共有

06. Ragan Pulang

作者: Ivorybeige
last update 公開日: 2026-06-24 12:05:42

Kalimat Keiran yang menggantung di udara membuat atmosfer di ruang tengah mendadak sedingin es. Keheningan itu pecah saat Maria maju selangkah dengan napas memburu, wajahnya memerah padam menahan malu yang luar biasa di hadapan teman-temannya.

​"Keiran, jaga mulut kamu!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menguasai dirinya.

​Keiran tidak bergeming sedikit pun.

Pria itu justru menatap ibu tirinya dengan sorot mata yang semakin merendahkan.

"Maria, kamu yang harusnya jaga anak kamu itu."

​Shaluna tidak ingin mendengar kelanjutannya. Cukup sudah kegilaan yang ia telan hari ini.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Shaluna membalikkan tubuh, melangkah cepat menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia meninggalkan Maria yang masih histeris dan Keiran yang berdiri kokoh di bawah sana.

***

Satu minggu berlalu sejak keributan di ruang tengah hari itu. Pagi ini, suasana di meja makan terasa jauh lebih menyebalkan daripada biasanya.

Papa mertuanya, Dion, sudah pulang dari luar kota. Itu berarti Ragan juga sudah kembali ke Jakarta, meskipun pria itu memilih tidak memunculkan batang hidungnya di meja makan.

​Mereka sarapan berempat dalam keheningan yang tenang. Shaluna mengunyah makanannya pelan, sesekali melirik ke arah Maria.

Ibu mertuanya itu kini jauh lebih banyak terdiam, tidak ada lagi hinaan atau sindiran tajam yang biasanya memenuhi ruangan. Sementara itu, Dion dan Keiran menikmati sarapan mereka dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Maria, saya dengar kamu bikin masalah."

Dion tiba-tiba memecah kesunyian, terdengar begitu dingin dan berwibawa.

​Shaluna langsung menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap Maria yang seketika tampak gelagapan, wajah wanita paruh baya itu berubah pias.

​"Masalah apa, Mas? Aku cuma sesekali pergi minum teh sama temen," kilat Maria, mencoba membela diri dengan suara yang agak bergetar.

​Dion tidak langsung menjawab.

Pria sepuh itu menggeser pandangannya, melirik lurus ke arah Shaluna yang duduk diam di sisi meja, sebelum akhirnya kembali menatap sang istri dengan sorot mata menghujam.

​"Berhenti teken Shaluna, Maria. Saya tahu semua meski jarang di rumah."

​Shaluna menahan napasnya. Di bawah meja, jemarinya saling bertautan rapat. Di rumah yang lebih sering sepi ini, ia baru menyadari bahwa sang papa mertua ternyata mengawasi setiap gerak-gerik mereka selama ini.

"Aku cuma—"

​"Berhenti cari pembelaan," potong Dion mutlak.

Pria itu meletakkan sendoknya, menatap istrinya dengan raut keras.

"Saya bisa naikin berita Ragan ke publik."

​Shaluna terpaku.

Berita Ragan?

Jantungnya berdesir mendengarnya. Rupanya, papa mertuanya benar-benar memegang kendali penuh dan tahu persis kebusukan apa yang disembunyikan putra tirinya sendiri.

​"Mas, itu keterlaluan!" pekik Maria tertahan.

Wajahnya pias. Wanita itu buru-buru melirik ke arah Shaluna dengan tatapan awas bercampur panik, seolah takut menantunya itu menangkap lebih banyak celah.

​Dion sama sekali tidak memedulikan bantahan istrinya. Ia bangkit dari kursi dan melangkah pergi begitu saja. Kehilangan akal sehatnya, Maria setengah berlari mengikuti langkah suaminya menaiki tangga menuju kamar mereka.

​Shaluna masih duduk diam di kursinya, mencerna apa yang baru saja terjadi. Dari arah lorong lantai dua, sayup-sayup telinganya masih bisa menangkap suara rengekan Maria yang terdengar begitu putus asa.

