Home / Romansa / Dibalik Dendam Sekretaris / 4. Cara kerja bisnis

Share

4. Cara kerja bisnis

Author: Pena Random
last update Last Updated: 2026-01-15 13:48:37

Pagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.

Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang.

Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan.

Ravian sudah ada di ruangannya.

Itu jarang terjadi.

“Pagi, Pak,” sapa Aruna.

“Kopi.”

Nada yang sama. Dingin. Terkontrol.

Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin.

Ravian menyesapnya.

“Rasa kopinya konsisten.”

“Saya tidak mengubah apa pun.”

“Bagus.”

Pagi berjalan tanpa celah.

Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat.

Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan.

Itu justru yang membuat Aruna waspada.

Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi.

Bukan kesalahan besar.

Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai.

“Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh.

Aruna membeku sepersekian detik.

“Maaf, Pak. Lima menit.”

Ia berdiri cepat, membuka map, dan baru menyadari kalau dokumen itu masih di mejanya.

Terlambat.

Saat ia kembali, Ravian tidak sedang duduk.

Ia berdiri di dekat jendela. Bahunya tegang. Tangannya mengepal ringan. Ini pemandangan yang mirip dengan kemarin, namun tampak lebih parah.

“Pak,” ucap Aruna pelan.

Ravian tidak menjawab.

Aruna melangkah satu langkah lebih dekat, ragu.

“Dokumennya sudah—”

“Diam.”

Satu kata. Terasa lebih dingin dari biasanya.

Aruna berhenti.

Beberapa detik berlalu. Ruangan terasa sempit.

Heningnya menekan dada.

Ravian menarik napas panjang, terlalu panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya dilepaskan dari kaca.

“Letakkan di meja,” katanya akhirnya.

Aruna melakukannya tanpa suara.

Saat ia berbalik, Ravian berkata pelan,

“Kau hampir membuatku kehilangan kendali.”

Aruna menegang.

“Maafkan saya.”

“Bukan soal dokumen.”

Ia menoleh.

Tatapan Ravian tajam, tapi di baliknya ada sesuatu yang tampak tidak terkendali.

“Jangan buat kesalahan kecil di waktu yang salah,” lanjutnya. “Aku tidak punya ruang untuk itu.”

Aruna menelan ludah. “Saya mengerti.”

“Tidak,” potong Ravian. "Kau masih belum mengerti.”

Ia melangkah mendekat. Terlalu dekat. Jarak profesional runtuh.

“Di sini,” ucap Ravian rendah, “segala sesuatu harus berada di bawah kendali.”

Aruna menatap lurus. “Termasuk manusia?”

Hening.

Itu bukan pertanyaan yang seharusnya ia ajukan.

Ravian tersenyum tipis. Bukan senyum hangat.

“Terutama manusia.”

Ia mundur satu langkah. Jarak kembali aman.

“Kau sekretaris yang baik,” katanya. “Tapi jangan mencoba membaca hal-hal yang tidak perlu.”

“Saya tidak membaca apa pun.”

“Bagus,” jawab Ravian. “Karena kalau kau melakukannya—”

Ia berhenti.

“—kau akan menyesal.”

Sore hari, hujan kembali turun.

Aruna bekerja lebih pelan dari biasanya. Bukan karena lelah, tapi karena ia berpikir.

Kesalahan kecil. Reaksi besar.

Kontrol yang terlalu dipaksakan.

Ravian keluar dari ruangannya menjelang pulang.

“Kau boleh pulang.”

“Masih ada dua laporan.”

“Besok.”

Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti.

“Aruna.”

“Ya, Pak?”

“Kau tidak melihat apa pun hari ini.”

Aruna mengangguk. “Tidak, Pak.”

Tatapan mereka bertemu.

“Dan kau tidak akan mencoba mencari tahu.”

Aruna menjawab pelan, tapi tegas, “saya hanya melakukan apa yang perlu dalam pekerjaan.”

Ravian menatapnya lama.

“Pastikan ‘yang perlu’ itu tidak melampaui batas.”

Pintu tertutup.

Malam itu, Aruna duduk sendirian di apartemennya.

Ia membuka buku agenda, menatap halaman kosong lalu menutupnya kembali.

Tidak ada catatan.

Namun di kepalanya, satu kalimat terus berulang:

Semakin ia mengendalikan segalanya, semakin besar sesuatu yang ingin lolos.

