INICIAR SESIÓNTujuh hari kemudian..
Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan di"Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.
Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti
Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia
Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek
"Mas Paris.."Aduh.. wajah ini sudah memerah. Mata ini mulai menjalar hangat hingga menumpuk cairan. Apa-apaan ini Paris? Pria ini memberi kejutan untuknya.Percuma mencari Paris di dalam kerumunan sana, dia rupanya muncul dari panggung belakang sambil mengulum senyum.Di layar sana sudah ada kata-kata romantis bertuliskan bahasa inggris. Yang pasti ada nama Arumi disana hingga membuatnya tersipu malu.Arumi ingin bersembunyi saja. Jika ada lubang semut dia ingin kesana. Menyembunyikan wajah yang mulai gerah karena kejutan dari pria ini.Paris berjalan dari arah belakang. Mengenakan kaos polo itu dia nampak gagah. Sebuah mic diberikan kepadanya.Pria ini mendekat bahkan berdiri di samping Arumi.Astaga... Arumi mau pingsan saja! Terlebih detak jantungnya sudah mengajaknya berlari."Arumi.." ucapnya.Arumi menutup mulutnya menahan malu, sementara semua mata penonton sekarang tertuju padanya. Belum lagi r
Di sisi lain, Paris sejak tadi mengulum senyumnya. Alvin sudah tahu rencana pernikahan mereka. Itu artinya pasti tadi Arumi sudah cerita.Rapat itu hanya bualan. Paris sengaja berbohong tak bisa menemani Arumi dan Hannan bertemu dengan Alvin. Dia ingin memberi waktu pada Arumi menyelesaikan masa lalunya. Percakapan mereka juga sudah Paris dengar. Syukurlah, hati Arumi tak goyah atas rayuan mantan suaminya."Mas masih marah padaku?" Tanya Arumi ketika Paris hanya diam di perjalanan."Untuk apa aku marah padamu?""Abisnya aku tahu kalau kamu marah soal kemarin. Sikapmu berubah, mas.." lirih Arumi. "Padahal maksudku nggak ingin merepotkanmu aja.. aku takut menjadi beban untukmu padahal kamu bisa mendapatkan wanita baik selain aku.""Kamu mulai lagi.." gumam Paris menggelengkan kepalanya. Daripada meladeni Arumi lebih baik dia diam saja.Sesampainya di rumah, Arumi dan Hannan turun lebih dulu dan Paris menyusul."M
Bergegas Alvin pergi ke ruang NICU yang berada di lantai 2 rumah sakit ini. Sesampainya disana, ia hanya bisa melihat bayi-bayi yang tertidur di inkubator. Alvin pun sampai mencari yang mana buah hatinya. "Orang tua dari siapa, pak?" Tanya perawat yang hendak masuk ke ruangan
"Cari ibumu mas sebelum polisi yang menemukannya! Aku malu sekali! Sebenarnya apa yang ibumu perbuat pada Arumi?" Mendengar nama Arumi membuat Alvin tersentak. Arumi jatuh karena ibunya? Lalu bagaimana keadaannya? Karena penasaran, Alvin menuju ruang observasi dimana Arumi berada. Disana ia melih
"Jangan berdusta, Pak. Ibuku tidak mungkin melakukan itu!" Alvin tak percaya. Paris menarik tangan Alvin ke komputer yang ada di nurse station. Sementara, Raisa diselamatkan perawat masuk ke ruang rawat. "Lihat ini!" Paris menunjuk layar komput
Saat itu juga Arumi harus dipindahkan ke ruang observasi. Keluar darah hingga kontraksi hebat membuat Winda sebagai dokter kandungan wanita tersebut harus memberikan keputusan yang sulit. Apalagi kontraksi pada perut Arumi tak kunjung berhenti sejak tadi. Paris yang







