LOGINPagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.
Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar. Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka. “Kopi.” Satu kata. Nada datar. Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop. Ravian melirik sekilas. “Kau mengingatnya.” “Bukan hal sulit, Pak.” “Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.” Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan. Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai. “Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat. “Berapa menit?” “Sepuluh.” “Catat.” “Baik.” Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Ketika jarum jam menunjukkan pukul delapan tepat, ia membuka rapat. “Kita mulai.” Seorang manajer operasional masuk tergesa dua menit kemudian. “Maaf, Pak—” “Duduk,” potong Ravian singkat. “Lanjutkan.” Tidak ada teguran lanjutan. Tidak ada tatapan marah. Namun keheningan setelahnya cukup untuk membuat semua orang paham. Aruna mencatat, mendengar, dan sesekali menyodorkan dokumen ketika diminta. Ia memperhatikan bagaimana Ravian mengarahkan pembicaraan tanpa meninggikan suara, bagaimana ia memotong kalimat yang bertele-tele dengan satu anggukan kecil. Rapat berakhir cepat. “Aruna,” panggil Ravian saat semua orang berdiri. “Ya, Pak?” “Panggil kepala keuangan. Sekarang.” “Baik.” Aruna langsung bergegas keluar ruangan untuk memanggil kepala keuangan, meninggalkan Ravian sendirian di dalam sana dengan pekerjaannya. Di lorong, kepala keuangan menarik napas panjang. “Baru pagi, sudah ditekan.” Aruna hanya mengangguk singkat. “Beliau tidak menyukai waktu yang terbuang.” “Tidak menyukai apa pun yang tidak berjalan sesuai rencananya,” gumam pria itu. Aruna tidak menimpali. Sekitar pukul sepuluh, ponsel Ravian bergetar. Ia menatap layar terlalu lama. Aruna melihatnya dari sudut mata. “Batalkan panggilan dengan Singapura,” kata Ravian tiba-tiba. “Sekarang?” “Ya.” “Bagaimana dengan alasannya?” Ravian mengangkat wajahnya. “Kau butuh alasan?” “Untuk penjadwalan ulang,” jawab Aruna tenang. Hening sejenak. “Katakan saja kalau saya ada urusan mendesak.” “Baik.” Saat Aruna mengirim email, ia mendengar kursi Ravian bergeser. Pria itu berdiri, berjalan ke jendela, lalu berhenti. Tangannya bertumpu pada kaca. Bahunya sedikit naik-turun. “Pak?” Ravian tidak menoleh. “Panggilan sudah dibatalkan.” “Mm.” Beberapa detik berlalu. Aruna terdiam mengamati tingkah CEO ini yang mencurigakan, dia seperti sedang menahan sesuatu, apa dia sedang merasa pusing? pikirnya. Ravian mengusap wajahnya singkat, lalu kembali ke meja seolah tidak terjadi apa-apa. “Lanjutkan jadwal.” Aruna mengangguk. Siang hari, tekanan meningkat. Pihak Orion Capital mengirim email lanjutan, meminta klarifikasi tambahan. Divisi pemasaran memprotes pembatalan makan siang. Dua rapat lain bertabrakan. “Yang mana dulu?” tanya Aruna. Ravian menatap layar. “Yang paling berisik.” “Pemasaran?” “Ya.” Aruna menekan nomor ekstensi. “Rapat dipindahkan ke besok pagi. Jam delapan.” “Jam delapan terlalu pagi—” “Keputusan CEO,” potong Aruna singkat. Telepon ditutup. Aruna menoleh. “Sudah.” Ravian mengangguk tipis. “Kau cepat.” “Bukankah ini adalah standar pekerjaan anda?” “Kau terbiasa ditekan?” “Tekanan membuat segalanya lebih jelas,” jawab Aruna. Ravian menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Kau tidak banyak bicara.” Ucapnya, “Tidak diperlukan.” “Kau tidak bertanya.” “Saya mencatatnya,” Aruna terus membalas dengan singkat. Hening. “Bagus,” kata Ravian akhirnya. “Tetaplah seperti itu.” Menjelang sore, hujan turun deras. Suara air menghantam kaca jendela membuat kantor terasa lebih sempit. Aruna sedang merapikan dokumen ketika mendengar suara langkah berhenti mendadak. Ravian berdiri di dekat pintu ruangannya. Wajahnya pucat. Pandangannya tidak fokus. “Pak?” Tidak ada jawaban. “Pak Ravian?” Ia berkedip, seolah baru menyadari keberadaan Aruna. “Jam berapa?” “Lima lewat sepuluh.” Ravian menutup mata sebentar. “Batalkan semua janji malam ini.” “Semua?” “Ya.” Aruna mencatat cepat. “Termasuk makan malam dengan