LOGINLangkah kaki Keiran dan Shaluna terburu-buru meninggalkan area taman menuju tempat mobil terparkir. Udara pagi yang tadinya terasa sejuk kini mendadak berubah panas oleh deru napas memburu dan dering ponsel yang terus menerus menyalak di dalam tas Shaluna.Namun, belum sempat tangan Keiran membuka pintu kemudi, suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal menghentikan gerakan mereka.Dari arah tikungan jalan utama, tiga unit mobil berwarna hitam dengan kecepatan tinggi mendadak memotong jalur dan berhenti melintang tepat di depan kendaraan mereka. Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Belasan wartawan, juru kamera dengan lensa panjang, serta beberapa orang pemburu berita investigasi berseragam jas rapi langsung berhamburan turun, menyerbu ke arah mereka sambil meneriakkan berbagai pertanyaan tajam."Tuan Keiran! Apakah benar dokumen keuangan yang dibocorkan Julian Vane adalah fakta?""Nona Shaluna, apa keterlibatan Anda dalam konspirasi penggelapan aset Alvareno Group?""Baga
Kedamaian di taman itu mendadak menguap saat ponsel Keiran yang tergeletak di atas bangku kayu mulai bergetar tanpa henti. Layarnya menyala terang, memunculkan nama Sekretaris Utama Alvareno Group dengan panggilan yang masuk bertubi-tubi.Awalnya, Keiran mengabaikannya. Pria itu hanya melirik sekilas, enggan merusak momen hangatnya bersama Shaluna. Namun, giliran ponsel di dalam tas Shaluna yang berdering nyaring. Notifikasi pesan, email, dan panggilan masuk bermunculan satu per satu tanpa jeda, membuat getaran gawai di tasnya terasa begitu intens."Ada apa ya?" gumam Shaluna heran. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah dipenuhi belasan notifikasi dari rekan kurator, pemilik galeri di London, hingga berita utama media seni internasional.Keiran yang mulai merasakan kejanggalan akhirnya mengangkat panggilan di ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan kata sapaan, suara sekretarisnya terdengar begitu panik dan terengah-engah di ujung telepon."Pak Keiran! Bapak
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah menembus jendela kaca sebuah kafe kecil di sudut kota yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis dan riuh media, suasana di dalam kafe terasa hangat dengan aroma seduhan kopi segar dan roti panggangan baru yang memenuhi udara.Shaluna duduk di balik meja kayu dekat jendela, menyesap teh chamomile hangatnya perlahan. Di hadapannya, Keiran duduk dengan santai. Pria itu mengenakan kaus polos berlengan panjang warna krem yang kasual, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tertimpa cahaya matahari pagi. Tidak ada beban, tidak ada jas mahal, dan tidak ada ketegangan."Enak tehnya?" tanya Keiran pelan, memecah keheningan yang nyaman di antara mereka.Shaluna menurunkan cangkirnya, lalu mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibirnya. "Enak. Waktu di Eropa aku sering minum ini kalau malam susah tidur. Tapi yang di sini rasanya lebih pas."Keiran menyunggingkan senyum hangat, lalu menggeser piring kecil berisi penganan manis ke ara
Cahaya dari lampu meja bercahaya temaram, memantulkan bayangan samar sosok pria itu yang duduk dalam diam di balik meja kerjanya. Di hadapannya, kotak beludru hitam berisi cincin berlian kustom yang tadi sore ia bawa dari pemakaman masih tergeletak bisu. Di sebelahnya, kelopak-kelopak bunga peoni putih yang sempat teremas di jarinya mulai melayu, menyebarkan aroma samar yang ironis.Julian memandangi kotak perhiasan itu tanpa kedipan. Senyum lepas Shaluna saat diputar dalam pelukan Keiran, cara wanita itu membalas ciuman Keiran di bawah sisa gerimis, dan binar kepasrahan yang tak pernah ia dapatkan. Semua rekaman visual itu terus berputar berulang-ulang di kepalanya bagai kaset rusak.Selama ini, Julian berusaha menjadi pria yang bermartabat. Ia meredam seluruh kepahitan masa lalunya sebagai anak yang tak diakui, menahan diri untuk tidak menghancurkan Dion secara brutal, dan memilih membangun nama besarnya sendiri secara bersih. Semua itu ia lakukan semata-mata agar ia memiliki te
Mobil hitam milik Julian berhenti perlahan di tepi jalan setapak area pemakaman. Di jok penumpang sampingnya, tergeletak seikat bunga peoni putih segar. Bunga favorit Shaluna, serta sebuah kotak beludru hitam kecil berisikan cincin berlian berdesain kustom yang telah ia siapkan dengan penuh perhitungan sejak tiga bulan lalu di London.Julian mengambil kotak beludru itu, menggenggamnya sejenak di dalam telapak tangannya. Bagi Julian, keputusan ini bukan diambil atas dasar impulsif. Ia telah mendampingi Shaluna melewati masa-masa paling kelam, membangun kembali karier seninya dari nol, dan menjadi benteng tak tergoyahkan saat konfrontasi dengan Dion meletus. Ia yakin, momen kepulangan Shaluna kali ini adalah waktu yang tepat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang resmi.Dengan setelan kemeja rapi dan seikat bunga segar di tangannya, Julian melangkah turun dari mobil. Udara sore pascahujan terasa dingin dan lembap. Suasana pemakaman begitu hening, hanya ada suara tetesan air d
Shaluna tertegun. Pertanyaan lirih Keiran menghantam pertahanan dirinya hingga retak berkeping-keping. Pertahanan yang selama setahun ini ia bangun dengan sangat rapi di negeri orang mendadak runtuh hanya oleh satu usapan lembut di pipinya.Matanya yang semula jernih mendadak memerah. Dinding emosi yang ia tahan mati-matian akhirnya jebol; tangis Shaluna pecah. Air mata yang selama ini ia sembunyikan mengalir deras, menyatu dengan sisa gerimis yang membasahi wajahnya. Dada Shaluna naik turun, napasnya tersengal menahan isolasi rindu yang teramat sangat.Cengkramannya di kemeja Keiran tidak jadi terlepas. Justru jemarinya kembali meremas kain basah itu jauh lebih erat, seolah menyalurkan seluruh rasa sakit, kehilangan, dan kerinduan terpendam yang tak pernah sanggup ia utarakan lewat kata-kata.Keiran membeku melihat Shaluna menangis sejadi-jadinya di depannya. Tanpa ragu lagi, pria itu menarik Shaluna ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh wanita itu erat-erat dan menyembunyikan wa







