登入Mayaka mengira masa depannya di Rajawali Jaya Group, raksasa manufaktur tekstil terbesar di Asia Tenggara, akan sempurna bersama Hans, pria yang menemaninya berjuang dari nol. Namun, tiga tahun kebersamaan mereka hancur seketika saat Hans berselingkuh dengan Bu Disya, sang atasan, demi mengejar ambisi karier. Alih-alih hancur dan membalas dendam dengan cara murah, Mayaka memilih memutus hubungan dengan kepala tegak, sembari menyimpan rekaman perselingkuhan mereka sebagai kartu as keselamatannya. Dua tahun berlalu, Hans dan Bu Disya terdepak oleh takdir mereka sendiri. Mayaka kini berdiri kokoh sebagai personel andalan di divisi Quality Control (QC) kain ekspor yang disegani. Namun, kedamaian kerjanya terusik oleh kehadiran Raka, teknisi mesin baru yang sarkas, keras kepala, dan merupakan anak rekomendasi pusat. Di antara deru mesin pabrik yang bising dan tuntutan target yang mencekik, Mayaka dan Raka terus berbenturan. Raka menolak tunduk pada standar kertas yang dianggapnya menolak realita lapangan, sementara Mayaka pantang meloloskan kain cacat demi reputasi perusahaan. Di tengah rivalitas yang memanas, benih-benih ket ketegangan profesional itu perlahan mulai menguji prinsip mereka. Apakah ini awal dari kehancuran lini produksi, atau justru rajutan takdir baru bagi hati Mayaka yang sempat mati rasa?
查看更多Mayaka duduk disalah satu anak tangga darurat, kepalanya bersandar pada tembok dinding beton yang dingin, mencoba meredam gemetar di ujung jemari. Sebab di layar ponselnya, sebuah video berdurasi dua menit baru saja selesai berputar. Video yang menghancurkan seluruh ekspektasi indahnya tentang masa depan.
Dalam rekaman samar namun cukup jelas itu, Hans, sang kekasih sekaligus manajernya di kantor ini sedang merangkul mesra pinggang seorang wanita masuk ke sebuah kamar hotel. Wanita itu adalah Bu Disya, direktur divisi mereka. Sakit? Luar biasa sakit. Namun, alih-alih menangis meratapi nasib menjadi korban pengkhianatan, dada Mayaka justru bergemuruh oleh amarah yang membakar habis sisa-sisa cintanya. Saat ponsel di tangannya mendadak bergetar menampilkan nama Hans, Mayaka langsung menggeser tombol hijau dengan gerakan tegas. “Kita putus. Itu kan yang sejak lama kamu mau. Baiklah. Aku turuti. Ingat ya, aku yang mutusin kamu. Kamu sekarang bisa bebas go public bersama Bu Disya. Dia minta dinikahi? Sana kalian nikah,” tembak Mayaka langsung, bahkan sebelum pria di seberang sana sempat mengucap salam. “Mayaka, bagaimana kamu bisa ....” Suara Hans terdengar panik, terbata-bata. “Bagaimana aku bisa tahu?” potong Mayaka cepat dengan senyum sinis terukir di bibirnya. “Tanggal 10 Januari jam delapan malam, kamu dan Bu Disya pergi ke Hotel Luxury. Kalian masuk ke kamar 231 di lantai empat. Apa yang kalian lakukan di dalam kamar itu? Aku punya rekamannya. Kamu gak percaya? Akan aku kirimkan sekarang juga kalau kamu mau. Dan itu tidak hanya sekali, Hans. Tanggal 20 Februari. Tanggal 5 Maret. Tanggal 10 Maret. Tanggal—“ “Cukup, Mayaka! Kamu psikopat!” bentak Hans, memotong kalimat Mayaka dengan napas memburu. Kepanikan pria itu kini berubah menjadi kemarahan defensif. “Dan kamu pecundang, pengkhianat, dan memang sudah sepantasnya dibuang!” balas Mayaka, tak kalah sengit. Suaranya bergema di lorong tangga darurat yang sepi. “Jaga lidahmu, Mayaka! Aku ini atasanmu! Disya juga atasanmu!” Hans mulai menggunakan kekuasaannya untuk mengancam. “Lalu? Kalian mau memecatku? Coba saja,” tantang Mayaka dengan nada meremehkan. “Kalian bukan pemilik perusahaan ini. Hanya tikus yang kebetulan punya jabatan. Dan kamu mau aku menyebarkan rekaman keintiman kalian ke grup internal kantor atau langsung ke meja owner? Akan aku lakukan sekarang juga kalau kamu menantangku.” “Percuma bicara baik-baik denganmu!” Klik. Sambungan telepon itu diputus sepihak. Hans melarikan diri, persis seperti tabiat aslinya yang penakut. Mayaka menurunkan ponsel dari telinganya. Napasnya masih memburu, menahan buncah emosi yang seolah siap meremukkan dadanya. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan kembali seluruh harga dirinya yang sempat diinjak-injak. Setelah mencoba menguasai diri dan merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan, Mayaka mendorong pintu besi tangga darurat. Ia melangkah kembali ke area kubikel kerja dengan wajah kaku, dingin, dan tegang. Begitu Mayaka mendaratkan bokongnya di kursi, sebuah gerakan gesekan roda terdengar. Hany, rekan kerja sekaligus sahabat dekatnya yang mejanya bersebelahan, langsung menggeser kursi rodanya mendekat. “Ada apa?” tanya Hany setengah berbisik. Matanya menelisik wajah Mayaka yang tampak pias. “Muka kamu kok kayak habis lihat hantu gitu? Ada masalah?” Mayaka terdiam sesaat, jemarinya meremas ponsel erat-erat. “Bukan hantu, Han,” bisik Mayaka dengan nada sedingin es, “tapi tikus kantor yang perlu dibasmi.” Hany membelalakkan mata, mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke kubikel Mayaka. “Maksudmu ... si Hans? Dia berulah lagi sama Bu Disya?” Mayaka hanya mengangguk kaku, sorot matanya menatap kosong ke arah layar monitor yang menyala. Melihat sahabatnya dikhianati, Hany berdecak sebal dengan wajah memerah menahan geram. “Gila ya, si Hansaplast itu! Benar-benar nggak tahu diri!” Kerutan di dahi Mayaka sedikit mengendur. Atensinya teralih. “Hansaplast?” “Iya, Hansaplast!” sahut Hany berapi-api, meski suaranya tetap dijaga agar tidak terdengar sampai ke kubikel seberang. “Kerjaan aslinya kan cuma jadi penutup luka pas lagi susah. Dulu pas dia belum jadi apa-apa, kamu yang bantu dia, kan? Giliran sekarang udah ngerasa nempel di tempat yang lebih ‘basah’ dan tinggi kayak Bu Disya, dia langsung lupa daratan. Dasar perban murahan!” Mayaka hampir saja mendengus geli kalau saja hatinya tidak sedang sesakit ini. Namun, logika di otaknya langsung menyala. “Pelanin suaramu, Han. Biar bagaimanapun, si Hansaplast itu sekarang manajer kita. Bu Disya di atasnya lagi. Kalau ada yang dengar, kita bisa habis.” Hany langsung celingukan, melirik ke arah pintu ruangan manajer yang untungnya masih tertutup rapat. Dia buru-buru menarik kursinya lebih dekat lagi sampai lutut mereka hampir bersentuhan, lalu berbisik dengan keberanian yang mendadak meluap. “Ya ... kalau di depan mukanya langsung, aku jelas masih sayang nyawa dan jabatan, May. Tapi kalau di belakang begini? Tolong ya, jangankan menjuluki dia perban luka, mengutuk dia jadi keset sekalian juga aku berani!” Hany mendengus, lalu menyenggol lengan Mayaka. “Lagian, kamu pegang kartu as mereka, kan? Jangan takut. Mau dia manajer, mau Bu Disya itu direktur sekalipun, kalau bukti perselingkuhan itu bocor ke owner, mereka berdua cuma bakal jadi sampah di perusahaan ini. Sebarin sekarang aja, May! Biar kapok!” Kata-kata Hany menjadi bahan bakar yang dibutuhkan Mayaka. Rasa sedih yang tadinya mendominasi, perlahan mulai berganti menjadi kilatan amarah yang tenang namun mematikan. Mayaka menatap ponselnya. Layar itu menampilkan lampiran video dan foto-foto perselingkuhan Hans dan Bu Disya. Ibu jarinya sudah menggantung di atas tombol send, siap dikirimkan ke email komite etik perusahaan dan sang pemilik vendor utama. Cukup satu ketukan, dan karier kedua orang itu akan hancur seketika. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh layar, gerakan Mayaka terhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan ponselnya ke atas meja. “Nggak, Han. Nggak sekarang,” bisik Mayaka lambat. Hany terbelalak kecewa. “Kenapa? Kamu masih kasihan sama cowok bajingan itu?”Suara sirene darurat pabrik meraung panjang. Bukan suara mesin tujuh yang tadi, tapi mesin utama di blok A. Mesin pemintal tertua yang menjadi jantung produksi."Mesin tua itu lagi," desis Mayaka sambil berlari menuju ruang kontrol.Di sana, para operator tampak pucat. Supervisor mondar-mandir dengan wajah berkeringat. Raka sudah ada di depan panel, dahinya berkerut dalam."Bisa?" tanya Supervisor pendek.Raka menggeleng. "Skemanya beda. Ini mesin manual tahun 80-an. Semua jalur kabelnya dimodifikasi sendiri. Saya tidak punya datanya.""Hanya Pak Subrata yang tahu seluk-beluk mesin ini, Pak. Tapi beliau baru pensiun bulan lalu," sahut salah satu operator. "Beliau tinggal di desa lereng gunung, tidak ada sinyal telepon di sana."Supervisor menatap Mayaka dan Raka bergantian. "Kalian berdua, ambil mobil operasional. Jemput Pak Subrata. Sekarang! Kalau mesin ini mati lebih dari dua puluh empat jam, kita semua kehilangan bonus tahunan!"“Baik, Pak,” jawab keduanya setengah hati.Perjala
Misi penyamaran Arkadia di Rajawali Jaya Group dimulai hari ini. Ia tidak datang sebagai pewaris, melainkan sebagai Raka, teknisi mesin baru. Namun, takdir rupanya tidak membiarkan masa orientasinya berjalan mulus di minggu pertama bekerja. Ia langsung berhadapan dengan "sang algojo" QC yang terkenal paling disiplin di seluruh lantai produksi.Mayaka Kamari. Jodoh pilihan orang tua Arka. Yang kini berdiri dihadapannya."Nama?" tanya Mayaka ketika melihat wajah yang baru ia kenal."Raka.""Bagian?""Teknik."Mayaka tidak mengangkat wajah dari clipboard-nya. Jemarinya sibuk menandai daftar periksa. "Datang telat tujuh menit,” ujarnya santai.Arka yang kini memakai nama Raka, melirik jam dinding besar di atas area produksi. "Shift belum mulai, kan?" sahutnya datar, menahan rasa jengah."Di bagian Quality Control, hitungannya bukan jam kerja, tapi siklus mesin. Begitu mesin hidup, standar kualitas harus sudah siap." Mayaka akhirnya mendongak. Tatapannya tajam, mengunci mata pria d
“Silakan dicoba, Bu,” tantang Mayaka. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, berbisik tepat di dekat telinga Bu Disya. “Tapi sebelum Ibu menandatangani surat pemecatan saya, pastikan suami dari pemilik pemasok utama bahan baku kita tidak melihat video mesra Ibu dan Hans di Hotel Luxury terlebih dahulu. Saya penasaran, apa Ibu masih bisa mempertahankan jabatan mentereng ini kalau bahan baku andalan perusahaan mendadak ditarik?”Bu Disya tersentak mundur. Matanya membelalak sempurna, bibirnya bergetar tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Rahasia terbesar yang dia simpan rapat-rapat kini berada di tangan seorang staf kubikel yang selama ini dia remehkan.“Ting.”Pintu lift di belakang mereka terbuka. Mayaka memberikan senyuman formal yang sangat sopan, lalu melangkah masuk ke dalam lift, meninggalkan Bu Disya yang mendadak kehilangan seluruh keangkuhannya di koridor sepi itu.Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Otaknya langsung berputar cepat. Dia tahu, ke
Mayaka menatap Hans dengan pandangan jijik. “Uangmu tidak cukup untuk membeli harga diriku yang sudah kamu injak-injak, Hans. Aku tidak butuh sepeser pun uangmu. Apa dulu aku pernah meminta uangmu? Tidak kan. Apalagi sekarang. Najis.”“Lalu apa? Apa yang kamu minta, May!” tuntut Hans setengah mengerang.Mayaka membalikkan badan, bersiap untuk meninggalkan atap gedung. Namun sebelum melangkah, ia menoleh, “Aku mau kamu dan Bu Disya tetap berada di kursi kalian sekarang. Nikmati jabatan kalian, nikmati hubungan kalian. Bersikaplah seolah kalian sudah menang dan aku adalah pihak yang kalah,” ucap Mayaka lambat-lambat.Hans tertegun, tidak mengerti arah pembicaraan mantan kekasihnya itu. “Maksudmu ... kamu nggak akan menyebarkannya?”“Tergantung dengan sikap kalian. Untuk saat ini, aku simpan bukti itu. Buat jaga-jaga kalau suatu hari nanti aku tiba-tiba dipecat dari perusahaan ini, berarti salah satu dari kalian adalah pelakunya. Dan yang paling penting ... biar kamu tidak akan perna






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.