ホーム / Romansa / Dibuang Suami, Dicintai Ipar / BAB 3. Pagi Yang Begitu Manis

共有

BAB 3. Pagi Yang Begitu Manis

作者: Celoteh Asta
last update 公開日: 2026-06-30 14:58:57

Hari-hari dijalani Humey dengan rutinitas yang sama: penuh tekanan dan ketakutan.

Baginya, rumah ini tak ubahnya neraka yang menyesakkan dada.

Namun, pagi ini sebuah keanehan terjadi. Zayyan tiba-tiba memperlakukannya layaknya seorang ratu.

"Halo, selamat pagi, sayang," sapa Zayyan dengan senyum yang begitu manis, cukup untuk membuat mata Humey terbelalak tak percaya.

Humey mematung. Tatapannya penuh keheranan. "I-iya, Mas," jawabnya canggung.

Tanpa peringatan, Zayyan merangkul bahunya dan mendekatkan bibir ke telinga Humey.

"Cepat pakai baju setebal mungkin," bisiknya dingin. "Pastikan lebam di tanganmu itu tidak terlihat oleh Mama sedikit pun."

Detik berikutnya, Zayyan menarik wajahnya kembali. Ia menatap mata Humey dengan ancaman yang membekukan darah, namun sedetik kemudian, ia kembali tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa.

Humey paham sekarang. Mama mertuanya akan datang berkunjung.

Zayyan pasti sudah tahu kedatangan ibunya dan sedang mempersiapkan skenario sempurna untuk menutupi kebusukannya.

Dengan jantung yang berpacu liar dan rasa khawatir yang mencekik, Humey menunduk patuh. "B-baik, Mas."

Ia bergegas lari menuju kamar, tangannya gemetar hebat saat mencoba meraih pakaian paling tertutup yang ia miliki.

Ia harus segera berubah, menjadi istri bahagia yang diinginkan suaminya—sebelum sang Mama tiba di depan pintu dan membongkar kepalsuan ini.

“Humey ke mana, Zayyan?” tanya Mama pada anaknya.

“Ke kamar, Ma. Katanya mau ganti baju dulu. Dia habis masak jadi merasa enggak enak kalau pakai baju asal-asalan,” jawab Zayyan dengan lembut kepada mamanya.

“Oh, gitu,” jawab Mama tanpa melihat ke arah Zayyan.

Mata Mama fokus ke masakan yang telah dibuat oleh menantu kesayangannya. Ia melihat semua masakan yang dihidangkan adalah makanan kesukaan anak lak-lakinya.

Kemudian Mama kembali menatap anaknya dan berkata, “Enak ya kamu, istri kamu pintar masak. Beruntung banget kamu punya istri kayak Humey.”

Dengan senyuman lembut Zayyan menjawab, “Iya, Ma. Aku beruntung sekali memiliki istri sebaik Humey, dia sangat berbakti sama aku, Ma.”

Sebenarnya, di mata dunia, Zayyan adalah pria yang lembut dan penyayang. Ia selalu memperlakukan Mamanya dengan penuh kasih, sesekali menyelipkan candaan iseng yang membuat tawa wanita paruh baya itu pecah.

Namun, entah mengapa, sisi lembut itu seolah menguap saat ia berhadapan dengan Humey.

Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Humey mencuri dengar suara tawa Zayyan di ruang tengah. Ia merosot ke lantai, menangis tanpa suara.

Bagaimana bisa, batinnya perih, seseorang memiliki dua wajah yang begitu kontras? Bagaimana bisa ia begitu manis pada ibunya, namun menjadi iblis bagi istrinya sendiri?

Humey bergegas menyeka air matanya dan mencoba menata penampilannya. Namun, pintu kamar terbuka kasar. Zayyan berdiri di sana, tatapannya setajam belati.

"Hapus air mata busuk kamu itu," desis Zayyan. "Awas saja kalau sampai Mama melihat bekas tangis di wajahmu. Kalau dia tahu apa yang aku lakukan padamu, habis kamu!"

Zayyan melangkah masuk ke lemari, mencari sesuatu dengan gusar. Ia melemparkan sepasang handsock ke arah Humey.

