Share

Bab 6

Author: Faizal Arjuna
Selembar surat itu mengakhiri pernikahanku selama lima tahun. Tidak ada keterikatan, tidak ada penyesalan.

Mulai sekarang, entah aku hidup atau mati, miskin atau kaya, semuanya tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Presdir Grup Karya, Nindy.

Namun, begitu kakiku baru saja melangkah keluar pintu, aku mencium aroma yang tidak beres.

"Sepertinya ada sesuatu yang terbakar?" Sebagai seorang pemadam kebakaran, aku langsung waspada.

Mengikuti arah bau itu, benar saja, dari celah pintu sebuah kamar, tampak asap tipis keluar. "Sial! Ini kebakaran!"

Wajahku berubah drastis. Aku mengangkat alat pemadam di samping dan langsung menendang pintu dengan keras.

Dum! Dum, dum! Satu tendangan, dua tendangan .... Setelah lima tendangan berturut-turut, barulah pintunya terbuka paksa.

Seketika, aroma gosong yang menusuk hidung menerjang wajahku. Api berkobar di dalam ruangan. Meskipun belum besar, jika dibiarkan, pasti akan semakin tak terkendali!

Tanpa ragu sedikit pun, aku mencabut pin pengaman alat pemadam dan menerjang masuk untuk memadamkan api.

Yang terbakar adalah ranjang besar di kamar itu. Begitu masuk, aku baru melihat di atas ranjang ternyata masih duduk seorang wanita cantik mabuk dengan tubuh putih mulus dan penuh lekuk, hanya mengenakan jubah mandi.

Saat ini, dia memegang gelas anggur. Sambil minum, dia menuang anggur ke bagian ranjang yang terbakar. Alkohol bertemu api, membuat api semakin membesar!

"Cepat bangun! Kamu sudah bosan hidup ya?" Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku segera menarik wanita itu dari ranjang dan menempatkannya di belakangku.

"Ah! Sakit!"

"Keluar! Siapa kamu? Ini kamarku! Siapa yang menyuruhmu masuk?"

Mungkin karena aku tegang, tarikanku agak kuat, membuat wanita itu memukul-mukul punggungku karena kesakitan.

Sekarang bukan waktunya untuk memedulikan itu. Aku langsung mengangkat alat pemadam kebakaran dan menyemprot ke sumber api. Gerakanku cepat dan tegas. Dalam tiga detik, api padam.

Setelah memastikan semuanya aman, aku baru menghela napas. Syukurlah aku datang tepat waktu. Kalau apinya membesar, aku sendirian pasti tak sanggup menanganinya.

Saat itu barulah aku sempat menoleh pada wanita di belakangku. Begitu melihat, dia ternyata diam-diam menyalakan korek dan membakar lukisan di dinding. Api muncul lagi.

"Kamu gila ya?" Aku terkejut bukan main, segera menahan wanita itu dengan satu tangan, lalu dengan tangan lainnya kembali menyemprot api ke lukisan itu.

Namun, wanita itu kembali lepas dari genggamanku, lalu berlari ke ranjang, hendak membakar bantal.

Dua kali masih bisa dimaklumi, tetapi tiga kali? Kesabaranku habis.

Aku langsung menerjang dan menekannya ke ranjang, merebut korek api dari tangannya dan membuangnya.

"Aku peringatkan, jangan bertindak sembarangan. Ini sudah masuk pidana pembakaran!"

"Jangan mengancamku! Aku nggak takut apa-apa!"

Bentakanku bukannya membuatnya sadar, malah menyulut emosinya. Dia pun meronta semakin keras.

"Lepaskan aku! Sakit! Aku peringatkan kamu! Aku ini putri Keluarga Bastian, Nisha! Kalau kamu berani macam-macam, kamu tamat!"

Entah mendapat tenaga dari mana, Nisha benar-benar berhasil melepaskan diri lagi, lalu masih berniat mengambil koreknya.

"Masih mau?"

Mana mungkin aku diam melihatnya membakar ruangan ini? Dalam keadaan terpaksa, aku kembali menariknya dan membantingnya ke ranjang.

