Teilen

Bab 8

Faizal Arjuna
"Kamu bilang dia pernah datang sekali?"

"Benar, Bu."

"Berikan aku kartu cadangan. Aku mau naik dan lihat."

Tanpa banyak bicara, Nindy mengambil kartu kamar cadangan, lalu langsung menuju kamar.

Bip. Pintu kamar terbuka. Dia ingin melihat, kali ini Ray membuat ulah apa lagi?

Setelah masuk, Nindy meneliti seluruh kamar, tetapi menemukan bahwa peralatan mandi dan perlengkapan tidur sama sekali tak tersentuh.

Tidak ada sedikit pun jejak bahwa ada orang yang menginap di sini. Ini membuktikan bahwa Ray hanya sebentar di sini.

Kalau begitu, dia datang untuk apa? Hanya untuk mengambil barang?

Nindy tentu memperhatikan bahwa di kamar tidak ada barang-barang milik Ray. Namun, di atas meja, dia menemukan laptop kerjanya.

"Ternyata di sini."

"Ada sepucuk surat juga?"

Nindy melangkah mendekat, mengambil surat yang tergeletak di atas laptopnya. Di sampul surat hanya tertulis dua kata besar, yaitu surat perpisahan.

Pada detik itu juga, Nindy langsung menebak Ray sedang memikirkan apa.

"Ray, beberapa hari nggak menghubungiku, ponselmu mati, meninggalkan surat perpisahan lalu menghilang. Ini trik barumu? Membosankan."

Nindy mengerutkan alis dan tertawa dingin. Surat yang ditinggalkan Ray itu bahkan tidak dia baca dan langsung dibuang ke tempat sampah. Mau dihubungi atau tidak, terserah.

Dia tidak percaya Ray punya keberanian untuk benar-benar tidak kembali ke rumah. Kebetulan mumpung Ray tidak ada, biar Andrew menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah.

Soal Ray, apakah dia ada di hotel atau sengaja bersembunyi, dua-duanya sama saja bagi Nindy. Dia tidak peduli. Dia membuka laptop kerjanya dan mengerjakan beberapa dokumen baru.

Waktu berlalu beberapa jam. Hari mulai gelap. Pekerjaan Nindy akhirnya selesai. Dia meregangkan tubuh, lalu refleks mengambil ponsel. Di layar hanya ada pesan-pesan ambigu dari Chicco.

Sementara Ray ... tetap tidak ada kabar.

"Kamu serius main begini?" Nindy membuka kunci ponsel, tidak langsung membalas Chicco, malah menggulir layar hingga menemukan ruang obrolan dengan Ray.

Pesan terakhir Ray dikirim beberapa hari lalu.

[ Sayang, ada hotel yang tiba-tiba kebakaran. Aku berangkat dulu ke lokasi. ]

[ Malam ini kamu ingin makan apa? Tinggalkan pesan. Sepulang kerja, aku beli bahan dan masak buat kamu. ]

[ Jangan khawatir. ]

Hari hotel kebakaran itu, kebetulan Ray menemukan hubungannya dengan Chicco dan Andrew. Sejak saat itu, Ray tidak pernah lagi mengirim pesan perhatian.

Tentu saja, tiga pesan itu pun tidak dibalas oleh Nindy. Entah kenapa, saat Nindy melihat satu per satu pesan penuh perhatian Ray yang sudah biasa dia dapatkan dan sekarang tiba-tiba hilang, hatinya benar-benar terasa tidak nyaman.

"Terserah kamu saja deh." Menatap layar cukup lama, suasana hati Nindy mendadak kacau. Dia akhirnya menutup ponsel.

Kebetulan, matanya langsung tertuju pada surat perpisahan yang tadi dia buang. Beberapa jam lalu dia meremehkan trik Ray, tetapi sekarang hatinya mulai gelisah.

"Aku penasaran, kamu ini memang mau memaksaku atau cuma cari masalah?" Nindy mendengus dingin, mengambil surat itu dari tempat sampah dan membukanya.

