Share

Bab 477

Author: Felix Harrington
Pada saat yang sama, di dalam ruang mahjong, protofon Salwa tiba-tiba mengeluarkan suara sekretaris yang terdengar mendesak.

"Kak Salwa, Kak Salwa!"

"Bicara!"

"Kak Salwa, terjadi penyerangan brutal di area istirahat tamu VIP. Para petugas keamanan di lokasi sudah dipukul tumbang, banyak tamu VIP juga ketakutan. Saat ini pelaku masih berada di koridor."

Alis Salwa langsung mengerut. Batu mahjong di tangannya dibanting keras ke atas meja.

"Theo, kita ini salah satu penyelenggara yayasan amal. Masa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 585

    Setelah berkata demikian, sepasang mata Sonya yang tajam menatap dingin ke arah Wency."Sial, aku nggak paham hukum. Yang aku tahu, nyawa manusia lebih penting dari apa pun!" Wency berdiri tepat di depan Sonya dan tidak mau mundur sedikit pun."Wency, biarkan Inspektur Sonya dan timnya masuk," kata Ryan sambil menarik napas dalam-dalam. Dia tahu momen ini pasti akan datang cepat atau lambat. Setelah menenangkan diri, dia berkata, "Aku akan bekerja sama sepenuhnya dengan penyelidikan."Karena Ryan sudah berkata demikian, Wency tidak bisa lagi menghalangi. Dia berbalik keluar dan duduk di bangku panjang di depan pintu. Sonya berjalan mendekat ke sisi ranjang dan bertanya, "Bagaimana kondisi tubuhmu?""Bukan masalah besar," jawab Ryan.Sonya tersenyum tipis. "Bu Bianca bilang kamu sangat berani."Ryan hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa."Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan. Kamu harus menjawab dengan jujur," kata Sonya."Boleh.""Malam itu, Theo menculik Bianca. Demi menyelamatkann

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 584

    Saat itu, Tika tiba-tiba teringat obat hormon yang tadi dia bawa lupa tertinggal di ruang perawatan, lalu berbalik untuk mengambilnya.Ketika dia mendorong pintu kamar, tepat pada saat itu dia melihat Wency sudah menarik turun seluruh celana pasien Ryan. Dalam sekejap, mata Tika membelalak dan wajahnya penuh ketidakpercayaan. Dia belum pernah melihat pasien dengan tubuh sekekar itu.Di belakangnya, Lucya yang sejak tadi menunggu di depan pintu tidak mengerti kenapa perawat kecil itu tiba-tiba terpaku di sana, sehingga dia juga ikut menoleh ke dalam."Sial!" seru Wency kaget. Dia tidak menyangka Tika tiba-tiba kembali dan Lucya juga ikut melihat ke arah dalam."Tolong tutupi sedikit!"Ryan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa seperti sedang ditelanjangi untuk dipertontonkan."Oh, oh!"Wency buru-buru refleks menutupinya, tetapi kedua tangannya terlalu kecil dan tidak bisa menutupi seluruhnya. Dia segera menarik selimut dan menutup bagian itu. Tika yang berdiri di depan pin

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 583

    Lucya sempat tertegun, lalu tersenyum dan bertanya, "Memangnya ada yang melarang aku masuk?""Ini ruang perawatan intensif VIP. Harus mendapat izin tenaga medis dulu baru boleh menjenguk pasien," kata Wency."Tenaga medisnya mana?" Lucya balik bertanya. "Kamu?""Benar!" jawab Wency."Tadi kamu nggak ada di sini. Itu berarti kamu yang meninggalkan pos. Bukan salahku," Lucya mengangkat alisnya. Beradu mulut dengan seorang direktur penjualan seperti Lucya memang bukan keahlian Wency."Kamu ini ...." Wency mulai kesal."Sudah, sudah!" sela Ryan. "Wency, cepat bantu aku ganti baju. Rasanya pakaian ini sudah hampir bau.""Dengar itu? Pasien mau ganti pakaian. Kamu keluar dulu," kata Wency kepada Lucya."Kenapa aku harus keluar?""Apa hubunganmu dengan pasien?""Rekan kerja.""Saat pasien ganti pakaian, dia harus telanjang seluruhnya. Sebagai rekan kerja lawan jenis, apa kamu mau berdiri di samping dan menonton?" tanya Wency. Lalu, dia bergumam pelan dengan gigi terkatup, "Nggak takut matamu

