Compartir

08. Selingkuh

Autor: Ivorybeige
last update Fecha de publicación: 2026-06-26 22:52:21

Begitu membuka pintu kamar, Shaluna mendapati Ragan sudah duduk menunggunya di tepi ranjang.

​"Kamu gak berangkat kantor, Mas?" tanya Shaluna, menghentikan langkah di ambang pintu.

​"Aku sengaja cuti."

Ragan mendongak, menatapnya dengan gundah, sebelum melanjutkan dengan suara tertahan.

"Aku harap, nanti kita di kantor gak saling mengenal, Lun."

​Shaluna mendesah pelan, menahan rasa muak yang mendadak naik ke dada.

"Mas, kadang aku mikir kamu itu gila, tahu gak?!"

​"Terserah! Ta
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    09. Tempat Keiran

    ​Ini adalah hari pertama Shaluna menginjakkan kaki di kantor sebagai PA baru Keiran. Keheningan kubikal lantai atas seketika pecah saat Ragan melangkah masuk tanpa mengetuk pintu, berniat menyerahkan laporan mingguan, tepat ketika Shaluna sedang berdiri di samping meja kerja Keiran untuk menerima instruksi harian.​Keiran tidak melirik Ragan sama sekali. Seolah Ragan hanya angin lalu, matanya tetap lurus menatap Shaluna yang mengenakan pakaian kerja formal untuk pertama kalinya.​Tanpa sepatah kata pun, tangan kanan Keiran bergerak melepas dasinya dengan satu sentakan kasar, lalu menarik kerah kemejanya hingga dua kancing teratas terbuka. Mengekspos kulit dadanya yang bidang.​Keiran mengulurkan dasi itu ke depan dada Shaluna. Ia hanya menatap wanita itu dengan sorot mata mengintimidasi. Tanpa instruksi verbal.​Shaluna sempat menahan napas, menyadari ini adalah ujian di hari pertamanya. Sebagai PA, ia terpaksa melangkah maju, mengambil dasi itu, dan membungkuk untuk memasangkannya k

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    08. Selingkuh

    Begitu membuka pintu kamar, Shaluna mendapati Ragan sudah duduk menunggunya di tepi ranjang. ​"Kamu gak berangkat kantor, Mas?" tanya Shaluna, menghentikan langkah di ambang pintu. ​"Aku sengaja cuti." Ragan mendongak, menatapnya dengan gundah, sebelum melanjutkan dengan suara tertahan. "Aku harap, nanti kita di kantor gak saling mengenal, Lun." ​Shaluna mendesah pelan, menahan rasa muak yang mendadak naik ke dada. "Mas, kadang aku mikir kamu itu gila, tahu gak?!" ​"Terserah! Tapi aku cukup terbebani sejak kamu masuk hidupku," balas Ragan defensif. ​"Harusnya aku yang ngomong gitu, Mas!" Tekanan udara di dalam kamar tidur mereka seketika menyempit. Ego Ragan yang rapuh mulai terlihat dari binar matanya yang putus asa. ​"Kasih aku kesempatan. Satu kali aja, malam ini ...." Ragan menggantung kalimatnya. ​"Malam ini apa, Mas?" desak Shaluna karena Ragan tak kunjung bicara. ​Ragan menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Aku ingin hak aku sebagai suami. Kamu