Pada detik berikutnya, yang terlihat hanyalah beberapa kalimat sederhana. Namun, kalimat-kalimat itu membuat tubuh Nindy membeku di tempat dan tertegun.

[ Nindy, mau kamu setuju atau nggak, mau kamu sedang dalam masa pantangan atau nggak, kita resmi berakhir. ]

[ Aku merelakanmu dan cinta pertamamu, Chicco. ]

Sekejap, wajah Nindy berubah drastis. "Dia .... Bagaimana dia bisa tahu?"

Tak butuh waktu lama, Nindy langsung teringat laptop kerjanya. Di dalamnya ada akun WhatsApp-nya. Karena laptop itu biasanya hanya dipakainya sendiri, dia mengaktifkan login otomatis.

Artinya, obrolannya dengan Chicco ... semuanya ada di sana.

[ Andrew itu pasti anak kandung kalian berdua, 'kan? Aku nggak ngerti, kamu sudah menutupinya begitu keras, begitu lelah bersamaku, kenapa kamu masih menikah denganku? ]

[ Lima tahun membuatku sadar betapa konyolnya aku selama lima tahun ini. Terus terang, aku menangis sampai air mataku habis, tapi bukan untukmu, melainkan karena aku merasa diriku nggak pantas diperlakukan seperti ini! ]

[ Sebagai suamimu, aku membencimu sampai ke tulang. Tapi sebagai seorang petugas pemadam kebakaran, aku nggak menyesal telah menyelamatkan kalian bertiga di hotel itu. Sekarang, aku akan berangkat tugas lagi. ]

[ Anggap saja aku mati dalam tugas ini. Kita nggak akan pernah bertemu lagi. Surat ini adalah surat perpisahan. ]

Selesai membaca, tatapan Nindy kosong. Surat itu terlepas dari genggamannya. Hatinya mendadak hampa.

Tidak diragukan lagi, Ray sudah melihat seluruh percakapan antara Nindy dan Chicco di laptop. Kebetulan di hari itu, dia mengikuti Chicco menghadiri rapat orang tua murid Andrew.

Ray tahu semuanya. Sikapnya menjadi setegas isi surat itu. Setiap kata bagai palu yang menghantam hati Nindy.

Untuk sesaat, Nindy tidak bisa bernapas. Setelah waktu yang lama, dia baru tersadar. Dia buru-buru menyalakan ponsel dan menelepon Ray.

"Bukan seperti yang kamu pikirkan. Memang aku pernah punya hubungan dengan Chicco, tapi itu bukan berarti aku selingkuh setelah menikah ...."

"Atas dasar apa? Atas dasar apa pernikahan lima tahun kita kamu akhiri sepihak? Kamu pernah menghargaiku nggak?"

Nindy bergumam, refleks membela diri. Saat ini, dia bahkan merasa seperti seseorang yang ketahuan berselingkuh.

Padahal dia memang tidak melakukan pengkhianatan setelah menikah. Ray malah mendadak pergi tanpa berpamitan. Apa-apaan ini?

Biasanya Ray selalu memberi laporan, selalu berdiskusi dengannya. Kali ini justru sebaliknya. Bahkan setelah tahu alasannya, Nindy tetap sulit menerimanya.

Terlebih lagi, Ray sedang memadamkan kebakaran.

Entah kenapa, telepon yang tak pernah tersambung itu membuat hatinya semakin gelisah. "Bahkan kalau dia pergi buat memadamkan api, masa ponselnya masih mati setelah beberapa hari? Jangan-jangan benar-benar terjadi sesuatu?"

Nindy duduk di tepi ranjang, menelepon Ray berkali-kali. Hasilnya sama, ponselnya tidak aktif.

Muncul kekhawatiran di mata Nindy. Dia memutuskan menelepon asistennya. Walaupun itu sudah tengah malam, telepon langsung diangkat.

"Halo, Bu Nindy, ada perlu apa?"

"Segera selidiki untukku, dalam beberapa hari ini ada kebakaran terjadi di kota atau nggak. Kalau ada, lanjutkan dan cari tahu seberapa parah. Lalu unit pemadam yang turun itu dari departemen mana. Apakah dari tim kedua, tempat Ray bertugas?"

