Share

Bab 7

Penulis: Faizal Arjuna
Melihat tatapan takut Nisha, aku tahu hari ini dia pasti tidak berani bunuh diri lagi dan hatiku langsung lega.

Namun siapa sangka, mulut perempuan ini tetap saja tidak mau mengalah. Dengan keras kepala, dia berkata, "Kalau begitu, aku tetap mau mati. Kamu pergi saja, aku akan lompat dari sini."

Mendengar itu, aku mengangkat alis dan tanpa ragu berkata, "Lompat dari gedung? Boleh saja. Lompat gedung bukan urusanku. Tapi lantainya nggak cukup tinggi. Kalau kamu jatuh tapi nggak mati, malah jadi cacat seumur hidup, gimana?"

"Aku sarankan kamu turun dulu beli plastik, lalu langsung ke atap. Pasang plastik di kepalamu, kencangkan, baru lompat. Dijamin benar-benar mati!"

"Kamu ...!" Nisha hampir pingsan karena marah padaku. Dia melotot, tubuhnya gemetar, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kenapa harus pakai plastik di kepala?"

"Supaya kamu nggak menyusahkan petugas kebersihan. Jangan sampai kamu jatuh hancur berantakan dan orang lain masih harus membersihkan otakmu yang tercecer."

"Ray, kamu bukan manusia!" Membayangkan adegan itu, Nisha langsung menutup mata karena takut dan memakiku habis-habisan.

Melihat reaksinya, aku semakin yakin bahwa sebenarnya dia tidak berani mati. Akhirnya, aku benar-benar tenang.

"Sudahlah, kembalikan kartuku. Aku harus pergi. Kamu bereskan apa pun yang perlu kamu bereskan sebelum lompat gedung." Aku mengulurkan tangan ke arah Nisha.

Namun, dia menggeleng dengan keras dan memekik dengan kesal, "Nggak mau! Kenapa aku harus mati sesuai cara yang kamu suruh? Kamu tadi sudah melihat tubuhku, jadi jangan harap bisa kabur begitu saja!"

"Aku nggak punya waktu untuk dibuang-buang denganmu. Cepat mati saja. Aku masih harus pergi menyelamatkan orang."

Saat aku berbicara, mumpung dia lengah, aku langsung merebut kembali kartu identitasku, lalu berbalik tanpa ragu dan melangkah cepat ke luar.

Meskipun aku mau menyelamatkannya, jujur saja, aku benar-benar tidak punya kesan baik pada nona manja yang seenaknya seperti ini.

"Berhenti! Ray, aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja!" Teriakan Nisha terdengar dari dalam kamar, tetapi aku tidak menggubrisnya. Aku membawa koperku dan pergi begitu saja.

Aku tidak tahu bahwa setelah aku pergi, Nisha membuka telapak tangannya dan di dalamnya tergeletak foto kecil sebesar dua inci dari kartuku.

Dia menatap fotoku. Di wajah cantiknya muncul senyuman tipis. Kemudian, dia bergumam, "Dilihat lebih teliti ... ternyata lumayan tampan juga ...."

"Regu Pemadam Kebakaran Distrik Dua, Ray, aku ingat kamu. Kamu nggak akan lolos!"

Sementara itu, aku sama sekali belum menyadari bahwa seseorang sudah mengincarku. Keluar dari hotel, aku langsung kembali ke markas. Ketika kapten melihatku datang lebih awal sambil membawa koper, dia langsung tampak terkejut.

"Ray, kenapa sampai bawa koper segala?"

Wajar kalau kapten heran. Saat petugas pemadam kebakaran masuk ke area kebakaran, itu namanya mempertaruhkan nyawa. Tidak ada yang membawa koper karena memang tidak perlu.

"Aku membereskan semua barangku di rumah. Aku takut istriku melihat barang-barang yang kutinggalkan dan sedih."

Aku hanya bisa memberi alasan itu, tidak ingin menjelaskan pernikahanku dengan Nindy yang sudah hancur.

