Share

04. Masih Perawan

Author: Ivorybeige
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-24 11:24:36

Shaluna meringkuk di bawah selimut tebalnya, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tirainya sengaja ia tutup rapat. 

Tiga hari. 

Sudah tiga hari penuh ia mengurung diri, menolak menginjakkan kaki keluar dari kamar ini bahkan hanya untuk sekadar mengambil segelas air.

Shaluna berkali-kali mengutuk dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar, kembali pada malam sialan di dapur itu, memutar ulang setiap detik percakapannya dengan Keiran seperti kaset rusak yang menyakitkan.

Kenapa ia harus merasa lapar malam itu? Dan yang lebih bodoh lagi, kenapa ia harus meladeni ucapan pria itu?

Penyesalan itu datang bertubi-tubi, menghantam dadanya hingga terasa sesak. Sudah benar hubungan mereka yang dulu, saling menghindar, berpura-pura tidak melihat jika berpapasan, dan menjaga jarak sejauh mungkin. 

Shaluna meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Baginya sekarang, berkomunikasi dengan Keiran adalah pilihan paling buruk yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.

Sialnya, perintah dari mertuanya tidak bisa didebat. 

Setelah pelayan mengetuk kamarnya berkali-kali atas perintah Ibu Maria, mau tidak mau Shaluna akhirnya melangkah turun ke lantai bawah dengan malas yang tak ditutup-tutupi.

Di ruang tengah, Maria sudah menunggu dengan raut wajah ketus yang biasa.

"Ibu udah masukin nama kamu ke antrian dokter obgyn di rumah sakit deket kantor Ragan," ucap Maria tanpa basa-basi, bahkan tanpa memandang wajah Shaluna yang pucat. 

"Kamu pergi aja sendiri, cek kesehatan rahim kamu, siapa tahu kamu mandul."

Kalimat beracun itu menghantam dada Shaluna. 

Di balik punggungnya, kedua tangan Shaluna seketika mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih, menahan gejolak amarah yang mendadak membakar dadanya.

"Sekalian konsultasi kehamilan," tambah Maria, nadanya begitu menuntut seolah anak adalah barang yang bisa dipesan begitu saja.

Shaluna menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. 

"Mas Ragan gimana, Bu?"

"Dia di luar kota sama Papa, kamu cek aja sendiri. Ragan gak mungkin bermasalah, selama ini keluarga besar kami gak ada yang susah dapet anak." 

Maria mengibaskan tangan, meremehkan.

Rasa sakit hati yang bertumpuk sejak tiga hari lalu membuat pertahanan Shaluna runtuh. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi menantu yang penurut. 

"Jadi maksud ibu, aku yang bermasalah?"

Maria seketika menghentikan kegiatannya. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Shaluna dengan tatapan tak suka yang begitu tajam. 

"Luna, sejak kapan kamu pintar membantah?"

Shaluna tidak berniat memperpanjang perdebatan yang pasti akan menempatkannya di posisi bersalah. Ia hanya mengangguk pelan dengan senyum getir yang samar, lalu berbalik pergi menuju pintu depan tanpa pamit lagi. 

Supir keluarga ternyata sudah menunggunya di dalam mobil yang mesinnya telah menyala.

***

Aroma antiseptik yang khas langsung menyambut Shaluna begitu ia melangkah masuk ke dalam ruang periksa yang serba putih. 

Dokter kandungan yang menanganinya, seorang wanita paruh baya berwajah ramah. Dokter Hanum, tersenyum hangat seraya mempersilakan Shaluna duduk di kursi hadapannya.

"Ada keluhan apa, Ibu Shaluna? Atau ini kunjungan rutin biasa?" tanya dokter Hanum dengan nada suara yang menenangkan, jemarinya siap mengetik di atas papan tik komputer.

Shaluna meremas tas jinjing di pangkuannya, mencoba mengusir rasa canggung. 

"Saya ... mau konsultasi kehamilan, Dok. Dan sekalian cek kesehatan rahim."

