Share

3. Ritme

Author: Pena Random
last update Last Updated: 2026-01-15 13:22:56

Pagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.

Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar.

Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka.

“Kopi.”

Satu kata. Nada datar.

Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop.

Ravian melirik sekilas.

“Kau mengingatnya.”

“Bukan hal sulit, Pak.”

“Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.”

Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan.

Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai.

“Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat.

“Berapa menit?”

“Sepuluh.”

“Catat.”

“Baik.”

Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Ketika jarum jam menunjukkan pukul delapan tepat, ia membuka rapat.

“Kita mulai.”

Seorang manajer operasional masuk tergesa dua menit kemudian.

“Maaf, Pak—”

“Duduk,” potong Ravian singkat. “Lanjutkan.”

Tidak ada teguran lanjutan. Tidak ada tatapan marah. Namun keheningan setelahnya cukup untuk membuat semua orang paham.

Aruna mencatat, mendengar, dan sesekali menyodorkan dokumen ketika diminta. Ia memperhatikan bagaimana Ravian mengarahkan pembicaraan tanpa meninggikan suara, bagaimana ia memotong kalimat yang bertele-tele dengan satu anggukan kecil.

Rapat berakhir cepat.

“Aruna,” panggil Ravian saat semua orang berdiri.

“Ya, Pak?”

“Panggil kepala keuangan. Sekarang.”

“Baik.” Aruna langsung bergegas keluar ruangan untuk memanggil kepala keuangan, meninggalkan Ravian sendirian di dalam sana dengan pekerjaannya.

Di lorong, kepala keuangan menarik napas panjang. “Baru pagi, sudah ditekan.”

Aruna hanya mengangguk singkat. “Beliau tidak menyukai waktu yang terbuang.”

“Tidak menyukai apa pun yang tidak berjalan sesuai rencananya,” gumam pria itu.

Aruna tidak menimpali.

Sekitar pukul sepuluh, ponsel Ravian bergetar. Ia menatap layar terlalu lama.

Aruna melihatnya dari sudut mata.

“Batalkan panggilan dengan Singapura,” kata Ravian tiba-tiba.

“Sekarang?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan alasannya?”

Ravian mengangkat wajahnya. “Kau butuh alasan?”

“Untuk penjadwalan ulang,” jawab Aruna tenang.

Hening sejenak.

“Katakan saja kalau saya ada urusan mendesak.”

“Baik.”

Saat Aruna mengirim email, ia mendengar kursi Ravian bergeser. Pria itu berdiri, berjalan ke jendela, lalu berhenti. Tangannya bertumpu pada kaca. Bahunya sedikit naik-turun.

“Pak?”

Ravian tidak menoleh.

“Panggilan sudah dibatalkan.”

“Mm.”

Beberapa detik berlalu. Aruna terdiam mengamati tingkah CEO ini yang mencurigakan, dia seperti sedang menahan sesuatu, apa dia sedang merasa pusing? pikirnya.

Ravian mengusap wajahnya singkat, lalu kembali ke meja seolah tidak terjadi apa-apa.

“Lanjutkan jadwal.”

Aruna mengangguk.

Siang hari, tekanan meningkat.

Pihak Orion Capital mengirim email lanjutan, meminta klarifikasi tambahan. Divisi pemasaran memprotes pembatalan makan siang. Dua rapat lain bertabrakan.

“Yang mana dulu?” tanya Aruna.

Ravian menatap layar. “Yang paling berisik.”

“Pemasaran?”

“Ya.”

Aruna menekan nomor ekstensi. “Rapat dipindahkan ke besok pagi. Jam delapan.”

“Jam delapan terlalu pagi—”

“Keputusan CEO,” potong Aruna singkat.

Telepon ditutup.

Aruna menoleh. “Sudah.”

Ravian mengangguk tipis. “Kau cepat.”

“Bukankah ini adalah standar pekerjaan anda?”

