Teilen

05. Ragan yang Payah

last update Veröffentlichungsdatum: 24.06.2026 11:25:12

Langkah Shaluna terhenti di anak tangga pertama. 

Ruang tengah rumah megah itu ternyata sudah dipenuhi oleh kepulan aroma parfum mahal dan gelak tawa ibu-ibu sosialita teman arisan Maria. Begitu sosok Shaluna terlihat, tawa itu mendadak senyap, digantikan oleh tatapan menghakimi.

​Maria yang duduk di tengah sofa utama langsung menyahut dengan suara sengaja dikeraskan.

"Gimana pemeriksaan kamu tadi? Bener kan kamu mandul?"

​Bisik-bisik langsung berdengung di ruangan itu. Mata para wanita paruh baya itu terang-terangan menatap Shaluna dengan binar kasihan yang mengolok.

​Shaluna tidak menangis. 

Rasa takutnya sudah menguap di ruang dokter tadi, digantikan oleh dingin yang mengeras di dadanya. Dengan tenang, ia merogoh tas jinjingnya.

Mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan medis dari dokter Hanum, lalu melangkah mendekat untuk meletakkannya tepat di depan Maria.

​Maria menerima kertas itu dengan dagu terangkat angkuh, tapi saat matanya membaca baris demi baris keterangan medis di sana, mimik wajahnya seketika berubah pucat pasi. Tangannya gemetar, dan dengan panik ia langsung meremas kertas itu hingga lecek dalam kepalan tangannya.

​Melihat reaksi itu, Shaluna menyunggingkan senyum miring. 

"Kenapa Ibu kaget?"

​"Pergi ke kamar kamu, Luna," desis Maria tajam, suaranya merendah, mungkin mencoba menyembunyikan getaran panik dari teman-temannya yang mulai penasaran.

​"Kenapa harus buru-buru, Bu?" 

Suara Shaluna terdengar begitu jernih dan tenang, menggema di antara keheningan yang mencekam. 

"Nyatanya Mas Ragan yang payah nyentuh aku, Bu! Bahkan sampe saat ini aku masih perawan."

​Suara helaan napas tercekat serentak terdengar dari sudut-sudut ruangan. Ibu-ibu sosialita itu saling pandang dengan mata membelalak tak percaya. Kehormatan keluarga Maria yang selama ini diagung-agungkan runtuh dalam satu kalimat.

​Wajah Maria memerah padam karena saking malunya. Wanita paruh baya itu bangkit berdiri dari sofanya hingga tubuhnya gemetar, lalu menjerit histeris.

"Pergi ke kamar kamu, Shaluna!"

​"Seharusnya Ibu malu," balas Shaluna lurus, menolak mundur satu senti pun.

​Sentimen Maria pecah. Kehilangan akal sehat, tangan wanita itu melayang di udara, siap mendaratkan tamparan keras ke pipi Shaluna. Shaluna memejamkan mata, bersiap menerima hantaman itu.

​Namun, tamparan itu tidak pernah sampai. Sebuah tangan kekar mendadak muncul dari belakang, mencengkeram pergelangan tangan Maria di udara dengan begitu kuat hingga wanita itu memekik tertahan.

​"Maria, saya bisa usir kamu sekarang."

​Suara bariton yang dingin dan sarat ancaman itu membuat Shaluna sontak membuka mata. 

Keiran sudah berdiri di sampingnya, menatap Maria dengan kilat mata yang begitu mematikan hingga sang ibu tiri mendadak bungkam seribu bahasa.

Cengkeraman Keiran di pergelangan tangan Maria begitu erat hingga wanita paruh baya itu meringis kesakitan. Di hadapan teman-teman sosialitanya yang kini menonton dengan napas tertahan, harga diri Maria hancur lebur tak bersisa.

​"Lepas, Keiran! Kamu gak sopan sama orang tua!" desis Maria, mencoba menyentakkan tangannya meski sia-sia.

​Keiran tidak melepaskannya. Pria itu justru mengempaskan tangan Maria dengan kasar ke samping, lalu menggeser tubuhnya yang tegap ke depan Shaluna.