"Baik. Sudah berapa lama menikah, Bu?"

"Tiga tahun, Dok," sahut Shaluna lirih.

Dokter Hanum mengangguk-angguk, mencatat informasi tersebut. 

"Selama tiga tahun ini, apakah sempat menggunakan alat kontrasepsi? Atau siklus haidnya ada keluhan?"

"Tidak pernah pakai kontrasepsi, Dok. Siklus haid saya juga teratur tiap bulan," jawab Shaluna jujur, mengikuti prosedur tanya jawab medis yang biasa dilakukan.

"Kalau begitu, kita langsung cek saja ya, Bu. Biar kita lihat kondisi rahim dan sel telur Ibu melalui USG transvaginal atau pemeriksaan dalam, supaya hasilnya lebih akurat."

Shaluna mengangguk pasrah. 

Dengan perasaan waswas dan jantung yang berdebar agak kencang, ia berjalan mengekor di belakang perawat menuju ranjang periksa di balik tirai. Setelah memposisikan dirinya di atas ranjang dengan kedua kaki bertumpu pada penopang, rasa dingin dari peralatan medis mulai menyentuh kulitnya. 

Shaluna memejamkan mata, merapalkan doa di dalam hati agar semuanya baik-baik saja, setidaknya agar ia punya bukti untuk menyumpal mulut Ibu Maria.

Namun, beberapa menit setelah pemeriksaan dimulai, keheningan di dalam ruangan itu terasa mendadak pekat. 

Shaluna membuka matanya dan mendapati dokter Hanum mengernyitkan dahi dalam-dalam di balik maskernya.

Dokter itu menjauhkan peralatannya, lalu menatap Shaluna dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ibu Shaluna," panggil dokter Hanum, nadanya berubah menjadi sedikit lebih serius dari sebelumnya. 

"Tadi Ibu bilang, usia pernikahan Ibu sudah berjalan tiga tahun, ya?"

"Iya, Dok. Benar," jawab Shaluna, mendadak dicekam rasa cemas. 

Apakah rahimnya benar-benar bermasalah? Apakah ia memang mandul seperti yang dituduhkan mertuanya?

"Maaf jika pertanyaan saya agak sensitif." 

Dokter Hanum menjeda sejenak, menatap mata Shaluna dengan saksama. 

"Selama tiga tahun ini, seberapa sering Ibu dan suami berhubungan badan? Apakah melakukannya secara rutin?"

Pertanyaan frontal itu seketika membuat wajah Shaluna memanas. Rasa malu yang luar biasa langsung menjalar hingga ke lehernya. 

Ia memalingkan wajah, meremas pinggiran sprei ranjang periksa. Namun, demi formalitas medis, ia tetap menjawab dengan suara yang hampir menyerupai cicitan.

"Jarang, Dok. Sangat jarang. Bahkan ... hampir tidak pernah dalam setahun terakhir."

Mendengar jawaban itu, dokter Hanum menghela napas pendek, lalu mengangguk paham. Kedutan di dahinya perlahan mengendur, digantikan oleh sorot mata penuh simpati yang justru membuat Shaluna bingung.

"Pantas saja," ucap dokter Hanum lembut seraya melepas sarung tangan karetnya. 

"Ibu Shaluna tidak perlu cemas tentang kesuburan rahim Ibu saat ini. Karena dari hasil pemeriksaan fisik luar dan dalam tadi, selaput dara Ibu masih utuh sempurna. Sama sekali tidak ada robekan atau tanda-tanda pernah terjadi penetrasi."

Shaluna terpaku di atas ranjang periksa. Kalimat dokter itu mendengung hebat di kepalanya, membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku seolah baru saja disiram air es.

"Jadi... saya gak mandul, Dok?" tanya Shaluna dengan suara bergetar, memastikan pendengarannya sendiri. 

Ia bahkan lupa caranya bernapas dengan benar, matanya menatap dokter Hanum dengan binar keputusasaan sekaligus harapan yang campur aduk.

