MasukDina merasakan napasnya tersangkut di tenggorokan. Satu sentuhan ringan di pinggangnya sudah cukup membuatnya kehilangan kendali sepersekian detik.
Davin mendorong pintu di belakang mereka dan membiarkannya terbuka. Ia tidak berkata apa pun, hanya menatap Dina dengan mata yang seolah meminta izin. “Mas Davin, bagaimana kalau ada yang melihat kita?” tanyanya gugup. “Tidak akan ada yang tahu,” sahut Davin tenang. Ruang di belakang mereka terasa sunyi. Dina tahu satu langkah yang ia ambil bisa mengubah segalanya. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Davin dengan hati yang berperang antara logika dan kerinduan. Dina melirik sekitarnya, memastikan tak ada yang memperhatikan sebelum akhirnya melangkah masuk. Pintu tertutup pelan di belakang mereka, meninggalkan keheningan yang terlalu dekat. Dina tahu ini salah, tapi pikirannya terasa bising. Setiap kali menatap mata Davin, semua alasan yang seharusnya membuatnya pergi justru memudar. “Aku sangat merindukanmu, Dinarayu.” Dina menatapnya, senyum getir muncul di bibir. “Kalau kamu merindukanku, kenapa tidak kembali menemuiku?” Davin menarik napas pelan, menunduk sejenak sebelum menjawab. “Aku pikir kamu sudah tidak nyaman berada di sekitarku lagi.” “Kenapa kamu bisa berpikir begitu?” tanyanya pelan, ada getar halus antara kecewa dan ingin marah. Davin mengedikkan bahu, pandanganya tak lepas dari wajah teduh Dina. “Entahlah. Waktu itu aku merasa kalau kamu mulai menjauh.” Dina mengerutkan kening. Ia mengingat kembali setiap pertemuan dan percakapan. Tidak ada yang aneh. “Mas—” Suara Dina nyaris hanya berupa bisikan. Ia tak sempat menyingkir saat Davin mencondongkan tubuh mendekat, jarak di antara mereka hanya sejengkal. Napas hangatnya menyentuh kulit wajah Dina, membuat pikirannya bergetar antara sadar dan tidak. “Enam tahun berlalu…” suara Davin terdengar rendah, “…dan kamu semakin cantik.” “Mas Davin, kita terlalu dekat,” kata Dina pelan, tapi nada suaranya tidak lagi setegas yang ia harapkan. Davin seolah tak peduli pada kegelisahan Dina, ia semakin mengikis jarak. “Aku sangat merindukanmu,” lirihnya. “Sampai rasanya aku tidak sanggup menahan diri lebih lama lagi.” Davin menatapnya dalam-dalam, seolah mencari sesuatu di matanya. “Bisakah, Dinarayu?” katanya pelan. Tidak jelas apakah itu permintaan, penyesalan, atau sekadar kerinduan. Dina kaget sekaligus bimbang. “Mas, jangan begini,” ujarnya pelan, mencoba menata napas. “Aku sudah menikah dan kamu juga punya tunangan.” Davin menghela napas panjang, mata penuh sesal. “Aku tahu. Tapi sejak bertemu denganmu lagi, rasa yang seharusnya sudah hilang itu muncul kembali.” Dina menggigit bibir, menunduk. Jantungnya bergetar hebat. Kata-kata itu begitu lembut, tapi juga berbahaya. “Kalau begitu, tolong hentikan. Ini salah,” bisiknya. Davin seolah tuli. Ia menarik Dina lebih dekat, hingga jarak dinatara mereka lenyap begitu saja. “Mas Davin… “ Dina berusaha menghindar. Ia menarik napas mencoba menenangkan diri. Penolakan itu tidak membuat Davin berhenti. Tatapan matanya tajam, dalam, seolah menelusuri setiap inci wajah Dina. “Mas, kita tidak boleh seperti ini,” mohon Dina lirih, tapi tubuhnya tak bergerak. Ia tak sanggup berpaling, tatapan tajam lelaki itu seakan mengunci seluruh dirinya Davin tak menjawab, ia menunduk perlahan, jarak di antara mereka kian menipis sampai bibir mereka bersentuhan ringan—singkat, tapi cukup untuk membuat Dina terpaku. “Davin, hentikan!” suaranya bergetar, di antara marah, takut, dan bingung. Melihat reaksi itu, Davin tersenyum tipis. “Aku tidak bisa,” bisiknya, lalu kembali mencuri satu kecupan lagi, kali ini lebih lama dan dalam. Dina sempat mendorong dada Davin, tapi tangan lelaki itu sudah lebih dulu menahan tengkuknya. “Berhenti… tolong,” bisiknya diantara napas yang tersengal. “Sudah terlalu lama aku menahan ini,” balas Davin pelan, suaranya serak, nyaris seperti pengakuan. Ia kembali menciumnya, kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Dunia seolah berhenti di antara mereka. Dina tak tahu kapan ia mulai membalas, kapan jemarinya terangkat menyentuh dada Davin yang hangat. Saat tangan Davin menyusuri punggungnya, Dina nyaris