LOGIN“Ma-maksud Bapak?” tanyaku. Susah payah aku menelan saliva. Ucapan pak Rivan membuatku benar-benar dilema sekaligus tidak percaya.“Saya akan menikahimu jika kamu setuju,” jawabnya.Jantung ini terlalu terkejut mendengar pernyataan pak Rivan. Entah apa yang harus aku jawab. Dilema besar menghampiri.Hati aku masih milik Malik. Nama itu masih tersemat di dalam sini. Bukan hal yang mudah untuk aku melupakan lelaki itu. Aku mencintainya, entah sampai kapan rasa cinta itu terus menghantuiku.“Arin!” panggil pak Rivan, membuyarkan lamunanku.“Maaf, Pak. Sepertinya ini terlalu terburu-buru. Jujur saya belum bisa menerima Bapak. Saya ….” ucapanku terhenti.Aku menghela napas dalam. Sebenarnya aku merasa tak enak hati saat mengatakan hal ini pada pak Rivan. Namun, jika dipaksakan menerima, lalu bagaimana dengan hatiku?“Maaf!” ucapku lirih.Aku menundukkan kepalaku, kulepaskan genggaman tangan pak Rivan dari tanganku. Kuremas ujung baju yang kupakai. Hanya mataku yang bergerak, kepalaku masih
“Mama!” panggil Andrio, dia berlari dan memelukku erat.Aku mengusap punggungnya, anak itu sudah terlihat lebih sehat dibanding kemarin.“Oh hai … jadi ini pacar barumu, Mas?” sapa seorang wanita muda, cantik, dan berpenampilan modis.Wanita itu berdiri mendekatiku. Sementara aku diam tidak mengerti. Lantas menoleh ke belakang, dan … aku tidak menemukan siapa pun selain diriku. Namun, tidak mungkin yang dimaksud wanita itu adalah aku. Sangat mustahil.“Ya, dia Arin. Cantik, bukan?” sahut pak Rivan.Aku membeliak, situasi ini semakin membuatku seakan mengambang. Berusaha mengerti. Namun, aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa pak Rivan menganggapku adalah pacar barunya? Bahkan pak Rivan pun tidak pernah menyatakan cinta padaku. Namun, kini dia membawaku ke keluarganya, dengan status seorang pacar?“Hai, Mbak Arin! Aku Sheila. Mbak Arin cantik, ya! Pantas Andrio selalu muji-muji Mbak kalau setiap kali menelponku!” seru wanita yang bernama Sheila itu.Aku mengangguk, tersenyum kecil. Nam
Aku membeku, mencerna baik-baik kalimat terakhir yang terlontar dari mulut pak Rivan barusan.“Apa maksudnya?” Pertanyaan itu berputar dalam otak.Kulihat mobil pak Rivan telah menghilang dari pandangan. Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam.“Baru pulang, Rin?” tanya Gita.Gita baru saja terbangun, karena mendengar suara pintu kamar dibuka.“Iya, aku pulang telat malam ini,” jawabku.Kutaruh paper bag ini di atas nakas. Menggantungkan tas kecil pada paku. Gita bangkit, memandangi paper bag.“Apa itu?” tanyanya.“Hanya baju, pemberian majikanku!” jawabku.Aku mengganti pakaianku dengan pakaian santai, bersiap untuk tidur. Sementara Gita meraih paper bag itu, membuka isinya.“Wih … bagus banget, Rin. Kok bisa majikan kamu membelikan gaun sebagus ini?” tanya Gita.Aku menghembuskan napas kasar. Lantas membaringkan diri di atas kasur tanpa ranjang ini.“Entahlah, yang jelas besok jam sepuluh aku harus memakainya. Majikanku mau jemput aku ke sini, dan … katanya adiknya mau datang sama o
“Siapa, kamu? Lepas!” teriakku.Aku memberontak berusaha melepaskan diri. Namun, tenagaku kalah kuat, aku terlalu lelah untuk melawan.“Tolong! Tolong!” teriakku. Berharap ada orang lain melewati jalan ini, dan menolongku.“Hei! Ada apa? Kenapa teriak-teriak?”Aku terdiam, seketika aku tersadar ternyata tidak ada yang menyeretku masuk ke dalam mobil.Kedua bahuku berguncang, seseorang tengah berusaha menyadarkanku.“Pak Rivan!” gumamku. Seperti orang bodoh, aku melongo dengan tatapan kosong.“Kamu kenapa? Melamun?” tanyanya.Aku menyibak rambutku ke belakang. Ternyata aku memang melamun, sehingga kejadian yang baru saja yang aku alami, terasa sangat nyata. Bisa-bisanya aku berhalusinasi seperti ini. Kacau!“Iya, sepertinya saya melamun,” jawabku.“Ini malam, gelap, usahakan kamu fokus. Sekarang masuk mobil saya!” titah pak Rivan.Aku mengernyitkan dahiku, bingung mau apa sebenarnya pak Rivan menyuruhku menaiki mobilnya. Padahal jam kerjaku telah selesai.“Kenapa diam? Cepat masuk!” ti
“Ya! Aku menyukainya! Puas, kamu?!” sentak pak Rivan.Aku membeliak, tidak kusangka jawaban pak Rivan sangat menohok. Namun, aku tidak mampu berkata apa pun, hanya bisa menggeleng kecil sebagai bantahan.“Ka-kamu bercanda, kan?” tanya Liska. Bicaranya pun berubah gugup.“Tidak, aku memang menyukainya. Memang itu, kan, jawaban yang ingin kamu dengar? Aku sudah menjawabnya, sekarang kamu puas?” jawab pak Rivan.Liska mengerjapkan mata dengan hati yang terluka. Cairan kesedihan itu tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa bisa dia tahan.“Kenapa kamu tega?” tanya Liska. Suaranya nyaris tidak terdengar.“Tega? Kamu bilang aku tega?” Pak Rivan memalingkan wajah beberapa detik. Sebuah senyuman ia ukir. Bukan manis. Namun, miring.“Dengar! Kamu yang mendesakku untuk menjawabnya. Dan … itu jawabannya, aku memang menyukai Arin. Aku harap kamu puas, karena memang itu jawaban yang kamu tunggu, bukan?”Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Mereka yang memiliki hubungan, kenapa aku yang mesti dilibat
“Kamu yakin, Arin orangnya?”Aku yang tengah menyuapi Andrio makan di ruang keluarga. Samar-samar aku mendengar suara pak Rivan tengah mengobrol dengan seseorang di telepon. Di dalam ruang kerjanya, dalam keadaan pintu yang tidak tertutup rapat, menyisakan sedikit celah beberapa centi. Bukan disengaja. Namun, ini kebetulan.Hari ini Andrio telah kembali dari rumah sakit. Keadaan telah pulih, dan kini dia ingin makan di ruang keluarga, sambil menonton acara kartun kesukaannya.“Kenapa pak Rivan menyebut-nyebut namaku?” batinku.Bahkan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali pak Rivan menyebut-nyebut namaku. Heran bercampur bingung, entah apa yang dia bahas, sehingga membuat rasa penasaran muncul di benakku.“Minum, Ma!” pinta Andrio.Aku meraih gelas berisi air putih di atas meja. Wajah anak ini tidak terlalu pucat, suhu tubuhnya pun telah kembali normal. Hanya saja dia sedikit manja, tidak ingin aku tinggalkan walaupun hanya sebentar.“Aku kenyang, boleh aku tiduran di pangkuan Mama?” B







