تسجيل الدخولPertemuan kali ini diatur di luar kantor pusat. Sebuah rumah tua di pinggir kota. Halamannya luas, tapi kosong. Tidak ada papan nama. Tidak ada tetangga yang terlihat. Hanya suara angin dan daun kering.
Aruna tahu satu hal sejak mobil berhenti, ini bukan tempat untuk diskusi bisnis biasa. “Masuk,” kata Ravian. Di ruang tamu, seorang pria menunggu. Tubuhnya kurus. Jasnya kusut. Wajahnya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disamarkan. Di depannya, sebuah map cokelat sudah terbuka, seolah ia ingin memastikan isinya terlihat. “Pak Ravian,” ucap pria itu cepat, terlalu cepat. “Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.” Ravian duduk tanpa menjawab. Aruna berdiri di sampingnya, tablet di tangan. “Kau tahu kenapa kau ada di sini,” kata Ravian akhirnya. Pria itu mengangguk. “Proyek pelabuhan… gagal. Saya bertanggung jawab penuh.” “Bukan gagal,” koreksi Ravian dingin. “Kau membuat Elion Group rugi besar.” Pria itu menunduk. Tangannya gemetar. “Saya tidak punya uang untuk mengganti semuanya,” katanya lirih. “Saya sudah terlilit utang di mana-mana.” Ravian menyilangkan kaki. “Itu masalahmu.” Pria itu menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong map cokelat ke arah Ravian. “Karena itu… saya membawa alternatif.” Aruna refleks melirik map itu. di dalamnya berisi foto-foto. Beberapa foto perempuan muda. Wajah mereka cantik, rapi, berpakaian sopan. Usia mereka jelas dewasa kisaran dua puluhan. Namun cara foto itu disusun… seperti katalog. “Putri-putri saya,” kata pria itu cepat. “Mereka belum menikah. Pendidikan baik. Saya bersedia—” Ravian mengangkat tangan. “Berhenti.” Ruangan membeku. “Kau menjadikan anakmu alat tukar?” tanyanya pelan. Pria itu menelan ludah. “Saya… menawarkan kompensasi. Pernikahan. Aliansi. Apa pun yang Anda inginkan.” Aruna merasa perutnya mual. Ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak bisa. Ravian tidak marah. Itu yang paling menakutkan. Ia mengambil map itu, membuka satu foto, lalu menutupnya lagi. “Menarik,” katanya datar. Aruna menoleh tajam. Jantungnya berdegup keras. Ravian lalu melakukan sesuatu yang tidak ia duga. Ia menyerahkan map itu ke Aruna. “Pilih,” katanya. Waktu seolah berhenti. “Apa?” suara Aruna hampir tidak keluar. “Kau dengar,” lanjut Ravian tenang. “Pilih satu.” Pria itu menatap Aruna penuh harap, hampir memohon. “Pak Ravian,” kata Aruna akhirnya, suaranya bergetar tapi tertahan, “ini bukan bagian dari pekerjaan saya.” “Sekarang iya,” jawab Ravian singkat. Aruna menatap foto-foto itu. Wajah-wajah yang tidak tahu apa-apa. Perempuan dewasa, tapi tetap dijual oleh ayahnya sendiri. Ia merasa tangannya dingin. “Kenapa saya?” tanya Aruna. Ravian mencondongkan badan sedikit. Suaranya rendah. “Karena kau masih punya nurani,” katanya. “Aku ingin melihat sejauh apa itu bisa bertahan.” Aruna menelan ludah. “Kalau saya menolak?” Ravian menatapnya lurus. “Maka hutangnya tetap hutang. Dan aku akan menagih dengan caraku.” Pria itu mulai terisak pelan. Aruna menutup map itu perlahan. Jika ia memilih salah satu perempuan yang diajukan oleh pria bangkrut ini untuk menjadi istri dari Ravian, apakah perempuan itu akan berakhir seperti Aira? Setidaknya