LOGIN"Pak Ray, kita bertemu lagi! Benar-benar kebetulan sekali!"Winardi segera berlari menghampiri Ray. Dia bahkan sengaja mengusap tangannya ke pakaian terlebih dahulu sebelum mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Ray.Melihat sikap Winardi yang begitu hormat dan antusias, Rudy yang sedang ditahan polisi seolah menyadari sesuatu. Wajahnya langsung berubah pucat pasi!Namun, saat itu aku masih berdiri diam tanpa reaksi. Sementara Furhan dan Mayumi memandang Winardi dengan tatapan aneh."Kalau Anda kenal Pak Ray, kenapa masih menggunakan Rudy untuk berinvestasi ke universitas?""Ada apa dengan Rudy?"Winardi tertegun. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi."Bapak nggak tahu?"Furhan melirik Rudy dengan jijik, lalu menceritakan seluruh perbuatannya kepada Winardi. Dalam sekejap, ekspresi Winardi berubah drastis. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung menepis hubungannya dengan Rudy."Aku nggak akrab dengan Pak Rudy!""Orang seperti ini memang pantas mati. Bahkan meng
Menghadapi pertanyaan Furhan, Mayumi yang dipenuhi amarah dan rasa keadilan langsung menceritakan semua perbuatan Rudy dan Danta tanpa menyembunyikan apa pun.Kali ini, ekspresi Furhan benar-benar berubah. Wajahnya sampai merah padam karena marah."Sampah! Bajingan!""Bagaimana mungkin di universitas yang kupimpin ada dua makhluk yang bahkan lebih rendah daripada binatang seperti kalian!""Kalian berdua dipecat! Aku akan langsung melaporkan kalian ke polisi dan mengirim kalian ke penjara! Kalian benar-benar pantas mati!" maki Furhan dengan penuh amarah.Saat itu juga, dia hendak menelepon polisi. Namun ketika melihat dirinya benar-benar tidak mungkin lolos, Danta langsung berlari dan memeluk erat salah satu kaki Furhan.Sambil menangis dia memohon, "Pak, saya benar-benar dipaksa sama si bajingan Rudy itu! Tolong bicarakan baik-baik dengan Pak Ray. Mohon belas kasihan dan beri aku satu kesempatan!"Di sisi lain, Rudy juga benar-benar ketakutan. Dia bergegas memeluk kaki Furhan yang satu
Danta memaki dengan marah, "Mampus sana, dasar bajingan! Masih mau menyeretku ikut celaka? Nggak mungkin!""Dasar nggak tahu balas budi ...," umpat Rudy dengan lemah."Kamu masih berani ngomong? Kupukul kamu sampai mati!"Saat ini, Danta bukan hanya ingin menunjukkan pendiriannya, tetapi juga melampiaskan seluruh kekesalan yang telah dipendam selama bertahun-tahun. Dia langsung menaiki tubuh Rudy dan menghajarnya dengan pukulan serta tendangan tanpa henti.Bagaimanapun juga, Danta adalah guru olahraga.Meski kondisi fisiknya tidak bisa dibandingkan dengan Ray, untuk menghajar pria tua gemuk seperti Rudy, itu lebih dari cukup.Ruangan privat itu segera dipenuhi jeritan kesakitan Rudy. Belum sampai dua menit Danta memukul, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar ruangan.Detik berikutnya, pintu langsung terbuka!Rektor Universitas Oceania, Furhan, masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa surat pemecatan di tangannya. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Rudy berengsek!"Begitu masuk
'Apa dia nggak punya otak? Sudah menyinggung Pak Ray, masih berani telepon aku? Bukankah itu sama saja mencelakakan aku?'"Pak Rizky sudah serius sekarang. Bocah, tunggu saja kematianmu! Pengeras suaranya sudah aktif, Pak Rizky. Silakan bicara langsung dengan bocah ini."Wajah Rudy dipenuhi kegembiraan karena merasa balas dendamnya akan segera terwujud. Dia tidak sabar menyalakan pengeras suara. Bahkan Danta yang berada di sampingnya juga tidak bisa menahan diri lagi. Dia ingin kembali bersikap sombong di depan Ray dan Mayumi."Kalian berdua sialan ...."Namun sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, suara panik Rizky sudah terdengar dari telepon."Apakah ini Pak Ray?""Ya, aku sendiri." Aku tersenyum lalu berkata, "Rizky, lama nggak ketemu.""Hehe, benar, benar! Kalau Pak Ray berkenan bertemu denganku, itu sebuah kehormatan bagiku!" Di ujung telepon, Rizky berbicara dengan sangat hormat, "Besok aku akan datang ke Rising Dragon untuk mengunjungi Bapak!""Tapi sekarang, izinkan aku
Kepala jurusan ekonomi dan keuangan sudah kabur. Para pria tua yang tersisa saling berpandangan, lalu satu per satu bangkit dengan wajah pucat dan melarikan diri.Aku tidak menghentikan mereka. Yang tersisa hanya Rudy dengan kepala berlumuran darah dan Danta dengan tangan penuh darah."Dasar sekumpulan pengecut! Nanti setelah kembali ke sekolah, akan kupecat kalian semua!" Rudy meraung penuh amarah dan ketidakrelaan.Saat itu, aku mengorek telinga dengan tidak sabar lalu berkata sambil mengernyit, "Sudah panggil bekinganmu atau belum? Sampah. Kalau memang nggak ada yang bisa menghadapiku, aku akan langsung menelepon polisi dan mulai membereskanmu.""Kamu ...." Menghadapi ancamanku, wajah Rudy berubah drastis, tetapi dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Karena semua nomor yang dia hubungi, tanpa terkecuali, langsung menutup telepon begitu mendengar nama Ray dan Rising Dragon.Sekarang tinggal satu panggilan terakhir. Dengan wajah suram, Rudy langsung menelepon penyelamat terbes
"Cepat sekali mendalami peran ...."Saat aku hendak membawa Mayumi pergi, terdengar raungan penuh amarah dari belakang. "Bajingan! Berani nggak kamu kasih aku kesempatan untuk telepon? Jangan lari!""Perusahaan apa yang kamu buka di Kota Oceania? Akan kubuat bangkrut dalam semalam!"Mendengar ucapannya, langkahku terhenti.Aku menoleh kembali. Semua orang yang duduk di sana buru-buru menghindari tatapanku. Hanya Rudy yang sudah bangkit dari lantai dan masih menatapku dengan kebencian tanpa sedikit pun penyesalan."Mau adu koneksi? Adu kekuasaan?" Aku mencibir.Tanpa ragu, aku berbalik dan kembali ke sana. Aku mengambil ponsel milik salah satu orang yang hadir, lalu melemparkannya kepada Rudy."Teleponlah. Kasih tahu dia namaku.""Rising Dragon, Ray.""Panggil bekingan terbesarmu ke sini. Aku bisa memastikan satu hal, kamu pasti akan masuk penjara," kataku dengan tenang.Namun, kata-kataku membuat tubuh Rudy bergetar sesaat. Meski begitu, matanya masih dipenuhi kebencian dan ketidakrela







