LOGINLangkah Shaluna terhenti di anak tangga pertama.
Ruang tengah rumah megah itu ternyata sudah dipenuhi oleh kepulan aroma parfum mahal dan gelak tawa ibu-ibu sosialita teman arisan Maria. Begitu sosok Shaluna terlihat, tawa itu mendadak senyap, digantikan oleh tatapan menghakimi. Maria yang duduk di tengah sofa utama langsung menyahut dengan suara sengaja dikeraskan. "Gimana pemeriksaan kamu tadi? Bener kan kamu mandul?" Bisik-bisik langsung berdengung di ruangan itu. Mata para wanita paruh baya itu terang-terangan menatap Shaluna dengan binar kasihan yang mengolok. Shaluna tidak menangis. Rasa takutnya sudah menguap di ruang dokter tadi, digantikan oleh dingin yang mengeras di dadanya. Dengan tenang, ia merogoh tas jinjingnya. Mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan medis dari dokter Hanum, lalu melangkah mendekat untuk meletakkannya tepat di depan Maria. Maria menerima kertas itu dengan dagu terangkat angkuh, tapi saat matanya membaca baris demi baris keterangan medis di sana, mimik wajahnya seketika berubah pucat pasi. Tangannya gemetar, dan dengan panik ia langsung meremas kertas itu hingga lecek dalam kepalan tangannya. Melihat reaksi itu, Shaluna menyunggingkan senyum miring. "Kenapa Ibu kaget?" "Pergi ke kamar kamu, Luna," desis Maria tajam, suaranya merendah, mungkin mencoba menyembunyikan getaran panik dari teman-temannya yang mulai penasaran. "Kenapa harus buru-buru, Bu?" Suara Shaluna terdengar begitu jernih dan tenang, menggema di antara keheningan yang mencekam. "Nyatanya Mas Ragan yang payah nyentuh aku, Bu! Bahkan sampe saat ini aku masih perawan." Suara helaan napas tercekat serentak terdengar dari sudut-sudut ruangan. Ibu-ibu sosialita itu saling pandang dengan mata membelalak tak percaya. Kehormatan keluarga Maria yang selama ini diagung-agungkan runtuh dalam satu kalimat. Wajah Maria memerah padam karena saking malunya. Wanita paruh baya itu bangkit berdiri dari sofanya hingga tubuhnya gemetar, lalu menjerit histeris. "Pergi ke kamar kamu, Shaluna!" "Seharusnya Ibu malu," balas Shaluna lurus, menolak mundur satu senti pun. Sentimen Maria pecah. Kehilangan akal sehat, tangan wanita itu melayang di udara, siap mendaratkan tamparan keras ke pipi Shaluna. Shaluna memejamkan mata, bersiap menerima hantaman itu. Namun, tamparan itu tidak pernah sampai. Sebuah tangan kekar mendadak muncul dari belakang, mencengkeram pergelangan tangan Maria di udara dengan begitu kuat hingga wanita itu memekik tertahan. "Maria, saya bisa usir kamu sekarang." Suara bariton yang dingin dan sarat ancaman itu membuat Shaluna sontak membuka mata. Keiran sudah berdiri di sampingnya, menatap Maria dengan kilat mata yang begitu mematikan hingga sang ibu tiri mendadak bungkam seribu bahasa. Cengkeraman Keiran di pergelangan tangan Maria begitu erat hingga wanita paruh baya itu meringis kesakitan. Di hadapan teman-teman sosialitanya yang kini menonton dengan napas tertahan, harga diri Maria hancur lebur tak bersisa. "Lepas, Keiran! Kamu gak sopan sama orang tua!" desis Maria, mencoba menyentakkan tangannya meski sia-sia. Keiran tidak melepaskannya. Pria itu justru mengempaskan tangan Maria dengan kasar ke samping, lalu menggeser tubuhnya yang tegap ke depan Shaluna. Memisahkan dan melindungi wanita itu sepenuhnya dari jangkauan sang ibu tiri. Shaluna menatap punggung lebar Keiran dengan jantung bertalu hebat. Ada rasa lega yang asing sekaligus ketakutan baru yang merayap di benaknya saat menyadari pria ini kembali masuk ke dalam kekacauannya. Keiran menoleh sedikit, melirik Shaluna dari balik bahunya dengan tatapan intens yang sulit diartikan. Senyum tipis yang misterius terukir di bibir pria itu. Sebelum Maria sempat memanggil keamanan rumah, Keiran kembali menatap ibu tirinya lurus-lurus, lalu mengucapkan kalimat yang seketika membekukan seluruh ruangan. "Daripada repot nampar Shaluna, lebih baik kamu tanya anak kesayangan kamu. Pria mana yang sebenarnya sedang Ragan urus di luar kota?"Suasana di ruang VIP Rumah Sakit Sentosa terasa jauh lebih mencekam ketimbang keheningan di vila persembunyian pesisir utara. Monitor electrocardiogram berdetak stabil namun lambat, memantau ritme jantung Tuan Dion Alvareno yang terbaring lemah di atas brankar putih. Selang oksigen terpasang di hidungnya, sementara wajah pria paruh baya itu tampak pucat pasi, kehilangan seluruh karisma dan keangkuhan yang selama puluhan tahun melekat pada dirinya.Di sisi ranjang, Keiran berdiri kaku dengan kedua tangan mengepal di dalam saku celana. Tatapannya lurus menatap sosok ayah yang selama ini menjadi dinding tinggi sekaligus sumber luka dalam hidupnya. Di sudut ruangan, Shaluna duduk diam di atas kursi sofa kulit, membiarkan keheningan malam menemani pikiran mereka yang berkecamuk.Serangan jantung mendadak yang dialami Dion bukan sekadar karena kaget membaca berita skandal di media pagi tadi. Tim dokter pribadi baru saja keluar beberapa jam lalu dan menyampaikan kenyataan pahit: kondisi j