Memisahkan dan melindungi wanita itu sepenuhnya dari jangkauan sang ibu tiri.

​Shaluna menatap punggung lebar Keiran dengan jantung bertalu hebat. Ada rasa lega yang asing sekaligus ketakutan baru yang merayap di benaknya saat menyadari pria ini kembali masuk ke dalam kekacauannya.

​Keiran menoleh sedikit, melirik Shaluna dari balik bahunya dengan tatapan intens yang sulit diartikan.

Senyum tipis yang misterius terukir di bibir pria itu. Sebelum Maria sempat memanggil keamanan rumah, Keiran kembali menatap ibu tirinya lurus-lurus, lalu mengucapkan kalimat yang seketika membekukan seluruh ruangan.

​"Daripada repot nampar Shaluna, lebih baik kamu tanya anak kesayangan kamu. Pria mana yang sebenarnya sedang Ragan urus di luar kota?"

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    07. Jalan Keluar

    Denting sendok yang beradu dengan piring pagi itu menjadi suara yang melenyapkan hening. Di ujung meja, Dion meletakkan cangkir kopinya pelan. ​"Shaluna, daripada kamu digangguin ibu mertuamu terus, lebih baik ikut kerja di kantor Papa." ​Tangan Shaluna yang sedang memegang garpu seketika membeku. Di seberangnya, Maria langsung menghentikan kunyahannya dengan wajah yang mengeras, sementara Ragan hanya terdiam menatap piringnya dengan rahang terkatup rapat. ​Shaluna mendongak, beralih menatap Dion yang sedang menunggunya dengan sorot mata menuntut jawaban. Tawaran itu jelas sebuah penyelamatan, sekaligus tiket keluar dari neraka yang diciptakan Maria di rumah ini. Namun, sebelum ia sempat membuka suara, tatapannya tanpa sengaja berbenturan dengan sepasang mata gelap Keiran yang duduk tenang di sisi meja yang lain. ​"Tapi, Pa, aku lulusan DKV," potong Shaluna pelan, mencoba realistis di tengah ketegangan yang kian merayap. ​"Ya gak apa. Nanti Papa tanyakan bagian mana yang koso

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    06. Ragan Pulang

    Keheningan itu pecah saat Maria maju dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan malu di hadapan teman-temannya. "Keiran, jaga mulut kamu!" jerit Maria, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi kepanikan yang mulai menguasainya. Keiran tidak bergeming. Pria itu hanya memiringkan kepala, mengunci Maria dengan tatapan dingin. Sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana, Keiran mengulas satu senyum tipis, membungkam histeria Maria dan membuatnya mundur dengan wajah pucat. Sebelum melangkah pergi, Shaluna berhenti di samping Keiran. Mengabaikan keberadaan Maria, ia mendongak, menatap sepasang mata gelap itu selama beberapa detik. "Makasih, Mas," bisik Shaluna, sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah cepat menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. *** Satu minggu berlalu sejak keributan di ruang tengah hari itu. Pagi ini, suasana di meja makan terasa jauh lebih menyebalkan daripada biasanya. Papa mertuanya, Dion, sudah pulang dari luar kota

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    05. Ragan yang Payah

    Langkah Shaluna terhenti di anak tangga pertama. Ruang tengah rumah megah itu ternyata sudah dipenuhi oleh kepulan aroma parfum mahal dan gelak tawa ibu-ibu sosialita teman arisan Maria. Begitu sosok Shaluna terlihat, tawa itu mendadak senyap, digantikan oleh tatapan menghakimi.​Maria yang duduk di tengah sofa utama langsung menyahut dengan suara sengaja dikeraskan."Gimana pemeriksaan kamu tadi? Bener kan kamu mandul?"​Bisik-bisik langsung berdengung di ruangan itu. Mata para wanita paruh baya itu terang-terangan menatap Shaluna dengan binar kasihan yang mengolok.​Shaluna tidak menangis. Rasa takutnya sudah menguap di ruang dokter tadi, digantikan oleh dingin yang mengeras di dadanya. Dengan tenang, ia merogoh tas jinjingnya.Mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan medis dari dokter Hanum, lalu melangkah mendekat untuk meletakkannya tepat di depan Maria.​Maria menerima kertas itu dengan dagu terangkat angkuh, tapi saat matanya membaca baris demi baris keterangan medis di