"Pakai ini sekarang!" perintahnya.

Humey gemetar saat mengenakannya, menutupi memar biru yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Cepat! Satu lagi, pakai kaus kakimu. Jangan sampai betis yang biru itu terlihat," lanjut Zayyan sambil melempar kaus kaki ke pangkuan Humey.

Humey menunduk, tak berani menatap suaminya. "Mas... sampai kapan kita harus terus berpura-pura seperti ini?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Zayyan mendekat, mencengkeram dagu Humey hingga ia terpaksa mendongak.

"Sampai kamu berhenti menjadi beban yang menyedihkan," bisik Zayyan tepat di depan wajah Humey dengan nada yang sedingin es. "Sekarang, pasang senyum paling bahagia yang kamu punya. Kalau kamu gagal melakukannya di depan Mama, aku pastikan kamu tidak akan bisa keluar kamar selama seminggu."

Humey hanya bisa menelan ludah, menelan seluruh rasa sakit dan ketakutannya ke dalam lubuk hati yang paling dalam.

Sebelum keluar, Zayyan berkata, “Ingat ya, di depan Mama kamu harus berlagak seperti manusia yang sangat bahagia saat bersama aku.”

Perkataan Zayyan sungguh menohok. Ingin sekali Humey berkata, “Bagaimana jika kebahagiaan itu bukan sekadar akting, Mas, tapi memang benar-benar kamu berikan kepadaku?”

Namun Humey tak kuasa untuk menyampaikan hal tersebut kepada suami yang amat ia hormati tersebut.

Dengan segera Humey keluar dari ruangan dan langsung disambut pelukan hangat mamanya. Mama berkata, “Kok lama banget sih sayang di dalam kamarnya? Hayooo, kalian ngapain?”

Disambut dengan jawaban Zayyan yang berkata, “Halah, kayak Mama enggak pernah muda aja. Sekarang kan lagi asyik-asyiknya, Ma, ehehehehe,” ujarnya sambil disertai tawa ringan.

Humey tak mampu menjawab, hanya menampakkan pipi yang tersipu akibat semburat merah di kulit putihnya.

“Wah, enggak apa-apa kalau kayak gitu, biar Mama cepat gendong cucu,” jawab mamanya dengan senyum bahagia.

Sedangkan Humey hanya menjawab, “Aamiin, Ma. Doain ya,” sambil tersenyum.

Hati Humey benar-benar teriris.

Bagaimana mungkin ia bisa memberikan mertuanya seorang cucu, sementara untuk sekadar memandang wajahnya saja Zayyan sudah merasa jijik? Jangankan untuk disentuh, berbagi ranjang saja adalah angan yang mustahil.

Sudah lebih dari setahun Humey mencoba melunakkan hati suaminya melalui setiap bakti dan kelembutan. Namun, harapan itu kini hanya menjadi fatamorgana yang tak kunjung mewujud nyata.

"Ayo, Ma, kita duduk di sini saja," ajak Humey dengan senyum yang dipaksakan. Ia menarik tangan Mama mertuanya menuju sofa ruang tengah.

Tak lama kemudian, Zayyan muncul dari arah dapur. Ia berjalan dengan gestur yang sangat manis, membawa segelas air putih yang ia letakkan di depan Humey dengan begitu perhatian.

"Ini, sayang, diminum dulu," ucap Zayyan dengan nada lembut yang dibuat-buat.

Itulah skenario yang selalu Zayyan mainkan di setiap pertemuan keluarga, baik di rumah mereka maupun di kediaman orang tua.

Di mata orang lain, ia adalah suami idaman yang memanjakan istrinya, namun bagi Humey, setiap sentuhan palsu itu justru terasa seperti duri yang menusuk jantungnya.

Mama memperhatikan pemandangan itu dengan mata berbinar bangga.

"Duh, Zayyan, kamu memang suami yang teladan ya. Mama jadi makin tenang melihat kalian sebahagia ini," ujar Mama dengan tulus.