​"Aku janji gak akan buat Luna gak nyaman lagi, Mas!"

​Suara bantingan pintu menutup perdebatan itu.

Hening kembali turun menyelimuti ruang makan, menyisakan Shaluna yang kini terjebak berdua saja di meja itu bersama Keiran.

​Di seberang meja, Keiran masih menatapnya dengan senyum tipis yang sarat arti. Sebagai anak kandung Dion, Keiran jelas memegang posisi yang jauh lebih kuat di rumah ini.

​"Kamu dengar sendiri, kan?"

Keiran memecah keheningan, suaranya merendah, memancing perhatian Shaluna sepenuhnya.

"Bahkan Papa pun tahu kalau anak bawaan Maria itu cacat moral."

***

Malam itu, Ragan akhirnya pulang ke kamar mereka.

Penampilannya berantakan dengan rambut yang tidak tertata, dan satu sudut bibirnya tampak memiliki bekas luka keunguan yang masih baru. Entah apa yang terjadi padanya di luar sana dan mengapa ia bisa terluka, Shaluna memilih tidak peduli.

Ia hanya diam, mengabaikan presensi suaminya.

​"Kamu puas bikin aku diomelin ibu?" tanya Ragan tiba-tiba, suaranya terdengar serak dan penuh tuntutan.

​Gerakan kuas Shaluna di atas kanvas seketika terhenti. Ia meletakkan palet lukisnya dengan tenang, lalu berbalik menatap pria yang berstatus sebagai suaminya itu tanpa rasa takut lagi.

​"Aku tiga tahun ini diomelin ibu, dan aku gak nyalahin kamu," balas Shaluna dingin, suaranya terdengar datar sekaligus menohok.

​Ragan terkekeh sinis, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang menyalang frustrasi.

"Ya itu karena kamu yang salah!"

​Mendengar tuduhan tak berdasar itu, Shaluna tersenyum miring. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap lurus ke dalam manik mata Ragan yang tampak menyimpan banyak rahasia busuk.

​"Coba rincikan salah aku apa aja, Mas!" tantang Shaluna, nadanya begitu menuntut hingga membuat keheningan kamar mereka mendadak terasa mencekam.

Ragan tersedak oleh kata-katanya sendiri.

Rahangnya mengeras, menatap Shaluna dengan kilat amarah yang bercampur dengan kepanikan yang berusaha ia sembunyikan. Tatapan berani dari wanita yang selama tiga tahun ini selalu menunduk pasrah di hadapannya benar-benar meruntuhkan egonya.

​"Kamu!"

Ragan menunjuk wajah Shaluna dengan jari yang sedikit gemetar.

"Kamu gak becus jadi istri! Gak bisa ngambil hati Ibu, dan sekarang malah bikin keributan di depan teman-teman Ibu! Kamu tahu gak reputasiku dan Ibu taruhannya?"

​Shaluna berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka tanpa gentar sedikit pun. Rasa takutnya sudah habis tergerus waktu.

​"Keributan?"

Shaluna terkekeh hambar, matanya menatap tepat pada manik mata Ragan.

"Kertas yang aku kasih ke Ibu itu fakta medis, Mas. Aku cuma membela diri karena capek dituduh mandul. Kenapa? Kamu malu karena rahasia kalau kita gak pernah tidur bareng dengan normal akhirnya ketahuan?"

​Wajah Ragan seketika menegang, tampak salah tingkah dan tidak siap menghadapi konfrontasi sefrontal ini.

​"Jadi salah aku apa, Mas?" tanya Shaluna sekali lagi, menuntut jawaban dari pria yang telah membiarkannya menanggung beban mental sendirian.

"Salahku karena aku jujur ke dokter, atau salahku karena membiarkan diriku bertahan di pernikahan hambar ini selama tiga tahun?"

Ragan mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya memburu kencang saat posisinya semakin tersudut.

