pandangan Risa menembus kerumunan dan bertemu mata dengan Niko yang berdiri di pintu. Ia melihat alis pria itu sedikit berkerut, hendak melangkah maju, namun tepat saat itu, dari belakang tiba-tiba terdengar jeritan Dinda.

“Ah!”

“Ada apa?” Niko langsung berbalik.

“Sepertinya pergelangan kakiku terkilir .…” Mata Dinda berkaca-kaca. “Aku tidak apa-apa, kamu bantu Kak Risa dulu saja.”

Niko berjongkok memeriksa pergelangan kakinya. “Tidak perlu. Dia bisa mengatasinya sendiri.”

Kalimat itu seperti pisau yang menghunjam jantung Risa. Tangan preman itu sudah meraba pinggangnya, napas bercampur bau alkohol yang menjijikkan menyembur ke wajahnya.

“Main dengan Kakak, ya .…”

Risa meraih botol minuman di meja hias lorong, lalu ….

Brak!

Botol itu dihempaskan ke dinding hingga pecah berkeping-keping.

“Kalau nggak mau mati, pergi!”

Pecahan kaca menggores tangan Risa. Darah segar mengalir menetes dari ujung jarinya. Memanfaatkan momen ketika para preman itu tertegun, Risa segera melangkah pergi dengan cepat.

Usai acara bubar, Risa tidak ingin naik mobil Niko. Ia berdiri sendirian di pinggir jalan, menunggu taksi. Dinda datang menghampiri sambil memayungi diri, sepatu hak tingginya menginjak genangan air.

“Kak, kamu nggak bawa mobil? Aku antar pulang, ya?”

Pandangan Risa jatuh pada kunci mobil balap edisi terbaru di tangan Dinda. Itu membuat Risa tiba-tiba tertawa. Ayahnya benar-benar murah hati, sampai memberi mobil sebagus ini pada seorang anak tiri.

“Tidak usah.” Bibir merah Risa terangkat, senyumnya cerah sekaligus menusuk. “Naik mobil anak dari perempuan simpanan? Menurutku itu kotor.”

Wajah Dinda langsung memuram. Topengnya akhirnya runtuh, dan langsung mencengkeram pergelangan tangan Risa dengan kasar. “Risa, ulangi kata-katamu!”

“Kalau aku ulangi, apa itu bisa mengubah fakta bahwa kamu anak dari perempuan simpanan? Lepaskan aku!”

Di tengah tarik-menarik itu, sorot lampu jauh yang menyilaukan tiba-tiba menghantam pandangan mereka. Risa menoleh, sebuah mobil yang tidak terkendali melaju lurus ke arah mereka. Dalam sekejap mata, ia melihat Niko berlari menerjang, menarik Dinda ke dalam pelukannya.

Sementara Risa, tubuhnya terhempas ke tanah dengan suara keras, Bruk!
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status