แชร์

BAB 4. Sangkar Emas

ผู้เขียน: Celoteh Asta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-30 22:11:53

Suara deru mesin mobil milik mama mertuanya perlahan menjauh, membelah kesunyian kompleks perumahan mewah yang selama ini menjadi sangkar emas bagi seorang Tsabita Humayrah.

Begitu bayangan mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, suasana di ruang tamu yang tadinya terasa hangat dan penuh dengan tawa renyah, mendadak berubah menjadi sedingin es.

Waktu seolah berhenti berdetak. Udara di sekitarnya terasa menipis, mencekik leher Humey perlahan-lahan.

Klik.

Pintu utama berderit pelan, lalu tertutup rapat dengan bunyi debuman yang memekakkan telinga.

Kunci diputar. Dan bersamaan dengan dentuman logam itu, berputar pula kepribadian laki-laki yang berdiri di hadapan Humey.

Zayyan Faisal.

Di mata dunia, ia adalah sosok suami idaman, menantu kebanggaan, dan pemuda yang tampak begitu patuh pada agama. Laki-laki yang hanya beberapa menit lalu memeluk ibunya dengan penuh kasih, kini berbalik menatap Humey dengan sorot mata yang berbeda.

Senyuman hangat yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya luntur seketika.

Kini, wajah itu digantikan oleh raut bengis dengan rahang yang mengeras dan sorot mata setajam belati, siap merobek pertahanan Humey.

"Puas kamu cari muka di depan Mama?" desis Zayyan.

Suaranya tidak keras. Namun, nadanya sedingin angin malam yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Humey menunduk dalam-dalam. Tubuhnya bergetar hebat, ia bisa merasakan kakinya hampir tak sanggup lagi menopang beban tubuhnya sendiri.

"A-aku tidak cari muka, Mas... Aku hanya…."

PLAK!

Tamparan keras itu mendarat di pipi Humey, memutus kalimatnya seketika. Kepala Humey terlempar ke samping, meninggalkan sensasi panas yang menjalar di seluruh wajahnya.

Bukan hanya pipinya yang sakit, tapi dunianya benar-benar runtuh. Ia terhuyung, berusaha menjaga keseimbangan di atas lantai marmer yang kini terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

"Hanya apa? Hanya ingin dikasihani? Hanya ingin membuatku terlihat seperti penjahat di mata mereka?" Zayyan melangkah mendekat, bayangan tubuhnya menelan tubuh mungil Humey yang gemetar.

Humey memegang pipinya yang mulai berdenyut nyeri. Ia tidak berani menangis, meski air mata sudah mendesak di pelupuk.

"Aku tidak bermaksud begitu, Mas..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Zayyan mencengkeram dagu Humey dengan kasar, memaksanya menatap mata yang penuh dengan kebencian itu. "Jangan pernah berpikir kamu bisa menggunakan Mama sebagai tameng, Humey. Karena di rumah ini, tidak ada satu pun orang yang bisa menyelamatkanmu dariku."

Zayyan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Humey kembali terjatuh ke lantai.

"Malam ini, kamu tidak perlu makan. Masuk ke kamar dan kunci dirimu di sana. Jika aku mendengar suara sedikit saja, bersiaplah untuk konsekuensi yang jauh lebih buruk."

Zayyan berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Humey yang masih terisak tanpa suara di ambang pintu, terjebak dalam malam yang terasa akan berlangsung selamanya.

Humey segera berlari menuju kamarnya mengunci pintu serapat mungkin.

Tidak ada suara isakan keras, hanya bahunya yang naik turun menahan sesak di dada yang rasanya hampir meledak. Humey sudah terbiasa menangis dalam kebisuan, karena suara tangisannya hanya akan memancing amarah Zayyan menjadi lebih brutal.

Di tengah rasa sakit yang mendera fisik dan batinnya, pikiran Humey melayang jauh ke masa lalu.

Sudah satu tahun. Satu tahun lamanya ia terjebak dalam neraka berkedok pernikahan ini.

Mengapa ia masih bertahan?

Pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepala Humey setiap kali malam tiba.

Sambil meringkuk sendirian di sudut sofa, ia mengusap lebam-lebam baru yang mulai membiru di sekujur tubuhnya.

Ia selalu berusaha mencari alasan mengapa ia masih bertahan. Jawabannya selalu sama: sebuah harapan bodoh yang terpatri di hatinya.

Dahulu, keluarganya berada di ambang kehancuran. Abahnya ditipu habis-habisan dalam bisnis, meninggalkan tumpukan utang yang menggunung.

Rentenir datang setiap hari, mengobrak-abrik rumah kecil mereka hingga Uminya jatuh sakit karena tekanan pikiran yang teramat berat.

