LOGINMulai besok aku up 2x perhari ya, sekarang masih satu bab. Staytune 🌶❤
Malam semakin larut, tapi lampu di ruang kerja Aron masih menyala. Mansion yang biasanya terasa megah dan lengang, malam itu dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Lusi sudah tertidur di kamar, kelelahan emosional membuatnya terlelap lebih cepat dari biasanya. Aron sengaja tidak membangunkannya. Ia ingin istrinya mendapatkan tidur yang nyenyak, sesuatu yang akhir-akhir ini terlalu mahal untuk dimiliki. Aron berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap taman yang gelap. Tangannya menyentuh gelas kopi yang sudah dingin. Pikirannya bekerja jauh lebih aktif dibanding tubuhnya. Rangga, nama itu kembali berputar di kepalanya, bukan dengan kemarahan membabi buta, melainkan dengan kalkulasi yang dingin. Aron tahu satu hal dengan pasti, Rangga bukan orang bodoh. Ia impulsif, emosional, dan manipulatif. Orang seperti itu tidak bisa dihadapi dengan ledakan emosi atau ancaman saja. Ia harus digertak dengan sesuatu yang membuatnya ragu, membuatnya berhenti meneruskan teror ini k
“Dia bilang, wanita sepertiku gak menghasilkan dan cuma jadi beban laki-laki. Aku gak ngerti waktu itu dan hanya diam. Aku kira… dia ngomong kayak gitu becanda. Tapi ternyata itu serius.” Aron menghela napas pelan. Jujur saja, di titik itu, Lusi memang terlalu polos atau terlalu bodoh untuk membaca realita. Tapi Aron tak mungkin mengatakan itu dengan jujur, setidaknya untuk saat ini. “Ya… bahkan kalau dalam keadaan bercanda pun, itu tetap salah,” kata Aron akhirnya. Lusi semakin masuk ke pelukan suaminya, mencari kehangatan, seolah tubuh Aron adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa. Aron menyadari Lusi sudah selesai bercerita. Kini giliran dirinya membuka suara. “Aku juga pernah ada di posisi itu,” ucapnya akhirnya. Lusi mendongak. “Di posisiku?” Aron menghela napas panjang, seakan harus mengumpulkan keberanian lebih dulu. “Aku pernah ada di situasi yang sama kayak kamu. Aku pernah dikendalikan secara psikologis oleh ibu Rangga,” katanya perlahan. “Dia memang pandai bers
Aron sebenarnya sudah bersiap untuk lembur malam itu. Laptopnya masih terbuka di meja kerja, jasnya belum dilepas, dan agenda operasi esok hari sudah berjejer rapi di layar tabletnya. Semua tampak berjalan seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala, sampai nama Lusi muncul di layar ponselnya, disertai getaran singkat yang entah kenapa langsung membuat dadanya mengencang. Ia mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Mas…” suara Lusi terdengar pelan. Padahl biasanya istrinya cerewet meski sedang lelah. Aron langsung berdiri. “Ada apa?” Ada jeda beberapa detik. Nafas Lusi terdengar di seberang, berat dan membuat Aron jadi tegang. “Aku… tadi ketemu Rangga.” Mendengar itu, Aron langsung mematikan laptopnya, meraih kunci mobil, dan melangkah keluar ruangan. “Aku pulang sekarang,” katanya singkat tapi tegas. “Kamu di Mansion kan?” “Iya.” “Tunggu aku. Jangan ke mana-mana.” Telepon terputus. Aron bahkan tidak menoleh lagi ke meja kerjanya. Semua prioritas malam i
Ketika Lusi tegang, Rangga malah memperlihatkan ekspresi santai dengan mengangkat bahu. “Kalau ketemu di tempat umum gini dibilang ngikutin juga?” Lusi melirik sekeliling. Ramai memang, banyak orang. Tapi entah kenapa, rasa aman itu tidak sepenuhnya hadir. Rangga berdiri terlalu dekat, auranya terlalu menekan. “Kita gak ada urusan,” ucap Lusi dingin. “Jangan dekati aku lagi.” Rangga tersenyum lebih lebar, tapi matanya kosong. “Masih galak aja. Padahal sekarang hidup kamu enak, kan? Jadi nyonya besar.” Lusi menggertakkan gigi. “Jangan bawa-bawa statusku. Itu bukan urusanmu.” “Oh, tapi itu urusanku,” balas Rangga cepat. “Karena hidup kamu berubah bags, tapi hidup aku berantakan.” Kalimat itu membuat bulu kuduk Lusi berdiri. Ia mundur setengah langkah, menjaga jarak. “Pilihan kamu sendiri,” katanya. “Aku gak pernah maksa kamu untuk menjadi pria brengsek!” Rangga mencondongkan badan sedikit, suaranya diturunkan. “Tapi kamu ninggalin aku tanpa penjelasan. Tiba-tiba jadi is
Rasa penasaran Lusi kemudian tersampaikan pada suaminya. Saat pulang bersama di dalam mobil, Lusi bersandar di pundak Aron yang sibuk mengetik di laptopnya. "Mas, kenapa ya akhir-akhir ini gak liat Kak Gabriella?" tanya Lusi. Aron menghentikan ketikannya dan menoleh ke arah istrinya. "Kenapa tiba-tiba tanya gitu?" Lusi menggeleng. "Hanya tadi Ayu tanya, aku jadi ikut penasaran." "Balik ke Berlin, mungkin." Mendengar jawaban cuek dari suaminya, membuat Lusi agak heran. Apakah hubungan mereka tak sejauh itu, seperti gosip yang beredar? "Jadi hubungan kamu sama dia seperti apa?" tanya Lusi. "Maksudmu gimana, hubunganku sama dia selamanya hanya rekan bisnis dan teman bisnis. Artinya tidak ada yang akan berubah dari kami." "Jadi kamu bener-bener gak tau apa-apa tentang dia?" Aron agak heran dengan pertanyaan istrinya yang seperti cemburu. "Kamu cemburu?" Lusi langsung terkejut. Ia bangun dari senderan di pundak Aron, dan menatap suaminya dengan tajam. "Jelas aku cembu
Rangga ||| "Mau sampe kapan kamu nutupin dosa itu?" Lusi menatap layar lama. Inilah inti dari semuanya, Rangga tak tau kalau Aron bukan ayah kandungnya. Sehingga ia terus menganggap bahwa pernikahan mereka adalah dosa. Lagipula, mengapa pula Rangga mengurusi urusan rumah tangganya dan Aron. Bukannya ia sudah bersama selingkuhannya. Mengapa pria itu masih mengganggunya, padahal mereka harusnya sudah sama-sama berjalan di jalan masing-masing. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap taman. Langit begitu gelap, awan bergerak pelan. Dunia tetap berjalan, meski kepalanya terasa penuh. Pintu depan terbuka pelan, dan itu adalah Aron yang baru pulang. Lusi langsung menoleh, langkahnya cepat menghampiri suaminya tanpa berkata apa-apa, hanya menyodorkan ponsel. Aron membaca, kali ini lebih lama dari biasanya. “Akhirnya,” katanya pelan. Lusi menatapnya cemas. “Akhirnya apa?” “Dia masuk ke wilayah yang gak bisa dia kendalikan,” jawab Aron. “Dan dia pikir dia puny







