LOGINPerjuangan Alvin tak sia-sia. Pria ini akhirya mendapatkan dua kantong darah untuk istrinya. Dokter pun mengatakan jika Raisa harus dioperasi bila kadar darahnya membaik.
Namun, satu hal yang menyakitkan hatinya. Yaitu hasil usg terakhir. "Terjadi perlengketan di rahim ibu Raisa. Lihat ini yang seperti anggur." Jelas dokter Winda. "Ini adalah kista." "Kistanya tidak mengecil, dok?" Alvin jadi frustasi. Rasanya sudah segala macam obat yang dibelikanMalam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia
Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek
"Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r
Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M
Mata Arumi membulat sempurna. Jadi ini maksud Alvin menemuinya. Ternyata dia ingin mencoba merayu Arumi sekali lagi. "Satu tahun yang lalu kamu juga pernah mengatakan hal itu padaku, mas. Dan jika kamu hari ini kembali bertanya padaku maka jawabanku sama. Aku tidak bisa kembali padamu. Sudah cukup kegagalanku satu kali.. aku nggak mau merasakannya lagi." "Tapi aku berjanji akan berubah.. aku mohon demi anak kita.." pinta Alvin penuh harap. Arumi menatap ke dalam netra pria itu sejenak. Dilihat sekilas seperti ada kesungguhan. Tapi maaf saja.. tak semudah itu mendapatkan hati Arumi. "Ketika aku mengandung apa kamu ada untukku, mas? Kamu bahkan tidak mau mengakui anak yang ku kandung. Kamu biarkan hidupku dalam kesulitan.. aku berjualan nasi uduk lalu berjualan asongan.. apa kamu pernah tahu kesulitanku?" Tanya Arumi penuh kekecewaan. "Saat aku pergi, apa pernah juga kamu mencariku? Kamu dan ibu tega mengusirku dari rumah. Me
Hidup dan mati. Semua sudah menjadi garisan Tuhan. Sebagai manusia, kita hanya bisa menjalaninya. Menerima sembari memperbaiki diri. Jangan sampai kita pergi tanpa membawa bekal apapun menuju akhiratNya. Arumi masih memandang nanar keluar jendela mobil. Perlakuan Nurlela, Alvin dan juga Raisa padanya. Apakah ini yang namanya tabur tuai? Kenapa sekarang kehidupan seakan berbalik menusuk mereka? "Kamu mikirin apa?" Tanya Paris. "Nggak apa-apa. Cuma mikir ternyata cepat sekali Raisa diambil Yang Kuasa." "Sudah jalannya. Daripada dia terus menderita karena penyakitnya." "Mas benar." Sahut Arumi mengangguk. "Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" "Silahkan saja." Jawab Paris tanpa menoleh. Ia sedang fokus menyetir. "Bagaimana kalau kita nggak perlu melanjutkan pernikahan ini.." "Apa?" Paris memastikan pendengarannya. "Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik da
Pagi menjelang, Alvin mencuci wajahnya dan keluar dari kamar mandi. Semalaman dia tidur di lantai yang dingin karena Raisa harus diobservasi di ruangan ini. "Sayang.. aku beli sarapan dulu." Ucap Alvin kepada Raisa yang tengah tidur.
"Maaf.. maaf.." ucap Alvin menoleh sekilas. Ia masuk ke dalam lift dan tersentak. Lantas saja dia berbalik kembali dan melihat pria yang juga sedang menatapnya tajam. "Pria itu..??"Terlambat. Pintu lift tertutup ketika Alvin ingin menegur pria tersebut.Sementara Paris menjadi
Ah, sudah berapa lama ini. Mungkin dua bulan semenjak Arumi pergi tanpa kabar. Sudah kemana-mana Paris mencarinya, bahkan meminta bantuan ayahnya, Wirawan. Tapi batang hidung Arumi masih tak kelihatan. Sial! Paris jadi menyesal. Harusnya Paris m
"Bagus kalau begitu! Itu artinya kamu tahu diri. Jadi menyingkirlah dan jangan mencari perhatian mas Alvin. Aku tahu dia sering diam-diam menemuimu di kontrakan itu!" Raisa jadi kesal jika mengingat itu. Suaminya sudah tak jujur padanya.Dengan mata yang memerah, Arumi tersenyum lagi. Di







