LOGINEvan masuk ke Crimson Ridge Academy untuk menyelidiki misteri dibalik kematian saudara kembarnya, Ivana. Ivana ditemukan bunuh diri beberapa bulan sebelumnya setelah terlibat dengan geng di akademi tersebut. Evan tidak tahu siapa yang bertanggung jawab, tetapi ia yakin jawabannya ada di akademi itu. Dengan dendam yang membara, Evan bertekad untuk menemukan pelaku di balik kematian Ivana sekaligus menghancurkan mereka yang terlibat. ___
View MoreSeorang pemuda berdiri di ujung lorong yang gelap. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Keheningan membungkus tempat itu, hanya dipecahkan oleh suara langkah-langkah yang bergema di kejauhan. Langkah itu bukan miliknya. Ia mengikuti suara langkah itu.
Sosok familiar terlihat di depannya. Ia tahu siapa itu. "Ivana..." bisiknya pelan, seperti sebuah doa yang kehilangan harapan. Pemuda itu kemudian berteriak tanpa ragu saat sosok itu mulai kembali menjauh, "Berhenti!" Suaranya menggema, memantul di antara dinding-dinding lorong yang terasa semakin sempit. Namun, sosok itu terus berjalan. Samar-samar dapat terlihat kondisi gadis itu dengan seragam sekolah yang kusam dan rambut hitam tergerai acak menutupi sebagian wajahnya. Langkah-langkahnya pelan tetapi tak terhentikan, seperti bayangan yang bergerak di antara gelap. Pemuda itu masih mencoba mengejarnya. Namun, setiap langkahnya terasa berat, seperti berlari di atas pasir hisap. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, tetapi dia tidak peduli. Dia harus menghentikan gadis itu, apapun yang terjadi. "Ivana, tunggu!" teriaknya lagi, kali ini dengan nada putus asa. Sosok itu akhirnya berhenti di depan sebuah tangga panjang yang muncul entah dari mana. Tangga itu menjulur ke dalam kegelapan yang seolah tak berujung, seperti pintu menuju kehampaan. Pemuda itu terpaku saat Ivana berbalik perlahan. Dia berharap melihat wajah yang dikenalnya—wajah ceria gadis itu yang selalu bersinar. Tapi yang dilihatnya adalah mimpi buruk yang hidup. Wajah Ivana penuh luka, seolah-olah baru saja melalui sesuatu yang tak manusiawi. Darah kering menodai pipinya dan matanya, yang dulu selalu bersinar, kini kosong. Hampa. Tak ada kehidupan di sana, hanya pantulan gelap seperti kaca retak yang menyimpan ribuan rasa sakit. "Kamu terlambat, Evan," kata Ivana. Suaranya tenang, terlalu tenang, seperti angin dingin yang menyusup melalui celah dinding. "Ivana, jangan lakukan ini. Kumohon... Kemarilah!" Pemuda itu, Evan, mengulurkan tangannya, mencoba meraih gadis itu. Tapi jarak di antara mereka terasa semakin jauh. Kakinya tetap berat, seperti ada kekuatan tak terlihat yang menahannya. Ivana hanya tersenyum tipis. Senyum itu tidak lagi membawa kehangatan seperti seharusnya—hanya dingin. "Sudah terlambat, Kak," gumamnya pelan. Lalu, dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, Ivana menjatuhkan tubuhnya ke belakang, menghilang ke dalam kegelapan yang tak berbatas. Cahaya terakhir yang ada di lorong itu ikut lenyap bersamanya, meninggalkan Evan dengan mata terbelalak. "Tidak!" Evan berteriak sekuat tenaga pada kehampaan yang tak berujung. . . . . . Evan terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ruangan yang gelap menyambutnya dengan keheningan, seolah mimpi tadi belum benar-benar berakhir. Dia menatap langit-langit, mencoba mengatur nafas yang terasa berat. Itu hanya mimpi, pikirnya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Tapi bayangan Ivana yang jatuh ke dalam kegelapan terus terulang di pikirannya, seperti sebuah rekaman yang diputar tanpa henti. Tangannya gemetar saat meraih liontin kecil yang tergantung di lehernya. Itu satu-satunya peninggalan Ivana, benda yang selalu membuatnya merasa bahwa gadis itu masih ada di sisinya. Evan tahu mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah pengingat. Luka di hatinya kembali terasa, luka yang tidak akan pernah sembuh. Dia bersumpah pada dirinya sendiri—pada Ivana. Dia tidak akan berhenti sampai mereka yang telah menghancurkan hidup Ivana membayar harga yang setimpal. Evan mengepalkan tangannya, membulatkan tekad. Hari pembalasan itu akan tiba. _____Sudah hampir tengah malam saat Evan mendengar suara pintu kamar terbuka. Itu Rai yang baru saja kembali. Wajahnya yang datar berubah masam saat bertatapan dengan Evan. “Apa sih masalahmu denganku?” “Tidak ada” “Jangan mengelak, orang buta pun bisa melihat rasa tidak suka yang kau tujukan padaku,” Evan mencibir tidak percaya mendengar jawaban Rai. “Kalau kau memang ada masalah denganku katakan saja!” “Masalahnya? Kau bertanya apa masalahnya? Masalahnya adalah kau. Aku tidak menyukaimu dan aku tidak perlu memberitahumu apa alasannya!” Rai berteriak marah kemudian mengambil jaketnya dan berniat keluar sebelum langkahnya dihentikan oleh Evan. Pemuda itu menghalangi Rai dengan berdiri di depan pintu. Keduanya saling menatap tajam. “Dengar! Aku juga tidak peduli apa alasanmu, tapi kita diharuskan berbagi ruang setidaknya sampai tahun depan. Jadi, mau tidak mau kita harus berkompromi.” Evan menjelaskan dengan tenang. “Minggir!” perintah Rai. Evan diam saja, bergeming tidak mengindah