Kali ini aku menahan seluruh tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.

"Kamu mabuk, aku nggak mau mempermasalahkan itu. Tapi aku beri tahu kamu, meskipun kamu putri keluarga besar, kamu nggak boleh membakar hotel. Itu tindakan kriminal!"

"Hah!" Meskipun aku menindihnya, Nisha tetap tidak mau mengalah, masih meronta dan sampai memelototiku penuh kebencian.

"Dasar mesum! Siapa suruh kamu menceramahiku? Cepat lepasin aku! Kalau nggak, aku laporin kamu masuk kamar orang seenaknya dan menodaiku!"

Mendengar dia memutarbalikkan keadaan, aku pun tertawa kesal. "Kamu yang ingin membakar kamar. Aku cuma menahanmu."

"Hah! Kamu cuma mau menodaiku! Kalau nggak, kenapa kamu menindihku seperti ini?"

"Takut kamu terus main api."

"Mau main api sampai mati pun nggak ada hubungannya denganmu! Lepaskan aku!"

Saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu, barulah aku sadar mata Nisha sudah berkaca-kaca, penuh rasa teraniaya. Ditambah lagi, jubah mandinya sudah merosot karena meronta, memperlihatkan kulit putihnya yang terlalu banyak.

Aku baru tersadar, jarak kami terlalu dekat. Posisi seperti ini terlalu rawan disalahpahami. Ini bahkan lebih dekat daripada saat aku bersama Nindy, padahal aku dan Nisha baru bertemu.

"Maaf, aku nggak berniat melecehkanmu. Aku hanya masuk untuk memadamkan api." Melihat ekspresinya yang hampir menangis, aku cepat-cepat bangkit dan menjaga jarak.

Pada detik berikutnya, dia buru-buru menyelimuti dirinya dengan selimut, hanya menyisakan kepala yang mengawasiku dengan curiga.

"Siapa yang percaya? Kamu pikir kamu itu petugas pemadam kebakaran? Bisa seenaknya masuk kamar orang buat memadamkan api?"

"Aku memang petugas pemadam kebakaran. Ini identitasku." Nisha masih meragukanku. Aku menghela napas dan mengeluarkan kartu identitas tugas.

Dia mengambilnya, melihat-lihat, lalu menatapku lagi. Kecurigaannya sedikit berkurang, tetapi sikapnya tetap buruk.

"Kenapa memangnya kalau kamu adalah petugas pemadam kebakaran? Nggak ada satu pun pria yang baik di dunia ini!"

"Kamu sedang patah hati? Tapi nggak sampai harus membakar diri di usia muda begini, 'kan?" Melihat wajah Nisha yang marah, aku memberanikan diri menebak alasan dia mabuk dan mencoba membakar diri.

"Bukan urusanmu! Nyawaku ini milikku sendiri. Mau bagaimana pun terserah aku!" Nisha mendengus dan memalingkan wajahnya.

Mendengar itu, aku mengernyit dengan marah. Sebagai petugas pemadam kebakaran, aku sudah melihat terlalu banyak orang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di tengah kobaran api, tetapi akhirnya tetap tidak selamat.

Jadi, aku paling tidak tahan melihat orang yang menganggap remeh hidupnya sendiri.

"Kamu benar, nyawamu milikmu. Kamu mau hidup atau mati mati, itu sama sekali bukan urusanku. Tapi aku peringatkan, kalau kamu mau mati, kamu nggak boleh membakar diri di tempat umum. Itu namanya nggak bertanggung jawab dan memalukan!"

"Kamu memakiku?" Nisha tertegun, menunjuk dirinya sendiri dengan tidak percaya.

"Kenapa? Nyawamu saja nggak kamu hargai, apa salahnya kalau dimaki sedikit? Dengan wajah secantik itu, kamu akan jadi arang gosong dan nggak berbentuk lagi. Kamu tahu nggak, mati terbakar itu sakitnya seperti apa?"