Sudut bibirnya yang terluka tampak berkedut menahan amarah sekaligus kepanikan yang teramat sangat. Ia melangkah maju, mencoba mengintimidasi Shaluna dengan tatapan matanya yang menajam.

​"Jaga bicara kamu, Luna! Kamu gak tahu apa-apa soal alasan aku gak nyentuh kamu!" bentak Ragan, suaranya meninggi, menggema di dinding kamar mereka yang sunyi.

​Shaluna tidak mundur setapak pun. Ia justru mendongak, menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah ia miliki, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

​"Aku memang gak tahu, Mas. Makanya malam ini aku tanya langsung sama kamu. Apa yang sebenarnya kamu lakuin di luar kota sampai pulang dengan bibir pecah dan ketakutan setengah mati kayak gini?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    06. Ragan Pulang

    Kalimat Keiran yang menggantung di udara membuat atmosfer di ruang tengah mendadak sedingin es. Keheningan itu pecah saat Maria maju selangkah dengan napas memburu, wajahnya memerah padam menahan malu yang luar biasa di hadapan teman-temannya.​"Keiran, jaga mulut kamu!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menguasai dirinya.​Keiran tidak bergeming sedikit pun. Pria itu justru menatap ibu tirinya dengan sorot mata yang semakin merendahkan. "Maria, kamu yang harusnya jaga anak kamu itu."​Shaluna tidak ingin mendengar kelanjutannya. Cukup sudah kegilaan yang ia telan hari ini. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Shaluna membalikkan tubuh, melangkah cepat menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia meninggalkan Maria yang masih histeris dan Keiran yang berdiri kokoh di bawah sana.***Satu minggu berlalu sejak keributan di ruang tengah hari itu. Pagi ini, suasana di meja makan terasa jauh lebih menyebalkan daripada biasanya. Papa

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    05. Ragan yang Payah

    Langkah Shaluna terhenti di anak tangga pertama. Ruang tengah rumah megah itu ternyata sudah dipenuhi oleh kepulan aroma parfum mahal dan gelak tawa ibu-ibu sosialita teman arisan Maria. Begitu sosok Shaluna terlihat, tawa itu mendadak senyap, digantikan oleh tatapan menghakimi.​Maria yang duduk di tengah sofa utama langsung menyahut dengan suara sengaja dikeraskan."Gimana pemeriksaan kamu tadi? Bener kan kamu mandul?"​Bisik-bisik langsung berdengung di ruangan itu. Mata para wanita paruh baya itu terang-terangan menatap Shaluna dengan binar kasihan yang mengolok.​Shaluna tidak menangis. Rasa takutnya sudah menguap di ruang dokter tadi, digantikan oleh dingin yang mengeras di dadanya. Dengan tenang, ia merogoh tas jinjingnya.Mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan medis dari dokter Hanum, lalu melangkah mendekat untuk meletakkannya tepat di depan Maria.​Maria menerima kertas itu dengan dagu terangkat angkuh, tapi saat matanya membaca baris demi baris keterangan medis di

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    04. Masih Perawan

    Shaluna meringkuk di bawah selimut tebalnya, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tirainya sengaja ia tutup rapat. Tiga hari. Sudah tiga hari penuh ia mengurung diri, menolak menginjakkan kaki keluar dari kamar ini bahkan hanya untuk sekadar mengambil segelas air.Shaluna berkali-kali mengutuk dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar, kembali pada malam sialan di dapur itu, memutar ulang setiap detik percakapannya dengan Keiran seperti kaset rusak yang menyakitkan.Kenapa ia harus merasa lapar malam itu? Dan yang lebih bodoh lagi, kenapa ia harus meladeni ucapan pria itu?Penyesalan itu datang bertubi-tubi, menghantam dadanya hingga terasa sesak. Sudah benar hubungan mereka yang dulu, saling menghindar, berpura-pura tidak melihat jika berpapasan, dan menjaga jarak sejauh mungkin. Shaluna meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Baginya sekarang, berkomunikasi dengan Keiran adalah pilihan paling buruk yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.Sialnya, perintah dari mertuanya tidak