Nindy memberi instruksi. Jantungnya berdegup kencang. Sebelum menutup telepon, dia menambahkan, "Cepat, begitu ada hasil langsung laporkan padaku."

"Baik, Bu!" Telepon ditutup. Asisten itu memasang wajah bingung, tak tahu mengapa Nindy mendadak menyuruhnya menyelidiki hal itu.

Walaupun sang asisten tahu suami Nindy adalah petugas pemadam kebakaran, Nindy tidak pernah peduli urusan tentang kebakaran atau pemadaman.

"Bu Nindy hari ini ... sepertinya berbeda terhadap Pak Ray?" Sambil bergumam, sang asisten mulai mencari informasi.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 50

    Aku mengernyit. Setelah mengalami sendiri betapa tidak tahu malunya Nindy hari ini, aku sengaja mengambil perjanjian cerai yang sudah ditandatangani itu dan memeriksanya dengan teliti.Terutama bagian pembagian harta.Awalnya aku pikir, karena Nindy sudah menandatanganinya, dia seharusnya tidak akan memainkan trik apa pun lagi. Namun ketika kuperiksa, ternyata memang ada yang aneh."Tunggu. Bagian pembagian harta ini ... apa maksudnya 50 persen dari nilai pasaran vila pernikahan saat ini?"Mendengar ucapan itu, Nindy melirikku sekilas, lalu berkata dengan suara datar, "Nggak ada masalah. Bahkan kamu lebih diuntungkan.""Nilai vila itu sudah naik dua kali lipat dibanding lima tahun lalu. Jumlah yang kamu terima akan lebih banyak dari modalmu dulu.""Nggak perlu. Aku tidak mau mengambil keuntungan darimu. Aku hanya ingin kembali ke bagianku yang dulu. Lalu bagaimana dengan kontrak agunan rumah orang tuaku?"Aku mengangkat kepala dan menatapnya, tetapi ekspresi Nindy mendadak tampak aneh.

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 49

    "Nindy, kalau kamu masih punya hati nurani, kamu seharusnya tahu bahwa dalam pernikahan ini, aku jauh lebih banyak berkorban dibanding kamu.""Dan meskipun nggak membahas soal pengorbanan, hanya membahas soal aset, aku tetap berhak atas setengahnya. Karena vila itu memang setengah milikku. Jangan pura-pura lupa."Lima tahun lalu, ketika aku dan Nindy memutuskan menikah, tabunganku memang tidak sedikit. Namun dibandingkan keluarganya yang kaya raya, uangku jelas terkesan tidak cukup.Meski begitu, aku tetap bersikeras ingin membayar setengah dari rumah pernikahan kami. Tabunganku ditambah rumah orang tuaku di kampung yang diagunkan, cukup untuk menutupi setengah harga vila itu.Saat itu, rumah orang tuaku diagunkan kepada Nindy. Seluruh tabunganku juga kuserahkan. Setelah itu, barulah dia melengkapi kekurangannya dan membeli vila tersebut sebagai rumah kami.Ketika aku menyerahkan semua yang kumiliki kepadanya, berniat membangun rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh, Nindy sampai terh

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 48

    "Ray, kamu itu sebenarnya punya hati atau nggak? Jelas-jelas aku ini istrimu yang sudah hidup bersamamu selama lima tahun .... Buang saja keinginanmu untuk cerai itu! Aku nggak akan setuju. Aku akan menahanmu seumur hidup."Begitu kalimat itu keluar dari mulutnya, barulah Nindy seperti melepas seluruh emosinya. Dia duduk kembali, menarik napas, lalu berbicara dengan lebih stabil. "Asal nggak bercerai, aku bisa menyetujui apa pun permintaanmu.""Bahkan aturan tanggal 16 setiap bulan itu juga bisa aku batalkan ...."Saat mengatakan kalimat terakhir, suara Nindy mulai bergetar. Itu sudah merupakan batas tertinggi dari kompromi yang bisa dia berikan.Meskipun dia sudah melihat wanita itu dengan mata kepala sendiri, Nindy tetap tidak ingin percaya bahwa Ray sama sekali tidak memiliki sedikit pun rasa terhadapnya. Bagaimanapun, lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Dalam hati Nindy, dia yakin bahwa dia paling mengerti Ray.Tanggal 16 setiap bulan, itu adalah hari yang diidam-ida

