Share

BAB 5 : Bertemu Lagi

Aruna sekarang berada di Plaza Amerta. Salah satu plaza terbesar dan termegah di ibukota ini. Entah ke berapa kali Aruna menghela napas, karena saat ini Aruna harus merelakan tabungannya terpakai demi menambahkan uang yang kurang untuk membeli kosmetik pesanan Lisa.

Ibu tirinya menggunakan ancaman yang sama. Apabila Aruna tidak membelikannya, ia akan mengusir Aruna dan ayahnya ke jalanan.

Rumah yang mereka tempati, sesungguhnya adalah milik ayah Aruna. Namun entah kapan dan bagaimana, kepemilikan rumah tersebut telah beralih menjadi milik ibu tirinya.

Mereka sebenarnya sejak lama bisa saja menendang Aruna dan ayahnya ke luar dari rumah, namun Lisa masih membutuhkan Aruna untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menghidupi dirinya dan Ferliana.

Ayah Aruna memiliki dana asuransi atas kecelakaan yang ia alami. Namun dana tersebut dikuasai pula oleh sang ibu tiri, untuk keperluan dirinya sendiri beserta putrinya. Sementara untuk makan sehari-hari dan listrik, Aruna lah yang harus menanggungnya.

Karena itu, seolah perjanjian tanpa hitam di atas putih, Aruna dan ayahnya bisa tinggal di sana, namun Aruna harus bersedia menjadi tulang punggung dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga di keluarga itu.

“Kenapa mereka ngga pake otak dikit sih ya… Hidup kita sudah ngga kaya dulu lagi. Kenapa ngga sedikit nurunin standar kosmetik mereka sih? Astaga…” Aruna tak henti-hentinya mendumel sambil melebarkan langkah menuju outlet khusus kosmetik langganan ibu tirinya.

Merek kosmetik yang dipakai ibu tirinya memang hanya ada di Plaza ini dan di satu Plaza lain yang jaraknya lebih jauh dari tempat tinggal Aruna.

Meskipun varian dan seri yang dipakai ibu tiri Aruna adalah varian terendah dan termurah, namun tetap saja bagi Aruna, kosmetik dengan harga mahal sangatlah tidak penting dengan kondisi keuangan mereka.

Pernah Aruna terpikir untuk membelikan barang ‘kw’ alias tiruan, namun hingga saat ini, Aruna tak mendapatkan replika dari merek kosmetik tersebut.

“Ah, itu dia…” desah Aruna lega saat melihat outlet yang hendak dituju berada sekitar sepuluh meter lagi darinya.     

Baru saja Aruna akan melangkahkan kakinya, suara ponsel miliknya berdering.

“Halo? Ya Bu? Runa baru sampai di Plaza, Bu. Ya Bu. Oke…” singkat Aruna menjawab telepon dari ibu tirinya. Tanpa menghentikan langkah, ia menjawab dan sesekali mengangguk seolah pihak yang menelepon ada di hadapannya.

Bug!

Seseorang dengan badan yang lebih tinggi dan besar dari dirinya, menubruk bahu kiri Aruna, hingga ponsel terlepas dari tangannya.

“Aduh…” Aruna bergegas memungut ponselnya dari lantai granit plaza. Alisnya bertaut dan memeriksa keadaan ponselnya. Dengan gusar ia menoleh pada orang yang tadi menabraknya.

Matanya membulat sempurna, saat mendapati orang yang baru saja menabraknya berjalan melewati dirinya begitu saja tanpa meminta maaf padanya.

Dengan tatapan seolah hendak mencabik orang itu, Aruna bergegas menyusul dan menarik lengan orang tak sopan tersebut.

“Hey!” seru Aruna gusar. “Punya sopan santun gak sih? Kamu habis nabrak orang lalu melengos begitu aja? Apa kamu…” Kalimat Aruna terhenti.

Orang itu telah berbalik dan menghadap Aruna. Aruna mengernyitkan kening mendapati wajah orang itu yang tampak tak asing.

Rahang tegas dan kokoh yang membingkai sepasang alis cukup lebat dengan mata bermanik hitam pekat serta hidung mancung sempurna di atas lekukan bibir yang indah. Aruna terpesona sekian detik.

Pria itu berdecak enggan.

“Kamu butuh berapa?” tanyanya dingin dan tanpa ekspresi, yang menyadarkan Aruna dari terkesimanya.