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    03. Tawaran Keiran

    Kemarahan Ragan meledak seketika. Dengan gerakan cepat, pria itu menyambar vas bunga di atas nakas dan melemparkannya hingga hancur berkeping-keping di lantai. Shaluna terperanjat, tubuhnya tersentak mundur dengan detak jantung yang mendadak berpacu liar karena kaget sekaligus takut melihat kilat murka di mata suaminya."Cerai kamu bilang?" desis Ragan, suaranya terdengar begitu mengancam.Shaluna mengepalkan tangan di sisi tubuh, mencoba menahan getaran ketakutan yang mulai menjalar ke lututnya. "Iya! Apa yang bisa kita pertahanin, Mas? Enggak ada!""Memang enggak ada! Tapi kita enggak bisa cerai, Luna!" Ragan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Kenapa gak bisa? Aku yang bakal urus kalo kamu gak suka!" balas Shaluna, menolak untuk mengalah meski air matanya kembali mengalir deras."Jaga mulut kamu, Shaluna!" Ragan berteriak lantang, urat-urat di lehernya menegang, menggandakan rasa ngeri yang mulai merayapi dada Shaluna.Namun, rasa sakit hatinya jauh lebih besar d

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    02. Apa Ragan Selingkuh?

    Shaluna tentu saja menolak. Di tengah rasa malu dan air mata yang hampir tumpah, ia memilih berbalik dan bergegas pergi meninggalkan area kantor, lalu memutuskan pulang menggunakan taksi. Kali ini, ia tidak ingin kembali ke kediaman keluarga besar mertuanya yang mencekik, melainkan ke rumah tantenya. Tempat satu-satunya ia bisa bernapas lega."Tan, apa mungkin Mas Ragan punya selingkuhan?" tanya Shaluna, akhirnya menyuarakan kecurigaan yang selama ini menyumbat benaknya.Eve, sang tante, seketika mengerutkan dahi, tampak terkejut mendengar pertanyaan keponakannya. "Masa, sih, suami kamu selingkuh?"Shaluna hanya bisa mengangkat bahu dengan lesu. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, merasa lelah luar biasa. "Aku juga gak tahu, tapi hubungan kami gak pernah ada kemajuan."Eve menatapnya lurus, pancaran matanya berubah khawatir. "Kamu nyerah?""Sedikit," bisik Shaluna lirih. Jemarinya saling bertautan erat di pangkuan, mengakui rasa putus asa yang mulai mengikis sisa-sisa harapanny

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    01. Tuntutan untuk Hamil

    "Kamu belum juga hamil?"Pertanyaan Maria, ibu mertuanya, membuat Shaluna menghentikan gerakan sendoknya. Ia hanya menggeleng pelan, tak mampu bersuara.Ragan tidak lagi tidur satu ranjang dengannya. Suaminya lebih sering menginap di apartemen dengan alasan dekat dari kantor."Kamu tuh bener-bener gak guna jadi istri!" cibir Maria sambil memijat pelipisnya. "Kemarin anak teman Ibu menikah, satu bulan kemudian udah hamil. Segampang itu loh, Luna!"Shaluna menghela napas dengan berat. Bagaimana bisa ia hamil jika selama tiga tahun ini Ragan jarang menyentuhnya?Bahkan malam itu, meski Shaluna sedang dalam masa subur sekalipun, kehamilan tidak akan pernah terjadi. "Berisik sekali, Maria! Jangan ganggu waktu sarapan saya!"Suara dingin Keiran yang tiba-tiba memotong perbincangan seketika membungkam mulut Maria. Adik tiri Ragan itu meletakkan garpunya dengan tenang, lalu melayangkan tatapannya pada Maria yang kini tampak tersedak kata-katanya sendiri.Keiran mengalihkan pandangannya, men

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status