"Seolah-olah ada sepuluh ribu pisau menusukmu tanpa henti. Orang yang mati terbakar itu mati karena rasa sakitnya dulu, baru tubuhnya hangus. Sangat kejam!"

Aku sengaja menggambarkan betapa mengerikannya mati terbakar. Walaupun dia tidak menghargai hidupnya, aku tidak bisa membiarkannya benar-benar mati dengan cara itu.

"Kamu ... kamu jangan menakut-nakutiku! Aku nggak takut!" Walaupun menyangkal, wajah Nisha langsung pucat dan tubuhnya bergetar.

"Ngapain aku menakut-nakutimu? Nggak percaya? Silakan coba. Tapi jangan di tempat umum. Cari tanah lapang yang terbuat dari beton, terus bakar dirimu. Aku nggak bakal peduli."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 50

    Aku mengernyit. Setelah mengalami sendiri betapa tidak tahu malunya Nindy hari ini, aku sengaja mengambil perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu dan memeriksanya dengan teliti.Terutama bagian pembagian harta.Awalnya aku pikir, karena Nindy sudah menandatanganinya, dia seharusnya tidak akan memainkan trik apa pun lagi. Namun ketika kuperiksa, ternyata memang ada yang aneh."Tunggu. Bagian pembagian harta ini ... apa maksudnya 50 persen dari nilai pasaran vila pernikahan saat ini?"Mendengar ucapan itu, Nindy melirikku sekilas, lalu berkata dengan suara datar, "Nggak ada masalah. Bahkan kamu lebih diuntungkan.""Nilai vila itu sudah naik dua kali lipat dibanding lima tahun lalu. Jumlah yang kamu terima akan lebih banyak dari modalmu dulu.""Nggak perlu. Aku tidak mau mengambil keuntungan darimu. Aku hanya ingin kembali ke bagianku yang dulu. Lalu bagaimana dengan kontrak agunan rumah orang tuaku?"Aku mengangkat kepala dan menatapnya, tetapi ekspresi Nindy mendadak tampak aneh.

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 49

    "Nindy, kalau kamu masih punya hati nurani, kamu seharusnya tahu bahwa dalam pernikahan ini, aku jauh lebih banyak berkorban dibanding kamu.""Dan meskipun nggak membahas soal pengorbanan, hanya membahas soal aset, aku tetap berhak atas setengahnya. Karena vila itu memang setengah milikku. Jangan pura-pura lupa."Lima tahun lalu, ketika aku dan Nindy memutuskan menikah, tabunganku memang tidak sedikit. Namun dibandingkan keluarganya yang kaya raya, uangku jelas terkesan tidak cukup.Meski begitu, aku tetap bersikeras ingin membayar setengah dari rumah pernikahan kami. Tabunganku ditambah rumah orang tuaku di kampung yang diagunkan, cukup untuk menutupi setengah harga vila itu.Saat itu, rumah orang tuaku diagunkan kepada Nindy. Seluruh tabunganku juga kuserahkan. Setelah itu, barulah dia melengkapi kekurangannya dan membeli vila tersebut sebagai rumah kami.Ketika aku menyerahkan semua yang kumiliki kepadanya, berniat membangun rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh, Nindy sampai terh

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 48

    "Ray, kamu itu sebenarnya punya hati atau nggak? Jelas-jelas aku ini istrimu yang sudah hidup bersamamu selama lima tahun .... Buang saja keinginanmu untuk cerai itu! Aku nggak akan setuju. Aku akan menahanmu seumur hidup."Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, barulah Nindy seperti melepas seluruh emosinya. Dia duduk kembali, menarik napas, lalu berbicara dengan lebih stabil. "Asal nggak bercerai, aku bisa menyetujui apa pun permintaanmu.""Bahkan aturan tanggal 16 setiap bulan itu juga bisa aku batalkan ...."Saat mengatakan kalimat terakhir, suara Nindy mulai bergetar. Itu sudah merupakan batas tertinggi dari kompromi yang bisa dia berikan.Meskipun dia sudah melihat wanita itu dengan mata kepala sendiri, Nindy tetap tidak ingin percaya bahwa Ray sama sekali tidak memiliki sedikit pun rasa terhadapnya. Bagaimanapun, lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Dalam hati Nindy, dia yakin bahwa dia paling mengerti Ray.Tanggal 16 setiap bulan, itu adalah hari yang diidam-ida

