LOGINHans berjalan perlahan di samping istrinya, menyambut tepuk tangan dan senyuman para tamu yang berdiri di sepanjang jalan menuju pelaminan. Senyum ramah terus menghiasi wajahnya. Sesekali, ia mengangguk atau membalas sapaan kenalan yang hadir di acara pernikahannya.Dari luar, Hans tampak seperti pengantin pria yang bahagia.Namun, di tengah langkahnya, pikirannya tiba-tiba teringat pada sesuatu yang sempat dibacanya beberapa jam sebelum acara dimulai.Daftar tamu undangan.Sore tadi, ketika memastikan susunan tempat duduk para tamu penting, Hans sempat memeriksa daftar perwakilan perusahaan yang hadir. Sebagai pengantin pria yang juga memiliki sejumlah relasi bisnis, ia ingin memastikan setiap tamu mendapatkan tempat yang sesuai.Semuanya berjalan biasa saja sampai matanya berhenti pada satu nama.Mayaka.Nama yang sudah bertahun-tahun tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupannya, tetapi tetap tersimpan di sudut ingatannya.Mantan kekasihnya.Perempuan yang pernah menemaninya selama
Siska memperhatikan kalung yang berada di tangan Raka. Alih-alih menunjukkan kekaguman, perempuan itu justru menyipitkan mata, kemudian tersenyum miring.“Wah, kalungnya cantik juga,” komentarnya. “Tapi, kalau boleh jujur, model seperti ini sekarang banyak dijual di toko perhiasan biasa. Bahkan, di toko aksesori dekat rumah saya juga ada yang mirip.”Mayaka mengernyit tipis.Ia tidak menyangka Siska akan mengomentari perhiasan itu dengan nada meremehkan, padahal perempuan tersebut bahkan belum melihatnya dari dekat.Siska menyilangkan tangan di depan dada, kemudian melirik Raka dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Maaf, ya, saya bukan bermaksud merendahkan. Hanya saja, melihat penampilan Anda, saya rasa kalung itu tidak mungkin asli.”Senyum di bibirnya semakin lebar.“Jangan-jangan, Anda sengaja membeli perhiasan imitasi supaya terlihat seperti pria kaya di depan mantan kekasih Bu Mayaka. Apalagi ini acara pernikahan mantannya. Saya bisa memahami kalau Anda ingin membuat seseorang t
Siska berhenti tepat di hadapan Mayaka. Senyum ramah menghiasi wajahnya ketika ia mengulurkan tangan.“Bagaimana kabarmu, Mayaka? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”Mayaka menyambut uluran tangan itu dengan sopan. “Baik, Bu Siska. Bagaimana dengan Ibu?”“Baik juga.” Siska melepaskan genggamannya, lalu mengamati wajah Mayaka dengan tatapan penuh selidik. “Oh, ya, aku dengar kamu masih bekerja di Rajawali Jaya Group. Sekarang sudah naik jabatan, bukan?”Mayaka mengangguk tipis. “Iya, saya sudah menjadi QC senior.”“Wah, hebat sekali!” seru Siska. Namun, nada suaranya terdengar lebih seperti basa-basi daripada pujian tulus. “Dulu, waktu aku masih menjadi atasanmu, kamu memang rajin. Sayang sekali, setelah aku dipindahkan ke divisi luar kota, kita jadi jarang bertemu.”Mayaka hanya membalasnya dengan senyum tipis.Dahulu, Siska merupakan salah satu atasannya yang cukup mengenal kehidupan pribadi Mayaka, termasuk kisah cintanya dengan Hans. Ketika masih bekerja di divisi yang sama, Sis
Raka memasukkan kotak hitam itu ke saku bagian dalam jasnya. Ia melirik Mayaka yang masih berdiri di sampingnya, mengamati suasana gedung pernikahan dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Sudah siap?” tanyanya. Mayaka menoleh. “Untuk apa?” “Masuk ke dalam.” Raka mengangkat sebelah alis. “Atau Anda berencana berdiri di sini sampai pengantin selesai mengucapkan janji?” Mayaka mendengus pelan. “Saya hanya sedang memastikan tempatnya.” “Tempatnya tidak akan berubah hanya karena Anda pandangi lebih lama.” “Pak Raka, kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan mengganggu.” Raka menahan senyum. Entah mengapa, melihat Mayaka mulai menunjukkan sikap ketusnya yang biasa justru membuat suasana terasa lebih menyenangkan. “Baiklah. Silakan memimpin, Bu Mayaka.” Mayaka segera berbalik dan melangkah menuju pintu masuk. Ia tidak ingin memberi pria itu kesempatan untuk melontarkan komentar lain. Namun, baru beberapa langkah, suara Raka kembali terdengar dari belakang. “Mayaka.”
Satu jam sebelum Mayaka dan Raka tiba di gedung pernikahan.Tepat ketika hendak membuka pintu kamar hotel, ponsel Mayaka berdering.Nama Hany muncul di layar.Mayaka segera mengangkat panggilan itu. “Halo?”“May, kamu benar-benar yakin mau menghadiri pernikahan si Hansaplast itu?”Mayaka tersenyum tipis mendengar julukan yang diberikan sahabatnya kepada mantan kekasihnya tersebut.“Memangnya kenapa?”“Kok aku malah nggak yakin, ya?”Mayaka mengangkat sebelah alis, meskipun Hany tentu tidak bisa melihatnya. “Nggak yakin soal apa?”“Kamu yakin kuat ketemu dia lagi? Setelah semua yang terjadi, aku takut kamu malah kepikiran macam-macam. Apalagi kalau dia sampai bersikap seolah-olah nggak pernah melakukan kesalahan.”Mayaka menyandarkan punggungnya ke dinding di dekat pintu.“Han, masalah hidupku sekarang jauh lebih berat daripada sekadar bertemu Hans. Ibuku mengusirku dari rumah. Sekarang aku tinggal di hotel dan masih harus mencari kos-kosan.”“Hah?! Apa?” Suara Hany langsung meninggi.
Mayaka menggantung kembali pakaian yang tidak jadi dikenakannya, lalu merapikan isi tas kecil di atas ranjang.Ia memeriksa ponsel, memastikan undangan pernikahan tersimpan dengan aman, kemudian menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi.Blus biru tua itu memang bukan pakaian terbaik yang pernah dimilikinya. Namun, untuk menghadiri acara yang bahkan tidak ingin ia datangi, pakaian tersebut sudah lebih dari cukup.Toh, ia tidak perlu membuat siapa pun terkesan.Terutama Hans.Mayaka mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat melirik kamar hotel yang sudah beberapa hari menjadi tempat tinggal sementaranya.Pikirannya kembali tertuju pada pencarian kos yang belum membuahkan hasil. Setelah acara pernikahan ini selesai, ia harus kembali mencari tempat tinggal yang sesuai dengan anggaran. Ia tidak mungkin terus-menerus membayar hotel.Namun, memikirkan hal itu sekarang hanya akan membuat kepalanya semakin pening.Satu masalah dalam satu waktu.Ia mengunci pin







