Home / Romansa / Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya / Bab 7. Tak bisa berpikir jernih

Share

Bab 7. Tak bisa berpikir jernih

Author: Ralonya
last update Last Updated: 2025-10-21 21:50:01

Hari-hari terasa cepat berlalu. Begitu pulang dari restoran, Dina langsung menuju kamar. Malam ini, pukul tujuh, ia dan Arka harus menghadiri acara keluarga Halim di hotel.

Menjelang waktu yang ditentukan, Dina berdiri di depan cermin, memperhatikan bayangannya yang tampak sempurna di balik gaun berwarna lembut. Ia merapikan rambut, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.

“Lakukan seperti biasa, Dina,” gumamnya pelan.

Menjadi istri Arka berarti harus selalu siap tampil di sampingnya. Tersenyum di waktu yang tepat, menjaga sikap, dan menyimpan hal-hal yang tak boleh diucapkan.

Tepat pukul tujuh, mereka tiba di hotel. Sepanjang perjalanan, Arka terus mengingatkannya untuk tersenyum, jaga sikap, jangan menimbulkan masalah. Dina hanya mengangguk. Setahun bersama, ia sudah hafal perannya di depan publik.

Dina berdiri di samping Arka, menyesuaikan langkah setiap kali pria itu melangkah menyapa rekan bisnis. Ia tersenyum secukupnya, sekadar menjaga penampilan.

“Jangan lupa senyum,” bisik Arka pelan tanpa menoleh.

Dina hanya mengangguk kecil. “Iya, Mas.”

Aula Luminara Hotel malam itu tampak gemerlap. Lampu kristal bergelayut di langit-langit tinggi, memantulkan cahaya lembut di dinding marmer. Musik klasik mengalun pelan, bercampur dengan tawa dan percakapan para tamu berbusana formal.

Di tengah keramaian, pandangan Dina terhenti. Di seberang ruangan, seorang pria berdiri dengan setelan rapi dan aura tenang yang langsung mencuri perhatiannya. Senyum tipis terbit di wajahnya—senyum yang dulu membuatnya jatuh cinta.

Arka menepuk punggung tangannya, memberi isyarat agar mereka mendekat.

“Ingat, jaga sikap.” Ia kembali mengingatkan.

Dina mengangguk patuh, meski dalam hati mendesah jengkel. Arka memang selalu begitu.

Saat itu Davin tidak sendiri, di sampingnya berdiri seorang wanita bergaun lembut, anggun, dan berkelas. Dina sempat menyipitkan mata. Wajah itu terasa familiar, tapi ingatannya buram.

Lalu pandangannya bertemu dengan Davin yang sudah lebih dulu menatapnya. Seketika jantung Dina berdegup kencang, dan hangat aneh menjalari wajahnya.

“Akhirnya kalian datang juga,” suara Davin memecah jarak di antara mereka.

Tatapan Davin kembali jatuh pada Dina. Malam ini, ada yang berbeda darinya. Rambut hitamnya tergerai lembut di punggung, gaun sederhananya jatuh anggun mengikuti gerak tubuh, dan cara ia menunduk membuat segalanya terasa pas dan memikat.

“Tentu saja,” jawab Arka. “Undangan darimu tidak mungkin aku abaikan begitu saja.” Ia lalu melirik ke arah wanita di sisi Davin. “Ini tunanganmu?”

Davin menoleh ke samping, tersenyum tipis. “Namanya Natania,” katanya memperkenalkan. “Natania, ini temanku, Arka dan istrinya.”

“Arka Wiratama.” Arka lebih dulu mengulurkan tangan. Senyumnya tipis, tapi tatapannya sulit ditebak. Natania menyambut dengan ramah.

Sesaat ada jeda sebelum Dina ikut menyodorkan tangan. “Dinarayu,” ucapnya sopan.

“Natania Ardena,” sahut wanita itu lembut, senyumnya hangat dan tenang.

Tak butuh waktu lama bagi Dina untuk mengerti kenapa semua mata tertuju pada Natania malam ini. Wanita itu adalah putri tunggal pemilik Ardena Resort, salah satu resort termewah di kota ini. Wajar jika setiap geraknya menarik perhatian.

