Share

Bab 9

Author: Faizal Arjuna
Setengah jam kemudian, Nindy menerima pesan dari asistennya.

[ Bu Nindy, sudah aku selidiki. Beberapa hari ini nggak ada kebakaran di dalam kota, tapi di wilayah pegunungan barat sempat terjadi kebakaran hutan. ]

[ Kondisinya sangat parah. Kabarnya tim pemadam dari kecamatan sekitar hampir habis-habisan. Tim Dua tempat Pak Ray bertugas juga ikut ke sana beberapa hari lalu. ]

Melihat ini, ekspresi Nindy langsung berubah drastis. Tubuhnya bangkit dari tepi ranjang tanpa kendali, bahkan sampai sedikit gemetar.

[ Terus, sekarang sudah terkendali? Ada korban dari tim Ray nggak? ]

Dengan tangan bergetar, Nindy mengetik kalimat itu dan menekan kirim. Saat ini, dia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia rasakan. Namun, rasa sesak di dadanya cukup kuat.

[ Untuk kondisi pasti di tempat kejadian belum jelas. Tapi beberapa hari ini, api sudah berhasil dikendalikan. ]

[ Bu Nindy, Pak Ray itu orang yang beruntung. Beliau pasti baik-baik saja. ]

Melihat balasan itu, Nindy memejamkan mata dengan pasrah. Hanya dia yang tahu, Ray sudah menghilang sejak beberapa hari lalu dan ponselnya sampai sekarang selalu tidak aktif.

Yang lebih membuatnya takut adalah kalimat terakhir dalam surat Ray. Dalam keadaan mental seperti itu ... jangan-jangan dia benar-benar nekat menghadapi kebakaran hutan tanpa peduli nyawanya?

[ Baiklah. ]

[ Cari lokasi tepatnya kebakaran hutan itu. Aku akan ke sana sekarang. ]

Saat membuka mata lagi, Nindy sudah membuat keputusan. Dia memberikan instruksi dengan tegas. Apa pun masalah antara dia dan Ray, itu urusan rumah tangga. Ray tetap suaminya yang sah. Dia harus melihat orangnya, mau itu hidup atau mati!

[ Baik, Bu. ]

[ Tapi, Pak Chicco sudah memesan restoran malam ini. Beliau bilang Ibu mungkin sibuk karena nggak membalas pesannya, jadi beliau meminta aku menyampaikan. Bagaimana? ]

Mendengar ini, Nindy mengernyit. Tak sampai beberapa detik, dia sudah mengambil keputusan.

[ Suruh dia batalkan. Malam ini aku ada urusan. Kita jadwalkan ulang lain hari. ]

[ Baik, Bu. ]

Setelah menutup percakapan, Nindy tidak bisa lagi duduk diam. Rasa gelisah menguasainya. Dia langsung mengambil kunci, keluar kamar, dan mengendarai mobil menuju arah pegunungan barat.

Lima menit kemudian, asisten mengirim lokasi lengkap dan mengingatkan agar berhati-hati. Nindy tidak membalas. Dia hanya menyalakan navigasi dan menambah kecepatan.

"Ray, kamu nggak boleh kenapa-napa! Meskipun akhirnya bercerai, aku nggak bisa biarkan semuanya menjadi nggak jelas seperti ini!"

Mobil melaju dengan sangat kencang. Perjalanan yang seharusnya satu jam, hanya ditempuh dalam 40 menit.

Semakin dekat dengan lokasi kebakaran, perasaan Nindy semakin buruk. Dari kejauhan saja dia sudah mencium bau hangus yang menusuk.

Semakin dekat, semakin jelas terlihat jejak-jejak tanah dan pepohonan yang hangus. Nindy menatap pemandangan itu, hingga seolah-olah bisa membayangkan kemungkinan terburuk tentang Ray.

Dadanya semakin sesak. Dengan satu injakan penuh, dia sampai di lokasi. Bukan pusat kebakaran, tetapi jalan tidak bisa lagi dilalui ke depan.