dewan?” “Terutama itu.” “Baik.” Ia ragu sejenak, lalu bertanya, “Perlu saya panggilkan sopir?” “Tidak.” Ravian berjalan kembali ke ruangannya. Pintu tertutup pelan. Aruna menatap pintu itu beberapa detik. Ia merasakan sesuatu, bukan empati, bukan pula kekhawatiran. Hanya kesadaran bahwa ada bagian dari Ravian Elarion yang terasa aneh dan mungkin keanehan itu bisa menjadi senjatanya untuk balas dendam. Ia kembali ke mejanya. Saat jam kerja hampir selesai, Ravian keluar lagi. “Kau masih di sini.” “Laporan Orion Capital belum selesai.” “Besok.” “Saya hampir selesai.” “Kau tidak wajib.” Aruna mengangkat bahu ringan. “Saya tidak keberatan.” Ravian menatapnya. “Jangan biasakan.” “Baik.” Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. “Aruna.” “Ya, Pak?” jawabnya, mengalihkan pandangan dari komputer. “Pekerjaan ini menuntut jarak.” Aruna terdiam sejenak, ia berpikir apakah ucapan Ravian mengacu pada saat dirinya terlihat khawatir dengan kondisi-kondisi aneh pria itu? “Saya mengerti.” “Kau tidak perlu tahu hal-hal di luar tugasmu.” Aruna menatap lurus. “Saya tidak tertarik.” Ravian mengangguk tipis. “Bagus.” Malam itu, Aruna pulang lebih lambat dari sebelumnya. Hujan masih turun, membuat lampu jalan memantul di aspal. Di apartemennya, ia membuka buku agenda. Di bawah catatan kemarin, ia menambahkan baris baru. Pola: pembatalan mendadak, jeda panjang, tatapan kosong. Ia berhenti menulis, menutup buku, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Apakah pria itu mengidap suatu penyakit?" gumamnya. Namun, hal tersebut terlalu aneh untuk disebut sebagai penyakit. Aruna menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Apa peduliku, kalau dia sakit itu lebih baik." Aruna berdiri, meletakkan kembali buku catatannya dan berjalan ke arah jendela kaca yang menghadap ke area perkotaan. "Apa perlu ku cari tahu saja? mungkin ini akan berguna."Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba
Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per
Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit
Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"
Mereka berjalan pelan menjauh dari area rollercoaster.Langkah Ravian masih sedikit tidak stabil.Bukan karena lemah.Tapi karena tubuhnya masih mencoba mengejar napas yang tadi sempat tertinggal di tikungan-tikungan tajam itu.Aruna berjalan di sampingnya tanpa bicara.Sesekali melirik.Memastikan pria itu benar-benar masih “di sini”.Bukan kembali tenggelam ke dalam pikirannya sendiri.Mereka berhenti di dekat bangku panjang di bawah pohon besar, agak jauh dari keramaian.Ravian duduk lebih dulu.Mengusap wajahnya pelan.Lalu tertawa kecil lagi.Pendek.Ringan.Seolah ia sendiri heran kenapa bisa tertawa hari ini.“Aku tidak ingat kapan terakhir kali jantungku berdetak karena hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan,” ucapnya pelan.Aruna ikut duduk.“Berarti terapi kejut saya berhasil, Pak.”Ravian menoleh.Menatap Aruna beberapa detik lebih lama dari biasanya.Tatapan yang tidak tajam.Tidak menilai.Hanya… melihat.“Kau tahu kenapa aku tadi ikut saja waktu kau menarikku ke sin
Aruna mengedip pelan.“…Es krim, Pak?”Ravian sudah mengambil jasnya dari sandaran kursi.“Sekarang.”Tanpa Aruna sempat berpikir lama, mereka berdua sudah berada di dalam Super Mart yang hanya berjarak 7 menit jika berjalan kaki dari Elion Group. Aruna sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya ini. Ia tak menyangka rupanya ia juga bisa makan es krim? Aruna pikir dinginnya sifat Ravian itu sudah tak memerlukan es krim lagi. Mereka duduk tepat menghadap ke jalanan, menatap orang berlalu-lalang dengan es krim di tangan masing-masing. Ravian membuka tutup cup es krimnya pelan.Tidak langsung makan.Ia hanya menatap permukaannya beberapa detik.Putih.Tenang.Rapi.Seperti tidak pernah disentuh.Baru setelah itu ia menyendok sedikit dan memasukkannya ke mulut.Aruna memperhatikannya diam-diam.Aneh.Pria yang biasanya tidak pernah terlihat “berhenti” ini… sekarang terlihat seperti sedang berhenti dari semuanya.Tidak ada dokumen, tidak ada telepon, tidak ada ekspresi tega







