MasukPagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.
Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang. Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan. Ravian sudah ada di ruangannya. Itu jarang terjadi. “Pagi, Pak,” sapa Aruna. “Kopi.” Nada yang sama. Dingin. Terkontrol. Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin. Ravian menyesapnya. “Rasa kopinya konsisten.” “Saya tidak mengubah apa pun.” “Bagus.” Pagi berjalan tanpa celah. Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat. Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan. Itu justru yang membuat Aruna waspada. Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi. Bukan kesalahan besar. Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai. “Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh. Aruna membeku sepersekian detik. “Maaf, Pak. Lima menit.” Ia berdiri cepat, membuka map, dan baru menyadari kalau dokumen itu masih di mejanya. Terlambat. Saat ia kembali, Ravian tidak sedang duduk. Ia berdiri di dekat jendela. Bahunya tegang. Tangannya mengepal ringan. Ini pemandangan yang mirip dengan kemarin, namun tampak lebih parah. “Pak,” ucap Aruna pelan. Ravian tidak menjawab. Aruna melangkah satu langkah lebih dekat, ragu. “Dokumennya sudah—” “Diam.” Satu kata. Terasa lebih dingin dari biasanya. Aruna berhenti. Beberapa detik berlalu. Ruangan terasa sempit. Heningnya menekan dada. Ravian menarik napas panjang, terlalu panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya dilepaskan dari kaca. “Letakkan di meja,” katanya akhirnya. Aruna melakukannya tanpa suara. Saat ia berbalik, Ravian berkata pelan, “Kau hampir membuatku kehilangan kendali.” Aruna menegang. “Maafkan saya.” “Bukan soal dokumen.” Ia menoleh. Tatapan Ravian tajam, tapi di baliknya ada sesuatu yang tampak tidak terkendali. “Jangan buat kesalahan kecil di waktu yang salah,” lanjutnya. “Aku tidak punya ruang untuk itu.” Aruna menelan ludah. “Saya mengerti.” “Tidak,” potong Ravian. "Kau masih belum mengerti.” Ia melangkah mendekat. Terlalu dekat. Jarak profesional runtuh. “Di sini,” ucap Ravian rendah, “segala sesuatu harus berada di bawah kendali.” Aruna menatap lurus. “Termasuk manusia?” Hening. Itu bukan pertanyaan yang seharusnya ia ajukan. Ravian tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. “Terutama manusia.” Ia mundur satu langkah. Jarak kembali aman. “Kau sekretaris yang baik,” katanya. “Tapi jangan mencoba membaca hal-hal yang tidak perlu.” “Saya tidak membaca apa pun.” “Bagus,” jawab Ravian. “Karena kalau kau melakukannya—” Ia berhenti. “—kau akan menyesal.” Sore hari, hujan kembali turun. Aruna bekerja lebih pelan dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena ia berpikir. Kesalahan kecil. Reaksi besar. Kontrol yang terlalu dipaksakan. Ravian keluar dari ruangannya menjelang pulang. “Kau boleh pulang.” “Masih ada dua laporan.” “Besok.” Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. “Aruna.” “Ya, Pak?” “Kau tidak melihat apa pun hari ini.” Aruna mengangguk. “Tidak, Pak.” Tatapan mereka bertemu. “Dan kau tidak akan mencoba mencari tahu.” Aruna menjawab pelan, tapi tegas, “saya hanya melakukan apa yang perlu dalam pekerjaan.” Ravian menatapnya lama. “Pastikan ‘yang perlu’ itu tidak melampaui batas.” Pintu tertutup. Malam itu, Aruna duduk sendirian di apartemennya. Ia membuka buku agenda, menatap halaman kosong lalu menutupnya kembali. Tidak ada catatan. Namun di kepalanya, satu kalimat terus berulang: Semakin ia mengendalikan segalanya, semakin besar sesuatu yang ingin lolos. Dan kali ini, Aruna tahu, jika sesuatu itu pecah, dia akan berada tepat di garis ledaknya. "Mungkin aku harus mencoba memikirkan bagaimana kelemahan pria itu bisa ku gunakan dalam balas dendam ku." Hari itu, Ravian memanggil rapat tertutup. Tidak ada undangan resmi. Tidak ada agenda tertulis. Hanya satu perintah singkat. “Aruna, ikut.” Ruang rapat kecil di lantai atas jarang digunakan. Tirainya selalu tertutup. Dindingnya kedap suara. Aruna baru menyadari satu hal saat mereka masuk, Tidak ada kursi tambahan. Hanya satu meja. Tiga kursi. Ravian duduk di tengah. Di seberangnya, dua pria yang wajahnya sudah tidak asing bagi Aruna yaitu Direktur Orion Capital cabang regional dan penasihat hukumnya. Musuh