Dokter Hanum tersenyum tipis. Beliau meletakkan pulpennya dan menatap Shaluna lurus-lurus.

"Rahim Ibu bersih, bentuknya normal, dan dari pemeriksaan awal sama sekali tidak ada tanda-tanda kemandulan atau kelainan. Bagaimana bisa Ibu divonis mandul kalau jalur untuk proses kehamilan itu sendiri belum pernah terbuka?" 

Ujaran dokter  Hanum terdengar begitu gamblang, sekaligus menampar kesadaran Shaluna.

"Secara medis, Ibu Shaluna ini masih perawan. Jadi, masalahnya bukan pada kesuburan Ibu, melainkan pada ... intensitas atau kualitas hubungan intim Ibu dan suami," lanjut dokter itu dengan hati-hati, mencoba menjaga kenyamanan pasiennya. 

"Saran saya, kali lain Ibu datang ke sini lagi, tolong ajak suami Ibu. Kita perlu bicara bertiga, atau mungkin suami Ibu yang perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    143. Tuan Dion

    Suasana di ruang VIP Rumah Sakit Sentosa terasa jauh lebih mencekam ketimbang keheningan di vila persembunyian pesisir utara. Monitor electrocardiogram berdetak stabil namun lambat, memantau ritme jantung Tuan Dion Alvareno yang terbaring lemah di atas brankar putih. Selang oksigen terpasang di hidungnya, sementara wajah pria paruh baya itu tampak pucat pasi, kehilangan seluruh karisma dan keangkuhan yang selama puluhan tahun melekat pada dirinya.​Di sisi ranjang, Keiran berdiri kaku dengan kedua tangan mengepal di dalam saku celana. Tatapannya lurus menatap sosok ayah yang selama ini menjadi dinding tinggi sekaligus sumber luka dalam hidupnya. Di sudut ruangan, Shaluna duduk diam di atas kursi sofa kulit, membiarkan keheningan malam menemani pikiran mereka yang berkecamuk.​Serangan jantung mendadak yang dialami Dion bukan sekadar karena kaget membaca berita skandal di media pagi tadi. Tim dokter pribadi baru saja keluar beberapa jam lalu dan menyampaikan kenyataan pahit: kondisi j

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    142. Awal Mula

    Langkah kaki Keiran dan Shaluna terburu-buru meninggalkan area taman menuju tempat mobil terparkir. Udara pagi yang tadinya terasa sejuk kini mendadak berubah panas oleh deru napas memburu dan dering ponsel yang terus menerus menyalak di dalam tas Shaluna.​Namun, belum sempat tangan Keiran membuka pintu kemudi, suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal menghentikan gerakan mereka.​Dari arah tikungan jalan utama, tiga unit mobil berwarna hitam dengan kecepatan tinggi mendadak memotong jalur dan berhenti melintang tepat di depan kendaraan mereka. Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Belasan wartawan, juru kamera dengan lensa panjang, serta beberapa orang pemburu berita investigasi berseragam jas rapi langsung berhamburan turun, menyerbu ke arah mereka sambil meneriakkan berbagai pertanyaan tajam.​"Tuan Keiran! Apakah benar dokumen keuangan yang dibocorkan Julian Vane adalah fakta?""Nona Shaluna, apa keterlibatan Anda dalam konspirasi penggelapan aset Alvareno Group?""Baga

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    141. Bisnis, Masa Lalu, dan Kamu

