Share

49. Pasca Transfusi Darah

Penulis: QM
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-12 03:43:12

Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Brian, membawa kesadarannya kembali dari kegelapan yang pekat. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan dan pendar lampu neon yang menyilaukan.

Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, sebuah sensasi asing yang menyiksa bagi pria yang terbiasa memiliki kendali penuh atas raganya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   52. Kegelisahan Brian

    Angin malam yang berembus dari celah balkon membawa aroma petrichor yang tajam, sisa-sisa hujan yang membasahi aspal Jakarta. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu padat, hanya dipecah oleh suara gesekan ritsleting koper yang ditarik pelan oleh Amaya. Wanita itu, dengan gerak-gerik yang masih sedikit kaku akibat luka jahitan yang belum pulih sempurna, tampak seolah tengah menyusun kepingan masa depan di dalam tas kecilnya. "Brian, apa baju ini terlalu tebal untuk dipakai di Tokyo nanti?" tanya Amaya lembut. Suaranya bening, membelah lamunan Brian yang tengah terpaku menatap lampu-lampu mansion yang buram oleh kabut tipis. Brian menoleh. Cahaya lampu kamar yang kekuningan jatuh di wajah Amaya, memberikan rona yang begitu hangat, sebuah pemandangan yang kontras dengan dinginnya pikiran yang tengah berkecamuk di kepala Brian. Ada rasa sesak yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang tidak memiliki istilah dalam kamus bisnisnya. Ia ingin sek

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   51. Tunangan

    Brian mengeratkan genggamannya. Keangkuhannya kembali mencuat, namun kali ini terasa seperti pelindung yang hangat. "Kehilangan segalanya? Amay, dengar baik-baik. Lentera Maritim, saham, atau pelabuhan itu... semuanya bisa aku beli lagi. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu sekarang, itu adalah investasiku yang paling berharga. Selama jantungmu berdetak, aku tidak pernah merasa rugi. Aksara Group tidak akan runtuh hanya karena tikus seperti Gevani mencuri satu gudang." Amaya terdiam, merasakan kekuatan dari kata-kata suaminya. Meskipun Brian tetaplah pria sombong yang angkuh, namun di balik kata-kata itu, ada janji perlindungan yang absolut. "Kamu terantuk apa, Brian? Banyak sekali kosak kata yang kluar dari bibirmu?" gerutu Amaya masih terdengar. Brian menoleh mendengarnya."Jangan kira aku tidak dengar, Amay!" Amaya yang mendengar hal itu segera menoleh ke sembarang arah. "Fares, lanjutkan instruksiku di ruang sebelah. Jangan ganggu istriku lagi," usir Brian dengan nada yang t

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   50. Di Ambang Kebangkrutan

    Malam kian merambat di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, namun di dalam ruangan VVIP yang disulap menjadi benteng kedap informasi itu, ketegangan justru baru saja dimulai. Brian Aksara, meski tubuhnya masih terasa seperti dihimpit beton akibat kehilangan volume darah yang signifikan, tetap memaksakan indranya untuk bekerja tajam. Matanya tak lepas dari jemari Amaya yang berada dalam genggamannya. Getaran halus dari kulit istrinya adalah satu-satunya kompas yang memastikan Brian bahwa ia belum kehilangan segalanya. Fares berdiri mematung di sudut ruangan. Bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu temaram, menciptakan kesan suram yang tak tertolong. Ia memegang ponselnya dengan cengkeraman yang terlalu erat, sesekali melirik ke arah Brian dengan sorot mata yang dipenuhi kegelisahan. Sebagai orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun mengabdi, Fares tahu kapan sang raja bisa diganggu dan kapan ia harus diam. Namun, kabar yang baru saja masuk ke perangkat komu

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   49. Pasca Transfusi Darah

    Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Brian, membawa kesadarannya kembali dari kegelapan yang pekat. Kelopak matanya terasa seberat timah, namun ia memaksanya terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih yang membosankan dan pendar lampu neon yang menyilaukan. Kepalanya berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa seringan kapas, sebuah sensasi asing yang menyiksa bagi pria yang terbiasa memiliki kendali penuh atas raganya. Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya, namun rasa lemas yang luar biasa menghantamnya. "Amaya..." Suara Brian keluar hanya berupa bisikan parau yang kering, nyaris tidak terdengar. Ingatannya berputar liar seperti potongan film yang rusak; kilatan belati di toko bunga, teriakan histeris Bela, darah yang merembes di kemeja hitamnya, hingga detik-detik saat ia merasakan nyawanya seolah tersedot keluar melalui selang donor. Dengan sisa tenaga yang ada, Brian menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di sana, hanya terpisah oleh jarak

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   48. Rhesus Negatif

    Lantai rumah sakit yang biasanya steril dan tenang kini terasa seperti lorong menuju neraka bagi Brian Aksara. Langkah kakinya yang panjang dan tegas menyapu lantai koridor IGD, meninggalkan jejak-jejak darah yang mulai mengering di atas ubin putih. Kemeja hitamnya yang tadinya rapi kini basah dan lengket, bukan oleh keringat, melainkan oleh darah Amaya yang belum berhenti merembes. Bugh Tiba-tiba tinjuan mengenai perut Brian hingga membuatnya jatuh ke lantai. Fares yang berada di ujung koridor segera memegangi sayang pemukul bosnya. "Brengsek kamu, Brian!" makinya. "Jangan kurang ajar, Amran!" bentak Fares sambil memegangi pria yang sedang murka itu. Brian bangun dan menatap wajah Amran yang penuh kemarahan. Matanya sayu seakan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Amran. "Kamu tidak usah ikut campur, Fares! Dan kamu, Brian. Sumber malapetaka buat Amaya. Baru saja dia sembuh setelah hampir dibunuh musuhmu, sekarang dia..." Amran terduduk menumpu lututnya di lantai.

  • Diculik Lalu Dinikahi Pria Berbahaya   47. Lili dan Mawar

    “Tas biasa begitu, kenapa tidak bilang dari semalam? Tau begitu belikan di store terkenal.” celetuk Brian setelah fokusnya beralih melihat tas yang disebut Amaya. “Itu bagus, Brian. Ibu tidak akan mau memakai jika tahu kamu belikan tas mahal.” balas Amaya jujur. “Ok,” setelah kata singkatnya itu, Brian menerima telepon dan menjauh sedikit. Amaya masih memilih bunga untuk dirangkai. Brian melangkah menjauh beberapa meter dari Amaya, menempelkan ponsel ke telinganya. Suaranya terdengar dingin dan tajam saat berbicara dengan rekan bisnisnya di seberang sana. Pria itu sibuk menanggapi laporan audit, sementara matanya masih sesekali melirik ke arah Amaya yang sedang asyik memilih rangkaian bunga lili putih yang mekar sempurna. Brian tidak menyadari bahwa di antara rimbunnya kelopak peony dan mawar yang memenuhi toko, maut tengah mengintai dalam sunyi. Amaya baru saja berbalik, hendak menunjukkan sebuah tas kulit berwarna cokelat tanah yang menurutnya cocok untuk Rahmi. "Brian…" Kata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status