LOGINDi sinilah Alana sekarang, berdiri di depan etalase yang di dalamnya terdapat berbagai macam ponsel keluaran terbaru. Arash yang mengajaknya ke sini karena tadi mereka tidak sengaja bertemu di jalan.
"Pilih mau yang mana, nanti aku yang bayar." Seperti biasa Arash terlihat santai dengan setelan rapinya, rambut dengan gaya potongan comma hair menambah kesan karismatik dalam dirinya. "Beneran gak apa-apa? Kalau engga, kita pindah toko aja? Di sini terlalu mahal harganya." "Siapa yang bayar? Aku kan? Jadi gak usah banyak protes, kamu tinggal pilih. Kalau aku ngajak ke sini artinya aku mampu." Aura dominan Arash keluar membuat siapa saja segan menatap matanya. Begitu juga dengan Alana, dia sebenarnya malu menerima hadiah mahal, tapi menolak pun dia tidak di bolehkan. "Makasih, kak. Aku gak tahu gimana balas budi ke kakak nanti karena aku gak punya apapun." "Apa aku minta balasan? Santai saja tidak usah sungkan padaku. Kebetulan aku mengenal orangtuamu jadi anggap saja sebagai hadiah perkenalan." Alana sama sekali tidak berpikiran buruk pada Arash, pikirannya terlalu polos. "Untuk seri 17 tersedia warna lavender, white dan black. Kakaknya mau yang warna apa?" Bibir Alana sedikit terbuka melihat ponsel yang sedang booming itu, dia sering melihat iklannya di televisi usang milik neneknya di rumah. "Bagus banget..." "Mau yang mana? Kalau menurutku yang lavender lebih menarik tapi itu terserahmu saja mau pilih yang mana." "Sama. Aku juga tertarik sama warna itu, kak." Selain menghargai saran dari Arash, Alana memang tertarik saat melihat ponsel itu di keluarkan dari kotaknya. "Kami ambil yang ini, mba." Selesai dengan urusan ponsel, Arash berencana mengajak Alana makan sebelum mengantarnya pulang. "Eh? Ketemu orang miskin!" Celetukan dari seseorang di belakangnya membuat Alana mengalihkan atensinya. Bella menatap dari atas sampai ke bawah pria yang berada di samping saudari angkatnya itu. "Boleh juga cari cowo. Udah ngasih apa aja ke dia? Pasti udah gak perawan lagi, kan?" "Jaga omongan kamu, Bell! Umurku lebih tua dari kamu, gak punya sopan santun banget. Pasti gak di ajarin sama pelakor itu tentang attitude!" "Alana! Mamaku bukan pelakor!" "Bukan pelakor tapi ngerebut suami orang lain? Mana yang di rusak rumah tangga teman sendiri, emang dasar gak tahu malu!" Tangan Bella sudah mengudara siap melayangkan tamparan pada wajah kakak angkatnya itu, tapi sialnya tangannya di tahan oleh pria di samping Alana. "Berani kamu tampar Alana, hari ini juga kamu berurusan dengan polisi." Arash menghempas tangan kurus itu dengan kasar, dia menatap tajam gadis itu. Jarinya menunjuk dengan tegas, "Aku tidak tahu kamu punya masalah apa dengan Alana, tapi dari percakapan tadi bisa ku simpulkan kalau yang di katakan Alana benar, kamu tidak punya sopan santun!" Alana terdiam membiarkan Arash membelanya, baru kali ini selama bertengkar dengan Bella ada yang memihaknya. Padahal Arash tergolong orang baru, bahkan mereka baru kenal dua hari. Sementara Suryo yang notaben ayah kandungnya sendiri tidak pernah melakukan hal itu, yang ada ia di suruh mengalah terus terusan. "Kamu di kasih apa sama Alana? Awas ya, bakal aku laporin ke papa!" "Gak tahu malu, papa yang kamu maksud itu ayah kandungku! Uang yang kamu pakai itu juga hakku!" "Anak yang udah di buang lebih tepatnya. Buktinya papa lebih peduli sama aku. Dengar-dengar uang semester kamu belum di bayar, ya? Mana lagi ngurusin nenek yang penyakitan. Gak heran sih sekarang jadi simpanan gini, kalau bisa main aman ya biar gak hamil di luar nikah. Kasihan