"Kamu ini .... Ray, belum tentu kamu nggak selamat. Nggak perlu sampai seperti ini." Kapten menghela napas, lalu berkata, "Barusan ada pemberitahuan. Peralatan pemadam sudah diangkut lewat udara ke kaki gunung. Kita bisa langsung berangkat."

"Baik, aku sudah siap." Setelah berpisah dengan Nindy, aku memang sudah siap mati. Ekspresiku tidak berubah sedikit pun.

"Tapi Ray, situasinya berubah. Ada bantuan peralatan dan kebetulan turun hujan. Api sudah berhasil dikendalikan. Kali ini kita ke sana lebih untuk penanganan akhir. Sebenarnya kamu nggak perlu ikut."

Nada kapten terdengar tidak tega. Kalau bukan karena keadaan terpaksa, dia sebenarnya tidak mau aku ikut menangani kebakaran gunung, apalagi aku dan istriku belum punya anak.

"Kapten, aku tetap ikut. Tambah satu orang berarti tambah satu tenaga lagi." Mendengar kabar itu, aku sebenarnya lega. Setidaknya api sudah tertangani, berarti tidak akan ada korban lagi.

Namun, begitu mengingat kondisi menyedihkan antara aku dan Nindy, secercah cahaya di dalam hatiku padam lagi.

Sudahlah, pergi saja. Akhirnya, karena aku bersikeras, kapten mengizinkanku berangkat bersama tim.

Ketika kami tiba, api gunung sudah sepenuhnya terkendali. Yang tersisa hanya perhitungan kerusakan dan merawat para korban yang terluka.

Melihat pemandangan yang porak-poranda itu, aku langsung mengosongkan pikiran dan fokus pada pekerjaan.

Beberapa hari berturut-turut, aku makan, minum, tidur, buang air, semuanya di pinggir gunung.

Kondisinya sangat parah. Meskipun aku tidak turun langsung ke garis depan, aku melihat dengan mata kepala sendiri para petugas yang dibawa kembali dari sana.

Entah berapa banyak rekan-rekan yang gugur di kebakaran ini. Beberapa hari ini, jenazah para petugas terus dibawa turun dan semuanya sudah tidak berbentuk.

Sebagian besar dari mereka adalah petugas pemadam kebakaran dari desa-desa sekitar. Keluarga mereka sudah datang ke kaki gunung untuk mengenali jenazah. Ada istri yang datang sambil membawa anak, menangis sampai suara habis.

Ada juga orang tua yang sudah sangat tua, berjalan gemetaran ke depan, tetapi tidak sanggup menerima kenyataan dan langsung pingsan karena terlalu sedih.

Melihat semua itu, hatiku benar-benar tersayat. Beberapa hari ini, aku tidak menerima satu pun telepon dari Nindy. Bahkan pesan pun tidak.

Kalau bisa, aku benar-benar berharap yang berbaring sebagai korban itu adalah aku, supaya mereka bisa kembali pada keluarganya.

Toh bagiku, istriku sendiri tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Bagi Nindy, keberadaanku sama sekali tidak penting.

Sementara itu, Nindy baru saja mengakhiri sebuah rapat. Saat melangkah keluar dari ruang rapat, dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan. Nindy memegang dadanya dengan bingung.

Asisten di sampingnya segera bertanya, "Bu Nindy nggak enak badan? Perlu aku batalkan jadwal rapat sore?"

"Nggak perlu. Aku baik-baik saja." Nindy menggeleng, lalu seakan-akan teringat sesuatu, dia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dariku.

Dia mengerutkan alis, tidak tahu apa perasaannya saat itu. Kemudian, dia bertanya, "Beberapa hari ini Ray nggak bertingkah? Pihak hotel nggak menghubungiku?"

"Nggak ada, Bu." Asisten itu bingung. Nindy hampir tidak pernah menanyakan soalku sebelumnya.

"Baiklah. Kamu nggak perlu ikut. Aku mau pergi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Nindy langsung meninggalkan kantor.