bisnis. “Mulai,” kata Ravian tanpa basa-basi. Pria dari Orion tersenyum kaku. “Kami berharap pertemuan ini bisa menjadi jalan tengah.” Ravian menyandarkan punggungnya. “Jalan tengah adalah ilusi yang diciptakan oleh pihak yang sedang kalah.” Aruna menelan ludah. Ia membuka map, pura-pura fokus pada catatan. “Kami hanya meminta waktu tambahan,” lanjut pria itu. “Proyek ini belum gagal.” Ravian mengangkat satu jari. Aruna refleks menekan tombol. Layar di dinding menyala. Data. Grafik. Rekaman kontrak. Jejak transfer. Semua tersusun rapi. Terlalu rapi. “Proyek ini gagal tiga bulan lalu,” ucap Ravian tenang. “Kau hanya belum menyadarinya karena aku membiarkanmu bernapas sedikit lebih lama.” Wajah pria itu memucat. Direktur itu pun mencoba berdalih “Data ini tidak lengkap—” “Lengkap,” potong Ravian. “Dan sah.” Ia menoleh ke Aruna. “Halaman empat belas.” Aruna membuka halaman itu dengan tangan yang mulai dingin. Di sana, satu klausul kecil. Satu kalimat pendek. Namun cukup untuk menghancurkan segalanya. “Kau melanggar kontrak,” lanjut Ravian. “Dan dengan pelanggaran itu, aku berhak—” Ia berhenti. Lalu tersenyum tipis. “—mengambil alih seluruh aset pendukung.” Ruangan membeku. “Itu tidak mungkin,” suara penasihat hukum bergetar. “Perusahaan kami akan runtuh.” Ravian mengangguk ringan. “Ya.” Tidak ada kemarahan. Tidak ada kepuasan. Hanya pernyataan fakta. “Karyawan kalian?” tanya pria Orion dengan suara pecah. “Ada ratusan orang—” “Bukan tanggung jawabku,” jawab Ravian datar. “Kau seharusnya membaca kontrak lebih teliti.” Aruna menunduk. Jari-jarinya gemetar saat mencatat. Bukan karena tegang. Tapi karena ia membayangkan sesuatu yang lain. Seseorang yang tidak punya posisi. Tidak punya kuasa ternyata hanyalah angka yang bisa dihapus dari sistem. “Pak Ravian,” suara pria itu hampir memohon. “Setidaknya beri kami waktu.” Ravian berdiri. Gerakannya pelan. Terkontrol. “Waktu adalah hak istimewa,” katanya. “Dan hak itu sudah kau habiskan.” Ia menoleh ke Aruna. “Kirimkan dokumennya. Sekarang.” Aruna berdiri. Langkahnya terasa berat. “Dan satu hal lagi,” tambah Ravian, menatap langsung ke mata pria itu. “Jika kalian mencoba melawan secara hukum—” Ia berhenti tepat di depan mereka. “—aku akan memastikan tidak ada satu pun perusahaan yang mau menyebut nama Orion lagi.” Sunyi. Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan. Dua pria itu keluar dengan wajah kosong. Pintu tertutup. Aruna berdiri terpaku. “Kau gemetar,” kata Ravian tanpa menoleh. “Saya baik-baik saja.” “Bohong.” Ia berbalik. Tatapannya tajam. “Kau takut padaku?” Aruna ragu sepersekian detik. “Tidak,” jawabnya. “Saya takut pada sistem.” Ravian tersenyum kecil. “Sistem adalah aku.” Pria itu melanjutkan kembali jalannya. Kata-kata itu menghantam lebih keras dari teriakan. Siang itu, Aruna ke kamar kecil. Ia menahan napas di depan wastafel. Wajahnya pucat. Bayangan adiknya muncul tanpa diundang. Nama yang dihapus. Kasus yang ditutup. Tidak ada bukti. Tidak ada keadilan. Jika Ravian berada di balik itu… Aruna mencengkeram pinggiran wastafel. “Tenanglah,” bisiknya. “Tenanglah Aruna.” Tapi ketakutan itu sudah terlanjur tumbuh. Sore hari, Ravian kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Saat Aruna menyerahkan jadwal besok, Ravian berkata pelan, “Jangan campurkan emosi dengan pekerjaan.” Aruna menatapnya. “Bagaimana jika emosi itu bagian dari akibat pekerjaan Anda?” Tatapan Ravian mengeras. “Kau terlalu berani.” Ucapnya dengan begitu dingin diselingi senyuman tipis. “Mungkin.” Hening. Ravian mendekat. Suaranya rendah. Berbahaya. “Jika kau tidak sanggup melihat caraku bekerja—” Ia berhenti tepat di depan Aruna. “—kau tidak akan bertahan lama di sini.” Aruna menegakkan bahu. “Kalau begitu,” jawabnya pelan, “saya harus bertahan.” Untuk pertama kalinya, Ravian tidak tersenyum. Dan Aruna tahu mulai hari ini, ia bukan sekadar sekretaris. Ia adalah saksi. Saksi bagaimana pria ini bekerja dan mempertahankan posisinya agar tetap berada diatas segalanya.Malam itu, Aruna tidak langsung tidur.Ia duduk di tepi ranjang, sepatu sudah dilepas, rambut diurai seadanya. Lampu kamar menyala redup, hanya cukup untuk menerangi meja kecil di sudut ruangan.Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih mengganggu.Bukan menjatuhkan Ravian, bukan juga melukainya.Tapi berhasil membuatnya terasa.Perubahan lima sentimeter, sepuluh menit keterlambatan, keheningan yang biasanya ia isi kali ini dibiarkan kosong.Hal-hal kecil dan sepele namun cukup untuk menggeser keseimbangan seseorang yang hidup penuh kendali. Aruna menarik napas panjang.Selama tiga tahun terakhir, ia melatih dirinya untuk tidak bereaksi, untuk bertahan, untuk tidak runtuh ketika dunia bersikap kejam.Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertahan.Ia juga melawan dalam diam.Ia berdiri, berjalan ke jendela apartemennya. Lampu kota membentang seperti lautan cahaya. Hiruk pikuk yang terasa jauh dari hidupnya sendiri.“Aira…
Pagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh.“Kopi.”Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim.Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya.Hanya itu.Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong.Ia pun berhenti.Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya.“Kau memindahkannya,” kata Ravian datar.“Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala. “Kopinya.”“Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.”Hening.Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar.Lalu ia mengambilnya.“Jangan ulangi.”“Baik, Pak.”Nada Aruna patuh. Sempurna.Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri:Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa di
Pertemuan kali ini diatur di luar kantor pusat. Sebuah rumah tua di pinggir kota. Halamannya luas, tapi kosong. Tidak ada papan nama. Tidak ada tetangga yang terlihat. Hanya suara angin dan daun kering.Aruna tahu satu hal sejak mobil berhenti, ini bukan tempat untuk diskusi bisnis biasa.“Masuk,” kata Ravian.Di ruang tamu, seorang pria menunggu.Tubuhnya kurus. Jasnya kusut. Wajahnya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disamarkan. Di depannya, sebuah map cokelat sudah terbuka, seolah ia ingin memastikan isinya terlihat.“Pak Ravian,” ucap pria itu cepat, terlalu cepat.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.”Ravian duduk tanpa menjawab. Aruna berdiri di sampingnya, tablet di tangan.“Kau tahu kenapa kau ada di sini,” kata Ravian akhirnya.Pria itu mengangguk. “Proyek pelabuhan… gagal. Saya bertanggung jawab penuh.”“Bukan gagal,” koreksi Ravian dingin. “Kau membuat Elion Group rugi besar.”Pria itu menunduk. Tangannya gemetar.“Saya tidak punya uang untuk mengganti semuanya,
Pagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang.Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan.Ravian sudah ada di ruangannya.Itu jarang terjadi.“Pagi, Pak,” sapa Aruna.“Kopi.”Nada yang sama. Dingin. Terkontrol.Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin.Ravian menyesapnya.“Rasa kopinya konsisten.”“Saya tidak mengubah apa pun.”“Bagus.”Pagi berjalan tanpa celah.Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat.Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan. Itu justru yang membuat Aruna waspada.Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi.Bukan kesalahan besar.Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai.“Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh.Aruna membeku sepersekian detik.“Maaf, Pak. Lima menit.”Ia
Pagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar.Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka.“Kopi.”Satu kata. Nada datar.Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop.Ravian melirik sekilas.“Kau mengingatnya.”“Bukan hal sulit, Pak.”“Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.”Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan.Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai.“Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat.“Berapa menit?”“Sepuluh.”“Catat.”“Baik.”Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Keti
Aruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.Ini tentang ketahanan.Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya.“Pelajari jadwal saya.”"Baik Pak."Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan.Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil.Ia menarik napas pelan.Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau.Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang priori