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 582

    Dini hari, Bianca tertidur lelap di bangku lorong. Saat terbangun lagi, dia dibangunkan oleh seseorang. Seorang polisi wanita yang cantik berdiri di depannya dan menepuk bahunya. "Hei, ikut kami ke kantor sebentar!"Bianca menggosok matanya yang masih setengah terpejam dan bertanya, "Ada apa?""Semalam terjadi kasus pembunuhan di Vila Matsuno Gunung Umara." Sonya mengernyitkan kening dan menatap Bianca dengan serius. "Perlu aku jelaskan lebih jauh lagi?"Bianca mengembuskan napas panjang. Kejadian semalam terasa seperti kehidupan lain."Aku korban!" kata Bianca."Aku tahu." Sonya berkata, "Tenang saja. Kami hanya membawa kamu kembali untuk dimintai keterangan."Bianca menunjuk ke arah ruang perawatan. "Tapi aku masih harus menjaga pasien.""Ryan, 'kan?" Sonya berkata, "Kondisinya cukup baik dan stabil. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Akan ada petugas khusus yang menjaganya. Kamu nggak perlu khawatir."Lalu dia memberi isyarat kepada bawahannya. Bawahan itu maju dan b

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 581

    Roland benar-benar tidak tega melihat gadis di depannya. Dia menghela napas pelan dan berjalan ke sisi ranjang Ryan, lalu menutupi tubuh Ryan dengan kain medis putih.Dari kepala sampai kaki, semuanya tertutup.Melihat pemandangan itu, Bianca benar-benar runtuh."Bu Bianca, tabahkan hati!" Roland sendiri juga sangat sedih. Dia menahan air matanya agar tidak jatuh, lalu memberi isyarat kepada asistennya, "Angkat Pak Ryan ke mobil!"Asisten maju dan mengangkat tandu."Hati-hati!" Roland mengingatkan, "Pelan saja, jangan mengganggu Pak Ryan!"Ucapan itu malah semakin menyayat hati. Namun pada detik berikutnya, terdengar suara batuk dari atas tandu.Awalnya, semua orang mengira mereka salah dengar. Mereka menoleh ke sekeliling. Di ruangan ini tidak ada apa pun lagi selain sebuah kerangka tulang putih."Uhuk uhuk!"Detik berikutnya, suara batuk kembali terdengar dari balik kain putih."Sial!" Serena yang berada di depan merinding, "Pak Ryan ... itu Pak Ryan yang batuk!"Roland segera membuk

  • Dijaga Gadis-Gadis Berdasi, Dikejar Para Janda Berdaster   Bab 580

    "Ryan! Ryan ...." Bianca menjerit dengan suara memilukan. Pada detik ini, seluruh dunianya berubah menjadi kelabu.Bianca tentu tahu, kehilangan darah terlalu banyak dan berhentinya detak jantung berarti apa."Ah!" Saat ini, dia tidak tahu bagaimana menggambarkan rasa sakit di hatinya, hanya bisa meluapkannya lewat jeritan histeris, seolah-olah ribuan semut menggerogoti jantungnya."Ryan, kenapa? Kenapa kamu nggak menungguku?" Dia menelungkup di tubuh Ryan, memanggil dengan penuh penderitaan.Di tengah ucapannya, dia melihat sebuah belati yang terjatuh di lantai.Detik berikutnya, Bianca bangkit. Dengan putus asa, dia berjalan ke arah belati itu. "Ryan, aku sudah bilang nggak akan membiarkanmu pergi sendirian. Tunggu aku. Aku akan menemanimu."Dia memungut belati itu, kembali ke sisi Ryan, lalu menatap Ryan dengan penuh kasih untuk terakhir kalinya.Dia sudah merencanakan semuanya. Setelah memotong pergelangan tangan, dia akan berbaring di pelukan Ryan. Mungkin jika mati seperti itu, r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status