Dina menunduk, menatap ujung jemarinya yang bergetar samar. Ia tersenyum pahit. Bagaimana mungkin ia bisa menyaingi wanita seperti itu? Sekadar berdiri di hadapannya saja sudah cukup membuatnya merasa kecil.

“Mas, aku ke sana dulu, mau ambil minum. Tenggorokanku kering,” ucap Dina cepat, berusaha terdengar santai.

“Mau aku ambilkan?” tawar Arka, nada suaranya lembut.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Dina. Ia menyunggingkan senyum kecil lalu bergegas menyingkir ke arah meja minuman.

Segelas air bening jadi pelariannya malam itu. Dina meneguk perlahan, membiarkan dinginnya meluncur ke tenggorokan, meninggalkan sedikit rasa lega di tengah sesak yang tak bisa dijelaskan. Alih-alih kembali ke sisi Arka, ia memilih berdiri di tepi ruangan. Dari sana, ia bisa melihat suaminya tertawa kecil, begitu luwes berbincang dengan para tamu. Pemandangan yang sudah terlalu sering ia lihat, tapi tak pernah bisa ia rasakan sebagai istrinya.

Terlalu larut memperhatikan sekitar, Dina tak sadar ada langkah lain yang mendekat dari arah berlawanan.

Langkah itu berhenti beberapa meter darinya. Dina menoleh dan di sanalah Davin berdiri tegap dalam jas abu-abu muda yang kontras dengan sorot matanya yang hitam dan hangat.

“Senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Senyum sopan terbit di wajah Dina meski hatinya mendadak kacau. “Aku juga, Mas,” sahutnya pelan.

Davin menatapnya sedikit lebih lama. Dibalik senyum yang tampak tenang, rindu itu menyeruak pelan dan tak bisa dihentikan.

“Sudah cicipi hidangannya?” tanya Davin sambil menoleh ringan ke arah meja panjang di sisi aula.

Dina ikut melirik ke barisan meja penuh dessert, canape, dan hidangan utama yang tertata rapi. “Belum, Mas. Nanti saja,” jawabnya.

Davin tersenyum tipis. “Cobalah. Beberapa dessert di sana tidak terlalu manis. Kesukaanmu.”

Nada suaranya tenang, tapi ada kehangatan samar yang membuat dada Dina bergetar. Davin masih terlalu hafal pada detail kecil yang seharusnya sudah ia lupakan.

Dina menunduk, berusaha menyembunyikan gugup yang perlahan merayap. Hangat aneh kembali menjalari kulitnya. Ia menarik napas pelan, tapi udara terasa menipis, seolah ruangan tiba-tiba kehilangan oksigen.

Davin melirik ke arah kerumunan sebelum kembali menatapnya. Tangannya terangkat menyentuh punggung tangan Dina. Sentuhan itu lembut, tapi membuatnya tersentak kecil.

“Bisa ikut aku sebentar?” ujarnya lembut, tapi caranya menatap membuat kalimat itu terdengar seperti perintah.

“Kemana, Mas?”

Davin menggenggam lembut tangannya. “Lima menit saja,” bisiknya.

Dina menahan tangannya sejenak. Ada keraguan juga rasa takut. Pandangannya sempat melirik ke arah Arka yang masih sibuk berbincang di sisi lain ruangan.

“Aku cuma butuh lima menit.” Ia menarik tangan Dina, cukup untuk membuatnya tahu ia tidak diberi pilihan.

Dina sempat menoleh ke arah Arka, tapi langkahnya sudah mengikuti irama langkah Davin. Lelaki itu menuntunnya melewati koridor panjang yang sepi. Gerakannya tenang dan terukur, seolah sejak awal ia tahu persis ke mana harus membawa Dina.

Saat berhenti di ujung koridor yang temaram, Dina baru sadar tubuhnya bergetar. Ada jarak di antara mereka, tapi genggaman Davin tak juga terlepas.