Di saat kegelapan menelan seluruh hidup mereka, Zayyan Faisal hadir bak ksatria berkuda putih.

Dengan kekayaan dan pengaruh keluarganya, Zayyan melunasi semua utang sang Abah dan membiayai pengobatan Umi.

"Terima kasih, Nak Zayyan," isak Abah saat itu, suaranya parau karena haru. "Kami tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu. Kamu telah menyelamatkan martabat keluarga kami."

Zayyan hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan menenangkan.

"Tidak perlu merasa berutang, bah. Saya hanya ingin membantu. Jika Abah mengizinkan, saya ingin menjadikan Humey istri saya. Saya ingin menjaganya," jawab Zayyan kala itu dengan suara lembut.

Bagi keluarga Humey, itu adalah anugerah. Menikahkan putri mereka dengan pria mapan, terpandang, dan dikenal sangat taat agama adalah sebuah berkah yang tak terhingga.

Zayyan adalah sosok yang selalu berada di barisan terdepan saat salat di masjid. Suaranya merdu saat melantunkan ayat suci, dan tutur katanya di depan publik selalu dipenuhi dalil yang menyejukkan hati.

Namun, siapa sangka semua itu hanyalah topeng?

Cahaya kebaikan yang Humey harapkan, perlahan tenggelam seolah tak pernah ada di permukaan. Suami yang seharusnya menjadi imam pelindung, justru berubah menjadi algojo bagi mental dan fisiknya.

Suatu malam, setelah Zayyan baru saja pulang dari acara kajian, ia menemukan Humey sedang merapikan buku-bukunya. Tanpa alasan yang jelas, Zayyan melemparkan kitab yang dibawanya ke lantai dengan kasar.

"Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya kamu menyentuh barang-barangku tanpa izin?" bentak Zayyan.

Humey tersentak, dadanya sesak. "Maaf, Mas. Aku hanya ingin membersihkan debunya..."

"Debu? Kamu sendiri yang penuh debu!" Zayyan mendekat, menatap Humey dengan tatapan yang sangat asing. "Di luar, orang memuja-mujiku sebagai ahli agama. Tapi di sini, aku adalah penguasa mutlak. Kamu hanyalah barang yang aku beli dengan harga yang cukup mahal untuk keluargamu!"

"Mas, tolong... bukankah Mas sendiri yang bilang kalau menyakiti perempuan itu dosa besar?" bisik Humey di sela isak tangisnya.

Zayyan tertawa sinis. Ia mencengkeram dagu Humey kuat-kuat.

"Itu untuk orang lain, Humey. Untukmu? Kamu bahkan tidak pantas disebut manusia."

Dengan sisa-sisa tenaga, Humey memaksakan dirinya untuk bangkit. Ia mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya dengan punggung tangan yang gemetar hebat.

Ia melangkah tertatih menuju meja makan, mengumpulkan cangkir teh dan piring-piring kecil bekas kue yang tadi dihidangkan untuk sang mertua.

Sesampainya di wastafel, Humey membiarkan keran air mengalir deras.

Suara gemericik air menjadi tirai yang memisahkan dirinya dari dunia luar yang kejam. Dapur luas ini terasa begitu sunyi, mengisolasi Humey dalam kesedihannya sendiri.

Sambil mencuci piring, pikirannya kembali mengembara pada pembicaraan dengan Mama tadi siang.

"Humey, Mama dengar Ayman sudah mulai membuka hati. Dia butuh sosok istri yang sabar sepertimu."

Ucapan itu kembali terngiang, menusuk hati Humey lebih tajam daripada pecahan piring mana pun.

Ayman.

Nama itu menyelinap masuk, mengusik ketenangan hatinya yang sudah lama mati rasa. Humey memejamkan mata, mencoba mengusir bayang-bayang wajah teduh laki-laki itu.

"Kenapa harus sekarang?" bisik Humey pada pantulan dirinya di jendela dapur yang gelap.

Kenapa kau harus muncul saat aku sudah hancur lebur seperti ini, Kak Ayman?

Ia teringat percakapan terakhir mereka di teras belakang rumah, sebelum perjodohan maut ini terjadi. Ayman menatapnya dengan ketulusan yang tak pernah ia temukan pada pria lain.

"Humey, kalau suatu hari nanti kamu merasa tidak bahagia, berjanjilah untuk tidak memendamnya sendiri. Kamu berhak untuk didengar."

"Didengar?" Humey tertawa getir. "Bahkan Tuhan seolah diam saat aku menjerit, Kak."

