Se connecterUntuk sesaat, Salwa merasa sangat tidak enak hati.Laila berkata, "Urusan masa lalu biarlah berlalu. Kita nggak perlu membahasnya. Sekarang kita bicara soal anak angkatmu itu, yang menyewa pembunuh untuk membunuh adikku. Gimana kamu mau menjelaskan hal ini?"Salwa menggertakkan gigi dan berkata, "Laila ....""Nggak perlu bertele-tele." Begitu teringat dirinya yang menaruh obat, tetapi justru menguntungkan Salwa, hati Laila langsung dipenuhi amarah. Dia berkata, "Sekarang aku butuh penjelasan darimu. Kalau nggak, hubungan kita sebagai sahabat sepertinya nggak bisa dilanjutkan."Salwa menghela napas panjang, lalu berkata, "Soal ini, aku akan menghukum Theo dengan berat dan memintanya minta maaf kepada Ryan. Aku juga menjamin kejadian seperti ini nggak akan terulang lagi."Laila mengangguk. "Kak Salwa, aku harap kamu menepati kata-katamu. Aku juga berharap anak angkatmu itu nggak lagi menyentuh adikku. Kalau nggak, aku nggak akan bersikap sungkan padanya. Saat itu, jangan bilang aku nggak
Hanya dalam waktu satu pagi saja, ponsel Ryan hampir meledak karena terus berdering.Rekan kerja di perusahaan, teman kuliah, teman di luar, serta sejumlah mitra kerja dan klien, silih berganti menelepon untuk mengucapkan selamat.Angie, Susan, dan para kakak perempuan lainnya tentu saja tidak ketinggalan.Yang paling membuat Ryan terkejut adalah Ivy yang berada jauh di Amrik Utara ternyata juga menelepon untuk mengucapkan selamat. Setiap kali teringat Ivy, hati Ryan selalu dipenuhi rasa terima kasih.Jika bukan karena bantuan wanita yang seperti kakak tetangga itu, Ryan tidak akan bisa sampai di titik hari ini.Ryan nyaris menghabiskan sepanjang pagi itu hanya untuk menerima telepon.Namun, bagi Theo, pagi itu justru merupakan pagi yang sangat menjengkelkan. Saat ini, dia sedang duduk di dalam kantornya, menatap tajam pria yang tertunduk lesu di hadapannya, yaitu Steven."Aksi semalam gagal, kenapa kamu nggak datang menemuiku langsung?" bentak Theo.Steven berkata, "Setelah aksinya ga
"Rasa krisis seperti ini membuat wanita merasa pria itu bukan miliknya. Hal ini membangkitkan hasrat penaklukan yang tersembunyi di dalam hati wanita. Secara bawah sadar, wanita ingin mengendalikan pria seperti itu.""Tapi pria semacam itu sama sekali nggak akan berada di bawah kendali wanita, sehingga wanita pun terperangkap dalam pusaran perasaan dan makin terobsesi pada pria itu."Ryan tiba-tiba tersadar. "Kak, akhirnya aku mengerti kenapa para penjilat nggak punya apa-apa, sementara para bajingan justru bisa tertawa di medan percintaan."Laila berkata, "Benar, itulah alasannya. Hasrat menaklukkan bukan cuma dimiliki kalian para pria. Wanita juga punya hasrat menaklukkan yang sangat kuat, hanya saja lebih tersembunyi dan cara menampilkannya lebih halus. Bahkan, banyak wanita yang nggak sadar itu adalah hasrat menaklukkan."Ryan tersenyum. "Jadi, kamu ingin menaklukkanku?"Laila mengulurkan jarinya dan mengetuk dahi Ryan dengan manja. "Dasar binatang kecil liar. Sepertinya aku nggak
Ryan memahami maksud pihak lawan, lalu berkata dengan sedikit canggung, "Kak, kamu cepat banget laparnya!""Sudah berapa lama aku nggak makan. Aku hampir mati kelaparan lho!" Laila bangkit dan berkata kepada pelayan di sampingnya, "Tutup semua tirai.""Baik." Pelayan menurunkan semua tirai di keempat sisi."Kamu keluar saja," kata Laila."Baik." Pelayan itu segera mundur.Laila tersenyum manis, berjalan ke hadapan Ryan, menuangkan dua gelas anggur, lalu bersulang dengan Ryan."Katanya kamu berencana mengajukan paten pribadi untuk obat rinitismu itu. Setelah patennya diajukan, apa rencanamu?" tanya Laila."Aku libur terus sampai sekarang, belum sempat mengajukan paten pribadi. Ke depannya juga belum terlalu kupikirkan," jawab Ryan."Kamu memang belum memikirkannya, tapi sudah banyak orang yang mengincar patenmu?" Laila mengangkat alis tipisnya dan berkata, "Nggak usah jauh-jauh, Salwa dan Angie saja sudah lama ingin bekerja sama denganmu.""Bu Salwa juga mau bekerja sama denganku?" Ryan
"Selalu," jawab Ryan sambil tersenyum tipis."Hebat!" Lucya mengacungkan jempol.Setelah makan malam selesai, mereka masih mengobrol sebentar, lalu masing-masing kembali ke kamar. Ryan berbaring di ranjang, tetapi terus berguling karena sama sekali tidak bisa tidur.Saat melirik jam, sudah pukul 12.30 malam. Karena tidak bisa terlelap, dia membuka media sosial. Dia cukup terkejut mendapati Laila baru saja mengunggah status satu menit yang lalu.Laila sendiri tidak muncul di foto. Yang terlihat hanya sebuah tangan ramping yang memegang gelas anggur berkaki panjang sambil menjulur keluar jendela, menghadap ke bulan di langit malam.Teks pendampingnya berbunyi.[ Di malam yang cerah ini, ada berapa orang yang terjaga? Anggur menemani bulan yang kesepian. ]Hanya dua baris kalimat, tetapi terasa jelas kesan kesepiannya. Ryan mengetikkan komentar sambil bercanda.[ Kakak ternyata masih berjiwa seni. ]Detik berikutnya, telepon dari Laila langsung masuk. "Ryan? Kamu belum tidur?""Susah tidu
Ryan sedikit canggung. Dalam situasi sekarang, dia memang tidak bisa pergi."Kak Laila, aku sudah melapor ke polisi. Polisi sebentar lagi datang. Aku nggak bisa meninggalkan lokasi," kata Ryan."Aku ke tempatmu," jawab Laila dengan tegas."Jangan," Ryan buru-buru menolak. "Tempatku berantakan sekali, bahkan nggak muat lagi.""Aku khawatir keselamatanmu," kata Laila. "Kalau begitu, gimana kalau aku kirim beberapa orang untuk melindungimu?""Nggak perlu, Kak Laila. Malam ini sudah terjadi insiden seperti ini, polisi sebentar lagi datang. Pihak lawan pasti nggak berani bertindak gegabah lagi," kata Ryan. "Terima kasih atas perhatianmu. Kalau malam ini semua urusan selesai dan masih ada waktu, aku akan datang ke tempatmu. Kalau sudah terlalu malam, besok saja.""Baiklah," Laila menghela napas. "Ini menyangkut keselamatanmu. Jangan sampai lengah. Nanti kalau kamu datang ke tempatku, ceritakan semuanya secara detail. Kakak pasti bantu cari siapa pelakunya.""Baik. Terima kasih, Kak Laila," k







