LOGINMelihat Dira sudah jauh lebih tenang, Dewa melirik jam tangannya, lalu tersenyum pelan.“Sudah malam. Udara juga makin dingin. Ayo, saya antar kamu kembali ke kamar. Besok pagi kita masih harus jelajah alam, lalu pulang ke Jakarta. Perjalanan seharian itu pasti bakal menguras tenaga kita berdua.”Dira mengangguk pelan. Mereka kemudian beranjak dari area kolam dan berjalan berdampingan menuju tempat penginapan. Udara malam Lembang terasa semakin dingin. Sesekali angin berembus melewati pepohonan, membuat suasana di sekitar mereka semakin sunyi.Sesampainya di persimpangan jalan menuju blok kamar masing-masing, Dira berhenti dan melepas jaket milik Dewa yang sejak tadi dikenakannya.“Ini jaket kamu, Mas. Terima kasih sudah meminjamkannya.”Dewa menggeleng sambil tersenyum tipis. “Pakai saja dulu. Malam ini dingin sekali. Besok pagi baru kamu kembalikan.”“Tapi nanti kamu kedinginan.”“Saya tidak apa-apa, Dira. Kamar saya c
Embusan angin malam Lembang mendadak bertiup lebih kencang di balkon restoran tempat Dira dan Dewa menghabiskan waktu bersama. Udara dingin khas perbukitan menusuk hingga menembus pakaian Dira. Tanpa sadar, perempuan itu merapatkan bahunya sambil menggosok kedua lengan untuk mencari sedikit kehangatan.Melihat gerakan itu, Dewa segera bertindak tanpa banyak bicara. Pria itu melepaskan jaket tebal yang sejak tadi dikenakannya, lalu menyampirkannya perlahan ke bahu Dira. Aroma parfum Dewa yang maskulin dan menenangkan seketika tercium dari kain jaket tersebut, membalut tubuh Dira dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam.Dira sedikit tersentak. Ia refleks memegang ujung jaket kebesaran itu agar tidak merosot dari bahunya. Perempuan itu kemudian mendongak menatap Dewa, mendadak salah tingkah menyadari jarak mereka yang kini terasa begitu dekat.“Eh, Mas Dewa nggak kedinginan kalau jaketnya dikasih ke aku?” tanya Dira, berusaha menyembunyikan debaran di dadanya dengan senyum
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Restoran mulai sepi. Sebagian besar karyawan Nusa Maritim sudah kembali ke kamar masing-masing. Di meja sudut, tim Aditsa akhirnya bisa duduk tenang setelah seharian sibuk memastikan acara berjalan lancar.Di tengah meja, kuah hot pot masih mendidih perlahan. Riko langsung menyendok kuah kaldu ke mangkuknya begitu duduk.“Akhirnya makan juga. Dari tadi nyium bau kaldu, rasanya perut udah demo.”Maya menyusul dengan memasukkan sisa irisan daging ke dalam wajan.“Makan yang banyak, Rik. Tenaga lo paling habis tuh gara-gara nge-MC dadakan.”Dira menyesap minumannya sesaat sebelum meletakkan gelas di atas meja. Ia memandangi timnya yang mulai menikmati makanan dengan wajah lelah, tetapi puas.“Kerja bagus hari ini, guys. Klien puas. Tapi ada satu catatan buat panggung tadi.”Riko langsung berhenti mengunyah dan menatap Dira dengan ekspresi sedikit waspada.“Soal doorprize, ya, Bu
Dira menarik lengan Maya sedikit menjauh dari meja prasmanan menuju area konter minuman.“May, wine-nya dikeluarkan di akhir acara aja, ya. Sekalian bareng sama pembagian doorprize utama,” bisik Dira, memberikan instruksi terakhir. “Pastikan botol-botol yang keluar itu pilihan kualitas terbaik yang kita pesan khusus kemarin. Jangan sampai waitress salah tuang pakai house wine biasa dari hotel.”Maya mengacungkan ibu jarinya dengan mantap.“Siap, Bu. Udah saya pisahin di chiller dari sore tadi biar suhunya pas. Tim waitress juga udah saya briefing ulang barusan.”“Bagus,” Dira mengangguk lega.Ia membalikkan badan, membiarkan matanya menyapu seluruh penjuru restoran utama. Malam ini, semuanya berjalan tepat seperti skenario di kepalanya. Alunan smooth jazz dari band akustik di sudut panggung mengalun merdu, mengisi ruangan dengan ritme santai yang menambah kehangatan malam keakraban.Suara saksofon yang mendayu berpadu manis dengan riuh obrolan santai, denting sendok dan piring yang sa
Baru saja Dira terlelap dan merasakan nyamannya kasur vila memeluk tubuhnya yang kelelahan, dering ponsel menembus alam bawah sadarnya. Dengan mata yang masih lengket, tangannya meraba nakas di sebelah tempat tidur.Nama yang tertera di layar seketika membuat rasa kantuknya menguap. Tubuh Dira mendadak kaku. Ia menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.“Kamu di mana, Dir?” Suara Raka terdengar tajam tanpa basa-basi. “Aku mau bawa Arkana jalan hari ini. Kamu nggak boleh egois, biarkan aku ketemu anakku.”Dira memijat pelipisnya. Raka selalu seperti ini. Datang semaunya, menuntut hak, lalu memutarbalikkan fakta untuk menyudutkannya.“Aku lagi kerja,” jawab Dira dengan intonasi datar. “Arkana lagi jalan sama Edwin.”“Oh, jadi sama pamannya boleh, tapi sama bapak kandungnya dipersulit? Kamu sengaja nyuruh Edwin bawa dia pergi pas tahu aku lagi libur, kan? Kamu benar-benar mau mutusin hubungan aku sama Arkana!”Dulu, tuduhan tak berdasar seperti ini pasti membuat dada Dira sesa
Sepuluh menit berlalu. Dira akhirnya melangkah keluar dari tenda medis dengan napas yang jauh lebih teratur. Udara siang Lembang yang sebelumnya menusuk tulang kini terasa bersahabat menyentuh kulit. Matahari mulai mengintip dari balik rimbunnya pohon pinus, mengusir sisa kabut di atas aliran sungai.Dari kejauhan, wangi asap ayam bakar dan aroma gurih sayur asam menguar kuat dari arah pendopo makan. Perut Dira mendadak berbunyi pelan. Ia baru sadar, energi yang terkuras akibat kepanikan di air tadi benar-benar membuatnya kelaparan.Sambil berjalan menyusuri setapak berbatu, telinganya menangkap riuhnya tawa para peserta. Mereka bergerombol di area makan, saling pamer cerita soal pengalaman menaklukkan jeram. Suasananya begitu hidup dan hangat. Dira tersenyum lega. Syukurlah, insiden tadi tidak sampai merusak suasana hati peserta.Begitu menginjakkan kaki di lantai kayu pendopo, pandangannya langsung menangkap sosok Maya yang heboh melambaikan tangan dari salah satu meja panjang di su