Kehadiran Ayman bukanlah kabar bahagia. Bagi Humey, itu adalah pengingat akan masa lalu yang terasa seperti mimpi buruk.

Ia sadar, ia tidak hanya kehilangan harga diri. Ia telah kehilangan masa depan yang mungkin jauh lebih indah jika ia tidak "dijual" demi menyelamatkan ekonomi keluarganya.

Humey mematikan keran air. Tangannya yang basah mencengkeram erat tepi wastafel. Buku-buku jarinya memutih menahan gemetar.

Ia kembali memanjatkan doa yang sama; doa yang diulangnya ribuan kali meski langit terasa tuli. Namun, kali ini ada yang berbeda. Sebuah pikiran liar melintas, membuat napasnya tercekat.

Ia teringat sebuah amplop cokelat yang terselip di balik buku harian Zayyan sebulan lalu.

Di dalamnya, terdapat foto usang dirinya di perpustakaan pesantren. Di baliknya tertulis satu kalimat: “Aku akan kembali untuk menyelamatkanmu, Humey.”

Saat itu, Humey tak terlalu memikirkannya. Namun kini, potongan puzzle itu menyatu.

Ia teringat dokumen surat tugas Eyman Ashar yang pernah ia lihat di meja Zayyan. Tulisan tangan di foto itu identik dengan catatan di dokumen tersebut.

Humey mematung. Kepalanya berdenyut hebat.

Apakah Eyman pulang untuk bertunangan dengan orang lain? Atau dia datang untuk menagih janji yang tidak pernah Humey ingat?

Jika Eyman memang menulis pesan itu, siapakah sebenarnya pria yang selama ini ia anggap sebagai entitas abstrak?

Dan yang lebih mengerikan, apakah selama ini Zayyan menyembunyikan Humey bukan karena benci, melainkan karena ia tahu bahwa sejak awal, wanita yang dicari kakaknya adalah tawanan di rumah ini?

Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar mendekat. Humey tersentak.

Bayangan Zayyan muncul di ambang pintu, menatapnya dengan tajam.

"Apa yang kau sembunyikan di kepalamu, Humey?" tanya Zayyan rendah. "Kau terlihat baru saja melihat hantu."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 25. Di Balik Pintu Kayu

    Namun, rasa lega yang sempat menyelimuti hati Humey sesaat setelah melihat foto gedung itu ternyata tidak bertahan lama di dalam benaknya. Sebab justru sekarang, rasa penasarannya membuncah jauh lebih besar dan menyesakkan dari sebelumnya.Berbagai pertanyaan berkecamuk hebat tanpa bisa dicegah. Mengapa Aluna hanya mengirimkan lokasi gedung pernikahan mewah itu tanpa memberikan penjelasan rinci apa pun? Apa sebenarnya agenda besar yang sedang disembunyikan dan dipersiapkan di tempat megah itu?Pukul sembilan pagi lewat beberapa menit, di tengah sejuknya udara pagi yang masih tersisa, Humey sudah berdiri tegak di depan gerbang utama pesantren. Sebuah tas kecil berwarna hitam tampak menggantung rapi di bahu kanannya.Seumur hidupnya selama ia tinggal dan belajar di pesantren itu, ia belum pernah sekalipun mengambil izin keluar tanpa alasan yang jelas, apalagi hanya untuk urusan pribadi yang begitu rumit dan misterius seperti ini, apalagi perjalannya sekarang cukup jauh ke Jakarta.Kakin

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 24. Bayangan di Balik Layar

    Humey menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak oleh beban emosi yang menumpuk. Notifikasi gambar itu masih menggantung di layar ponselnya, seakan menjadi pintu tak kasat mata yang memisahkan dua dunia yang sangat berbeda.Di satu sisi ada harapan suci yang selama ini ia pelihara dalam sunyi, di sisi lain ada kemungkinan pahit yang tak pernah siap ia terima dalam hidupnya.Perlahan, dengan tangan yang bergetar hebat, ia mematikan layar ponsel tanpa sempat membuka gambar tersebut."Bukan sekarang..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar oleh angin malam.Ia sebenarnya tidak takut pada foto itu, melainkan takut pada kenyataan mutlak yang mungkin akan mengubah seluruh alur hidupnya hanya dalam sekali pandang. Semua impian masa depan yang ia rajut perlahan bisa runtuh seketika.Malam kembali turun dengan keheningan yang mencekam. Selepas salat Isya berjamaah di masjid pesantren, Humey memilih untuk duduk sendirian di serambi luar.Udara masih menyisakan aroma tanah basah ya