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 47

    Saat dia melihat wajahku yang muram dan penuh amarah, tubuhnya langsung menegang. Dia buru-buru berkata, "Pak Ray, kenapa Bapak datang ke sini?"Aku tidak menanggapi pertanyaannya. Dengan suara dingin, aku berkata, "Nindy ada di kantor nggak?""Ada ....""Kalau begitu ini bukan urusanmu. Pulang saja."Begitu kalimat itu dilontarkan, aku langsung melangkah keluar dari lift dan melewati Lasso tanpa menoleh, lalu berjalan lurus menuju kantor Nindy.Selama lima tahun menikah, jumlah kunjunganku ke kantornya bisa dihitung dengan jari. Justru karena sedikitnya kunjungan itu, lokasi kantornya benar-benar mudah kuingat.Beberapa langkah saja, aku sudah tiba di depan pintu kantornya. Tanpa mengetuk, aku langsung menendang pintu itu!Brak!Suara keras itu membuat Nindy terkejut. Begitu mengangkat kepala, dia melihat aku masuk dengan wajah kelam. "Ray, apa kamu nggak bisa mengetuk pintu dengan benar?""Kalau kamu saja nggak bisa bicara dengan benar, kenapa aku harus mengetuk pintu dengan benar?"

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 46

    [ Tentu saja aku nggak akan mengganggumu, tapi apa yang kukatakan padamu tadi malam tetap berlaku. Kalau kamu masih merasa aku cukup memuaskan dan bersedia menjadi pacarku untuk kebutuhan akting, aku akan sangat senang. Setidaknya, itu berarti kita pernah menjalani waktu yang indah bersama .... ][ Lalu, aku juga akan membayarmu. Menjadi pacarku untuk sementara waktu, ditambah performamu tadi malam yang sangat ... ganas, hmm ... totalnya 10 miliar. Gimana, mau dipertimbangkan? ][ Catatan: Kalau kamu nggak mau, anggap saja aku nggak pernah mengucapkan kalimat terakhir. Sampai jumpa, Pak Ray. ]Di akhir catatan itu, Nisha bahkan menuliskan nomor ponsel pribadinya.Dia juga menggambar sebuah karakter kecil yang lucu, dengan gelembung pikiran bertuliskan "Semoga kamu akan meneleponku".Melihat tulisan tangan Nisha yang indah itu, aku tanpa sadar teringat ekspresinya yang jenaka saat menulis surat. Aku hanya bisa tersenyum pahit. "Sepuluh miliar untuk sebuah pertunjukan plus satu malam, pe

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 45

    Begitu perkataannya diucapkan, aku menatap mata Nisha yang hampir hancur itu dan aku terdiam.Ternyata dia tidak mabuk. Ternyata dia tahu semuanya."Sekarang Hamid sudah nggak mengakui perjodohan kalian. Mungkin keluargamu berubah pikiran. Bisa jadi masih ada jalan keluar.""Kalau memang bukan Hamid, lalu apa? Akan ada pria-pria lainnya lagi. Aku lahir sebagai anak Keluarga Bastian. Takdirku memang hanya menjadi alat pernikahan politik untuk keluarga besar.""Karena itu, aku hanya ingin mati-matian menemukan seorang laki-laki yang benar-benar kusukai."Nisha menangis sambil memelukku semakin erat. Suaranya gemetar ketika berbisik di dekat telingaku. "Ray, apa yang masih kamu ragukan? Aku nggak cukup cantik? Nggak cukup menarik? Atau kamu masih memikirkan istrimu?"Saat Nisha menyebut Nindy, kepalaku seperti tersambar listrik. Gambaran Nindy dan Chicco bersama kembali muncul. Wanita yang penuh pengkhianatan dan standar ganda yang menjijikkan itu sudah tidak layak disebut lagi.Mungkin k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status