Mag-log inEvan masuk ke Crimson Ridge Academy untuk menyelidiki misteri dibalik kematian saudara kembarnya, Ivana. Ivana ditemukan bunuh diri beberapa bulan sebelumnya setelah terlibat dengan geng di akademi tersebut. Evan tidak tahu siapa yang bertanggung jawab, tetapi ia yakin jawabannya ada di akademi itu. Dengan dendam yang membara, Evan bertekad untuk menemukan pelaku di balik kematian Ivana sekaligus menghancurkan mereka yang terlibat. ___
view more“Dante! Tidak tahu kalau kau akan begitu tertarik dengan siapa aku bergaul,” Kael menanggapi dengan nada main-main.“Oh ya! bukan emas, tapi berlian,” lanjut Kael sambil mengedipkan matanya pada pemuda jangkung itu. Ia kemudian terkekeh sendiri dengan leluconnya sementara Evan menatapnya aneh. Ia tidak mengerti apa yang lucu.Dante hanya menatap datar pada Kael, mengabaikan ucapannya kemudian mengalihkan pandangannya pada Evan.“Kau sudah berapa lama berlatih?”“Baru satu tahun terakhir,”“Sesuai dugaanku, kau punya potensi yang besar. Sayang sekali baru mulai, kau akan bisa mengalahkan Jun kalau mulai berlatih lebih awal.”“Terima kasih?”“Oh ini menarik, hebat sekali Evan, kau bisa membuat orang ini memuji mu.”Dante sama sekali tidak menghiraukan ucapan Kael. Menurutnya waktunya terlalu berharga untuk menanggapi pemuda itu. Ia tetap fokus berbicara pada Evan.“Teruskan latihannya, mungkin kau bisa bergabung untuk tim turnamen tahun ini,” katanya.“Tentu saja,” balas Evan dengan sedi
“Mulai!”Pemuda berbaju merah itu tidak membuang-buang waktu. Segera setelah mendengar aba-aba, ia langsung bergerak cepat ke arah Jun. Dia mencoba menangkap Jun dengan tangannya untuk menjatuhkannya langsung ke matras. Begitulah Evan dan juga yang lainnya menyadari kalau dasar bela diri yang lebih muda adalah Judo.Evan seperti beberapa orang lainnya di situ punya pikiran yang hampir sama. Jun akan langsung kalah saat pemuda itu berhasil menangkap dan mengunci pergerakannya. Perbedaan ukuran tubuh keduanya jelas menguntungkan pemuda yang lebih muda.Namun, hal yang mengejutkan kemudian terjadi. Seakan sudah mengantisipasi gerakan itu, Jun tetap tenang saat pemuda itu mencoba menangkapnya. Ia kemudian menangkis kedua tangan pemuda itu dengan lengannya dan kemudian menendang dadanya, membuatnya terdorong ke belakang beberapa langkah sementara Jun tetap di posisinya.Pemuda itu tak menyerah. Ia sekali lagi maju dengan serius, berusaha menjepit Jun untuk melakukan lemparan. Akan tetapi,
Bunyi bel terakhir berdentang nyaring, menandai berakhirnya jam pelajaran hari itu. Siswa-siswi di Crimson Ridge Academy bergegas keluar dari kelas mereka masing-masing untuk jadwal kegiatan ekstrakurikuler mereka. Beberapa tampak langsung menuju arah lapangan atau aula tempat berbagai kegiatan ekstrakurikuler diadakan, sementara yang lain tampak berjalan ke asrama terlebih dahulu. Evan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu berdiri dan melangkah keluar kelas dengan tenang. Di tangannya tergenggam sehelai kertas berwarna krem dengan cap resmi Crimson Ridge di sudut kanannya. Tulisan "Pendaftaran Ekstrakurikuler Bela Diri" tercetak jelas di bagian atas kertas itu. Jika mengikuti ucapan Sera yang menyarankannya untuk memilih ekskul yang bisa menunjang nilai akhirnya, maka Evan akan memilih ekskul Sains atau Matematika. Namun, sejak awal prioritasnya bukanlah nilai. ‘Tempat paling tepat untuk mencari tahu tentang lawanmu adalah di sarang mereka sendiri,’ begitulah pikirnya. Dari h
Sera menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu melirik ke arah jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya. “Sudah jam segini. Aku duluan ya. Kau juga, kalau sudah selesai cepatlah ke kelas. Jangan sampai terlambat!” ujar Sera sambil merapikan nampan sarapannya. Evan mengangguk kecil. “Oke!” balasnya. Sera berdiri, bersiap untuk pergi. Namun, sebelum itu ia menoleh kembali ke arah Evan. “Oh, satu hal lagi. Kau sudah tahu mau ikut ekstrakurikuler apa?” “Ahh... belum,” Evan berkata sedikit canggung. “Aku masih sedikit bingung ingin bergabung dengan klub mana.” Sera tersenyum maklum. “Batas pendaftarannya sampai akhir minggu ini. Sekedar saran dariku, pilih dengan baik klub yang akan kau ikuti. Bagaimanapun juga kegiatan ekstrakurikuler ini akan mempengaruhi nilai akhirmu nanti.” “Baiklah! Terima kasih untuk sarannya, Sera,” Evan membalas sambil tersenyum pada gadis itu. Sera mengangguk pelan pada Evan sebelum akhirnya beranjak pergi. Ia membawa nampan bekas sarapannya menuju
Evan saat ini berada di salah satu sudut perpustakaan akademi. Ruangan yang sunyi terlepas dari beberapa murid yang terlihat. Terdapat rak-rak buku yang menjulang tinggi juga beberapa perangkat komputer. Di meja tempatnya duduk, ponsel milik Evan tergeletak dengan layar menyala, menampilkan percaka
Ares.Evan ragu sejenak. Ia tahu Ares mungkin tidak mengingat dirinya—karena pemuda itu bukan tipe orang yang peduli dengan lingkungan sekitar.Dengan langkah hati-hati, Evan berjalan ke meja kosong di samping Ares. "Permisi," katanya sambil duduk.Ares, yang sebelumnya tampak tenggelam dalam pikir
Pagi itu, udara terasa segar dan dingin, menyapa kulit Evan yang baru terbangun. Angin pagi menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma segar rumput basah dan tanah yang masih diliputi embun. Sinar matahari yang mulai menembus celah tirai memberikan nuansa hangat pada ruangan. Evan
“Evan!” Suara seorang gadis menghentikan langkah Evan yang hampir sampai di ruang makan. Ia menoleh dan mendapati Sasha melambaikan tangan ke arahnya.“Sasha.” Evan menyapa singkat sambil menunggu gadis itu menyusulnya."Mau makan malam ya?" tanya Sasha setel
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.