Share

Bab 5

Penulis: Faizal Arjuna
Aku secara naluriah ingin segera menelepon Nindy untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun kemudian, aku merasa itu tidak ada artinya. Faktanya sudah sangat jelas.

Meskipun dia tidak setuju bercerai, aku akan pergi dan belum tentu bisa selamat kembali. Sudahlah.

Aku meletakkan ponsel. Sebelum pergi, aku tidak ingin menambah beban sendiri. Awalnya aku hanya ingin mematikan laptop, lalu mengambil koper dan pergi, tetapi tak kusangka Chicco kembali mengirim pesan.

Kali ini sebuah video. Sampul videonya adalah dia dan Nindy berdiri bersama di atas panggung. Kebahagiaan manis hampir meluap dari layar. Baru saja direkam?

Hatiku bergetar, tetapi tetap memutar videonya.

Di atas panggung tadinya berdiri seorang guru, mengundang orang tua Andrew naik untuk menceritakan kisah cinta mereka. Nindy menggenggam tangan Chicco dan naik. Dewi yang katanya tidak menginginkan apa pun itu, kini malah terlihat malu-malu.

Nindy berkata terlebih dahulu, "Chicco adalah cinta pertama masa kecilku. Sejak SD, kami selalu sekelas, sampai akhirnya dia baru menyatakan cinta padaku waktu kuliah ...."

"Setelah lulus, kami melangkah ke dalam istana pernikahan dengan bahagia. Keberuntungan terbesar dalam hidupku adalah bertemu seorang pria yang begitu mencintaiku dan begitu sempurna."

Mataku langsung membelalak. Chicco adalah cinta pertama Nindy? Padahal waktu kami pacaran, dia jelas berkata akulah cinta pertamanya. Dia bilang dirinya seperti selembar kertas putih, memintaku menjaganya baik-baik.

Aku pun berjanji sepenuh hati, memanjakannya saat pacaran. Setelah menikah, bahkan rasanya aku ingin memberikan bintang-bintang di langit untuknya. Aku selalu menghormati setiap keinginannya.

Pada akhirnya, ini hasilnya? Hatiku seperti ditarik secara paksa, lalu dibanting ke lantai dan diinjak-injak sampai hancur. Saking sakitnya, aku hampir tidak bisa bernapas. Aku jatuh terduduk dan tubuhku gemetar tanpa henti. Air mata mengaburkan penglihatanku.

Nindy ... ternyata selama ini kamu membohongiku. Kebohongan sang dewi sudah dimulai sejak masa pacaran. Bukan pernikahan kami penuh kebohongan. Dia tidak pernah mengatakan satu kalimat jujur pun kepadaku ....

Video terus berlanjut. Terdengar suara kekaguman dari para orang tua di luar layar. Ada yang menyuruh Nindy menceritakan lebih banyak hal-hal romantis apa yang pernah terjadi.

Aku tersenyum pahit. Saat baru bersama Nindy, aku juga pernah menyiapkan kejutan-kejutan romantis untuknya. Namun, reaksinya semakin lama semakin dingin. Dia pernah berkata terus terang bahwa dia paling membenci hal-hal romantis. Bagi orang yang belajar agama, romantis itu tidak berguna, tidak sebanding dengan ketulusan.

Aku percaya padanya. Aku menekan perasaanku, menemaninya dalam kehidupan yang hambar, hanya untuk membuktikan ketulusanku. Namun, hati ini sudah lama dia hancurkan berkali-kali.

Di video kembali terdengar suara lembut dan malu-malu Nindy. "Kami tentu kami punya banyak hal romantis. Dia itu pria yang sangat romantis, sudah tak terhitung berapa banyak kejutan yang dia buat untukku."

"Saat baru bersama, dia begadang tiga malam untuk diam-diam merajutkan tas untukku, bahkan nggak berani memberikannya langsung, dan bohong bilang itu hadiah undian. Saat itu, melihat dia menguap terus dengan mata panda, aku bersumpah dalam hati bahwa hidupku hanya untuk dia."