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    07. Jalan Keluar

    Denting sendok yang beradu dengan piring pagi itu menjadi suara yang melenyapkan hening. Di ujung meja, Dion meletakkan cangkir kopinya pelan. ​"Shaluna, daripada kamu digangguin ibu mertuamu terus, lebih baik ikut kerja di kantor Papa." ​Tangan Shaluna yang sedang memegang garpu seketika membeku. Di seberangnya, Maria langsung menghentikan kunyahannya dengan wajah yang mengeras, sementara Ragan hanya terdiam menatap piringnya dengan rahang terkatup rapat. ​Shaluna mendongak, beralih menatap Dion yang sedang menunggunya dengan sorot mata menuntut jawaban. Tawaran itu jelas sebuah penyelamatan, sekaligus tiket keluar dari neraka yang diciptakan Maria di rumah ini. Namun, sebelum ia sempat membuka suara, tatapannya tanpa sengaja berbenturan dengan sepasang mata gelap Keiran yang duduk tenang di sisi meja yang lain. ​"Tapi, Pa, aku lulusan DKV," potong Shaluna pelan, mencoba realistis di tengah ketegangan yang kian merayap. ​"Ya gak apa. Nanti Papa tanyakan bagian mana yang koso

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    06. Ragan Pulang

    Keheningan itu pecah saat Maria maju dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan malu di hadapan teman-temannya. "Keiran, jaga mulut kamu!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menguasainya. Keiran tidak bergeming. Pria itu hanya memiringkan kepala, mengunci Maria dengan tatapan dingin. Sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana, Keiran mengulas satu senyum tipis, membungkam histeria Maria dan membuatnya mundur dengan wajah pucat. Sebelum melangkah pergi, Shaluna berhenti di samping Keiran. Mengabaikan keberadaan Maria, ia mendongak, menatap sepasang mata gelap itu selama beberapa detik. "Makasih, Mas," bisik Shaluna, sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah cepat menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. *** Satu minggu berlalu sejak keributan di ruang tengah hari itu. Pagi ini, suasana di meja makan terasa jauh lebih menyebalkan daripada biasanya. Papa mertuanya, Dion, sudah pulang dari luar kota

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    05. Ragan yang Payah

    Langkah Shaluna terhenti di anak tangga pertama. Ruang tengah rumah megah itu ternyata sudah dipenuhi oleh kepulan aroma parfum mahal dan gelak tawa ibu-ibu sosialita teman arisan Maria. Begitu sosok Shaluna terlihat, tawa itu mendadak senyap, digantikan oleh tatapan menghakimi.​Maria yang duduk di tengah sofa utama langsung menyahut dengan suara sengaja dikeraskan."Gimana pemeriksaan kamu tadi? Bener kan kamu mandul?"​Bisik-bisik langsung berdengung di ruangan itu. Mata para wanita paruh baya itu terang-terangan menatap Shaluna dengan binar kasihan yang mengolok.​Shaluna tidak menangis. Rasa takutnya sudah menguap di ruang dokter tadi, digantikan oleh dingin yang mengeras di dadanya. Dengan tenang, ia merogoh tas jinjingnya.Mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan medis dari dokter Hanum, lalu melangkah mendekat untuk meletakkannya tepat di depan Maria.​Maria menerima kertas itu dengan dagu terangkat angkuh, tapi saat matanya membaca baris demi baris keterangan medis di

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    04. Masih Perawan

    Shaluna meringkuk di bawah selimut tebalnya, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tirainya sengaja ia tutup rapat. Tiga hari. Sudah tiga hari penuh ia mengurung diri, menolak menginjakkan kaki keluar dari kamar ini bahkan hanya untuk sekadar mengambil segelas air.Shaluna berkali-kali mengutuk dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar, kembali pada malam sialan di dapur itu, memutar ulang setiap detik percakapannya dengan Keiran seperti kaset rusak yang menyakitkan.Kenapa ia harus merasa lapar malam itu? Dan yang lebih bodoh lagi, kenapa ia harus meladeni ucapan pria itu?Penyesalan itu datang bertubi-tubi, menghantam dadanya hingga terasa sesak. Sudah benar hubungan mereka yang dulu, saling menghindar, berpura-pura tidak melihat jika berpapasan, dan menjaga jarak sejauh mungkin. Shaluna meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Baginya sekarang, berkomunikasi dengan Keiran adalah pilihan paling buruk yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.Sialnya, perintah dari mertuanya tidak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status