Aira memiliki dia, tapi perempuan di foto-foto ini hanya akan berakhir sendirian setelah dijual oleh orang tuanya. Aruna menelan salivanya perlahan, ia menjadi takut, padahal selama 3 tahun ini ia sudah memupuk mental agar menjadi lebih kuat, namun ketika di hadapkan oleh sesuatu seperti ini, Aruna menjadi melemah. Ia tak bisa membiarkan siapapun lagi mati di tangan pria ini. Maka ia harus menolak, meski hidup miskin akan lebih baik daripada hidup dengan kendali pria bengis ini. “Saya tidak akan memilih,” katanya tegas. Ravian mengangkat alis. “Itukah keputusan mu?” “Ya.” Hening. Lalu Ravian tersenyum tipis. “Jawaban yang bisa ditebak.” Ia menoleh ke pria itu. “Kau dengar?” Pria itu gemetar. “Tapi—” “Tidak ada pernikahan,” potong Ravian. “Aku tidak membutuhkan itu.” Aruna terkejut. “Lalu kenapa—” “Karena aku ingin melihat,” lanjut Ravian tanpa menoleh, “seberapa jauh manusia bisa merendahkan dirinya ketika terpojok.” Ia berdiri. “Hutangmu tetap,” katanya pada pria itu. “Asetmu akan kuambil. Namamu akan hilang dari industri. Putri-putrimu—" Ia berhenti sejenak. “—setidaknya masih punya ayah, meski ayah yang gagal.” Pria itu runtuh di kursinya. Saat mereka keluar, Aruna berjalan dengan langkah berat. “Pak Ravian,” ucapnya akhirnya, suaranya dingin, menahan amarah dan ngeri, “itu kejam.” Ravian berhenti. “Kejam adalah dunia,” katanya. “Aku hanya memastikan aku tidak kalah di dalamnya.” Aruna menatapnya. Untuk pertama kalinya, bukan dengan takut. Tapi dengan kesadaran yang lebih gelap. Jika suatu hari ia jatuh… Ravian tidak akan ragu menghancurkannya juga. Dan bayangan adiknya kembali muncul di kepalanya. Bukan sebagai korban kecelakaan, melainkan sebagai seseorang yang mungkin pernah berada di posisi tak berdaya seperti itu. Sh*t! kenapa Aira berpacaran dengan pria menyeramkan seperti ini? Aruna hanya bisa merutuk di dalam hati. Mobil melaju meninggalkan rumah kosong itu tanpa suara radio. Hanya suara mesin dan hujan tipis yang tersisa. Aruna duduk tegak di kursinya. Punggung lurus. Wajah netral. Tangannya terlipat rapi di atas tas. Tidak ada tanda panik. Tidak ada komentar. Ravian memperhatikannya dari pantulan kaca depan. “Bahumu kaku,” katanya tiba-tiba. Aruna menoleh sedikit. “Maaf?” “Kau menegangkan tubuhmu sejak kita keluar,” lanjut Ravian. “Tapi wajahmu berusaha terlihat biasa saja.” Aruna diam. “Menarik,” ucap Ravian pelan. “Kau belajar menyembunyikan ketakutan dengan cepat.” “Saya hanya lelah,” jawab Aruna singkat. “Bohong,” kata Ravian tanpa emosi. “Tapi rapi.” Aruna mengangkat sebelah alisnya, pria ini selalu menggunakan kalimat tak biasa yang entah kenapa ia paham apa maksudnya. Mobil berhenti di lampu merah. Di luar, deretan kedai pinggir jalan mulai terlihat. Lampu-lampu kecil, gerobak makanan, orang-orang lalu-lalang dengan pakaian sederhana. Suasana yang riuh dan hidup. Ravian menepikan mobil mendadak. “Turun.” Aruna menoleh kaget. “Sekarang?” “Ya.” Ia keluar lebih dulu. Aruna mengikutinya, kebingungan. “Anda mau ke mana?” tanya Aruna. Ravian menatap deretan kedai itu. “Berbelanja.” “Belanja?!" Aruna mengedarkan pandangannya, apakah ini adalah tempat belanja yang biasanya di kunjungi oleh orang-orang seperti