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 47

    Saat dia melihat wajahku yang muram dan penuh amarah, tubuhnya langsung menegang. Dia buru-buru berkata, "Pak Ray, kenapa Bapak datang ke sini?"Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Dengan suara dingin, aku berkata, "Nindy ada di kantor nggak?""Ada ....""Kalau begitu ini bukan urusanmu. Pulang saja."Begitu kalimat itu dilontarkan, aku langsung melangkah keluar dari lift dan melewati Lasso tanpa menoleh, lalu berjalan lurus menuju kantor Nindy.Selama lima tahun menikah, jumlah kunjunganku ke kantornya bisa dihitung dengan jari. Justru karena sedikitnya kunjungan itu, lokasi kantornya benar-benar mudah kuingat.Beberapa langkah saja, aku sudah tiba di depan pintu kantornya. Tanpa mengetuk, aku langsung menendang pintu itu!Brak!Suara keras itu membuat Nindy terkejut. Begitu mengangkat kepala, dia melihat aku masuk dengan wajah kelam. "Ray, apa kamu nggak bisa mengetuk pintu dengan benar?""Kalau kamu saja nggak bisa bicara dengan benar, kenapa aku harus mengetuk pintu dengan benar?"

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 46

    [ Tentu saja aku nggak akan mengganggumu, tapi apa yang kukatakan padamu tadi malam tetap berlaku. Kalau kamu masih merasa aku cukup memuaskan dan bersedia menjadi pacarku untuk kebutuhan akting, aku akan sangat senang. Setidaknya, itu berarti kita pernah menjalani waktu yang indah bersama .... ][ Lalu, aku juga akan membayarmu. Menjadi pacarku untuk sementara waktu, ditambah performamu tadi malam yang sangat ... ganas, hmm ... totalnya 10 miliar. Gimana, mau dipertimbangkan? ][ Catatan: Kalau kamu nggak mau, anggap saja aku nggak pernah mengucapkan kalimat terakhir. Sampai jumpa, Pak Ray. ]Di akhir catatan itu, Nisha bahkan menuliskan nomor ponsel pribadinya.Dia juga menggambar sebuah karakter kecil yang lucu, dengan gelembung pikiran bertuliskan "Semoga kamu akan meneleponku".Melihat tulisan tangan Nisha yang indah itu, aku tanpa sadar teringat ekspresinya yang jenaka saat menulis surat. Aku hanya bisa tersenyum pahit. "Sepuluh miliar untuk sebuah pertunjukan plus satu malam, pe

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 45

    Begitu perkataannya diucapkan, aku menatap mata Nisha yang hampir hancur itu dan aku terdiam.Ternyata dia tidak mabuk. Ternyata dia tahu semuanya."Sekarang Hamid sudah nggak mengakui perjodohan kalian. Mungkin keluargamu berubah pikiran. Bisa jadi masih ada jalan keluar.""Kalau memang bukan Hamid, lalu apa? Akan ada pria-pria lainnya lagi. Aku lahir sebagai anak Keluarga Bastian. Takdirku memang hanya menjadi alat pernikahan politik untuk keluarga besar.""Karena itu, aku hanya ingin mati-matian menemukan seorang laki-laki yang benar-benar kusukai."Nisha menangis sambil memelukku semakin erat. Suaranya gemetar ketika berbisik di dekat telingaku. "Ray, apa yang masih kamu ragukan? Aku nggak cukup cantik? Nggak cukup menarik? Atau kamu masih memikirkan istrimu?"Saat Nisha menyebut Nindy, kepalaku seperti tersambar listrik. Gambaran Nindy dan Chicco bersama kembali muncul. Wanita yang penuh pengkhianatan dan standar ganda yang menjijikkan itu sudah tidak layak disebut lagi.Mungkin k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status