Dan kali ini, Aruna tahu, jika sesuatu itu pecah,

dia akan berada tepat di garis ledaknya. "Mungkin aku harus mencoba memikirkan bagaimana kelemahan pria itu bisa ku gunakan dalam balas dendam ku."

Hari itu, Ravian memanggil rapat tertutup.

Tidak ada undangan resmi. Tidak ada agenda tertulis.

Hanya satu perintah singkat.

“Aruna, ikut.”

Ruang rapat kecil di lantai atas jarang digunakan. Tirainya selalu tertutup. Dindingnya kedap suara. Aruna baru menyadari satu hal saat mereka masuk,

Tidak ada kursi tambahan.

Hanya satu meja. Tiga kursi.

Ravian duduk di tengah.

Di seberangnya, dua pria yang wajahnya sudah tidak asing bagi Aruna yaitu Direktur Orion Capital cabang regional dan penasihat hukumnya.

Musuh bisnis.

“Mulai,” kata Ravian tanpa basa-basi.

Pria dari Orion tersenyum kaku. “Kami berharap pertemuan ini bisa menjadi jalan tengah.”

Ravian menyandarkan punggungnya. “Jalan tengah adalah ilusi yang diciptakan oleh pihak yang sedang kalah.”

Aruna menelan ludah. Ia membuka map, pura-pura fokus pada catatan.

“Kami hanya meminta waktu tambahan,” lanjut pria itu. “Proyek ini belum gagal.”

Ravian mengangkat satu jari.

Aruna refleks menekan tombol.

Layar di dinding menyala.

Data. Grafik. Rekaman kontrak. Jejak transfer.

Semua tersusun rapi. Terlalu rapi.

“Proyek ini gagal tiga bulan lalu,” ucap Ravian tenang.

“Kau hanya belum menyadarinya karena aku membiarkanmu bernapas sedikit lebih lama.”

Wajah pria itu memucat.

Direktur itu pun mencoba berdalih “Data ini tidak lengkap—”

“Lengkap,” potong Ravian. “Dan sah.”

Ia menoleh ke Aruna. “Halaman empat belas.”

Aruna membuka halaman itu dengan tangan yang mulai dingin.

Di sana, satu klausul kecil.

Satu kalimat pendek.

Namun cukup untuk menghancurkan segalanya.

“Kau melanggar kontrak,” lanjut Ravian. “Dan dengan pelanggaran itu, aku berhak—”

Ia berhenti.

Lalu tersenyum tipis.

“—mengambil alih seluruh aset pendukung.”

Ruangan membeku.

“Itu tidak mungkin,” suara penasihat hukum bergetar. “Perusahaan kami akan runtuh.”

Ravian mengangguk ringan. “Ya.”

Tidak ada kemarahan. Tidak ada kepuasan.

Hanya pernyataan fakta.

“Karyawan kalian?” tanya pria Orion dengan suara pecah. “Ada ratusan orang—”

“Bukan tanggung jawabku,” jawab Ravian datar.

“Kau seharusnya membaca kontrak lebih teliti.”

Aruna menunduk.

Jari-jarinya gemetar saat mencatat. Bukan karena tegang.

Tapi karena ia membayangkan sesuatu yang lain.

Seseorang yang tidak punya posisi. Tidak punya kuasa ternyata hanyalah angka yang bisa dihapus dari sistem.

“Pak Ravian,” suara pria itu hampir memohon.

“Setidaknya beri kami waktu.”

Ravian berdiri.

Gerakannya pelan. Terkontrol.

“Waktu adalah hak istimewa,” katanya. “Dan hak itu sudah kau habiskan.”

Ia menoleh ke Aruna. “Kirimkan dokumennya. Sekarang.”

Aruna berdiri. Langkahnya terasa berat.

“Dan satu hal lagi,” tambah Ravian, menatap langsung ke mata pria itu.

“Jika kalian mencoba melawan secara hukum—”

Ia berhenti tepat di depan mereka.

“—aku akan memastikan tidak ada satu pun perusahaan yang mau menyebut nama Orion lagi.”

Sunyi.

Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan. Dua pria itu keluar dengan wajah kosong.

Pintu tertutup.

Aruna berdiri terpaku.

“Kau gemetar,” kata Ravian tanpa menoleh.

“Saya baik-baik saja.”

“Bohong.”

Ia berbalik. Tatapannya tajam.

“Kau takut padaku?”

Aruna ragu sepersekian detik.

“Tidak,” jawabnya. “Saya takut pada sistem.”

Ravian tersenyum kecil. “Sistem adalah aku.” Pria itu melanjutkan kembali jalannya.