Ravian? Bukankah jika ingin pergi berbelanja harusnya dia datang ke pusat perbelanjaan mewah dengan gedung bertingkat tinggi seperti itu? bukan pasar yang seperti ini. Aruna mengerutkan kening. “Pak, jadwal—” “Aku membatalkannya.” Nada itu tidak memberi ruang bantahan. Mereka berjalan di trotoar sempit. Orang-orang tidak mengenali Ravian Elarion di sini. Tidak ada jas mahal, tidak ada ruang rapat. Hanya pria tinggi dengan ekspresi dingin dan seorang perempuan yang berjalan setengah langkah di belakangnya. “Masuk,” kata Ravian sambil menunjuk kedai kecil yang menjual perhiasan murah. Aruna masuk dengan ragu. “Pilih sesuatu,” perintahnya. “Untuk siapa?” “Untukmu.” Aruna terdiam. “Saya tidak butuh apa pun.” “Pilih,” ulang Ravian. Lebih pelan. Lebih berbahaya. Aruna meraih sebuah gelang sederhana. Murah. Tidak mencolok. “Ini,” katanya. Ravian mengangguk, membayar tanpa menawar. Mereka berpindah ke kedai lain. Makanan ringan. Pakaian. Buku bekas. Setiap kali Aruna memilih sesuatu yang paling sederhana, Ravian memperhatikannya. “Kau selalu memilih yang paling tidak terlihat,” katanya akhirnya. “Karena tidak ingin menarik perhatian.” “Padahal di tempat ramai,” Ravian berhenti berjalan, “tidak terlihat justru membuatmu lebih aman.” Aruna jadi semakin kebingungan. “Kenapa Anda membawa saya ke sini?” tanyanya pelan. Ravian menatap orang-orang yang berlalu-lalang. Anak kecil berlari. Pedagang tertawa. Kehidupan yang tidak terhubung dengan keputusan-keputusan kejamnya. “Karena kau terlalu rapi setelah rumah itu,” katanya. “Dan orang yang terlalu rapi biasanya sedang menahan sesuatu.” Aruna menelan ludah. “Saya baik-baik saja.” Ravian menoleh padanya. Tatapannya tajam, menembus. “Ketakutan yang ditekan tidak menghilang,” ucapnya. “Ia hanya menunggu waktu untuk salah keluar.” Ia melangkah lebih dekat. “Kalau kau gemetar, aku ingin kau gemetar di tempat yang aman.” Aruna terdiam. “Di antara orang yang hidup,” lanjut Ravian. “Bukan di ruangan kosong dengan keputusan yang menurutmu kejam itu.” Kata-kata itu membuat napas Aruna tercekat. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah ini bentuk perhatian… atau bentuk kontrol yang lebih halus. Mereka berhenti di sebuah kedai minuman hangat. “Minum,” kata Ravian. Aruna menerima gelas itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia memegangnya lebih erat. “Apakah sudah lebih baik?" kata Ravian. “Ini bukan bagian dari pekerjaan saya,” ucap Aruna akhirnya. “Justru ini bagian terpenting,” jawab Ravian. “Kalau kau runtuh, kau tidak akan berguna.” Kalimat itu kejam. Jujur. Dan anehnya… menenangkan. Aruna menyesap minumannya. Pria ini sangat aneh, dingin, tidak jelas apa yang terjadi pada dirinya, kejam, namun setelah semua itu dia malah mengajak Aruna ke tempat yang bukan seharusnya orang seperti Ravian bisa kunjungi. Apakah pria ini memang mempedulikan seseorang yang menjadi orangnya? sepertinya Aruna berhasil membuat dirinya menjadi orang yang berguna untuk Ravian. Mungkin ini adalah langkah yang baik untuk balas dendam. Di tengah keramaian, ketakutannya tidak hilang tapi tidak lagi menghimpit. Saat mereka kembali ke mobil, Ravian berkata tanpa menoleh, “Besok kita kembali ke