Setengah jam kemudian, dia muncul di lobi hotel, menyerahkan kartu hitam. "Tolong cek catatan keluar masuk Ray beberapa hari ini."

"Bu Nindy, Pak Ray nggak menginap di sini. Setelah hari pertama datang, nggak lama kemudian beliau membawa kopernya dan pergi. Beliau nggak pernah kembali lagi."

"Apa?" Nindy mengerutkan alis. Wajahnya tidak senang. Dia langsung menekan nomor ponselku.

Biasanya, dia jarang sekali menghubungiku lebih dulu. Namun, baru kali ini dia mau mencoba dan yang dia dapat adalah suara sistem yang mengatakan "nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif".

Alis Nindy semakin berkerut. 'Ray, apa lagi yang sedang kamu mainkan?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 496

    Raut dingin di wajah Arney sama sekali tidak berkurang.Dengan suara dingin dia berkata, "Orang yang menyelamatkan nyawaku adalah dia. Sejak kapan itu jadi kamu?""Baik, baik, anggap saja pacarmu yang selamatkan kamu. Tapi aku juga nggak punya dendam ataupun masalah sama kamu. Kenapa kamu menyanderaku seperti ini?"Dokter hampir menangis. Kalau sejak awal dia tahu gadis yang terlihat cantik dan pendiam ini ternyata begitu berbahaya, dia pasti tidak akan membiarkan Ray pergi secepat itu."Kalau begitu katakan padaku, di mana dia sekarang? Kenapa sudah selama ini dia belum kembali? Apa dia meninggalkanku begitu saja?"Wajah Arney tetap dingin. Dengan gigi terkatup dia berkata, "Ingin kabur begitu saja tanpa bertanggung jawab? Mimpi!"Di dalam mobil tadi, hampir seluruh tubuhnya sudah dilihat oleh Ray. Terlebih lagi, siapa yang tahu apakah Ray sudah menebak identitasnya dan pergi melaporkan keberadaannya di rumah sakit kepada orang lain?Arney tidak berani mengambil risiko itu. Dia juga t

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 495

    Aku menjelaskan kondisi Arney kepada dokter dengan cepat."Ke sini!" Dokter mengangguk. Begitu mendengar kata racun ular, ekspresinya langsung berubah serius.Aku segera meletakkan Arney di atas ranjang pasien. Dokter langsung mulai memeriksanya, menanyakan waktu gigitan dan ciri-ciri ular yang menggigitnya.Saat ini kondisi mental Arney masih cukup baik. Dia menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Melihat hal itu, aku akhirnya merasa tenang. Aku keluar lebih dulu dari ruang gawat darurat untuk mengurus pembayaran.Ketika kembali, dokter sudah menyelesaikan pemeriksaannya. "Kamu bawa pacarmu ke sini tepat waktu dan penanganan awal yang kamu lakukan juga sangat baik.""Kebetulan rumah sakit kami memiliki serum untuk jenis ular tersebut. Pacarmu sudah dibawa untuk disuntik serum, jadi nggak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja."Mendengar ucapan dokter, aku menghela napas lega. Namun, aku juga teringat kembali pada penampilannya yang berbahaya saat menodongkan belati."Dokter, dia bu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 494

    "Tapi melihat caramu meronta tadi, apa jangan-jangan kamu memikirkan hal yang nggak-nggak?"Mendengar pertanyaanku, rona merah malu sempat melintas di wajah wanita cantik itu. Dengan keras kepala dia membalas, "Ng ... nggak! Kamu yang mikir nggak-nggak!""Sudahlah. Berbaring saja di kursi belakang. Sekarang aku antarin kamu ke rumah sakit. Kalau ada bagian tubuhmu yang terasa nggak nyaman selama perjalanan, segera kasih tahu aku. Bertahanlah sedikit lagi, kamu akan selamat."Aku tidak terlalu memedulikan bantahannya. Karena racun di tubuhnya masih belum sepenuhnya aman. Aku kembali ke kursi pengemudi dan menyalakan mobil, lalu melaju langsung menuju rumah sakit di Kota Cloudia.Tanpa kusadari, wanita cantik di kursi belakang terus menatapku tanpa berkedip.'Ternyata pria ini cukup terhormat juga. Memang dia sudah mengambil keuntungan besar dariku, tapi dia benar-benar menyelamatkan nyawaku ....''Hanya saja, cara bicaranya menyebalkan. Apa maksudnya aku yang berpikiran nggak-nggak? Mem