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari teriakan.

Siang itu, Aruna ke kamar kecil.

Ia menahan napas di depan wastafel. Wajahnya pucat. Bayangan adiknya muncul tanpa diundang.

Nama yang dihapus.

Kasus yang ditutup.

Tidak ada bukti. Tidak ada keadilan.

Jika Ravian berada di balik itu…

Aruna mencengkeram pinggiran wastafel.

“Tenanglah,” bisiknya. “Tenanglah Aruna.”

Tapi ketakutan itu sudah terlanjur tumbuh.

Sore hari, Ravian kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.

Saat Aruna menyerahkan jadwal besok, Ravian berkata pelan,

“Jangan campurkan emosi dengan pekerjaan.”

Aruna menatapnya.

“Bagaimana jika emosi itu bagian dari akibat pekerjaan Anda?”

Tatapan Ravian mengeras.

“Kau terlalu berani.” Ucapnya dengan begitu dingin diselingi senyuman tipis.

“Mungkin.”

Hening.

Ravian mendekat. Suaranya rendah. Berbahaya.

“Jika kau tidak sanggup melihat caraku bekerja—”

Ia berhenti tepat di depan Aruna.

“—kau tidak akan bertahan lama di sini.”

Aruna menegakkan bahu.

“Kalau begitu,” jawabnya pelan, “saya harus bertahan.”

Untuk pertama kalinya, Ravian tidak tersenyum.

Dan Aruna tahu mulai hari ini, ia bukan sekadar sekretaris.

Ia adalah saksi. Saksi bagaimana pria ini bekerja dan mempertahankan posisinya agar tetap berada diatas segalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Dendam Sekretaris   28. Pernyataan tiba-tiba

    Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba

  • Dibalik Dendam Sekretaris   27. Ke J Corps.

    Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per

  • Dibalik Dendam Sekretaris   26. Dokter?

    Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit

  • Dibalik Dendam Sekretaris   25. Pernah Suka

    Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"

  • Dibalik Dendam Sekretaris   24. Terimakasih

    Mereka berjalan pelan menjauh dari area rollercoaster.Langkah Ravian masih sedikit tidak stabil.Bukan karena lemah.Tapi karena tubuhnya masih mencoba mengejar napas yang tadi sempat tertinggal di tikungan-tikungan tajam itu.Aruna berjalan di sampingnya tanpa bicara.Sesekali melirik.Memastikan pria itu benar-benar masih “di sini”.Bukan kembali tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.Mereka berhenti di dekat bangku panjang di bawah pohon besar, agak jauh dari keramaian.Ravian duduk lebih dulu.Mengusap wajahnya pelan.Lalu tertawa kecil lagi.Pendek.Ringan.Seolah ia sendiri heran kenapa bisa tertawa hari ini.“Aku tidak ingat kapan terakhir kali jantungku berdetak karena hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan,” ucapnya pelan.Aruna ikut duduk.“Berarti terapi kejut saya berhasil, Pak.”Ravian menoleh.Menatap Aruna beberapa detik lebih lama dari biasanya.Tatapan yang tidak tajam.Tidak menilai.Hanya… melihat.“Kau tahu kenapa aku tadi ikut saja waktu kau menarikku ke sin

  • Dibalik Dendam Sekretaris   23. Agenda mendadak

    Aruna mengedip pelan.“…Es krim, Pak?”Ravian sudah mengambil jasnya dari sandaran kursi.“Sekarang.”Tanpa Aruna sempat berpikir lama, mereka berdua sudah berada di dalam Super Mart yang hanya berjarak 7 menit jika berjalan kaki dari Elion Group. Aruna sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya ini. Ia tak menyangka rupanya ia juga bisa makan es krim? Aruna pikir dinginnya sifat Ravian itu sudah tak memerlukan es krim lagi. Mereka duduk tepat menghadap ke jalanan, menatap orang berlalu-lalang dengan es krim di tangan masing-masing. Ravian membuka tutup cup es krimnya pelan.Tidak langsung makan.Ia hanya menatap permukaannya beberapa detik.Putih.Tenang.Rapi.Seperti tidak pernah disentuh.Baru setelah itu ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke mulut.Aruna memperhatikannya diam-diam.Aneh.Pria yang biasanya tidak pernah terlihat “berhenti” ini… sekarang terlihat seperti sedang berhenti dari semuanya.Tidak ada dokumen, tidak ada telepon, tidak ada ekspresi tega

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status