Humey hanya bisa menunduk, menyembunyikan genangan air mata yang mendesak keluar. Ia merasa terjebak dalam teater sandiwara yang paling menyakitkan seumur hidupnya.

"Iya, Ma. Humey memang sangat beruntung punya Zayyan," jawab Humey pelan, suaranya hampir pecah namun ia paksakan tetap stabil demi menjaga kebohongan yang mereka bangun.

Zayyan menyunggingkan senyum tipis, senyum yang bagi orang lain terlihat hangat, namun bagi Humey, senyum itu adalah peringatan agar ia tidak membuat kesalahan sedikit pun di depan ibunya.

"Ada apa Mama kemari? Tumben sekali," tanya Humey lembut.

Mama tertawa kecil, nada suaranya berubah manja. "Eh, kamu menyindir Mama karena jarang berkunjung, ya?"

"Eh, eng-enggak kok, Ma," jawab Humey cepat. Matanya melirik Zayyan dengan sorot ketakutan yang tersirat. Ia takut suaminya menganggap ia telah membuat Mama sedih.

Mama menggeleng, meraih tangan menantunya. "Kamu tuh ya, sudah setahun lebih jadi menantu Mama, masih saja canggung. Padahal, kamu bisa bersikap santai seperti saat bersama Umi, sayang."

Mata Humey berkaca-kaca. "I-iya, Ma. Maaf ya, Humey masih berusaha beradaptasi. Tapi yang pasti, Humey sayang sekali sama Mama."

Pengakuan itu tulus. Hanya dari Mama mertuanya inilah, Humey masih bisa merasakan secercah kasih sayang yang tidak terasa mencekik.

"Sudah, jangan menangis. Nanti Mama dikira sedang apa-apakan kamu lagi," canda Mama sambil mengelus bahu Humey lembut.

Zayyan yang menyaksikan adegan itu hanya tersenyum.

Saat menatap Mamanya, senyum itu tampak hangat. Namun, saat tatapannya beralih ke Humey, senyum itu berubah menjadi ancaman penuh selidik, peringatan agar Humey tidak membocorkan apa pun.

"Maaf ya, Ma, Humey terlalu melow," ujar Humey dengan senyum hangat yang dipaksakan.

Melihat senyum itu, Zayyan sempat terkesiap. Namun, pria itu segera memalingkan wajah.

"Jadi, apa tujuan Mama kemari?" tanya Humey setelah tangisnya reda.

"Tiga hal. Pertama, Mama merindukan menantu cantik ini," jawab Mama hangat.

"Kedua, Mama membawa pesan dari Umi. Beliau meminta kalian pulang untuk menjenguk. Humey sudah sangat lama tidak pulang, Zayyan. Bisa ambil cuti, bukan?"

Zayyan menegang. "Aku lihat jadwal kantor dulu ya, Ma."

"Mama bisa bantu bicara ke Papa supaya kamu bisa cuti seminggu," desak Mama.

"Tidak bisa, Ma. Proyek kantor sedang menumpuk," potong Zayyan tegas.

Kali ini ia jujur; ia tidak bisa meninggalkan kantor yang dipimpin ayahnya itu, karena ia takut rahasia di balik pintu rumah ini akan terbongkar jika Humey kembali ke pelukan orang tuanya.

"Baiklah," helaan napas Mama terdengar kecewa. "Tolong sempatkan segera, ya."

"Iya, Ma. Aku usahakan," jawab Zayyan singkat.

Humey hanya membisu. Ia sangat ingin pulang, namun ia tak berani menyela. Ia takut, jika ia mendukung ucapan Mama, Zayyan akan menjadikannya sasaran amarah begitu mobil Mama meninggalkan halaman.

"Lalu, yang ketiga?" tanya Humey berusaha mengalihkan topik.

Mama terdiam sejenak, lalu tersenyum manis. "Kabar baik. Abang Ayman akan segera bertunangan."

Dunia Humey seakan berhenti berputar.

Nama itu, Ayman. Menghantam dadanya, membuka kotak kenangan yang selama ini ia kunci rapat. Getaran hebat di hatinya melumpuhkan lidahnya, membuatnya terpaku dengan tatapan kosong.