Nindy buru-buru turun dari mobil. Dia melihat beberapa mobil pemadam. Tidak jauh dari sana, ada tenda-tenda pos pemadam. Di dalamnya tampak bayangan para petugas pemadam kebakaran yang berlalu-lalang.

"Di sana!" Mata Nindy langsung berbinar. Dia cepat-cepat berjalan ke arah tenda.

Namun, baru beberapa langkah, dia mendengar suara tangisan banyak orang dari dalam tenda. Seketika, jantung Nindy seakan-akan berhenti berdetak. Langkahnya semakin cepat tanpa sadar.

"Ray, aku datang! Tolong jangan kenapa-napa!"

Setelah maju beberapa langkah lagi, Nindy melihat pemandangan yang membuatnya hampir tidak bisa berdiri. Di dalam area tenda itu, selain para petugas pemadam kebakaran, ada begitu banyak warga sekitar.

Mereka berkelompok, masing-masing mengelilingi tubuh-tubuh yang ditutupi kain putih, menangis pilu.

Nindy bahkan bisa melihat sebagian lengan yang masih mengenakan seragam pemadam di balik kain. Dia menyaksikan pemandangan yang menyayat hati itu sampai tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya bahkan hampir terjatuh.

Nindy tidak bisa membayangkan ... bagaimana kalau salah satu yang terbaring itu adalah Ray? Dalam kelinglungan itu, rasanya ada begitu banyak kata yang tersumbat di dalam hatinya, tetapi tidak bisa diungkapkan.

"Ray ... kamu ada di sini nggak?" Mata Nindy langsung memerah. Dia bahkan tidak peduli dianggap tidak sopan. Dia mendekat dan membuka kain putih satu per satu untuk mengonfirmasi identitas.

"Yang ini bukan."

"Yang ini juga bukan ...."

Baru satu menit, Nindy sudah memastikan beberapa korban. Semua bukan Ray. Namun, dia sama sekali tidak berani menghela napas lega karena jumlah tubuh di sana terlalu banyak.

Yang Nindy tidak tahu adalah di sudut tenda, seorang pria berjaket pemadam baru kembali dan menggendong korban luka.

Begitu melihat sosok Nindy, pria itu tertegun. Nindy? Kenapa dia ada di sini?

Aku mengucek mataku, memastikan bahwa wanita yang berdiri tak jauh itu benar-benar Nindy. Istri sahku, atau lebih tepatnya mantan istriku.

"Dia ... datang mencariku?" Aku berdiri diam, menatap Nindy membuka satu per satu kain dengan wajah panik. Rasanya tidak bisa dipercaya. Belum pernah aku melihat Nindy sekhawatir itu terhadap diriku.

Sesaat, rasanya seperti dulu, di mana Nindy masih belum bersikap dingin, masih peduli padaku, dan masih mencintaiku. Apa mungkin dia masih mencintaiku?

Aku ingin melangkah menghampirinya. Namun, baru mengambil selangkah, kakiku berhenti. Sebab pada saat itu, bayangan Nindy di hari itu muncul jelas, saat dia mengaku sebagai pasangan Chicco di depan umum dan keduanya berciuman mesra.

Rasa sakit itu langsung menghentikan langkahku. Tidak mungkin. Nindy mana mungkin masih mencintaiku?

Paling dia datang karena membaca surat perpisahanku, tidak terima aku memutuskan sepihak, dan datang untuk mencari masalah.

Mengingat surat itu, hatiku langsung kembali tenang. Melihat Nindy yang panik, aku tidak lagi memiliki rasa apa pun. Terserah dia saja.

Keputusan sudah kutetapkan. Tidak akan ada jalan kembali. Mau dia cinta, benci, marah, ataupun dendam, itu semua sudah tidak ada hubungannya denganku.

Suami Nindy yang dulu selalu mengalah dan mencintainya setulus hati, sudah mati di kebakaran hutan ini. Yang hidup sekarang adalah Ray yang baru. Dalam hidup baru Ray, tidak ada Nindy.

Setelah membulatkan tekadku, aku diam-diam menjauh, mengambil posisi di tempat yang tidak terlihat olehnya, dan melanjutkan pekerjaan penanganan korban.