Aruna tergagap. “A- apa?”

“Kamu butuh berapa?” ulang pria itu sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya. “Tidak perlu membuat keributan. Katakan saja perlu berapa?”

Tangan pria itu lalu menyodorkan sekitar dua puluh lembar kertas berwarna merah dengan gambar presiden pertama negara ini dengan wakilnya.

“Cukup?” tanyanya tak sabar pada Aruna yang masih terbengong berdiri.

“A-apa….”

“Kurang? Berapa lagi?” Tangan pria itu kembali mengeluarkan beberapa belas lembar kertas merah lagi. “Saya hanya membawa cash segini di dompet.”

Darah dalam tubuh Aruna serasa mendidih mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan pria itu tanpa konfirmasi. Apa dia pikir, Aruna sedang berdagang? Meski lembaran warna merah itu benar-benar menggoda iman, namun harga diri Aruna tidak semurah itu!

“Cepatlah, ambil ini. Saya sedang terburu-buru,” tukas pria itu sedikit kesal. Kontan saja itu meledakkan Aruna dari kubah kesabarannya.

“Heh! Anda pikir semua bisa diselesaikan dengan uang begitu saja?! Apa Anda tidak diajari sopan santun?” jari telunjuk Aruna teracung di depan wajah pria itu. Meski ia harus menaikkan tinggi-tinggi lengannya, karena postur pria itu yang jauh lebih tinggi darinya.

Pria itu tampak mengernyitkan dahinya. “Bukankah memang demikian?”

“Apa?”

“Uang menyelesaikan semuanya,” ulangnya dingin. “Sudahlah, tak perlu retorika. Ambil uang ini, waktu saya jauh lebih penting.” Berkata demikian, ia meletakkan berlembar-lembar uang itu ke tangan Aruna lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya yang tertunda karena Aruna.

“Hey!!” Aruna berseru gusar. Namun pria itu terus berlalu tanpa menghiraukan seruan Aruna.

Beberapa lembar uang terjatuh dari tangan Aruna. Aruna bergegas memungut uang tersebut tatkala menyadari beberapa pasang mata tengah memperhatikan dirinya.

Dengan perasaan malu dan kesal luar biasa, Aruna urung menuju outlet kosmetik tujuannya. Ia melangkahkan kaki menuju toilet perempuan di lantai itu.

“Sial! Sial!” gerutu Aruna pelan. Ia lalu memasuki salah satu bilik toilet dan duduk di atas kloset tertutup. Ia memandangi lembaran merah yang kini ada di pangkuannya. Hatinya tergelitik untuk menghitung jumlah uang di tangannya itu.

Satu… Dua… Tiga… Dua puluh tujuh…

“Dua juta tujuh ratus!” pekik Aruna tertahan. Ia langsung menutup mulutnya begitu sadar ia berada di toilet umum.

‘Hanya kesenggol bahu, dan adu urat yang ngga sampai tiga menit, aku dapat uang dua juta tujuh ratus…’ ujar Aruna dalam hati.

“Kalau ini jadi pekerjaan, enak banget. Sehari bisa dapat berapa nih…” desisnya lagi dengan satu sudut bibir terangkat.

“Eh, hussh!! Jangan mata duitan, Aruna! Stop! Kamu ga akan ambil duit dari orang arogan dan gak punya sopan santun seperti pria tadi itu kan?” Aruna menepuk pelipisnya sendiri.

“Meskipun dia ganteng dan seperti banyak duit, bukan berarti kamu iya iya aja sama kelakuan sombong kaya gitu,” monolog Aruna. Ia memandangi lagi lembaran di pangkuannya.

Ia memang tergoda untuk menggunakan uang itu untuk membeli kosmetik pesanan ibu tirinya. Sehingga uang tabungan Aruna tak mesti terganggu.

Tapi… Ini sungguh bertentangan dengan nurani Aruna.

“Jika aku ambil uang ini, bukan berarti aku menyetujui tindakan angkuh dan tak sopannya itu, kan? Lagian jika mau dikembalikan, kembalikan ke mana?”

Ketika perdebatan antara dirinya sendiri itu berlangsung, sebuah ketukan kecil terdengar di sisi kanan bilik Aruna.

“Kak… Kakak yang di sana… Bisa dengar aku, ga?”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status