Share

128. AHF

Penulis: Ivorybeige
last update Tanggal publikasi: 2026-08-15 23:12:48

Shaluna menyandarkan punggungnya di kursi, memandangi map cokelat di hadapannya sebelum kembali menatap mata Julian. Ada kejelasan yang terasa sangat langka dalam cara pria itu bertindak.

Julian tidak pernah menawarkan janji manis atau memosisikan diri sebagai pahlawan yang datang menyelamatkan, melainkan hadir sebagai sosok dewasa yang menyediakan pilihan tanpa mendesak.

​"Kenapa Mas Julian repot-repot menyiapkan semua ini?" tanya Shaluna, suaranya mengalir tenang namun sarat rasa ingin tahu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    141. Bisnis, Masa Lalu, dan Kamu

    Kedamaian di taman itu mendadak menguap saat ponsel Keiran yang tergeletak di atas bangku kayu mulai bergetar tanpa henti. Layarnya menyala terang, memunculkan nama Sekretaris Utama Alvareno Group dengan panggilan yang masuk bertubi-tubi.​Awalnya, Keiran mengabaikannya. Pria itu hanya melirik sekilas, enggan merusak momen hangatnya bersama Shaluna. Namun, giliran ponsel di dalam tas Shaluna yang berdering nyaring. Notifikasi pesan, email, dan panggilan masuk bermunculan satu per satu tanpa jeda, membuat getaran gawai di tasnya terasa begitu intens.​"Ada apa ya?" gumam Shaluna heran. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah dipenuhi belasan notifikasi dari rekan kurator, pemilik galeri di London, hingga berita utama media seni internasional.​Keiran yang mulai merasakan kejanggalan akhirnya mengangkat panggilan di ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan kata sapaan, suara sekretarisnya terdengar begitu panik dan terengah-engah di ujung telepon.​"Pak Keiran! Bapak

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    140. Quality Time

    Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca sebuah kafe kecil di sudut kota yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis dan riuh media, suasana di dalam kafe terasa hangat dengan aroma seduhan kopi segar dan roti panggangan baru yang memenuhi udara.​Shaluna duduk di balik meja kayu dekat jendela, menyesap teh chamomile hangatnya perlahan. Di hadapannya, Keiran duduk dengan santai. Pria itu mengenakan kaus polos berlengan panjang warna krem yang kasual, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa cahaya matahari pagi. Tidak ada beban, tidak ada jas mahal, dan tidak ada ketegangan.​"Enak tehnya?" tanya Keiran pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.​Shaluna menurunkan cangkirnya, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibirnya. "Enak. Waktu di Eropa aku sering minum ini kalau malam susah tidur. Tapi yang di sini rasanya lebih pas."​Keiran menyunggingkan senyum hangat, lalu menggeser piring kecil berisi penganan manis ke ara

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    139. Tembakan Pertama

    Cahaya dari lampu meja bercahaya temaram, memantulkan bayangan samar sosok pria itu yang duduk dalam diam di balik meja kerjanya. Di hadapannya, kotak beludru hitam berisi cincin berlian kustom yang tadi sore ia bawa dari pemakaman masih tergeletak bisu. Di sebelahnya, kelopak-kelopak bunga peoni putih yang sempat teremas di jarinya mulai melayu, menyebarkan aroma samar yang ironis.​Julian memandangi kotak perhiasan itu tanpa kedipan. Senyum lepas Shaluna saat diputar dalam pelukan Keiran, cara wanita itu membalas ciuman Keiran di bawah sisa gerimis, dan binar kepasrahan yang tak pernah ia dapatkan. Semua rekaman visual itu terus berputar berulang-ulang di kepalanya bagai kaset rusak.​Selama ini, Julian berusaha menjadi pria yang bermartabat. Ia meredam seluruh kepahitan masa lalunya sebagai anak yang tak diakui, menahan diri untuk tidak menghancurkan Dion secara brutal, dan memilih membangun nama besarnya sendiri secara bersih. Semua itu ia lakukan semata-mata agar ia memiliki te

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    138. Patah Hati

    Mobil hitam milik Julian berhenti perlahan di tepi jalan setapak area pemakaman. Di jok penumpang sampingnya, tergeletak seikat bunga peoni putih segar. Bunga favorit Shaluna, serta sebuah kotak beludru hitam kecil berisikan cincin berlian berdesain kustom yang telah ia siapkan dengan penuh perhitungan sejak tiga bulan lalu di London.​Julian mengambil kotak beludru itu, menggenggamnya sejenak di dalam telapak tangannya. Bagi Julian, keputusan ini bukan diambil atas dasar impulsif. Ia telah mendampingi Shaluna melewati masa-masa paling kelam, membangun kembali karier seninya dari nol, dan menjadi benteng tak tergoyahkan saat konfrontasi dengan Dion meletus. Ia yakin, momen kepulangan Shaluna kali ini adalah waktu yang tepat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang resmi.​Dengan setelan kemeja rapi dan seikat bunga segar di tangannya, Julian melangkah turun dari mobil. Udara sore pascahujan terasa dingin dan lembap. Suasana pemakaman begitu hening, hanya ada suara tetesan air d

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    137. Capek Kei

    Shaluna tertegun. Pertanyaan lirih Keiran menghantam pertahanan dirinya hingga retak berkeping-keping. Pertahanan yang selama setahun ini ia bangun dengan sangat rapi di negeri orang mendadak runtuh hanya oleh satu usapan lembut di pipinya.​Matanya yang semula jernih mendadak memerah. Dinding emosi yang ia tahan mati-matian akhirnya jebol; tangis Shaluna pecah. Air mata yang selama ini ia sembunyikan mengalir deras, menyatu dengan sisa gerimis yang membasahi wajahnya. Dada Shaluna naik turun, napasnya tersengal menahan isolasi rindu yang teramat sangat.​Cengkramannya di kemeja Keiran tidak jadi terlepas. Justru jemarinya kembali meremas kain basah itu jauh lebih erat, seolah menyalurkan seluruh rasa sakit, kehilangan, dan kerinduan terpendam yang tak pernah sanggup ia utarakan lewat kata-kata.​Keiran membeku melihat Shaluna menangis sejadi-jadinya di depannya. Tanpa ragu lagi, pria itu menarik Shaluna ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh wanita itu erat-erat dan menyembunyikan wa

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    136. Rasa yang Mekar

    Angin sore berembus pelan menyapu rerumputan hijau di pemakaman bernuansa tenang itu. Langkah kaki Shaluna terhenti beberapa meter dari gundukan tanah berisikan nisan kecil bertuliskan nama Arkaian Ashton Alvareno.​Beberapa bulan menetap di Eropa membuat dada Shaluna jauh lebih lapang. Langkahnya yang dulu berat kini terasa ringan. Ia datang membawa seikat bunga daisy putih segar, bunga sederhana yang selalu mengingatkannya pada kepolosan buah hatinya.​Namun, di samping nisan kecil itu, seorang pria sudah berdiri lebih dulu.​Keiran. Pria itu mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang tergulung santai, tubuhnya tampak sedikit lebih kurus namun raut wajahnya jauh lebih tenang dan dewasa dibanding terakhir kali mereka bertemu di Singapura. Ia baru saja meletakkan seikat bunga hydrangea biru di atas nisan Arkaian.​Saat mendengar gesekan sepatu Shaluna di atas rumput, Keiran menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tak ada lagi kemarahan, tak ada panik, dan tak ada lagi ego yang memburu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status