kantor.” Aruna mengangguk. “Dan Aruna,” tambahnya, “jangan biasakan menutup rasa takut terlalu rapi.” “Kenapa?” “Karena orang sepertiku,” ucap Ravian tenang, “selalu menyadarinya.” Mobil melaju pergi, meninggalkan keramaian. Dan Aruna sadar bahwa Ravian bukan hanya kejam pada musuhnya tetapi ia juga sangat teliti terhadap orang yang ia biarkan tetap di sisinya. "Saya akan mengganti biaya yang anda keluarkan untuk saya tadi pak." "Aku tidak perlu uang recehmu."Malam itu, Aruna tidak langsung tidur.Ia duduk di tepi ranjang, sepatu sudah dilepas, rambut diurai seadanya. Lampu kamar menyala redup, hanya cukup untuk menerangi meja kecil di sudut ruangan.Tangannya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih mengganggu.Bukan menjatuhkan Ravian, bukan juga melukainya.Tapi berhasil membuatnya terasa.Perubahan lima sentimeter, sepuluh menit keterlambatan, keheningan yang biasanya ia isi kali ini dibiarkan kosong.Hal-hal kecil dan sepele namun cukup untuk menggeser keseimbangan seseorang yang hidup penuh kendali. Aruna menarik napas panjang.Selama tiga tahun terakhir, ia melatih dirinya untuk tidak bereaksi, untuk bertahan, untuk tidak runtuh ketika dunia bersikap kejam.Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertahan.Ia juga melawan dalam diam.Ia berdiri, berjalan ke jendela apartemennya. Lampu kota membentang seperti lautan cahaya. Hiruk pikuk yang terasa jauh dari hidupnya sendiri.“Aira…
Pagi itu, Aruna duduk di mejanya seperti biasa. Rambut rapi. Wajah tenang. Tidak ada sisa ketegangan dari hari sebelumnya.Ravian datang tepat pukul tujuh tiga puluh.“Kopi.”Aruna menyiapkan kopi seperti biasa. Hitam. Tanpa gula. Tanpa krim.Namun kali ini, ia menaruhnya dengan jarak lima sentimeter lebih ke kiri dari biasanya.Hanya itu.Ravian duduk. Membuka laptop. Tangannya bergerak refleks ke kanan namun ia merasa sedikit kosong.Ia pun berhenti.Matanya turun ke meja. Kopi itu ada di sana hanya tidak di tempat yang tidak biasanya.“Kau memindahkannya,” kata Ravian datar.“Apanya, Pak?” tanya Aruna tanpa mengangkat kepala. “Kopinya.”“Oh,” Aruna menoleh sekilas. “Maaf. Tadi meja Anda dipakai staf IT. Saya geser sedikit.”Hening.Ravian menatap cangkir itu beberapa detik lebih lama dari wajar.Lalu ia mengambilnya.“Jangan ulangi.”“Baik, Pak.”Nada Aruna patuh. Sempurna.Namun di dalam kepalanya, satu kalimat terpatri:Kontrolmu bergantung pada kebiasaan. Dan kebiasaan… bisa di
Pertemuan kali ini diatur di luar kantor pusat. Sebuah rumah tua di pinggir kota. Halamannya luas, tapi kosong. Tidak ada papan nama. Tidak ada tetangga yang terlihat. Hanya suara angin dan daun kering.Aruna tahu satu hal sejak mobil berhenti, ini bukan tempat untuk diskusi bisnis biasa.“Masuk,” kata Ravian.Di ruang tamu, seorang pria menunggu.Tubuhnya kurus. Jasnya kusut. Wajahnya menyimpan kelelahan yang tidak bisa disamarkan. Di depannya, sebuah map cokelat sudah terbuka, seolah ia ingin memastikan isinya terlihat.“Pak Ravian,” ucap pria itu cepat, terlalu cepat.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan.”Ravian duduk tanpa menjawab. Aruna berdiri di sampingnya, tablet di tangan.“Kau tahu kenapa kau ada di sini,” kata Ravian akhirnya.Pria itu mengangguk. “Proyek pelabuhan… gagal. Saya bertanggung jawab penuh.”“Bukan gagal,” koreksi Ravian dingin. “Kau membuat Elion Group rugi besar.”Pria itu menunduk. Tangannya gemetar.“Saya tidak punya uang untuk mengganti semuanya,