    Kedamaian di taman itu mendadak menguap saat ponsel Keiran yang tergeletak di atas bangku kayu mulai bergetar tanpa henti. Layarnya menyala terang, memunculkan nama Sekretaris Utama Alvareno Group dengan panggilan yang masuk bertubi-tubi.​Awalnya, Keiran mengabaikannya. Pria itu hanya melirik sekilas, enggan merusak momen hangatnya bersama Shaluna. Namun, giliran ponsel di dalam tas Shaluna yang berdering nyaring. Notifikasi pesan, email, dan panggilan masuk bermunculan satu per satu tanpa jeda, membuat getaran gawai di tasnya terasa begitu intens.​"Ada apa ya?" gumam Shaluna heran. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah dipenuhi belasan notifikasi dari rekan kurator, pemilik galeri di London, hingga berita utama media seni internasional.​Keiran yang mulai merasakan kejanggalan akhirnya mengangkat panggilan di ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan kata sapaan, suara sekretarisnya terdengar begitu panik dan terengah-engah di ujung telepon.​"Pak Keiran! Bapak

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    140. Quality Time

    Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca sebuah kafe kecil di sudut kota yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis dan riuh media, suasana di dalam kafe terasa hangat dengan aroma seduhan kopi segar dan roti panggangan baru yang memenuhi udara.​Shaluna duduk di balik meja kayu dekat jendela, menyesap teh chamomile hangatnya perlahan. Di hadapannya, Keiran duduk dengan santai. Pria itu mengenakan kaus polos berlengan panjang warna krem yang kasual, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa cahaya matahari pagi. Tidak ada beban, tidak ada jas mahal, dan tidak ada ketegangan.​"Enak tehnya?" tanya Keiran pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.​Shaluna menurunkan cangkirnya, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibirnya. "Enak. Waktu di Eropa aku sering minum ini kalau malam susah tidur. Tapi yang di sini rasanya lebih pas."​Keiran menyunggingkan senyum hangat, lalu menggeser piring kecil berisi penganan manis ke ara

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    139. Tembakan Pertama

    Cahaya dari lampu meja bercahaya temaram, memantulkan bayangan samar sosok pria itu yang duduk dalam diam di balik meja kerjanya. Di hadapannya, kotak beludru hitam berisi cincin berlian kustom yang tadi sore ia bawa dari pemakaman masih tergeletak bisu. Di sebelahnya, kelopak-kelopak bunga peoni putih yang sempat teremas di jarinya mulai melayu, menyebarkan aroma samar yang ironis.​Julian memandangi kotak perhiasan itu tanpa kedipan. Senyum lepas Shaluna saat diputar dalam pelukan Keiran, cara wanita itu membalas ciuman Keiran di bawah sisa gerimis, dan binar kepasrahan yang tak pernah ia dapatkan. Semua rekaman visual itu terus berputar berulang-ulang di kepalanya bagai kaset rusak.​Selama ini, Julian berusaha menjadi pria yang bermartabat. Ia meredam seluruh kepahitan masa lalunya sebagai anak yang tak diakui, menahan diri untuk tidak menghancurkan Dion secara brutal, dan memilih membangun nama besarnya sendiri secara bersih. Semua itu ia lakukan semata-mata agar ia memiliki te

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    138. Patah Hati

    Mobil hitam milik Julian berhenti perlahan di tepi jalan setapak area pemakaman. Di jok penumpang sampingnya, tergeletak seikat bunga peoni putih segar. Bunga favorit Shaluna, serta sebuah kotak beludru hitam kecil berisikan cincin berlian berdesain kustom yang telah ia siapkan dengan penuh perhitungan sejak tiga bulan lalu di London.​Julian mengambil kotak beludru itu, menggenggamnya sejenak di dalam telapak tangannya. Bagi Julian, keputusan ini bukan diambil atas dasar impulsif. Ia telah mendampingi Shaluna melewati masa-masa paling kelam, membangun kembali karier seninya dari nol, dan menjadi benteng tak tergoyahkan saat konfrontasi dengan Dion meletus. Ia yakin, momen kepulangan Shaluna kali ini adalah waktu yang tepat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang resmi.​Dengan setelan kemeja rapi dan seikat bunga segar di tangannya, Julian melangkah turun dari mobil. Udara sore pascahujan terasa dingin dan lembap. Suasana pemakaman begitu hening, hanya ada suara tetesan air d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status