Nindy dan Chicco berpegangan tangan dengan erat, saling memandang penuh kasih. "Tas itu masih kusimpan sampai sekarang."

"Lalu suatu hari setelah kami menikah, aku asal bilang masakan kantor nggak cocok dengan seleraku. Malamnya saat aku pulang, dia sudah menyiapkan satu meja penuh hidangan yang dia masak sendiri."

"Setiap hidangan adalah favoritku. Belakangan baru kuketahui, demi mencari bahan terbaik, dia keliling kota setengah hari, memasak sampai kedua tangannya penuh luka bakar."

Nindy mengangkat kedua tangan Chicco dengan penuh emosi dan menciumnya di depan umum. "Aku nggak akan pernah lupa hal itu. Saat itu, aku menyayanginya, bilang dia bodoh, tapi dia bilang dia nggak menyesal dan hanya ingin melihatku tersenyum."

"Dan waktu aku demam tinggi, dia menemani tiga hari tiga malam tanpa tidur sampai akhirnya masuk rumah sakit. Dia bilang, nyawaku lebih penting dari nyawanya ...."

Setiap kali Nindy mengisahkan sesuatu, terdengar suara iri para orang tua. Suara-suara itu seperti pisau yang menusuk hatiku. Sakitnya sampai ke dalam tulang.

Videonya masih panjang, tetapi aku langsung mematikan laptop. Karena aku sudah tidak sanggup mendengarnya.

Sakit, luluh lantak .... Setiap kisah romantis itu seperti ribuan sayatan di tubuhku.

Semua itu ... jelas-jelas adalah hal-hal yang kulakukan untukmu! Aku memekik dalam hati. Hatiku membeku.

Ternyata sang dewi bukan tidak punya perasaan. Dia bukan sosok yang dingin atau tak peduli. Sikap dingin itu ... hanya ditujukan padaku seorang.

Semua kebaikan yang kuberikan padanya, dia ingat. Namun, semuanya dia akui sebagai perbuatan pria lain. Padahal sama sekali bukan begitu.

Tas yang kuanyam tiga malam, dia hanya bilang terima kasih, lalu tidak pernah memakainya lagi. Setiap kali kutanyakan, dia hanya bilang tidak suka modelnya. Aku menyesal berhari-hari, menyalahkan diri karena tidak memahami seleranya.

Hidangan yang kusajikan untuknya, dia tidak makan sampai habis. Dia bahkan memarahiku habis-habisan, bilang sebagai seorang yang belajar agama, dia pantang kemewahan dan pemborosan. Menurutnya, aku melakukan itu karena tidak menghormatinya.

Aku menjelaskan dengan panik, bilang aku hanya ingin membuatnya tersenyum. Namun, Nindy tidak memedulikanku, lalu tinggal di kuil selama seminggu.

Tentang luka bakar di tanganku, kupikir dia tidak mengetahuinya. Sekarang aku sadar, dia tahu. Hanya saja, dia malas peduli.

Saat dia demam tinggi, akulah yang mengambil cuti dari tim dan menjaganya siang malam. Dia menyuruhku pergi. Kukira karena dia merasa tidak tega padaku, tetapi yang kudapat justru hanya rasa muaknya.

Katanya demam itu ujian dari Tuhan, bahkan sebuah berkah. Dia melarangku masuk kamarnya selangkah pun, bilang aku kotor dan bodoh.

Aku sampai tidak bisa tidur karena menyalahkan diri, lalu mempelajari ajaran agama siang malam. Namun, tidak pernah kutemukan ajaran bahwa "sakit itu berkah" seperti yang dia bilang. Kupikir aku yang bodoh, tetapi ternyata itu hanya alasannya untuk menjauhiku.

Jadi, dia bukan tidak mengerti kebaikanku. Dia hanya memberikan hatinya pada orang lain dan tak sudi menerima hatiku.

