LOGINRaut wajahnya suram dan penuh kebencian, wajahnya tampak sedikit letih. Dia tidak lain adalah salah satu dari dua wanita Negara Javan, Yumi.Begitu melihat Amanda masuk, kalimat pertamanya langsung menusuk, "Apa yang nggak bisa kamu katakan di telepon? Kenapa harus repot-repot mengajakku bertemu?""Yang ingin bertemu denganmu itu Pak Ryan," kata Amanda sambil menunjuk ke arah Ryan di belakangnya.Begitu melihatnya, Ryan langsung mengerti.Setelah insiden Gunung Umara berakhir, dia memang pernah meminta Amanda membantu mengatur pertemuan dengan Yumi. Namun saat melihat Ryan berdiri di belakang Amanda, kemarahan Yumi malah semakin memuncak."Pembohong! Kalian berdua sama-sama pembohong! Kalau aku tahu yang mengajakku itu dia, aku nggak akan datang sama sekali!"Usai berkata demikian, Yumi bangkit dengan marah dan bersiap pergi. Ryan buru-buru maju untuk mengadang Yumi dan berkata, "Bu Yumi, bisakah kamu mendengarkan dulu alasanku mengajakmu bertemu sebelum pergi?""Kamu pembohong! Aku ng
"Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu seganteng ini?"Sambil berbicara, Amanda terus menatap Ryan dari atas ke bawah. Tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Aku memang jarang dandan, soal pakaian juga nggak pernah terlalu dipikirkan," kata Ryan. "Lagian, aku nggak merasa diriku ganteng.""Kamu bukan ganteng tipe cowok imut," Amanda sedikit mengernyit sambil berpikir. "Kamu itu ganteng tipe pria dewasa. Mirip model internasional, namanya siapa ya, semacam Freddy gitu!""Hahaha, jangan bercanda," kata Ryan."Aku serius," ujar Amanda dengan wajah sungguh-sungguh. "Coba jalan dua langkah, aku lihat. Nggak sakit, 'kan? Jalan saja dua langkah."Di depan mereka ada cermin besar full body. Ryan pun tidak ingin merusak suasana dan berjalan ke arah cermin."Mirip, benar-benar mirip!" Amanda mengangguk. "Dengan postur dan aura kamu, sudah bisa jadi model.""Bu Amanda jangan menggodaku," kata Ryan sambil tersenyum rendah hati."Serius, banyak model pria yang nggak sega
Walaupun dia sudah menduduki posisi direktur di EPS, penghasilannya setahun paling hanya sekitar dua miliar. Sementara Amanda, hanya untuk menyewa hotel saja, dalam setahun sudah menghabiskan lebih dari empat miliar.Usia mereka hampir sama, tapi mau mengadu ke mana soal ini? Manusia memang tidak bisa dibandingkan satu sama lain.Harus diakui, Ryan juga sudah tergolong raja pekerja kantoran.Sebagai anak dari keluarga biasa, bisa sampai di titik ini sudah merupakan hasil gabungan dari waktu, peluang, kemampuan, dan keberuntungan dari berbagai sisi. Hanya satu dari 10 ribu orang yang bisa mencapai titik seperti ini.Meski begitu, gaji setahunnya pun masih tidak cukup untuk membayar biaya Amanda tinggal di hotel.Kata orang, ada banyak jalan menuju Roma, tapi ada orang yang menghabiskan seumur hidupnya tetap tidak pernah sampai di Roma. Sebaliknya, ada juga orang yang sejak lahir sudah berada di Roma.Sering kali, anak dari keluarga biasa mengerahkan seluruh kemampuannya, tapi bahkan bel
Pada sore hari, Amanda terlebih dulu menemani Ryan pergi menemui Milea dan Saskia.Kondisi tubuh Milea belum sepenuhnya pulih. Dia dipindahkan ke rumah sakit yang berada di area rumah tahanan, dengan tenaga medis khusus yang merawatnya.Namun, kesadarannya sudah pulih. Setelah mengetahui apa yang terjadi malam itu, dia menangis tersedu-sedu dan menyesali perbuatannya, menyesal karena tidak seharusnya menyentuh barang-barang terlarang tersebut.Ryan hanya bisa menghiburnya. Dalam hidup ini, siapa yang tidak pernah berbuat salah? Selama bisa memperbaiki diri, masih tergolong orang baik. Dia menyuruh Milea untuk fokus memulihkan diri, dan ke depannya bekerja sama dengan pusat rehabilitasi narkoba untuk menjalani proses pemulihan dengan baik.Setelah itu, Ryan juga pergi menjenguk Saskia. Saskia masih dalam masa penahanan.Namun, kondisi emosinya cukup stabil. Dia malah menenangkan Ryan agar tidak mengkhawatirkannya, serta berjanji bahwa setelah masa penahanannya selesai, dia akan pergi be
Melihat yang datang adalah Sonya, polisi itu buru-buru berkata, "Kapten Sonya, dokter tim kami sedang menjalankan tugas. Ganti perban cuma hal kecil, jadi langsung saya yang menangani.""Cara kamu nggak benar." Alis Sonya sedikit berkerut.Saat berlatih bela diri dan senjata tajam dulu, cedera seperti memar dan luka sayat adalah hal biasa baginya. Dia sering membalut lukanya sendiri."Kalau dibalut seperti ini, yang terluka akan lebih tidak nyaman dan mudah meninggalkan bekas luka." Sonya melangkah maju ke belakang Ryan dan mengambil kotak peralatan medis, lalu berkata, "Pertama, gerakannya harus lembut."Ujung jarinya menjepit kapas, dicelupkan ke cairan antiseptik yang dingin, lalu perlahan mengusap luka di punggung Ryan. Seketika, Ryan merasakan sensasi dingin meresap ke tubuhnya dan disertai rasa geli, membuat ototnya tanpa sadar sedikit menegang.Melihat reaksi itu, Sonya kembali mengurangi tekanan tangannya. Namun saat mengusap, jarinya menyentuh kulit di sekitar tulang belikat R
Pukul sepuluh pagi.Kantor pusat Orchid Group, ruang kerja ketua dewan direksi.Laila hari ini mengenakan setelan jas hitam ketat, rambut panjang bergelombang terurai di bahunya. Riasannya tetap sempurna dengan lipstik berwarna merah menyala. Dia menyalakan sebatang rokok, lalu duduk di kursi kerja besar sambil mengisapnya. Sekujur tubuhnya memancarkan aura seorang wanita kelas atas dunia bisnis.Saat itu sekretaris masuk dengan tergesa-gesa setelah mengetuk pintu, lalu melapor, "Bos, sesuai instruksi Bos, perjanjian taruhan antara kita dan Bendy sudah kami musnahkan. Mulai sekarang, kita tidak punya hubungan apa pun dengannya.""Bagus!"Laila mengatupkan gigi peraknya dan mengumpat, "Dasar Bendy bajingan! Berani-beraninya dia terlibat narkoba di belakang kita. Hampir saja aku ikut terseret!"Mengingat kejadian itu, ingin sekali rasanya Laila mencungkil bola mata Bendy dan menginjaknya."Selanjutnya Bendy akan diperiksa ketat. Hidupnya sudah tamat," kata sekretaris.Alis Laila berkerut