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 493

    Aku masih membutuhkan obat untuk menghambat penyebaran racun ular ....Obat barat maupun serum antibisa jelas tidak ada. Namun, aku ingat ada sejenis tanaman liar di pinggir jalan yang memiliki efek pereda nyeri dan penawar racun. Sekarang aku hanya bisa mengandalkan keberuntungan!Dengan hati berat, aku mengamati lingkungan di luar mobil ke segala arah. Terutama tumpukan semak dan rumput liar, berharap menemukan tanaman obat yang kucari. Namun di mata wanita itu, tindakanku saat ini terlihat seperti tanda bahwa aku akan melakukan sesuatu yang buruk padanya di tempat ini!"Bajingan! Aku kira kamu orang baik, ternyata kamu juga sampah! Apa yang kamu lihat? Lagi cari apakah ada orang di sekitar sini, lalu berniat melakukan sesuatu padaku, ya? Jangan mimpi! Aku lebih baik mati daripada membiarkanmu berhasil!"Wanita itu merasa takut sekaligus malu, terus memakinya tanpa henti.Saat ini kedua kaki jenjangnya masih berada di pundak Ray. Pose yang memalukan itu malah membuat segalanya semaki

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 492

    "Pangkal paha?"Aku sedikit tertegun dan tanpa sadar mengalihkan pandangan ke sana.Wanita itu mengenakan celana jeans. Di tempat yang dia tunjuk memang terlihat dua lubang kecil bekas taring ular. Darah masih terus merembes keluar dari sana ...."Kenapa bisa kamu digigit di tempat seperti itu?" Aku benar-benar bingung dan tidak bisa memahaminya sama sekali.Namun, di wajah wanita yang semula dingin itu sudah muncul semburat merah tipis. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Bisa nggak kamu cepat sedikit? Aku yang dirugikan saja nggak mengeluh. Kenapa kamu yang jadi pria malah merasa canggung?"Mendengar hal itu, aku pun tersadar.Dia benar. Tidak peduli seberapa memalukannya lokasi gigitan itu, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan nyawa."Baiklah. Tapi celana jeans setebal itu ...."Baru setengah kalimat keluar dari mulutku, wanita itu langsung memotong dengan nada dingin sambil menggertakkan gigi. "Aku lepas! Masuk ke mobil dan tutup pintunya. Jangan sampai ada orang yang

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 491

    "Jadi lepaskan saja. Aku janji nggak akan pergi ke tempat lain, aku bakal langsung antar kamu ke rumah sakit! Aku dulu seorang pemadam kebakaran, kamu harus percaya sama aku."Begitu kata-kata itu terucap, wanita itu terdiam beberapa detik, lalu perlahan menarik kembali belati di tangannya. Dengan nada dingin, dia berkata, "Aku nggak peduli siapa kamu.""Segera antar aku ke rumah sakit. Kalau nggak, akan kutusuk kamu sampai mati! Jangan meragukanku, dan jangan coba-coba mempermainkanku!""Nggak masalah."Aku mengangguk pasrah.Detik berikutnya, aku langsung menginjak pedal gas dan melaju menuju rumah sakit terdekat di Kota Cloudia, berharap mereka memiliki stok serum antibisa yang sesuai. Kalau tidak ....Meski aku tidak tahu siapa wanita itu, dan dari kebiasaannya membawa belati ke mana-mana terlihat jelas bahwa kemungkinan besar dia bukan orang baik.Namun bagaimanapun juga, itu adalah nyawa seseorang. Menyelamatkan nyawanya terlebih dahulu, lalu melapor ke polisi nanti juga belum te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status