Diantara Dua Cincin

Diantara Dua Cincin

last updateLast Updated : 2026-08-10
By:  Imay21Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Lima belas tahun Nadira bertahan dalam pernikahan yang perlahan menghancurkan dirinya. Raka, suaminya, tak pernah berhenti mengkhianati kepercayaan yang ia jaga mati-matian. Saat hatinya nyaris menyerah, Nadira bertemu Dewa—pria yang membuatnya kembali merasa dihargai dan dipandang sebagai seorang perempuan. Namun Dewa bukanlah pria yang bebas. Nadira tahu, perasaan itu salah untuk diperjuangkan. Ia tidak ingin kebahagiaannya lahir dari kehancuran rumah tangga orang lain. Tapi ketika hati mulai memilih jalannya sendiri, mampukah Nadira tetap bertahan pada keputusan yang selama ini ia yakini?

View More

Chapter 1

Pengkhianatan Raka

Basemen lantai tiga di sebuah gedung perkantoran sepi, hanya terdengar deru mesin sedan Raka yang sengaja dibiarkan menyala. Di balik kaca film yang gelap, kemeja mahal Raka berantakan, kancingnya terlepas hingga ke dada. Bau parfum Shela yang terlalu manis dan tajam tercium di udara, merusak sisa wangi pelicin pakaian di kerah kemeja Raka—wangi rumahan yang selalu disiapkan istrinya setiap subuh dengan rapi.

Tiba-tiba, ponsel Raka yang tergeletak di dekat tuas persneling bergetar panjang. Layarnya menyala terang, memunculkan satu nama: Nadira.

Shela berhenti sejenak. Ia melirik layar ponsel, mendecak pelan, lalu menatap Raka dengan senyum mengejek. Alih-alih mundur, perempuan itu justru menyingkirkan jarak di antara mereka.

“Angkat, Mas,” bisik Shela persis di depan bibir Raka. Matanya menantang. “Nanti Ibu Direktur panik suaminya belum pulang.”

Raka tersenyum miring, merasa egonya disentuh. Dengan santai, tangannya meraih ponsel itu, menggeser tombol hijau, dan menempelkannya ke telinga.

“Halo, Nad?” Suara Raka begitu tenang, datar, tanpa ada nada bersalah sedikit pun.

Di seberang telpon, terdengar hela napas lelah.

“Masih lama, Mas? Ini udah mau jam dua belas.” Suara Nadira terdengar serak, khas perempuan yang kurang tidur setelah seharian bekerja dan mengurus anak.

Tepat saat Nadira bicara, Shela beraksi. Perempuan itu tak peduli Raka sedang menelepon sang istri. Dengan liar, bibirnya mengecup dan menggigit pelan leher laki-laki itu, sengaja memancing reaksi.

Rahang Raka mengeras seketika. Tangan kirinya spontan mencengkeram pinggang Shela kuat-kuat. Ia mati-matian menahan napas agar erangannya tidak lolos di telepon.

“Masih ada meeting sama klien, Nad,” balas Raka dengan suara tertahan. “Lobi bisnisnya alot, nggak bisa ditinggal.”

Shela tersenyum menang. Ia beralih ke bibir Raka, memaksa laki-laki itu menjauhkan ponselnya sebentar untuk membalas cumbuan itu dengan kasar, sebelum menempelkannya lagi ke telinga.

“Oh… ya udah. Masakan untuk makan malam udah aku tutup di meja makan kalau Mas lapar.”

“Hm. Tidur duluan aja.”

Klik.

Raka mematikan telepon sepihak, melempar ponselnya ke dasbor, lalu menarik tengkuk Shela untuk membalas serangan perempuan itu. Adrenalinnya meledak.

“Jago banget aktingnya,” puji Shela dengan napas tersengal begitu mereka saling melepaskan diri. Ia mengusap sisa lipstiknya di sudut bibir Raka. “Yakin dia nggak curiga? Posisinya direktur lho, Mas. Pergaulannya luas, instingnya pasti jalan.”

Raka tertawa meremehkan. Sambil merapikan sedikit kerah kemejanya, ia bersandar ke jok.

“Mau jabatannya setinggi apa pun di luar sana, di rumah dia tetap istri yang harus nurut,” ucap Raka enteng. “Nadira itu naif. Demi menjaga nama baik dan keluarga utuh, dia rela tutup mata asal aku kasih alasan kerjaan. Dia pikir ngurusin anak dan rumah udah cukup bikin aku diam.”

“Nggak takut dia tiba-tiba minta cerai?”

Raka mendengus geli seolah itu lelucon murahan.

“Nadira nggak akan berani ke mana-mana. Hidupnya terlalu bergantung pada citra keluarga ini. Mau aku bohongi kayak gini seribu kali, dia bakal telan semuanya sendirian demi anak kami. Aku tahu betul kelemahannya, Shela.”

Di ujung telepon, Nadira menatap layar ponselnya selama beberapa saat. Pandangannya kemudian beralih ke meja makan yang tertata rapi. Empat macam lauk, semangkuk sayur, sambal buatan sendiri, dan nasi yang masih tersimpan di dalam rice cooker sudah ia siapkan sejak selepas magrib. Semuanya adalah kesukaan Raka.

Sejak sore, begitu sampai di rumah usai bekerja, Nadira bahkan belum sempat beristirahat. Ia langsung berganti pakaian, masuk ke dapur, lalu memasak sambil sesekali membantu putranya mengerjakan tugas sekolah. Begitulah rutinitasnya hampir setiap hari. Menjadi direktur di sebuah perusahaan tidak pernah membuatnya merasa lebih tinggi dari seorang ibu rumah tangga. Baginya, suami dan anak tetap menjadi prioritas ketika ia menginjakkan kaki di rumah.

Nadira melirik jam dinding. Hampir tengah malam. Sembari mengembuskan napas pelan, tangannya meraih tudung saji lalu menutup kembali seluruh hidangan yang mulai dingin.

“Besok dipanasin lagi aja,” gumamnya lirih.

Sudah berkali-kali makanan yang ia masak berakhir seperti itu. Bukan karena rasanya tak enak, melainkan karena Raka selalu punya alasan untuk pulang larut: rapat, pekerjaan menumpuk, atau perjalanan dinas mendadak. Nadira selalu meyakinkan dirinya untuk percaya kepada Raka, tapi lama-kelamaan alasan itu terdengar semakin hambar.

Nadira mematikan lampu ruang makan dan melangkah menuju lantai dua. Dari pintu kamar yang terbuka sedikit, ia melihat putranya sudah tertidur pulas dengan buku pelajaran yang masih terbuka di samping bantal.

Wanita itu tersenyum. Setelah memindahkan buku itu ke meja belajar, ia menarik selimut hingga menutupi dada putranya.

“Selamat tidur, Sayang.”

Sesampainya di kamar utama, Nadira tidak langsung berbaring. Ia membuka sedikit tirai jendela yang mengarah ke halaman rumah. Belum ada sorot lampu mobil yang memasuki pagar.

“Apa masih lama ya?” pikir Nadira bimbang. Pandangannya kemudian jatuh pada foto pernikahan yang terpajang di atas nakas.

Lima belas tahun. Waktu yang tidak sebentar untuk membangun sebuah rumah tangga. Namun belakangan ini, ia merasa rumah itu semakin sering diisi oleh penantian daripada kebersamaan.

Nadira kembali melirik ponselnya. Tak ada pesan ataupun kabar. Ia hanya bisa berharap bahwa malam ini Raka benar-benar sedang bekerja, seperti yang baru saja dikatakannya lewat telepon.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status