Sementara dia ... aku tidak khawatir timku mengenalinya. Bagaimanapun, Nindy yang selalu menjaga jarak dari dunia pribadiku tidak pernah sekali pun tampil sebagai istriku dalam acara tim. Tidak ada yang tahu bahwa kami menikah.

Setelah itu, aku melihat Nindy dimarahi keluarga korban karena membuka kain jenazah sembarangan. Dia pun pergi dengan linglung seperti tanpa jiwa.

Hingga sosoknya benar-benar hilang, aku tidak menoleh lagi. Yang aku tidak tahu adalah di dalam mobil, Nindy hampir sepenuhnya hancur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
arroyyan triyanto
iya juga ya? alah palingan mah enggak
goodnovel comment avatar
Antariksa
nindi berubah??
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 468

    "Pak Ray, kita bertemu lagi! Benar-benar kebetulan sekali!"Winardi segera berlari menghampiri Ray. Dia bahkan sengaja mengusap tangannya ke pakaian terlebih dahulu sebelum mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Ray.Melihat sikap Winardi yang begitu hormat dan antusias, Rudy yang sedang ditahan polisi seolah menyadari sesuatu. Wajahnya langsung berubah pucat pasi!Namun, saat itu aku masih berdiri diam tanpa reaksi. Sementara Furhan dan Mayumi memandang Winardi dengan tatapan aneh."Kalau Anda kenal Pak Ray, kenapa masih menggunakan Rudy untuk berinvestasi ke universitas?""Ada apa dengan Rudy?"Winardi tertegun. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi."Bapak nggak tahu?"Furhan melirik Rudy dengan jijik, lalu menceritakan seluruh perbuatannya kepada Winardi. Dalam sekejap, ekspresi Winardi berubah drastis. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung menepis hubungannya dengan Rudy."Aku nggak akrab dengan Pak Rudy!""Orang seperti ini memang pantas mati. Bahkan meng

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 467

    Menghadapi pertanyaan Furhan, Mayumi yang dipenuhi amarah dan rasa keadilan langsung menceritakan semua perbuatan Rudy dan Danta tanpa menyembunyikan apa pun.Kali ini, ekspresi Furhan benar-benar berubah. Wajahnya sampai merah padam karena marah."Sampah! Bajingan!""Bagaimana mungkin di universitas yang kupimpin ada dua makhluk yang bahkan lebih rendah daripada binatang seperti kalian!""Kalian berdua dipecat! Aku akan langsung melaporkan kalian ke polisi dan mengirim kalian ke penjara! Kalian benar-benar pantas mati!" maki Furhan dengan penuh amarah.Saat itu juga, dia hendak menelepon polisi. Namun ketika melihat dirinya benar-benar tidak mungkin lolos, Danta langsung berlari dan memeluk erat salah satu kaki Furhan.Sambil menangis dia memohon, "Pak, saya benar-benar dipaksa sama si bajingan Rudy itu! Tolong bicarakan baik-baik dengan Pak Ray. Mohon belas kasihan dan beri aku satu kesempatan!"Di sisi lain, Rudy juga benar-benar ketakutan. Dia bergegas memeluk kaki Furhan yang satu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 466

    Danta memaki dengan marah, "Mampus sana, dasar bajingan! Masih mau menyeretku ikut celaka? Nggak mungkin!""Dasar nggak tahu balas budi ...," umpat Rudy dengan lemah."Kamu masih berani ngomong? Kupukul kamu sampai mati!"Saat ini, Danta bukan hanya ingin menunjukkan pendiriannya, tetapi juga melampiaskan seluruh kekesalan yang telah dipendam selama bertahun-tahun. Dia langsung menaiki tubuh Rudy dan menghajarnya dengan pukulan serta tendangan tanpa henti.Bagaimanapun juga, Danta adalah guru olahraga.Meski kondisi fisiknya tidak bisa dibandingkan dengan Ray, untuk menghajar pria tua gemuk seperti Rudy, itu lebih dari cukup.Ruangan privat itu segera dipenuhi jeritan kesakitan Rudy. Belum sampai dua menit Danta memukul, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar ruangan.Detik berikutnya, pintu langsung terbuka!Rektor Universitas Oceania, Furhan, masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa surat pemecatan di tangannya. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Rudy berengsek!"Begitu masuk