Nindy, ini salahku. Salahku karena pernah bertemu denganmu. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hati yang mati.

Air mata sudah habis. Aku justru merasa lega, bersyukur karena ada setengah hari ini untuk mengetahui semua kebenaran. Pernikahan konyol ini memang harus diakhiri.

Dewi tidak punya cinta, maka manusia biasa ini harus berhenti berharap. Aku meminta kertas dan pena dari resepsionis hotel, menulis sepucuk surat perpisahan.

[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]

[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]

[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]

[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]

[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]

[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
TheVirgo
dasar tolol..berani nya cuma nulis surat..pantas aja ditipu ma istri
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 625

    Aku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku tetap menatap Xavian dengan dingin, lalu mencibir."Xavian, apa otakmu rusak? Aku sudah lama cerai dengan wanita ini. Hubungan kami sudah berakhir.""Kamu nggak bisa mengancamku dengan dia.""Bisa. Ray, aku juga nggak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan padamu. Setelah hari itu, aku juga nggak pernah ganggu Shiesta lagi.""Apa sulitnya membiarkan keluargaku pergi?" Wajah Xavian tampak muram. Sorot matanya dipenuhi kebencian."Kalau aku bisa berdiri di sini, berarti semua yang kamu lakukan sudah kuketahui." Ekspresiku tetap datar.Mendengar itu, Xavian menggertakkan gigi. Wajahnya menjadi makin suram. "Jadi memang nggak ada yang bisa dirundingkan?""Bagus! Bagus sekali! Ray, kamu memang kejam. Tapi aku lebih kejam darimu! Kalaupun mati, aku akan menyeretmu ikut mati!"Selesai berbicara, Xavian tiba-tiba mendorong Nindy. Dari balik pakaiannya, dia mengeluarkan sebilah belati. Dengan wajah penuh kegilaan, dia menerjang ke arahku.Aku langsu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 624

    "Mati lagi?"Aku terkejut mendengarnya. Di dalam hati, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.Para petinggi Grup Wardoyo yang melompat dari gedung karena takut dihukum masih bisa dimengerti. Bagaimanapun juga, seperti yang dikatakan Nicole, kejahatan yang mereka lakukan sangat keji dan cukup untuk membuat mereka mendekam di penjara seumur hidup.Namun, kasus Grup Pariaman tidak separah itu. Sekalipun Winardi ditangkap polisi, hukumannya paling sekitar sepuluh tahun. Apa sampai harus bunuh diri karena takut dihukum?"Ada yang nggak beres. Suruh Nicole dan para elite Grup Ghifari memanfaatkan jaringan intelijen keluarga. Selidiki apa masih ada sesuatu yang disembunyikan Winardi atau ada pihak lain di belakangnya.""Baik." Bella langsung mengangguk. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Nicole, lalu menyampaikan perintah Ray.Sementara itu, semua ancaman di Kota Shandro sebenarnya sudah berhasil kuselesaikan. Satu-satunya masalah yang tersisa hanyalah Keluarga Maldini di Kota Oc

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 623

    Aku menepuk bahunya pelan, lalu berkata dengan suara lembut, "Semangat sedikit. Di area pertambangan masih banyak pekerja yang butuh bantuanmu untuk koordinasi.""Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Untuk sementara, bisa kuserahkan urusan di Kota Shandro kepadamu? Termasuk Grup Wardoyo dan Grup Pariaman."Mendengar itu, mata Nicole membelalak karena terkejut. "Grup Pariaman juga mau kamu tumbangkan?""Ya, semuanya sudah terungkap. Winardi bukan hanya sekongkol dengan para calo untuk menaikkan harga obat, tapi juga melakukan banyak perbuatan kotor lainnya.""Saat ini, di mata sebagian warga Kota Shandro, Farmasi Rising Dragon sudah dianggap sebagai perusahaan kapitalis yang dibenci.""Kalau ingin terus berkembang di Kota Shandro, kita harus menyingkirkan Grup Pariaman, lalu mengungkap seluruh kebenaran kepada publik dan memulihkan nama baik Farmasi Rising Dragon."Mendengar itu, Nicole langsung mengangguk. "Kalau Pak Ray sudah bicara seperti ini, apalagi kamu juga sudah memb