Pagi itu, Aruna datang dengan satu kesimpulan baru: ia tidak boleh terlihat tahu apa pun.Ia masuk kantor seperti biasa. Wajah tenang.Langkah terukur. Tidak ada perubahan sikap, tidak ada perhatian berlebihan.Ravian sudah ada di ruangannya.Itu jarang terjadi.“Pagi, Pak,” sapa Aruna.“Kopi.”Nada yang sama. Dingin. Terkontrol.Aruna menyiapkan kopi hitam tanpa gula. Ia meletakkannya di tempat yang sama seperti kemarin.Ravian menyesapnya.“Rasa kopinya konsisten.”“Saya tidak mengubah apa pun.”“Bagus.”Pagi berjalan tanpa celah.Rapat demi rapat. Telepon masuk tanpa henti. Jadwal padat, ditekan, dipercepat.Ravian terlihat… terlalu stabil untuk orang yang kemarin terlihat begitu kelelahan. Itu justru yang membuat Aruna waspada.Menjelang siang, satu kesalahan kecil terjadi.Bukan kesalahan besar.Hanya satu dokumen yang seharusnya di meja Ravian, belum sampai.“Dokumen keuangan kuartal dua,” kata Ravian tanpa menoleh.Aruna membeku sepersekian detik.“Maaf, Pak. Lima menit.”Ia
Pagi itu dimulai lebih cepat dari yang Aruna perkirakan.Belum pukul tujuh, email di tablet kerjanya sudah berderet. Beberapa ditandai prioritas tinggi. Beberapa lain berisi perubahan jadwal yang datang terlalu dini untuk disebut wajar.Aruna baru saja duduk ketika pintu ruang CEO terbuka.“Kopi.”Satu kata. Nada datar.Aruna berdiri tanpa komentar. Lima menit kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi hitam tanpa gula, tanpa krim. Ia meletakkannya di meja Ravian, tepat di sisi kanan laptop.Ravian melirik sekilas.“Kau mengingatnya.”“Bukan hal sulit, Pak.”“Banyak orang gagal pada hal-hal sederhana.”Aruna tidak menanggapi. Ia kembali ke mejanya, membuka agenda hari itu, dan menyiapkan daftar panggilan.Menjelang pukul delapan, rapat internal pertama dimulai.“Divisi operasional terlambat,” lapor Aruna pelan saat mereka berjalan menuju ruang rapat.“Berapa menit?”“Sepuluh.”“Catat.”“Baik.”Di dalam ruang rapat, Ravian duduk di ujung meja. Ia tidak menunggu semua orang hadir. Keti
Aruna segera menyadari bahwa menjadi sekretaris pribadi Ravian Elarion bukan tentang kemampuan administratif semata.Ini tentang ketahanan.Hari pertamanya dimulai tanpa orientasi. Tidak ada penjelasan alur kerja, tidak ada perkenalan dengan jajaran eksekutif, bahkan tidak ada catatan singkat tentang kebiasaan sang CEO. Ia hanya diberi satu tablet, akses penuh ke email eksekutif, dan sebuah kalimat pendek sebelum Ravian masuk ke ruangannya.“Pelajari jadwal saya.”"Baik Pak."Tidak ada tambahan. Tidak ada instruksi lanjutan.Aruna duduk di mejanya, tepat di luar ruang CEO, dan membuka kalender yang hampir sepenuhnya terisi. Rapat internal, pertemuan dengan investor, panggilan lintas zona waktu, semuanya tersusun rapat tanpa jeda. Tidak ada ruang kosong, bahkan untuk kesalahan kecil.Ia menarik napas pelan.Baik, pikirnya. Ini standar yang kau mau.Aruna bekerja dalam diam. Ia mencatat setiap perubahan jadwal, memeriksa ulang setiap detail lokasi dan waktu, serta menyusun ulang priori