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 465

    'Apa dia nggak punya otak? Sudah menyinggung Pak Ray, masih berani telepon aku? Bukankah itu sama saja mencelakakan aku?'"Pak Rizky sudah serius sekarang. Bocah, tunggu saja kematianmu! Pengeras suaranya sudah aktif, Pak Rizky. Silakan bicara langsung dengan bocah ini."Wajah Rudy dipenuhi kegembiraan karena merasa balas dendamnya akan segera terwujud. Dia tidak sabar menyalakan pengeras suara. Bahkan Danta yang berada di sampingnya juga tidak bisa menahan diri lagi. Dia ingin kembali bersikap sombong di depan Ray dan Mayumi."Kalian berdua sialan ...."Namun sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, suara panik Rizky sudah terdengar dari telepon."Apakah ini Pak Ray?""Ya, aku sendiri." Aku tersenyum lalu berkata, "Rizky, lama nggak ketemu.""Hehe, benar, benar! Kalau Pak Ray berkenan bertemu denganku, itu sebuah kehormatan bagiku!" Di ujung telepon, Rizky berbicara dengan sangat hormat, "Besok aku akan datang ke Rising Dragon untuk mengunjungi Bapak!""Tapi sekarang, izinkan aku

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 464

    Kepala jurusan ekonomi dan keuangan sudah kabur. Para pria tua yang tersisa saling berpandangan, lalu satu per satu bangkit dengan wajah pucat dan melarikan diri.Aku tidak menghentikan mereka. Yang tersisa hanya Rudy dengan kepala berlumuran darah dan Danta dengan tangan penuh darah."Dasar sekumpulan pengecut! Nanti setelah kembali ke sekolah, akan kupecat kalian semua!" Rudy meraung penuh amarah dan ketidakrelaan.Saat itu, aku mengorek telinga dengan tidak sabar lalu berkata sambil mengernyit, "Sudah panggil bekinganmu atau belum? Sampah. Kalau memang nggak ada yang bisa menghadapiku, aku akan langsung menelepon polisi dan mulai membereskanmu.""Kamu ...." Menghadapi ancamanku, wajah Rudy berubah drastis, tetapi dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Karena semua nomor yang dia hubungi, tanpa terkecuali, langsung menutup telepon begitu mendengar nama Ray dan Rising Dragon.Sekarang tinggal satu panggilan terakhir. Dengan wajah suram, Rudy langsung menelepon penyelamat terbes

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 463

    "Cepat sekali mendalami peran ...."Saat aku hendak membawa Mayumi pergi, terdengar raungan penuh amarah dari belakang. "Bajingan! Berani nggak kamu kasih aku kesempatan untuk telepon? Jangan lari!""Perusahaan apa yang kamu buka di Kota Oceania? Akan kubuat bangkrut dalam semalam!"Mendengar ucapannya, langkahku terhenti.Aku menoleh kembali. Semua orang yang duduk di sana buru-buru menghindari tatapanku. Hanya Rudy yang sudah bangkit dari lantai dan masih menatapku dengan kebencian tanpa sedikit pun penyesalan."Mau adu koneksi? Adu kekuasaan?" Aku mencibir.Tanpa ragu, aku berbalik dan kembali ke sana. Aku mengambil ponsel milik salah satu orang yang hadir, lalu melemparkannya kepada Rudy."Teleponlah. Kasih tahu dia namaku.""Rising Dragon, Ray.""Panggil bekingan terbesarmu ke sini. Aku bisa memastikan satu hal, kamu pasti akan masuk penjara," kataku dengan tenang.Namun, kata-kataku membuat tubuh Rudy bergetar sesaat. Meski begitu, matanya masih dipenuhi kebencian dan ketidakrela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status