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    04. Masih Perawan

    Shaluna meringkuk di bawah selimut tebalnya, menatap kosong ke arah jendela kamar yang tirainya sengaja ia tutup rapat. Tiga hari. Sudah tiga hari penuh ia mengurung diri, menolak menginjakkan kaki keluar dari kamar ini bahkan hanya untuk sekadar mengambil segelas air.Shaluna berkali-kali mengutuk dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar, kembali pada malam sialan di dapur itu, memutar ulang setiap detik percakapannya dengan Keiran seperti kaset rusak yang menyakitkan.Kenapa ia harus merasa lapar malam itu? Dan yang lebih bodoh lagi, kenapa ia harus meladeni ucapan pria itu?Penyesalan itu datang bertubi-tubi, menghantam dadanya hingga terasa sesak. Sudah benar hubungan mereka yang dulu, saling menghindar, berpura-pura tidak melihat jika berpapasan, dan menjaga jarak sejauh mungkin. Shaluna meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Baginya sekarang, berkomunikasi dengan Keiran adalah pilihan paling buruk yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.Sialnya, perintah dari mertuanya tidak

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    03. Tawaran Keiran

    Kemarahan Ragan meledak seketika. Dengan gerakan cepat, pria itu menyambar vas bunga di atas nakas dan melemparkannya hingga hancur berkeping-keping di lantai. Shaluna terperanjat, tubuhnya tersentak mundur dengan detak jantung yang mendadak berpacu liar karena kaget sekaligus takut melihat kilat murka di mata suaminya."Cerai kamu bilang?" desis Ragan, suaranya terdengar begitu mengancam.Shaluna mengepalkan tangan di sisi tubuh, mencoba menahan getaran ketakutan yang mulai menjalar ke lututnya. "Iya! Apa yang bisa kita pertahanin, Mas? Enggak ada!""Memang enggak ada! Tapi kita enggak bisa cerai, Luna!" Ragan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Kenapa gak bisa? Aku yang bakal urus kalo kamu gak suka!" balas Shaluna, menolak untuk mengalah meski air matanya kembali mengalir deras."Jaga mulut kamu, Shaluna!" Ragan berteriak lantang, urat-urat di lehernya menegang, menggandakan rasa ngeri yang mulai merayapi dada Shaluna.Namun, rasa sakit hatinya jauh lebih besar d

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    02. Apa Ragan Selingkuh?

    Shaluna tentu saja menolak. Di tengah rasa malu dan air mata yang hampir tumpah, ia memilih berbalik dan bergegas pergi meninggalkan area kantor, lalu memutuskan pulang menggunakan taksi. Kali ini, ia tidak ingin kembali ke kediaman keluarga besar mertuanya yang mencekik, melainkan ke rumah tantenya. Tempat satu-satunya ia bisa bernapas lega."Tan, apa mungkin Mas Ragan punya selingkuhan?" tanya Shaluna, akhirnya menyuarakan kecurigaan yang selama ini menyumbat benaknya.Eve, sang tante, seketika mengerutkan dahi, tampak terkejut mendengar pertanyaan keponakannya. "Masa, sih, suami kamu selingkuh?"Shaluna hanya bisa mengangkat bahu dengan lesu. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, merasa lelah luar biasa. "Aku juga gak tahu, tapi hubungan kami gak pernah ada kemajuan."Eve menatapnya lurus, pancaran matanya berubah khawatir. "Kamu nyerah?""Sedikit," bisik Shaluna lirih. Jemarinya saling bertautan erat di pangkuan, mengakui rasa putus asa yang mulai mengikis sisa-sisa harapanny

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status