Zayyan menyadari perubahan wajah itu. Ia menyipitkan mata, tatapannya menajam, sebuah ancaman terselubung agar Humey segera menguasai diri.

Humey tersentak, berusaha menelan ludah dan memasang senyum palsu di tengah sesak yang menghimpit.

Namun, saat Mama berpamitan dan mereka mengantar ke depan, sebuah ponsel milik Zayyan yang tertinggal di sofa bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang tak sengaja terbaca oleh Humey sebelum ia sempat berpaling.

“Segera urus kepindahan Humey ke luar kota. Aku sudah menyiapkan dokumennya. Zayyan, permainan ini harus segera berakhir sebelum Ayman mencurigai kondisi adik iparnya sendiri.”

Humey mematung. Jadi, selama ini ada pihak lain yang terlibat? Dan siapakah yang berani mengancam suaminya dengan membawa-bawa nama Ayman?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 25. Di Balik Pintu Kayu

    Namun, rasa lega yang sempat menyelimuti hati Humey sesaat setelah melihat foto gedung itu ternyata tidak bertahan lama di dalam benaknya. Sebab justru sekarang, rasa penasarannya membuncah jauh lebih besar dan menyesakkan dari sebelumnya.Berbagai pertanyaan berkecamuk hebat tanpa bisa dicegah. Mengapa Aluna hanya mengirimkan lokasi gedung pernikahan mewah itu tanpa memberikan penjelasan rinci apa pun? Apa sebenarnya agenda besar yang sedang disembunyikan dan dipersiapkan di tempat megah itu?Pukul sembilan pagi lewat beberapa menit, di tengah sejuknya udara pagi yang masih tersisa, Humey sudah berdiri tegak di depan gerbang utama pesantren. Sebuah tas kecil berwarna hitam tampak menggantung rapi di bahu kanannya.Seumur hidupnya selama ia tinggal dan belajar di pesantren itu, ia belum pernah sekalipun mengambil izin keluar tanpa alasan yang jelas, apalagi hanya untuk urusan pribadi yang begitu rumit dan misterius seperti ini, apalagi perjalannya sekarang cukup jauh ke Jakarta.Kakin

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 24. Bayangan di Balik Layar

    Humey menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak oleh beban emosi yang menumpuk. Notifikasi gambar itu masih menggantung di layar ponselnya, seakan menjadi pintu tak kasat mata yang memisahkan dua dunia yang sangat berbeda.Di satu sisi ada harapan suci yang selama ini ia pelihara dalam sunyi, di sisi lain ada kemungkinan pahit yang tak pernah siap ia terima dalam hidupnya.Perlahan, dengan tangan yang bergetar hebat, ia mematikan layar ponsel tanpa sempat membuka gambar tersebut."Bukan sekarang..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar oleh angin malam.Ia sebenarnya tidak takut pada foto itu, melainkan takut pada kenyataan mutlak yang mungkin akan mengubah seluruh alur hidupnya hanya dalam sekali pandang. Semua impian masa depan yang ia rajut perlahan bisa runtuh seketika.Malam kembali turun dengan keheningan yang mencekam. Selepas salat Isya berjamaah di masjid pesantren, Humey memilih untuk duduk sendirian di serambi luar.Udara masih menyisakan aroma tanah basah ya

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 23. Aluna

    Malam itu, hujan belum benar-benar berhenti.Rintiknya masih jatuh perlahan di atas genting pesantren, meninggalkan irama monoton yang mengetuk-ngetuk kesunyian, seolah-olah waktu sedang menghitung detik-detik kehancuran bagi hati yang tertinggal dalam penantian.Humey tidak tidur. Ia duduk bersandar di sisi ranjang, memeluk lututnya sendiri dalam kegelapan kamar yang hanya ditembus oleh cahaya bulan yang pucat.Lampu sengaja ia padamkan, seolah ia sedang bersembunyi dari kenyataan yang perlahan-lahan merobek dinding pertahanannya.Matanya yang sembap menatap kosong ke arah meja, tempat secarik catatan peninggalan Eyman tergeletak.Namun, malam ini, kertas itu bukan lagi sumber kekuatan atau jimat pelindung; ia telah berubah menjadi beban yang menyesakkan dada.Untuk pertama kalinya, Humey merasa takut pada isi janji itu, takut jika ternyata ia hanyalah satu-satunya orang yang masih mendekap keyakinan, sementara dunia di luar sana telah lama melupakan.Pukul sebelas lewat tiga puluh t