“Mas Davin, aku tidak bisa berlama-lama di sini.”

“Aku tahu,” jawab Davin tenang, sorot matanya meredup. “Tapi malam ini kamu cantik sekali.”

Dina mencoba tersenyum. “Mas—” Tangan yang menggenggam clutch-nya bergetar halus.

Dina menarik napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya yang menggila. Untuk sesaat, ia lupa kalau ia bukan lagi gadis kampus yang bebas bermimpi. Ia kini seorang istri, terikat pada kenyataan yang tak bisa dihapus hanya oleh tatapan lembut atau kata-kata manis dari pria lain.

Davin melangkah mendekat, memutus jarak di antara mereka. “Aku masih ingat semua hal kecil yang dulu kamu lakukan tanpa sadar… hal-hal yang selalu bikin kamu terlihat menarik.”

Di jarak sedekat itu, Dina nyaris tak bisa berpikir jernih.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 89. Keyakinan

    ​Rina mengusap pipi Dina dengan penuh kasih, jarinya yang kasar karena pekerjaan dapur terasa hangat di kulit Dina. “Mama dan Papa juga minta maaf karena sempat menuduhmu yang bukan-bukan. Mama tahu kamu anak baik. Sesulit apa pun keadaanmu, kamu tidak akan mungkin melakukan hal memalukan seperti itu," ujar Rina dengan nada penuh keyakinan.​Setiap kata pujian dan keyakinan dari ibunya terasa seperti sembilu yang menyayat hati Dina. Ia ingin berteriak bahwa ia telah ‘berzina’ karena mencintai Davin, pria yang benar-benar memperlakukannya sebagai manusia, bukan barang dagangan seperti yang dilakukan suaminya sendiri. Namun, ia hanya bisa diam membisu di bawah tatapan Arka yang diam-diam sedang merayakan kemenangannya.Arka yang berdiri di samping Dina harus sekuat tenaga menahan hasratnya untuk tertawa terbahak-bahak. Di matanya, pemandangan ini adalah lelucon paling lucu di dunia. Betapa mudahnya sepasang orang tua ini ditipu oleh kebohongan Dina, anak baik yang mereka banggakan. “

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 88. Kesalahpahaman

    Bagi Dina, satu jam perjalanan itu terasa tanpa akhir. Saat mobil akhirnya berhenti, ia segera membuka pintu dan turun dengan terburu-buru. Ia butuh menghirup udara segar secepat mungkin, menjauh dari aroma parfum Arka yang selama di perjalanan terasa mencekik paru-parunya. Arka menyusul di belakangnya, wajahnya tertekuk masam, menyembunyikan amarah yang baru saja diredam paksa oleh ancaman Davin. Namun, ia tak punya pilihan selain mengikuti kemauan pria itu. Baginya keselamatan kursi direktur saat ini lebih penting. Beberapa ratus meter di ujung jalan, sebuah mobil hitam terparkir dalam diam. Di baliknya ada Davin yang matanya tak lepas dari sosok Dina hingga wanita itu menghilang di balik pintu kayu rumahnya. Begitu melangkah masuk, suasana canggung menyambut mereka. Rina langsung beranjak dan menyambar kedua lengan Dina dan menariknya menjauh dari Arka. “Kamu tidak mengkhianati suamimu, kan, Dina? Jawab Mama, Nak!” desak Rina. Suaranya gemetar, matanya yang sembab menatap lekat

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 87. Ini belum selesai

    Mobil mewah Davin berhenti tepat di depan gerbang kediaman Arka. Dina menggenggam sabuk pengamannya erat-erat, tubuhnya gemetar. Davin menoleh, meraih jemari Dina yang sedingin es.“Turunlah. Aku akan menemanimu menemuinya," bisik Davin dengan suara yang menenangkan.​Mereka melangkah masuk. Di ruang tamu, Arka sudah menunggu dengan seringai kemenangan yang memuakkan. Namun, senyum itu memudar saat ia melihat Davin masuk dengan tenang di belakang Dina.​"Kau berani menampakkan wajahmu di sini setelah menculik istriku?" desis Arka sinis.​Davin tidak terpancing. Ia justru melangkah maju, berdiri di samping Dina seolah menjadi perisai wanita itu. “Aku ke sini untuk mengantar Dina pulang sesuai permintaannya. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus kita luruskan, Arka."Arka mengangguk, terkesan tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh ​Davin.“Bagaimana tanggapan publik kalau ternyata kamulah yang membakar restoran istrimu sendiri? Lalu menjual istrimu hanya demi sebuah kontrak