kehilangan pijakan. “Mas Davin, jangan…” katanya terbata, menoleh ke samping, memutus ciuman yang masih membekas di bibirnya. Lelaki itu menatap tajam, rahangnya mengeras. Ada ketidaksukaan yang jelas di matanya, tak rela jika jarak di antara mereka kembali terbuka. “Kamu juga merasakan hal yang sama, kan?” bisik Davin, tangannya menahan Dina agar tidak berpaling darinya. “Mas… ini salah,” lirih Dina, mencoba mendorong Davin menjauh. Davin menggeleng pelan, suaranya berat. “Tidak, Dina. Tidak ada yang salah.” Dan sebelum Dina sempat menjauh, jarak diantara mereka kembali lenyap. Sentuhan itu semakin dalam, sampai tangan kekarnya yang mulai menelusuri lebih jauh terhenti saat suara ponsel berdering keras. Dina tersentak, mendorong kuat tubuh Davin dengan panik. “Sial!” umpat Davin. Tatapannya tajam menahan kecewa dan marah. Dina meraih clutchnya yang terjatuh, lalu mengambil ponsel di dalamnya. Begitu melihat nama yang muncul di layar, wajahnya memucat. Matanya kembali menatap Davin penuh cemas. “Aku harus kembali, suamiku sudah mencari,” ucap Dina terburu-buru. Tanpa peduli pada penampilannya yang berantakan, ia tergesa keluar sambil menyeka peluh di dahinya. Davin menatap punggung kecil itu sambil menyentuh sudut bibirnya yang masih menyisakan jejak lipstik, dan mengusapnya pelan. Sementara itu, Dina menarik napas panjang sebelum melangkah masuk kembali ke aula. Ia mencoba menenangkan diri, seolah ciuman di ruang sepi itu tak pernah terjadi. Pandangannya menyapu kerumunan, mencari sosok Arka di antara tamu yang sibuk bercakap, sementara dadanya masih berdebar tak karuan. “Kemana saja kau?” Suara Arka terdengar datar membuat Dina menoleh cepat. Lelaki itu berdiri tak jauh darinya, satu alis terangkat menatap wajah istrinya yang tampak gugup dan sedikit berantakan. “Dari toilet, Mas,” jawab Dina, berusaha menahan getar disuaranya. Arka menghela napas pendek, lalu menatap jam di pergelangan tangannya. “Kemarilah. Beberapa kenalanku ingin bertemu denganmu.” Ia menautkan jemari Dina di lengannya, lalu menuntunnya kembali ke tengah pesta. Langkah Dina hampir goyah ketika melihat Davin berdiri tegak di tengah aula, menatapnya tajam tanpa ekspresi. Tatapan itu membuat Dina sadar, yang terjadi tadi hanya awal dari sesuatu yang lebih berbahaya. **Dina mengangguk perlahan, mencoba menyerap setiap kata yang diucapkan Davin sebagai penawar rasa takutnya. "Jangan terlalu dipikirkan. Kita masih punya bukti untuk memberatkan Arka di pengadilan nanti," Davin menggenggam tangan Dina, memberikan tekanan yang menenangkan. "Semua akan berakhir begitu kebenaran terungkap." Dina kembali mengangguk, meski hatinya masih terasa berat. Sorotan tajam dan penghakiman di media sosial terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik; bagaimana orang-orang yang tidak pernah mengenalnya bisa begitu yakin dengan asumsi yang mereka karang sendiri, lalu menggiring opini seolah ia yang paling bersalah. Davin menyadari perubahan raut wajah Dina. Ia mengusap kening wanita itu, berusaha menghapus kerutan cemas di sana. "Beristirahatlah. Kamu sudah melalui banyak hal hari ini. Biar aku yang menyiapkan makan malam." "Aku saja, Mas," sela Dina, merasa tidak enak jika hanya berdiam diri. "Tidak kali ini." Davin menahan bahu Dina dengan lembut, memaksa wa
Dina bisa merasakan setiap pasang mata di sekitarnya seolah menghakimi, meskipun yang ia temui hanya orang tak dikenal yang berpapasan dengannya di jalan. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk menyentuh ponselnya; nama dan fotonya telah beredar luas di media sosial dengan narasi yang menyudutkan. Puluhan pesan dari adiknya pun sengaja ia biarkan tanpa respon.Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kekacauan ini kepada keluarganya tanpa membuat mereka ikut menanggung malu. Namun, di tengah hiruk-pikuk hujatan publik, hanya satu ketakutan yang benar-benar menghimpit dadanya: kondisi ibunya.Ia takut berita ini sampai ke telinga sang ibu sebelum ia sempat bersimpuh dan memohon maaf secara langsung.“Mas?” panggil Dina pelan begitu memasuki rumah.Davin yang tampak gelisah sejak tadi, langsung menyongsongnya. “Gimana tadi?” tanyanya tanpa basa-basi begitu menutup pintu utama.Dina menghela napas berat, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. “Mas Arka tetap bersikeras tidak mau berc
