Malam itu terasa panjang di rumah dua lantai itu. Setelah makan malam yang canggung, Nadira nggak langsung naik ke kamar. Ia malah turun ke ruang kerja di lantai bawah. Pintu ditutup, lalu dikunci pelan dari dalam. Ia cuma butuh sendiri. Di dalam, lampu meja jadi satu-satunya cahaya. Nadira duduk, lalu membuka lagi berkas dari Maya. Kertas-kertas itu rapi, tapi isinya bikin dada sesak—angka, tanggal, nama, semuanya jelas. Nadira nggak nangis. Tangannya pelan membalik halaman. Dibaca lagi dari awal, seolah berharap ada yang salah. Tapi makin dibaca, makin jelas semuanya. Di luar, langkah Raka kedengaran mondar-mandir. Nggak tenang. Lantai kayu sampai berderit tiap dia lewat. Tok. Tok. “Nad, buka pintunya. Kita ngomong,” suara Raka terdengar nahan sesuatu. Nadira diam saja. Matanya sempat ke arah pintu, tapi cuma sebentar. Habis itu kembali ke berkas di tangannya. “Nad… tolong. Jangan begini,” lanjut Raka, lebih pelan. Tetap nggak ada jawaban. Beberapa menit kemud
Last Updated : 2026-09-06 Read more