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 86. Ancaman dan permohonan

    Arka menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor ibu mertuanya. Sebuah seringai tipis muncul, ia tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk membuat Dina pulang padanya tanpa perlawanan. “Halo, Ma?” suara Arka mendadak berubah serak, penuh kepedihan. “Mungkin ini nyakitin mama dan papa, tapi Arka harus jujur sama kalian.”​Di seberang telepon, suara Rina terdengar panik. "Arka? Ada apa, Nak?"“Dina, Ma ... Dina pergi.” Arka menghela napas panjang yang terdengar berat. “Dina pergi kemana, Nak?”"Pergi sama Davin, Ma. Arka sudah coba cegah, tapi Davin gunain kekuasaannya buat maksa Dina ikut. Sekarang mereka tinggal bersama."​Arka memejamkan mata, mematangkan aktingnya. "Arka malu cerita ini semua, tapi Davin sudah lama terobsesi pada Dina. Arka takut Dina dicuci otaknya atau ... atau dipaksa melakukan hal yang tidak-tidak. Tolong Arka, Ma. Tolong bujuk Dina pulang sebelum semua orang tau dan merusak nama baik keluarga kita."“Tidak, Nak. Dina tidak mungkin begitu.” “Tapi m

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 85. Percaya padaku

    Begitu sambungan terputus, Dina menurunkan ponselnya dengan lemas. Satu ancaman belum usai, dan kini ia harus menelan kenyataan pahit tentang harapan orang tuanya akan kehadiran seorang cucu. Miris sekali hidupnya. Di saat orang tuanya menanti kehidupan baru, suaminya justru hampir menjualnya seperti barang bekas.​Tak ingin membuang waktu, Dina segera menghubungi kedua adiknya yang sedang merantau. Ia menanyakan kabar dengan suara yang dibuat seceria mungkin, menyembunyikan badai yang sedang menghantam jiwanya. Baru setelah memastikan bahwa keduanya baik-baik saja dan tidak ada gangguan apa pun di sekitar mereka, Dina bisa mengembuskan napas panjang.​Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Ia tahu Arka bukan tipe pria yang menggertak tanpa rencana. Arka adalah ular yang menunggu saat yang tepat untuk mematuk.“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya lirih. ​Ia merosot dari ranjang, duduk bersimpuh di lantai yang dingin sambil memeluk kedua lututnya. Matanya nanar menatap layar po

  • Dibenci Suami, Dicintai Sahabatnya   Bab 84. Kembali diancam

    “Sialan! Bagaimana mungkin?”Serua Arka menggema, disusul suara dentuman keras saat lengannya menyapu kasar seluruh permukaan meja mahoganinya. Tumpukan berkas hingga plakat kristal melayang dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Ruangan itu kini menyerupai medan perang, mencerminkan isi kepalanya yang sedang kalut. ​Ia terengah, kedua telapak tangannya bertumpu pada pinggiran meja yang sudah kosong. Urat-urat di pelipisnya menegang, berdenyut seirama dengan amarah yang membakar dadanya. Ia tidak pernah membayangkan Davin—pria yang selalu ia anggap remeh—ternyata mampu membuat predator sekelas Moretti gemetar ketakutan dalam semalam.Matanya berkilat liar. Jika uang dan kekuasaan tidak bisa meruntuhkan Davin, maka ia akan menghancurkan pria itu melalui satu-satunya kelemahan yang tersisa, yaitu Dina.Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Dina. [Pulang sekarang, atau aku pastikan orang tua dan kedua adikmu dalam masalah!]Begitu tombol kirim ditekan, Arka melempar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status