LOGINBegitu sambungan terputus, Dina menurunkan ponselnya dengan lemas. Satu ancaman belum usai, dan kini ia harus menelan kenyataan pahit tentang harapan orang tuanya akan kehadiran seorang cucu. Miris sekali hidupnya. Di saat orang tuanya menanti kehidupan baru, suaminya justru hampir menjualnya seperti barang bekas.Tak ingin membuang waktu, Dina segera menghubungi kedua adiknya yang sedang merantau. Ia menanyakan kabar dengan suara yang dibuat seceria mungkin, menyembunyikan badai yang sedang menghantam jiwanya. Baru setelah memastikan bahwa keduanya baik-baik saja dan tidak ada gangguan apa pun di sekitar mereka, Dina bisa mengembuskan napas panjang.Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Ia tahu Arka bukan tipe pria yang menggertak tanpa rencana. Arka adalah ular yang menunggu saat yang tepat untuk mematuk.“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya lirih. Ia merosot dari ranjang, duduk bersimpuh di lantai yang dingin sambil memeluk kedua lututnya. Matanya nanar menatap layar po
“Sialan! Bagaimana mungkin?”Serua Arka menggema, disusul suara dentuman keras saat lengannya menyapu kasar seluruh permukaan meja mahoganinya. Tumpukan berkas hingga plakat kristal melayang dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Ruangan itu kini menyerupai medan perang, mencerminkan isi kepalanya yang sedang kalut. Ia terengah, kedua telapak tangannya bertumpu pada pinggiran meja yang sudah kosong. Urat-urat di pelipisnya menegang, berdenyut seirama dengan amarah yang membakar dadanya. Ia tidak pernah membayangkan Davin—pria yang selalu ia anggap remeh—ternyata mampu membuat predator sekelas Moretti gemetar ketakutan dalam semalam.Matanya berkilat liar. Jika uang dan kekuasaan tidak bisa meruntuhkan Davin, maka ia akan menghancurkan pria itu melalui satu-satunya kelemahan yang tersisa, yaitu Dina.Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Dina. [Pulang sekarang, atau aku pastikan orang tua dan kedua adikmu dalam masalah!]Begitu tombol kirim ditekan, Arka melempar
Setelah memastikan Dina terlelap, Davin segera beranjak meninggalkan Apartemen setelah memastikan keadaan aman bagi Dina. Ia akan menemui Arka dan memberi perhitungan setelah apa yang telah pria itu lakukan pada kekasihnya itu. Ia memacu mobilnya membelah jalanan kota. Tangannya mencengkeram kemudi dengan begitu kuat. Berdasarkan laporan singkat yang masuk ke ponselnya, Arka sedang berada di kantornya. Mungkin sedang merayakan keberhasilan rencananya. Davin tidak menambah kecepatan secara ugal-ugalan. Ia berkendara dengan kecepatan sedang yang penuh perhitungan. Menghitung setiap detik untuk mengumpulkan semua amarahnya. "Kau sudah menggali kuburanmu sendiri, Arka," desisnya rendah. Sorot matanya terpaku pada gedung pencakar langit yang mulai terlihat di cakrawala.–Di ruang kerjanya yang mewah, Arka menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Senyum puas menghiasi wajahnya. Ia melihat lagi kontrak kerja sama dengan Moretti yang sudah ditandatangani. Kertas berharga itu adalah seb
Dina menarik sabuk pengaman di kursi pesawat pribadi itu hingga terdengar bunyi klik. Ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata sejenak saat deru mesin mulai menggetarkan kabin. Malam itu juga Davin langsung membawanya terbang meninggalkan semua ketakutan di kediaman Moretti. Rasa lega yang ia rasakan terganti dengan amarah yang hampir meluap. Bayangan Arka muncul. Senyum licik dan sikap tak acuhnya itu membuatnya meradang. Tidak disangka kalau ia akan diserahkan oleh suaminya sendiri pada orang asing seperti barang dagangan yang menguntungkan. Dina mencengkram erat sandaran tangan kursi. Ia tak ingin menangis lagi. Kali ini rasa sakit itu menjelma menjadi keinginan untuk berdiri di depan Arka dan menuntut pertanggungjawaban atas pengkhianatan yang tak termaafkan ini. Ia tersentak saat Davin mengulurkan tangan menyentuh bahunya. “Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu. Ia menatap wajah pucat Dina dan tangan yang mencengkram erat sandaran tangan kursi dengan khawatir. Dina memaksak
Dina menangkap kegelisahan yang mendadak menyerang Moretti. Pria itu berdecih kasar, lalu menyahut dengan nada tinggi yang dipenuhi amarah.“Baiklah! Aku akan memerintahkan asistenku untuk menjemputmu!” teriaknya ke arah ponsel.Tanpa mempedulikan Dina, Moretti merutuk panjang dalam bahasa yang tak ia pahami. Pria itu berbalik cepat, melangkah tergesa meninggalkan kamar dengan langkah kaki yang berdentum di atas lantai marmer. Klik. Suara kunci pintu yang diputar dari luar kembali bergema, mengurung Dina dalam keheningan yang mendadak.Dina meluruhkan bahunya, membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di kerongkongan. Jantungnya masih berpacu, namun ada rasa lega yang merayap di dadanya. Sesuatu mungkin sedang mengusik sang tuan rumah. Dina menyambar ponselnya dengan jari bergetar, segera mengetikkan pesan untuk Davin.[Mas, Moretti baru saja keluar. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku perlu memanjat turun lewat balkon?]Hanya butuh beberapa detik sampai layar ponselnya
Davin tahu taruhannya adalah nyawa saat memutuskan menyelinap ke kediaman Moretti yang dijaga ketat. Namun, ia tidak bisa berdiam diri saat wanita yang ia cintai sedang dalam bahaya. Untuk itu, apa pun resikonya akan ia hadapi asal Dina bisa ia bawa kembali ke rumah. "Pak, jangan gegabah!” Asistennya bernama Jefri menahan lengan Davin, matanya menatap tajam dari balik kacamata. Ia menunjuk layar tablet yang menampilkan denah keamanan. "CCTV infra merah terpasang di setiap sudut, bahkan di ujung jalan ini. Semuanya terhubung langsung ke pusat komando Moretti."Davin tetap diam, namun gurat rahangnya menonjol tajam. Di bawah cahaya remang kabin mobil, dahi pria itu berkerut dalam, menciptakan parit-parit kecemasan yang tampak jelas saat ia menatap kosong ke luar jendela.Ujung jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran tablet dengan ritme cepat dan tak beraturan, sebuah tanda bahwa otaknya sedang bekerja keras menimbang setiap risiko. Ia tidak sedang hanya mencari jalan masuk, melainkan mencar