Sebuah suara tiba-tiba menyela pembicaraan mereka. Evan langsung mengenalinya. Orang yang sejak tadi ia tunggu akhirnya mengambil umpan."Dante! Tidak tahu kalau kau akan begitu tertarik dengan siapa aku bergaul,” Kael menanggapi dengan nada main-main.“Oh ya! bukan emas, tapi berlian,” lanjut Kael sambil mengedipkan matanya pada pemuda jangkung itu.Ia kemudian terkekeh sendiri dengan leluconnya sementara Evan menatapnya aneh. Ia tidak mengerti apa yang lucu.Dante hanya menatap Kael dengan datar. Ia mengabaikan komentar tersebut dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Evan.“Kau sudah berapa lama berlatih?”“Baru satu tahun terakhir.”Dante mengangguk kecil.“Sesuai dugaanku, kau punya potensi yang besar. Sayang sekali kau baru mulai. Kalau kau berlatih lebih awal, mungkin kau sudah bisa mengalahkan.”“Ya, mungkin saja.”“Oh ini menarik. Hebat sekali, Evan. Kau bisa membuat orang ini memujimu.”Dante sama sekali tidak menghiraukan ucapan Kael. Menurutnya waktunya terlalu berharga
“Mulai!”Pemuda berbaju merah itu tidak membuang-buang waktu. Begitu mendengar aba-aba, ia langsung bergerak cepat ke arah Jun dan mencoba menangkap Jun dengan tangannya untuk menjatuhkannya langsung ke matras. Dari gerakannya, Evan dan juga yang lain menyadari kalau dasar bela diri yang lebih muda adalah Judo.Evan seperti beberapa orang lainnya di situ punya pikiran yang hampir sama. Jun akan langsung kalah saat pemuda itu berhasil menangkap dan mengunci pergerakannya. Perbedaan ukuran tubuh keduanya jelas menguntungkan pemuda yang lebih muda.Namun, perkiraan mereka ternyata salah.Seakan sudah mengantisipasi gerakan itu, Jun tetap tenang saat pemuda itu mencoba menangkapnya. Ia menangkis kedua tangan lawannya dengan lengan, lalu kemudian melayangkan tendangan tepat ke dadanya. Pemuda itu terdorong mundur ke belakang beberapa langkah, sementara Jun tetap di posisinya.Pemuda itu tidak menyerah.Ia sekali lagi maju dengan lebih serius, berusaha menjepit Jun untuk melakukan lemparan.
Bunyi bel terakhir berdentang nyaring, menandai berakhirnya jam pelajaran hari itu. Siswa-siswi di Crimson Ridge Academy bergegas keluar dari kelas mereka masing-masing untuk jadwal kegiatan ekstrakurikuler mereka. Beberapa tampak langsung menuju arah lapangan atau aula tempat berbagai kegiatan ekstrakurikuler diadakan, sementara yang lain tampak berjalan ke asrama terlebih dahulu. Evan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu berdiri dan melangkah keluar kelas dengan tenang. Di tangannya tergenggam sehelai kertas berwarna krem dengan cap resmi Crimson Ridge di sudut kanannya. Tulisan "Pendaftaran Ekstrakurikuler Bela Diri" tercetak jelas di bagian atas kertas itu. Jika mengikuti ucapan Sera yang menyarankannya untuk memilih ekskul yang bisa menunjang nilai akhirnya, maka Evan akan memilih ekskul Sains atau Matematika. Namun, sejak awal prioritasnya bukanlah nilai. ‘Tempat paling tepat untuk mencari tahu tentang lawanmu adalah di sarang mereka sendiri,’ begitulah pikirnya. Dari h
Evan saat ini berada di salah satu sudut perpustakaan akademi. Ruangan yang sunyi terlepas dari beberapa murid yang terlihat. Terdapat rak-rak buku yang menjulang tinggi juga beberapa perangkat komputer. Di meja tempatnya duduk, ponsel milik Evan tergeletak dengan layar menyala, menampilkan percaka
Ares.Evan ragu sejenak. Ia tahu Ares mungkin tidak mengingat dirinya—karena pemuda itu bukan tipe orang yang peduli dengan lingkungan sekitar.Dengan langkah hati-hati, Evan berjalan ke meja kosong di samping Ares. "Permisi," katanya sambil duduk.Ares, yang sebelumnya tampak tenggelam dalam pikir
Pagi itu, udara terasa segar dan dingin, menyapa kulit Evan yang baru terbangun. Angin pagi menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma segar rumput basah dan tanah yang masih diliputi embun. Sinar matahari yang mulai menembus celah tirai memberikan nuansa hangat pada ruangan. Evan
“Evan!” Suara seorang gadis menghentikan langkah Evan yang hampir sampai di ruang makan. Ia menoleh dan mendapati Sasha melambaikan tangan ke arahnya.“Sasha.” Evan menyapa singkat sambil menunggu gadis itu menyusulnya."Mau makan malam ya?" tanya Sasha setel
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.