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 622

    "Rising Dragon masih belum cukup kuat. Tapi sekarang, dengan sumber daya dari Keluarga Ghifari di ibu kota, akhirnya aku bisa bergerak tanpa ragu."Mendengar itu, Clara mengangguk mengerti. Entah kenapa, pria yang masih tersenyum santai di hadapannya itu tiba-tiba memancarkan aura seolah ingin menaklukkan dunia.Setelah itu, aku membawa kembali beberapa botol minuman berkualitas. Aku juga mengajak Clara makan bersama kakekku."Ray, selama kamu bisa menerima semua ini, Kakek sudah merasa tenang. Di pihak Grup Ghifari, Kakek sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengambil alih semuanya sebagai pewaris muda, lalu wujudkan cita-citamu."Kakekku memandangku dengan mata penuh kebanggaan. "Untuk sementara, urusan di ibu kota akan Kakek tahan dulu. Tunggu sampai kamu selesaikan semua urusanmu, lalu kembali secara resmi.""Saat itu, biarkan mereka semua tahu, yang kembali ke Keluarga Ghifari bukanlah seorang anak terlantar dari luar, melainkan seekor naga sejati yang selama ini bersembunyi di k

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 621

    "Hamid pasti salah satunya, 'kan? Lalu Bella, ahli bela diri sehebat itu, apa dia juga termasuk?""Masih ada yang lain. Tokoh-tokoh besar yang tiba-tiba muncul, yang dulu pernah kutolong. Mereka semua juga pengaturan Kakek?"Mendengar itu, kakekku tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Bukan. Hanya Hamid yang memang Kakek atur. Sisanya adalah hasil usahamu sendiri."Hanya Hamid. Bisa dibilang, dialah orang pertama yang membawa keberuntungan dalam hidupku. Tanpa Hamid, mustahil aku bisa sampai pada titik ini. Namun, ternyata sejak awal dia sudah tahu identitasku?"Pantas saja Hamid berkali-kali rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia membantuku agar bisa naik status? Harga yang dia bayar benar-benar terlalu besar."Aku tersenyum pahit. Otakku segera menyusun kembali semua kejadian, dari masa lalu hingga sekarang. Semua orang, semua peristiwa, bagaimana aku harus menghadapi semuanya mulai sekarang?"Mau gimana kamu menilai, Kakek nggak akan ikut campur. Kakek percaya pada kemampu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 620

    Mendengar itu, Clara hanya tersenyum misterius, lalu berkata penuh makna,"Nanti setelah kamu bertemu dengan beliau, semuanya akan menjadi jelas."Beliau? Aku makin bingung. Namun, karena sudah telanjur datang, aku tetap mengikuti Clara masuk.Begitu memasuki ruang VIP, hanya ada seorang pria tua yang duduk di dalam. Auranya begitu berwibawa, mengenakan pakaian yang mewah dan elegan."Beliau ini ...?" Aku melirik pria tua itu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat familier. Bahkan bisa dibilang ada sedikit kemiripan denganku.Namun, Clara tidak menghiraukanku. Dalam sekejap, sikapnya berubah menjadi penuh hormat."Kakek Ghifari, Ray sudah kubawa.""Terima kasih."Pria tua yang duduk di kursi utama akhirnya memperlihatkan senyuman tipis, lalu melambaikan tangan kepadaku. "Ray, cepat mendekat ke Kakek.""Aku?" Saat itu juga aku benar-benar terkejut. Dengan wajah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.Pria tua ini juga bermarga Ghifari, bahkan mengaku sebagai kakekku? Jangan-jangan ....

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status