nanti papa tambah malu punya anak kayak kamu." Jangankan Alana, Arash yang mendengarnya pun ikut panas di buatnya. Kalau saja lawannya saat ini adalah seorang pria, sudah pasti di hajarnya. "Udah? Apapun omongan kamu gak akan mempengaruhi ku, terserah kamu mau ngomong apa yang jelas ibumu tetap pelakor! Pergi sekarang sebelum aku sebarin kalau kamu anaknya gundik yang udah ngerusak rumah tangga orang!" Ancaman itu berhasil membuat Bella mati kutu, dia tidak mungkin membiarkan orang-orang di sana tahu tentang kelakuan ibunya, walaupun itu semua benar. Dengan cepat kakinya melangkah menjauh, masih banyak kesempatan untuk mempermalukan Alana! "Kamu sering di tindas sama dia?" "Bukan cuma dia, tapi ibunya yang pelakor itu selalu marah-marah kalau lihat aku." "Mau makan dulu sebelum pulang?" Arash tidak ingin memaksa, dia tahu kalau Alana sudah tidak mood saat ini. "Pulang aja kak, aku udah lumayan lama ninggalin nenek di rumah, nenek lagi sakit." "Udah periksa?" Alana diam, ragu menjawabnya, tapi setelahnya ia mengangguk. "Udah. Tapi cuma konsul biasa." "Hari ini juga kita bawa nenek ke rumah sakit, masalah biaya biar aku yang tanggung."A-apa? Apa maksud Arash menyuruhnya cek sendiri? "Gimana cara ngeceknya? Aku mana bisa bedain kamu masih perjaka atau engga." Iyakan? Alana kan bukan dokter. Arash menarik tangan istrinya itu, menuntunnya membelai dada bidangnya yang masih di lapisi pakaian. Napas Alana memburu, batinnya berteriak menyuruh untuk menarik tangannya, tapi otaknya tidak sejalan dengannya. Arash semakin menjadi, ia memasukkan jemari Alana kedalam pakaiannya. Rasa hangat langsung Alana rasakan saat kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Arash tanpa penghalang apapun. Perut kotak-kotak dan keras membuat pikiran Alana semakin gila saja. "A-Arash!" Wajahnya merah padam. "Ish! Mana boleh kayak gini! Mesum banget sih, padahal masih siang! Kamu gak lihat matahari masih tinggi?" Alana menutupi kegugupannya dengan mengomel. Arash terkekeh pelan, tapi tangannya tidak bergerak lebih jauh. Ia justru menahan Alana agar tetap dekat, seolah menikmati kegugupan itu lebih dari apa pu
Dua hari kemudian Arash benar-benar menepati janjinya mengajak sang istri jalan-jalan. "Labuan Bajo? Aku kira kamu bakal ngajak keliling Eropa." "Kamu maunya kesana? It's oke, kita batalin perjalanan ke Labuan Bajo, aku suruh Beni pesan tiket ke Paris. Bagaimana?" Uang bukanlah masalah bagi Arash asal istrinya senang. "E-enggak! Maksudku bukan gitu. Aku suka kok honeymoon kesini. Apalagi banyak tempat wisata yang bisa kita datengin." Alana menyela cepat. Ia sudah bilang kemanapun Arash mengajaknya, ia akan ikut. Arash menahan senyum di sudut bibirnya. Tangannya terangkat, mengusap kepala Alana lembut—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan tanpa sadar."Aku tahu," ucapnya pelan. "Makanya aku pilih Labuan Bajo dulu. Kamu butuh tenang setelah menghadapi kejadian akhir-akhir ini " Alana menatapnya, sedikit terkejut."Kamu kepikiran sejauh itu?"Arash mengangguk singkat. "Honeymoon itu bukan soal ke mana, tapi sama siapa."Pesawat mendarat mulus. Begitu mereka keluar dari bandara,