Langkah kaki Keiran dan Shaluna terburu-buru meninggalkan area taman menuju tempat mobil terparkir. Udara pagi yang tadinya terasa sejuk kini mendadak berubah panas oleh deru napas memburu dan dering ponsel yang terus menerus menyalak di dalam tas Shaluna.Namun, belum sempat tangan Keiran membuka pintu kemudi, suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal menghentikan gerakan mereka.Dari arah tikungan jalan utama, tiga unit mobil berwarna hitam dengan kecepatan tinggi mendadak memotong jalur dan berhenti melintang tepat di depan kendaraan mereka. Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Belasan wartawan, juru kamera dengan lensa panjang, serta beberapa orang pemburu berita investigasi berseragam jas rapi langsung berhamburan turun, menyerbu ke arah mereka sambil meneriakkan berbagai pertanyaan tajam."Tuan Keiran! Apakah benar dokumen keuangan yang dibocorkan Julian Vane adalah fakta?""Nona Shaluna, apa keterlibatan Anda dalam konspirasi penggelapan aset Alvareno Group?""Baga
Kedamaian di taman itu mendadak menguap saat ponsel Keiran yang tergeletak di atas bangku kayu mulai bergetar tanpa henti. Layarnya menyala terang, memunculkan nama Sekretaris Utama Alvareno Group dengan panggilan yang masuk bertubi-tubi.Awalnya, Keiran mengabaikannya. Pria itu hanya melirik sekilas, enggan merusak momen hangatnya bersama Shaluna. Namun, giliran ponsel di dalam tas Shaluna yang berdering nyaring. Notifikasi pesan, email, dan panggilan masuk bermunculan satu per satu tanpa jeda, membuat getaran gawai di tasnya terasa begitu intens."Ada apa ya?" gumam Shaluna heran. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah dipenuhi belasan notifikasi dari rekan kurator, pemilik galeri di London, hingga berita utama media seni internasional.Keiran yang mulai merasakan kejanggalan akhirnya mengangkat panggilan di ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan kata sapaan, suara sekretarisnya terdengar begitu panik dan terengah-engah di ujung telepon."Pak Keiran! Bapak
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca sebuah kafe kecil di sudut kota yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis dan riuh media, suasana di dalam kafe terasa hangat dengan aroma seduhan kopi segar dan roti panggangan baru yang memenuhi udara.Shaluna duduk di balik meja kayu dekat jendela, menyesap teh chamomile hangatnya perlahan. Di hadapannya, Keiran duduk dengan santai. Pria itu mengenakan kaus polos berlengan panjang warna krem yang kasual, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa cahaya matahari pagi. Tidak ada beban, tidak ada jas mahal, dan tidak ada ketegangan."Enak tehnya?" tanya Keiran pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.Shaluna menurunkan cangkirnya, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibirnya. "Enak. Waktu di Eropa aku sering minum ini kalau malam susah tidur. Tapi yang di sini rasanya lebih pas."Keiran menyunggingkan senyum hangat, lalu menggeser piring kecil berisi penganan manis ke ara
Cahaya dari lampu meja bercahaya temaram, memantulkan bayangan samar sosok pria itu yang duduk dalam diam di balik meja kerjanya. Di hadapannya, kotak beludru hitam berisi cincin berlian kustom yang tadi sore ia bawa dari pemakaman masih tergeletak bisu. Di sebelahnya, kelopak-kelopak bunga peoni putih yang sempat teremas di jarinya mulai melayu, menyebarkan aroma samar yang ironis.Julian memandangi kotak perhiasan itu tanpa kedipan. Senyum lepas Shaluna saat diputar dalam pelukan Keiran, cara wanita itu membalas ciuman Keiran di bawah sisa gerimis, dan binar kepasrahan yang tak pernah ia dapatkan. Semua rekaman visual itu terus berputar berulang-ulang di kepalanya bagai kaset rusak.Selama ini, Julian berusaha menjadi pria yang bermartabat. Ia meredam seluruh kepahitan masa lalunya sebagai anak yang tak diakui, menahan diri untuk tidak menghancurkan Dion secara brutal, dan memilih membangun nama besarnya sendiri secara bersih. Semua itu ia lakukan semata-mata agar ia memiliki te
Mobil hitam milik Julian berhenti perlahan di tepi jalan setapak area pemakaman. Di jok penumpang sampingnya, tergeletak seikat bunga peoni putih segar. Bunga favorit Shaluna, serta sebuah kotak beludru hitam kecil berisikan cincin berlian berdesain kustom yang telah ia siapkan dengan penuh perhitungan sejak tiga bulan lalu di London.Julian mengambil kotak beludru itu, menggenggamnya sejenak di dalam telapak tangannya. Bagi Julian, keputusan ini bukan diambil atas dasar impulsif. Ia telah mendampingi Shaluna melewati masa-masa paling kelam, membangun kembali karier seninya dari nol, dan menjadi benteng tak tergoyahkan saat konfrontasi dengan Dion meletus. Ia yakin, momen kepulangan Shaluna kali ini adalah waktu yang tepat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang resmi.Dengan setelan kemeja rapi dan seikat bunga segar di tangannya, Julian melangkah turun dari mobil. Udara sore pascahujan terasa dingin dan lembap. Suasana pemakaman begitu hening, hanya ada suara tetesan air d







