Humey membuka pintu dengan napas yang memburu. Begitu sosok Eyman tertangkap oleh pandangan matanya, tanpa membuang waktu, ia mempersilahkan pria itu masuk.Pintu baru saja tertutup, namun Humey tak lagi mampu menahan bendungan emosinya.Tanpa pikir panjang, ia berhambur ke pelukan Eyman, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu dan menangis tersedu-sedu.Ia mencari perlindungan di balik bahu lebar itu, seolah-olah itu adalah satu-satunya benteng terakhir yang tersisa di dunia baginya.Eyman tertegun sejenak, namun instingnya bergerak lebih cepat.Ia mendekap hangat tubuh mungil Humey. Dekapan itu begitu erat, sulit diartikan, antara perlindungan seorang kakak ipar atau sesuatu yang lebih dalam yang enggan mereka akui.Untuk sesaat, status "saudara ipar" yang membatasi mereka seolah menguap, kalah oleh ketakutan hebat yang mendera Humey dan kekhawatiran luar biasa yang dirasakan Eyman.“Tenang saja, Humey... Abang di sini. Selalu di sini,” bisik Eyman pelan, tangannya mengusap p
Dernière mise à jour : 2026-07-04 Read More