“Kau terbiasa ditekan?”

“Tekanan membuat segalanya lebih jelas,” jawab Aruna.

Ravian menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Kau tidak banyak bicara.” Ucapnya,

“Tidak diperlukan.”

“Kau tidak bertanya.”

“Saya mencatatnya,” Aruna terus membalas dengan singkat.

Hening.

“Bagus,” kata Ravian akhirnya. “Tetaplah seperti itu.”

Menjelang sore, hujan turun deras. Suara air menghantam kaca jendela membuat kantor terasa lebih sempit.

Aruna sedang merapikan dokumen ketika mendengar suara langkah berhenti mendadak.

Ravian berdiri di dekat pintu ruangannya. Wajahnya pucat. Pandangannya tidak fokus.

“Pak?”

Tidak ada jawaban.

“Pak Ravian?”

Ia berkedip, seolah baru menyadari keberadaan Aruna.

“Jam berapa?”

“Lima lewat sepuluh.”

Ravian menutup mata sebentar. “Batalkan semua janji malam ini.”

“Semua?”

“Ya.”

Aruna mencatat cepat. “Termasuk makan malam dengan dewan?”

“Terutama itu.”

“Baik.”

Ia ragu sejenak, lalu bertanya, “Perlu saya panggilkan sopir?”

“Tidak.”

Ravian berjalan kembali ke ruangannya. Pintu tertutup pelan.

Aruna menatap pintu itu beberapa detik. Ia merasakan sesuatu, bukan empati, bukan pula kekhawatiran. Hanya kesadaran bahwa ada bagian dari Ravian Elarion yang terasa aneh dan mungkin keanehan itu bisa menjadi senjatanya untuk balas dendam.

Ia kembali ke mejanya.

Saat jam kerja hampir selesai, Ravian keluar lagi.

“Kau masih di sini.”

“Laporan Orion Capital belum selesai.”

“Besok.”

“Saya hampir selesai.”

“Kau tidak wajib.”

Aruna mengangkat bahu ringan. “Saya tidak keberatan.”

Ravian menatapnya. “Jangan biasakan.”

“Baik.”

Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. “Aruna.”

“Ya, Pak?” jawabnya, mengalihkan pandangan dari komputer.

“Pekerjaan ini menuntut jarak.” Aruna terdiam sejenak, ia berpikir apakah ucapan Ravian mengacu pada saat dirinya terlihat khawatir dengan kondisi-kondisi aneh pria itu?

“Saya mengerti.”

“Kau tidak perlu tahu hal-hal di luar tugasmu.”

Aruna menatap lurus. “Saya tidak tertarik.”

Ravian mengangguk tipis. “Bagus.”

Malam itu, Aruna pulang lebih lambat dari sebelumnya. Hujan masih turun, membuat lampu jalan memantul di aspal.

Di apartemennya, ia membuka buku agenda.

Di bawah catatan kemarin, ia menambahkan baris baru.

Pola: pembatalan mendadak, jeda panjang, tatapan kosong.

Ia berhenti menulis, menutup buku, lalu menyandarkan punggung ke kursi.

"Apakah pria itu mengidap suatu penyakit?" gumamnya.

Namun, hal tersebut terlalu aneh untuk disebut sebagai penyakit. Aruna menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Apa peduliku, kalau dia sakit itu lebih baik."

Aruna berdiri, meletakkan kembali buku catatannya dan berjalan ke arah jendela kaca yang menghadap ke area perkotaan.

"Apa perlu ku cari tahu saja? mungkin ini akan berguna."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibalik Dendam Sekretaris   7. Inikah Kelemahanmu?