Berita tentang pernikahan megah Arash dan Alana tayang di televisi ruang umum penjara sore itu.Suara pembawa berita terdengar jelas, menyebut nama mereka berdua sambil menampilkan foto Alana dengan gaun putih dan senyum bahagia.Di salah satu sel, Dewi menatap layar itu dengan mata membelalak, napas tersengal.Tubuhnya menegang, jemarinya mencengkeram kuat jeruji besi hingga buku jarinya memutih."Anak jalang itu…" desisnya pelan, lalu meningkat menjadi teriakan."PELACUR MURAHAN! Dia gak boleh hidup bahagia! Dia gak pantas!"Teman satu selnya memutar bola mata, bosan."Diam, Dewi! Teriakanmu gak bakal bikin kamu keluar dari sini."Dewi mendengus, rambutnya acak-acakan, matanya menatap liar."Aku akan keluar! Aku akan keluar, dan saat waktu itu datang—aku akan merebut segalanya!" Ia tertawa miring, tapi tawanya terdengar seperti orang yang hampir kehilangan akal.---Sementara itu, di sel berbeda, Suryo duduk diam di ranjang sempitnya.Ia juga mendengar berita yang sama dari televis
"Arash! Jangan ngomong aneh-aneh, masih banyak tamu disini." Bisik Alana sembari menyebut pelan lengan suaminya yang terlapisi jas. "Hahaha. Oke-oke, tapi nanti malam kamu akan ku buat tidak bisa jalan, sayang." Alana memandang Arash dengan sorot ngeri, seolah-olah pria itu adalah predator yang siap memangsanya. Tak lama kemudian beberapa rekan bisnis Arash mendekat mengucapkan selamat pada keduanya. Acara berlangsung meriah dan lancar tanpa hambatan apapun, ada beberapa kamera terpasang dalam acara tersebut. Bukan Arash yang mengundang, tapi para pemburu berita sendiri yang datang."Nanti pasti jadi trending topik lagi acara nikah kita ini." Tukas Alana tepat setelah masuk kedalam kamar. Beberapa jam yang lalu persta berakhir, Arash langsung memboyong Alana ke villa pribadinya. "Biarkan saja. Malam ini jangan pikirkan apapun selain tentang kita." Ia membimbing Alana duduk di tepi ranjang. Lampu kamar temaram, tirai bergoyang pelan tertiup angin malam. Arash menunduk, mengecu
Arash mencium keningnya singkat, lalu menempelkan dahinya ke dahi Alana."Aku tidak akan bangkrut hanya karena memanjakanmu.""I even want to."Lalu ia tersenyum kecil, nada suaranya berubah menggoda."Kalau perlu, kamu suruh aku beli Jakarta pun, aku akan cari cara."Alana memukul dadanya pelan."Ngaco banget! Mana ada orang bisa beli Jakarta.""Ada. Aku."Arash mengedip santai.Alana menunduk, menahan tawa dan malu."Sayang… serius. Aku cuma takut bikin kamu repot."Arash langsung menyanggah pipinya dengan kedua tangannya lagi, menatapnya tanpa kedip."Kamu mau usaha? Aku dukung. Kamu mau modal? Aku kasih.""Dan kalau uangku habis karena kamu…"Ia mengecup ujung hidung Alana lembut."Itu artinya aku menggunakan uangku dengan benar."Alana terdiam. Hatinya mencair begitu saja."Masih takut bikin aku bangkrut?"Tanya Arash sambil menyeringai kecil.Alana menggeleng pelan."Enggak… kalau kamu bangkrut pun, nanti gantian aku yang kerja." Arash tertawa, suara rendahnya memenuhi ruangan.
Alana terkekeh, menampar pelan dada Arash. "Arash… kita mau menikah, bukan transaksi bisnis. Lagipula sudah banyak hadiah yang kamu kasih ke aku." Arash justru menaikkan alisnya, wajahnya serius tetapi ada godaan halus di matanya. "Aku tidak bercanda. Kamu calon istriku. Semuanya harus kamu punya, apa pun yang kamu inginkan selagi aku bisa penuhi pasti aku berikan." Alana mengusap tengkuknya, menunduk malu. "Aku gak butuh yang aneh-aneh, Arash. Kita udah punya rumah, apart, mobil. Aku cuma berharap kerjaan kamu lancar biar bisa nafkahin aku terus. Aku... cuma mau kita bahagia. Itu aja sudah cukup." Arash terdiam sejenak. Wajahnya melembut, tapi matanya memancarkan intensitas yang menusuk. Ia mengangkat dagu Alana dengan dua jarinya. "Oke. Kalau kamu mau apapun langsung bilang, atau langsung beli saja. Aku tidak ingin kamu menahan keinginan selama bersamaku. Beli apapun yang kamu mau." Ia mendekat, bibirnya hampir menyentuh bibir Alana. "Tapi aku tetap akan kas