Arka terpaku. Seluruh aliran dana untuk reservasi hotel dan pembelian barang mewah yang ia sembunyikan ternyata tercatat rapi di bawah pengawasan kakeknya. Ia tidak menyangka Arman akan melangkah sejauh itu. “Setelah mendapat bukti kekerasanmu pada Dina dan keterlibatanmu dalam pembakaran restorannya, Kakek menyuruh orang untuk menelusuri segalanya. Termasuk semua transaksi yang kamu rahasiakan itu,” jelas Arman dingin. Arka kehilangan kata-kata. Kebohongannya runtuh tanpa sisa. Ester yang tadinya vokal, kini terpaku menatap putranya dengan ekspresi syok yang mendalam.“Nak? Katakan sesuatu. Bilang kalau semua itu bohong!” tuntut Ester lirih. Ia menatap cemas, berharap ada satu saja kalimat bantahan dari Arka. Namun, Arka hanya diam membisu.“Sudahlah, Ma. Terima saja kalau anak kita memang bersalah,” sela Hendrik. Ia menatap Arka dengan kekecewaan yang nyata, lalu beralih pada istrinya. “Aku setuju mereka bercerai. Bukankah dari dulu kamu bilang Dina tidak pantas menjadi menantu ke
Keheningan berat menyusul ucapan Arman. Ester terdiam tak berani membantah. Sementara itu, Hendrik menarik napas panjang, ia tahu jika ayahnya sudah berbicara, maka tak ada lagi ruang untuk membantah. “Aku tidak akan menceraikan Dina, Kek,” ujar Arka tegas. “Kakek pikir dengan bercerai semua masalah selesai? Nama baikku sudah terlanjur rusak karena skandal perselingkuhannya. Melepaskannya sekarang hanya akan membuatnya merasa menang!” Arman menatap cucunya dengan sorot mata kecewa. “Masalahnya bukan siapa yang menang atau kalah, Arka. Masalahnya adalah kamu sudah menjadi monster dalam pernikahanmu sendiri.”“Dina yang memulainya, Kek! Dia yang mencari laki-laki lain!” bantah Arka, suaranya naik satu oktaf.“Dia mencari laki-laki lain karena kamu tidak pernah menganggapnya ada!” Arman memotong dengan tegas. Ester tidak tahan untuk tidak membela putranya. “Apa perselingkuhan itu bisa dibenarkan, Pa? Apa pun alasannya, Dina sudah berkhianat!”“Lalu menurutmu, perbuatan Arka selama ini
“Kekerasan? Apa maksudmu, Dina?” tanya Ester dengan nada menuduh, matanya beralih menatap Dina dan Arka bergantian, mencari kebohongan di sana.Arka mendengus, seolah tuduhan itu adalah lelucon. “Aku memukulnya kemarin karena dia ketahuan selingkuh. Apa salah seorang suami memberi pelajaran pada istri yang tidak tahu malu?”“Bukan itu!” seru Dina. Ia menoleh ke arah Ester dan Hendrik, matanya berkilat penuh amarah yang sudah ia pendam bertahun-tahun.“Anak kalian ini bukan hanya memukuliku kemarin. Dia menyiksaku dengan kata-kata tajam setiap hari. Dia merendahkanku seolah aku ini sampah di rumah!” Dina menunjuk Arka, suaranya naik satu oktaf. “Bahkan sejak malam pertama pernikahan kami sampai detik ini, dia tidak pernah mau menyentuhku. Tidak sekalipun!”Ester dan Hendrik ternganga, wajah mereka memucat mendengar kejujuran itu.“Semua itu dia lakukan dengan sengaja,” lanjut Dina dengan napas memburu. “Dia menikahiku hanya untuk menjadikanku tawanan. Dia ingin melihatku menderita set
"Kenapa kamu harus ke sana sendirian, Dina?” suara panik Davin terdengar sangat kontras dengan ketenangan yang mulai menyelimuti Dina. Dina menatap keluar jendela taksi, memperhatikan deretan kendaraan yang berlalu. “Tenang, Mas. Aku tahu apa yang aku lakukan,” sahutnya pelan. “Aku harus menyelesaikan ini. Mertuaku memintaku datang untuk menandatangani surat cerai. Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini.”“Tapi mereka bisa menyakitimu, Dina. Aku tidak tenang membiarkanmu menghadapi mereka sendirian, apalagi dalam situasi panas seperti sekarang.” Davin bersikeras, kecemasan terdengar jelas dari nada bicaranya. Dina menghembuskan napas panjang, mencoba memantapkan hatinya. “Mas, selama ini aku selalu bersembunyi. Kali ini tidak lagi. Aku akan ke sana untuk mengambil kembali sisa harga diriku. Kalau mereka mau cerai, akan aku sanggupi. Bukankah ini yang kita tunggu?” “Baiklah-baiklah. Tapi beritahu aku posisi kamu sekarang. Aku jemput dan kita ke sana bersama,” seru Davin. Di seberan