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 22. Harapan Humey Yang Runtuh

    Fajar kembali menyentuh atap-atap pesantren dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah dunia enggan mengakui bahwa ada hati yang sedang retak di dalamnya.Bagi penghuni pesantren lainnya, pagi selalu membawa janji tentang harapan yang baru, tentang doa-doa yang akan dikabulkan, dan tentang ilmu yang siap diserap.Namun bagi Humey, setiap kali sinar matahari itu merayap masuk ke celah jendela, ia hanyalah penanda bahwa satu hari lagi telah berlalu dalam kekosongan yang menyesakkan. Sebuah hari lagi telah tuntas, dan Eyman tetap tidak ada.Humey tetap menjalani rutinitasnya dengan ketelitian yang hampir mekanis.Ia membangunkan santri putri untuk salat Subuh dengan suara yang lembut namun tipis, membimbing mereka menghafal ayat-ayat Al-Qur'an dengan konsentrasi yang dipaksakan, lalu membantu para ibu di dapur menyiapkan sarapan.Sesekali, tawa polos para santri yang berebut tempat di meja makan berhasil menyunggingkan senyum di bibir Humey, namun itu hanyalah riak kecil di permukaan.Se

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 21. Janji Yang terjaga

    Fajar menyapa pesantren dengan ritme yang sama, namun bagi Humey, setiap detik yang berlalu adalah penanda dari waktu yang terus berdetak.Langit di atas pesantren perlahan membasuh kelabu dengan semburat jingga, sementara lantunan ayat suci dari masjid kecil mulai mengusik kesunyian, membangunkan para santri untuk menyambut hari.Di antara langkah-langkah kecil yang riuh memenuhi halaman, Humey berdiri mematung di serambi asrama putri.Matanya yang bening menatap embun yang masih bergelantungan di ujung dedaunan, sebuah kesabaran yang ia tiru dari alam.Sudah berbulan-bulan sejak Eyman melangkah pergi, meninggalkan pesantren di belakang punggungnya.Masa iddah Humey pun sudah lama sampai di titik penghabisan, namun janji “Aku akan kembali saat semuanya benar-benar aman” masih ia simpan seutuh jiwa di relung hatinya yang terdalam.Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata; ia adalah napas bagi Humey, bahkan ketika kertas kecil pemberian Eyman mulai luruh warnanya karena terlalu sering

  • Dibuang Suami, Dicintai Ipar   BAB 20. Menunggu

    Empat belas hari adalah waktu yang panjang bagi sebuah detak jantung yang senantiasa berpacu dalam cemas.Bagi Humey, waktu tersebut bukan dihitung berdasarkan jam atau hari, melainkan berdasarkan tetesan cairan infus, deru napas Eyman yang berangsur stabil, dan gurat kelelahan yang semakin dalam di wajah Abah.Selama dua minggu penuh, Humey nyaris tidak meninggalkan sisi ranjang Eyman.Ia tidur dengan posisi meringkuk di sofa sempit, bangun setiap kali Eyman membutuhkan sesuatu, dan menyeka pemuda itu dengan kasih sayang yang tak pernah luntur.Ketika akhirnya dokter memberikan lampu hijau bagi Eyman untuk pulang, ada kelegaan yang menyesakkan dada Humey.Mereka kembali ke pesantren, sebuah tempat yang selama ini menjadi rumah bagi jiwa mereka yang lelah.Namun, kepulangan itu tidak membawa kedamaian yang diharapkan. Suasana pesantren yang biasanya hangat justru terasa asing, seolah udara di sana telah berubah menjadi lebih dingin setelah badai yang mereka lalui.Sore itu, di ruang t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status