    Malam itu, Aruna tidak langsung tidur.Ia duduk di tepi ranjang, sepatu sudah dilepas, rambut diurai seadanya. Lampu kamar menyala redup, hanya cukup untuk menerangi meja kecil di sudut ruangan.Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih mengganggu.Bukan menjatuhkan Ravian, bukan juga melukainya.Tapi berhasil membuatnya terasa.Perubahan lima sentimeter, sepuluh menit keterlambatan, keheningan yang biasanya ia isi kali ini dibiarkan kosong.Hal-hal kecil dan sepele namun cukup untuk menggeser keseimbangan seseorang yang hidup penuh kendali. Aruna menarik napas panjang.Selama tiga tahun terakhir, ia melatih dirinya untuk tidak bereaksi, untuk bertahan, untuk tidak runtuh ketika dunia bersikap kejam.Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertahan.Ia juga melawan dalam diam.Ia berdiri, berjalan ke jendela apartemennya. Lampu kota membentang seperti lautan cahaya. Hiruk pikuk yang terasa jauh dari hidupnya sendiri.“Aira…

  • Dibalik Dendam Sekretaris   6. Memberi sedikit retakan

    Pagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh.“Kopi.”Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim.Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya.Hanya itu.Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong.Ia pun berhenti.Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya.“Kau memindahkannya,” kata Ravian datar.“Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala. “Kopinya.”“Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.”Hening.Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar.Lalu ia mengambilnya.“Jangan ulangi.”“Baik, Pak.”Nada Aruna patuh. Sempurna.Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri:Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa di

  • Dibalik Dendam Sekretaris   5. Hari terberat

    Pertemuan kali ini diatur di luar kantor pusat. Sebuah rumah tua di pinggir kota. Halamannya luas, tapi kosong. Tidak ada papan nama. Tidak ada tetangga yang terlihat. Hanya suara angin dan daun kering.Aruna tahu satu hal sejak mobil berhenti, ini bukan tempat untuk diskusi bisnis biasa.“Masuk,” kata Ravian.Di ruang tamu, seorang pria menunggu.Tubuhnya kurus. Jasnya kusut. Wajahnya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disamarkan. Di depannya, sebuah map cokelat sudah terbuka, seolah ia ingin memastikan isinya terlihat.“Pak Ravian,” ucap pria itu cepat, terlalu cepat.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.”Ravian duduk tanpa menjawab. Aruna berdiri di sampingnya, tablet di tangan.“Kau tahu kenapa kau ada di sini,” kata Ravian akhirnya.Pria itu mengangguk. “Proyek pelabuhan… gagal. Saya bertanggung jawab penuh.”“Bukan gagal,” koreksi Ravian dingin. “Kau membuat Elion Group rugi besar.”Pria itu menunduk. Tangannya gemetar.“Saya tidak punya uang untuk mengganti semuanya,

  • Dibalik Dendam Sekretaris   4. Cara kerja bisnis

    Pagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang.Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan.Ravian sudah ada di ruangannya.Itu jarang terjadi.“Pagi, Pak,” sapa Aruna.“Kopi.”Nada yang sama. Dingin. Terkontrol.Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin.Ravian menyesapnya.“Rasa kopinya konsisten.”“Saya tidak mengubah apa pun.”“Bagus.”Pagi berjalan tanpa celah.Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat.Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan. Itu justru yang membuat Aruna waspada.Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi.Bukan kesalahan besar.Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai.“Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh.Aruna membeku sepersekian detik.“Maaf, Pak. Lima menit.”Ia

  • Dibalik Dendam Sekretaris   3. Ritme

    Pagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar.Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka.“Kopi.”Satu kata. Nada datar.Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop.Ravian melirik sekilas.“Kau mengingatnya.”“Bukan hal sulit, Pak.”“Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.”Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan.Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai.“Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat.“Berapa menit?”“Sepuluh.”“Catat.”“Baik.”Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Keti

  • Dibalik Dendam Sekretaris   2. Permulaan

    Aruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.Ini tentang ketahanan.Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya.“Pelajari jadwal saya.”"Baik Pak."Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan.Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil.Ia menarik napas pelan.Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau.Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang priori

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status