LOGINLima belas tahun Nadira bertahan dalam pernikahan yang perlahan menghancurkan dirinya. Raka, suaminya, tak pernah berhenti mengkhianati kepercayaan yang ia jaga mati-matian. Saat hatinya nyaris menyerah, Nadira bertemu Dewa—pria yang membuatnya kembali merasa dihargai dan dipandang sebagai seorang perempuan. Namun Dewa bukanlah pria yang bebas. Nadira tahu, perasaan itu salah untuk diperjuangkan. Ia tidak ingin kebahagiaannya lahir dari kehancuran rumah tangga orang lain. Tapi ketika hati mulai memilih jalannya sendiri, mampukah Nadira tetap bertahan pada keputusan yang selama ini ia yakini?
View MoreNadira tidak ingin mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia tahu kemarahan hanya akan membuatnya kehilangan kendali. Jika Raka memang mengkhianatinya, ia ingin memastikan semuanya terlebih dahulu. Sepanjang sore itu, Nadira tetap bekerja seperti biasa. Ia memeriksa laporan dan menyelesaikan dokumen yang tertunda. Hasil rapat dengan PT Nusa Maritim juga ia pastikan berjalan sesuai rencana. Jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Nadira merapikan meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Ia lalu berdiri dan keluar dari ruangannya. Maya langsung menoleh saat melihatnya. “Bu Dira?” “Saya pulang dulu, May. Saya harus jemput Kana.” “Baik, Bu.” Nadira sempat berhenti. Ia teringat sesuatu dari rapat pagi tadi. “Oh iya, terkait rapat tadi, kamu kawal sampai proyek ini tuntas, ya.” “Siap, Bu.” “Pastikan revisi proposal dan anggaran sudah dikoordinasikan.” “Siap, Bu. Saya kawal.” “Terima kasih.” “Sama-sama, Bu.” Nadira meninggalkan kantor. Perjalanan menuju seko
Nadira sudah berada diruang kerjanya, dan melakukan aktivitas seperti biasanya tetai pikiranya kembali pada pesan mesra yang tak sengaja ia lihat di ponsel Raka tadi pagi. “Kalau cuma antar Arkana, harusnya udah sampai kantor,” gumamnya. Nadira meraih ponsel di meja dan mencari nomor Raka. Jarinya sedikit tegang saat menekan tombol panggil. Panggilan tersambung, tetapi baru pada dering ketiga diangkat. “Halo, Mas? Kamu di mana?” tanya Nadira, berusaha menahan getaran napas agar suaranya tetap terdengar tenang. Di ujung telepon, Raka tidak langsung menjawab. Ada jeda dua detik, diisi suara napas berat. Hati Nadira mencelos. Setelah lima belas tahun menikah, ia hafal betul helaan napas Raka saat sedang berada di puncak gairah bercinta. “A–aku lagi– di toilet, Ra,” jawab Raka terbata-bata. Suaranya sengaja dipelankan seolah menahan sesuatu. “Perutku… agak nggak enak.” Sesak di dada Nadira semakin menjadi. Instingnya sebagai perempuan yang pernah dibohongi berbunyi nyaring. Ia menar
Usai memastikan rumah kembali rapi, Nadira berganti pakaian kerja berwarna krem dengan blus putih. Ia menyanggul rambut panjangnya secara sederhana dan merapikan riasan tipis di wajahnya. Penampilannya kembali seperti biasa—tenang dan terkontrol. Tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang ia rasakan. Setelah itu, Nadira keluar dari rumah dan langsung menuju mobilnya. Ia duduk di kursi pengemudi, meletakkan tas di samping, Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Maya. “Selamat pagi, Bu. Jangan lupa pukul 10.00 kita ada meeting dengan klien dari PT Nusa Maritim. Mereka ingin membahas proposal executive gathering terlebih dahulu sebelum proyek Family Gathering Tahunan. Pesertanya sekitar tiga puluh orang, satu divisi di bawah naungan Pak Dewa selaku Direktur Divisi Pengembangan Bisnis. Konsep yang diminta tiga hari dua malam di Bandung. Menginap di vila di kawasan hutan pinus dekat air terjun, dengan agenda arung jeram, barbecue dinner, fun games, dan team building.” Nadira memba
Pagi selalu datang dengan rutinitas yang sama bagi Nadira, seolah hidupnya telah diprogram tanpa pernah memberinya pilihan. Menyiapkan sarapan, memastikan seragam sekolah putranya rapi, lalu menyeduh secangkir kopi hitam untuk Raka. Semua dikerjakan dengan urutan yang nyaris tak pernah berubah selama bertahun-tahun.Rumah masih diselimuti suasana tenang. Putranya sedang bersiap di lantai atas, sementara Raka telah duduk di kursi di ujung meja makan dengan kemeja yang baru saja disetrika Nadira. Lelaki itu sibuk menatap layar ponselnya tanpa sekali pun melirik sang istri yang berjalan mendekat.Nadira membawa teko berisi kopi panas. Ia berdiri di belakang kursi Raka, hendak menuangkan kopi ke dalam cangkir sebelum duduk dan sarapan bersama keluarganya. Saat itulah bunyi notifikasi WhatsApp memecah keheningan.Raka membuka pesan itu. Tangan Nadira yang menggenggam gagang teko mendadak berhenti. Matanya tanpa sengaja menangkap layar ponsel suaminya.Nama Shela terpampang di sana. Di bawa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.