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 23. Aluna

    Malam itu, hujan belum benar-benar berhenti.Rintiknya masih jatuh perlahan di atas genting pesantren, meninggalkan irama monoton yang mengetuk-ngetuk kesunyian, seolah-olah waktu sedang menghitung detik-detik kehancuran bagi hati yang tertinggal dalam penantian.Humey tidak tidur. Ia duduk bersandar di sisi ranjang, memeluk lututnya sendiri dalam kegelapan kamar yang hanya ditembus oleh cahaya bulan yang pucat.Lampu sengaja ia padamkan, seolah ia sedang bersembunyi dari kenyataan yang perlahan-lahan merobek dinding pertahanannya.Matanya yang sembap menatap kosong ke arah meja, tempat secarik catatan peninggalan Eyman tergeletak.Namun, malam ini, kertas itu bukan lagi sumber kekuatan atau jimat pelindung; ia telah berubah menjadi beban yang menyesakkan dada.Untuk pertama kalinya, Humey merasa takut pada isi janji itu, takut jika ternyata ia hanyalah satu-satunya orang yang masih mendekap keyakinan, sementara dunia di luar sana telah lama melupakan.Pukul sebelas lewat tiga puluh t

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 22. Harapan Humey Yang Runtuh

    Fajar kembali menyentuh atap-atap pesantren dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah dunia enggan mengakui bahwa ada hati yang sedang retak di dalamnya.Bagi penghuni pesantren lainnya, pagi selalu membawa janji tentang harapan yang baru, tentang doa-doa yang akan dikabulkan, dan tentang ilmu yang siap diserap.Namun bagi Humey, setiap kali sinar matahari itu merayap masuk ke celah jendela, ia hanyalah penanda bahwa satu hari lagi telah berlalu dalam kekosongan yang menyesakkan. Sebuah hari lagi telah tuntas, dan Eyman tetap tidak ada.Humey tetap menjalani rutinitasnya dengan ketelitian yang hampir mekanis.Ia membangunkan santri putri untuk salat Subuh dengan suara yang lembut namun tipis, membimbing mereka menghafal ayat-ayat Al-Qur'an dengan konsentrasi yang dipaksakan, lalu membantu para ibu di dapur menyiapkan sarapan.Sesekali, tawa polos para santri yang berebut tempat di meja makan berhasil menyunggingkan senyum di bibir Humey, namun itu hanyalah riak kecil di permukaan.Se

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 21. Janji Yang terjaga

    Fajar menyapa pesantren dengan ritme yang sama, namun bagi Humey, setiap detik yang berlalu adalah penanda dari waktu yang terus berdetak.Langit di atas pesantren perlahan membasuh kelabu dengan semburat jingga, sementara lantunan ayat suci dari masjid kecil mulai mengusik kesunyian, membangunkan para santri untuk menyambut hari.Di antara langkah-langkah kecil yang riuh memenuhi halaman, Humey berdiri mematung di serambi asrama putri.Matanya yang bening menatap embun yang masih bergelantungan di ujung dedaunan, sebuah kesabaran yang ia tiru dari alam.Sudah berbulan-bulan sejak Eyman melangkah pergi, meninggalkan pesantren di belakang punggungnya.Masa iddah Humey pun sudah lama sampai di titik penghabisan, namun janji “Aku akan kembali saat semuanya benar-benar aman” masih ia simpan seutuh jiwa di relung hatinya yang terdalam.Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah napas bagi Humey, bahkan ketika kertas kecil pemberian Eyman mulai luruh warnanya karena terlalu sering

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 20. Menunggu

    Empat belas hari adalah waktu yang panjang bagi sebuah detak jantung yang senantiasa berpacu dalam cemas.Bagi Humey, waktu tersebut bukan dihitung berdasarkan jam atau hari, melainkan berdasarkan tetesan cairan infus, deru napas Eyman yang berangsur stabil, dan gurat kelelahan yang semakin dalam di wajah Abah.Selama dua minggu penuh, Humey nyaris tidak meninggalkan sisi ranjang Eyman.Ia tidur dengan posisi meringkuk di sofa sempit, bangun setiap kali Eyman membutuhkan sesuatu, dan menyeka pemuda itu dengan kasih sayang yang tak pernah luntur.Ketika akhirnya dokter memberikan lampu hijau bagi Eyman untuk pulang, ada kelegaan yang menyesakkan dada Humey.Mereka kembali ke pesantren, sebuah tempat yang selama ini menjadi rumah bagi jiwa mereka yang lelah.Namun, kepulangan itu tidak membawa kedamaian yang diharapkan. Suasana pesantren yang biasanya hangat justru terasa asing, seolah udara di sana telah berubah menjadi lebih dingin setelah badai yang mereka lalui.Sore itu, di ruang t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status