LOGINMulut Alisa menganga tidak percaya usai mendengar ucapan Farel. “Apa? Kita akan menginap disini? Di Vila ini?” Mata Alisa mengamati vila besar dan megah didepannya itu yang jauh dari rumah penduduk dan sepertinya berada di tengah hutan.“Tentu saja, Babe! Kenapa?” Farel membawa motornya memasuki halaman vila yang ternyata cukup luas itu. Ada beberapa kendaraan roda empat yang terparkir disana.“Tidak! Aku tidak mau, Rel! Aku ingin pulang saja!” Tegas Alisa yang menolak mentah-mentah ajakan Farel.Dengan santai, Farel turun dari kendaraannya setelah memarkir motor balapnya di halaman vila yang tidak berpagar. Menekan bel yang ada didepan pintu masuk.“Jangan membuat keributan disini, Babe! Ini sudah malam. Kalau kamu minta pulang, besok saja! Aku harus istirahat. Punggungku capek berkendara hampir dua jam. Tidak bisakah kamu mengerti?” Farel memperingatkan Alisa penuh dengan penekanan sekaligus meminta pengertian Alisa.Pintu terbuka, sayup-sayup terdengar suara house musik didalam san
Begitu murkanya Tuan Malik, saat melihat Thomas kembali menghadapnya tanpa membawa Alisa disampingnya.BUGH!“Bodoh! Bagaimana bisa kamu kehilangan jejaknya didalam toilet putri, Thomas?” Hardik Tuan Malik begitu kesal setelah mendaratkan Pukulan keras ke rahang Thomas.Tuan Malik tidak perlu memusingkan tatapan aneh yang ditujukan padanya karena memperlakukan pengawalnya seperti seorang penjahat.Berusaha tegar dan tidak mengaduh, Thomas memberikan penjelasan. “Ada seorang gadis yang menabrak dan menumpahkan makanan di tubuh saya, Tuan!”“Hanya karena pakaianmu kotor ketumpahan makanan, dan kamu jadi melalaikan tugasmu? What the fuck of you, Thomas? Kamu bukan pengawalku kemaren sore!” Ucapnya begitu murka ke arah Thomas. Tangannya bahkan reflek mendorong kesal tubuh pengawalnya hingga mundur selangkah darinya. Ia tidak percaya pengawalnya itu tidak becus mengawal calon istrinya, hingga hilang begitu saja tanpa jejak. Padahal dia sengaja mengandalkan Thomas untuk mengawal Alisa, kar
Kegelisahan menyergap diri Alisa. Ia duduk tidak tenang disamping Tuan Malik. Matanya selalu awas menatap siapa saja yang lalu-lalang didepannya. Mencari-cari keberadaan Marlena dan Farel disekitar sana. Ia takut melewatkan isyarat yang akan diberikan oleh dua orang teman dekatnya tersebut.Sudah setengah jam menunggu, dan ia masih belum melihat tanda-tanda keberadaan dua orang itu. Namun, ia baru menyadari bahwa ada satu sosok ganjil yang berada cukup jauh darinya. Tepatnya pria bertopeng anjing berwarna coklat yang berdiri diujung koridor, persis di sebelah kanan bagian belakang panggung, yang pandangannya terus melihat ke arahnya. Apakah dia Farel?Dengan takut-takut, Alisa segera meraih ponselnya yang sedari tadi ia simpan dalam tas kecil dan ia kondisikan dengan mode silent. Berusaha untuk membaca pesan yang dikirimkan oleh Farel untuknya.[Kau bisa melihatku dari sana, Babe? Aku memakai topeng anjing warna coklat] Isi pesan dari Farel yang ternyata sudah terkirim sekitar 20 men
Malam ini acara Pentas Seni Pelepasan kelas XII pun digelar.Alisa meletakkan tas olah raganya yang berisikan seragam cheerleader beserta pom-pom miliknya ke dalam bagasi mobil. Didalamnya tak lupa ia membawa serta rambut palsu serta pakaian ganti yang akan ia gunakan untuk mengibuli para pengawal Tuan Malik nantinya.Apa pun yang terjadi, rencana tetap harus berjalan sesuai dengan kesepakatan awal. Meskipun hal-hal tidak terduga terjadi bersusulan.“Kamu sudah siap, sayang?” Tanya Tuan Malik yang sudah duduk di kursi penumpang. Ia menyambut tangan Alisa saat memasuki kendaraannya dengan mata penuh binar bahagia.“Huh, sok romantis segala!” Dengus Alisa didalam hati. Jengah melihat kepalsuan yang ditunjukkan pria didepannya.Namun, sikapnya justru mengkhianati keinginannya, yaitu malah melakukan hal yang sebaliknya.Alhasil, seulas senyum manis pun disunggingkannya untuk pria itu. “Sudah, Tuan!” Ucapnya tersipu malu.Setelah tangan pria itu hinggap dan memeluk pinggang Alisa yang meng
Alisa sekuat tenaga menepis tangan Marlena dari dadanya, dan balas berkata,“Apa kamu pikir Farel tidak curiga dengan keadaan wajahku yang sungguh menyedihkan seperti ini? Sadarlah! Aku justru menyelamatkanmu dari amukan Farel, Lena!” Jelas Alisa yang tidak ingin disalahkan Marlena.Marlena terdiam sejenak. Memikirkan ucapan Alisa yang menurutnya ada benarnya juga. Farel pasti akan mendesak Alisa untuk berkata jujur padanya. Bila Alisa menceritakan kelakuannya, alamat semua rencananya berakhir berantakan. Marlena kemudian mengamati wajah Alisa, menunjukkan seringai bibirnya yang ganjil sebelum berbicara,“Tapi wajahmu kini sudah kembali sembuh seperti semula. Bahkan lebih mulus dari sebelumnya. Jadi, bisa khan kalau kamu menemui Farel sekarang?” Tuntut Marlena yang secepatnya ingin memisahkan Alisa dari Tuan Malik.Alisa sungguh benci melihat seringai memuakkan yang diperlihatkan Marlena tersebut. “Ya bisa sih, Lena! Hanya saja, aku harus mencari alasan dulu pada Tuan Malik agar dia
Tanpa basa-basi lagi, Tuan Malik sengaja membongkar rahasia yang sejak tadi disembunyikan Alisa.“Jujurlah! Aku tahu ada seseorang yang sudah menjambak rambutmu dan menampar wajahmu berulang-ulang hingga membuat wajahmu begitu mengenaskan seperti itu, bukan? Siapa pelakunya?” Desaknya ingin tahu.“Buat apa? Kalau aku mengaku, apa Tuan mau menghukum pelakunya, begitu?” Alisa justru balik bertanya dengan sinis.“Tentu saja. Aku akan melaporkan pelakunya ke pihak sekolah lalu ke pihak yang berwajib agar dihukum dengan sepantasnya.” Rencana Tuan Malik ke depannya nanti.“Jangan sok suci dan sok peduli padaku, Tuan! Kamu sendiri juga pernah bersikap kasar padaku, dengan sengaja menjambak rambutku malam itu? Apa kamu lupa ingatan? Jadi, kenapa tidak kau laporkan saja dirimu sendiri ke pihak yang berwajib, Tuan?” Tanpa rasa takut, Alisa mencemooh perbuatan Tuan Malik yang pernah bertindak kasar padanya saat berada di night club waktu itu.Dengan cepat Tuan Malik membanting setir ke sisi jala







